
Di yutub, chapter PBT sudah sampai 72. Silakan mampi ke sana untuk membaca lebih jauh. Terima kasih...
_________________________
CH. 66 – Pendekar Aura Biru
Kapal Guichuan setidaknya hanya butuh waktu dua jam untuk tiba di tebing tepat di bawah aliran sungai Juda. Sementara itu, untuk menuju ke titik yang sama, Zhou Fu dan Yang Zi paling tidak harus menempuh waktu setengah hari. Jarak tempuh itu sudah tak bisa ditawar sebab letak geografis pinggiran wilayah Caihong memang berkelok-kelok hingga menciptakan jarak yang lebih panjang di sisi daratan.
“Kita tak bisa menghadang kapal mereka, bagaimana rencana kakak selanjutnya?” tanya Yang Zi setelah mendapati jaraknya dengan kapal Guichuan bertambah jauh.
“Terpaksa,” sahut Zhou Fu singkat.
“Kita menyeberang Juda?” tanya Yang Zi.
“Bukan kita, tapi aku. Kau tunggu di seberang. Ingat, kau juga sedang dicari oleh mereka!”
“Memangnya kenapa? Aku sudah pernah lolos dari mereka! Kakak meragukan kemampuanku?” Yang Zi menoleh ke bekalang, memanyunkan bibirnya ke depan dan seketika itu juga membuat Zhou Fu teringat pada Shen Shen yang juga sering melakukan hal yang sama.
“Itu di Baisha! Baisha hanyalah pulau kecil yang dihuni beberapa kelompok mereka. Dan kita sedang menuju ke Juda, di dekat sana ada markas pusat dari kelompok hitam yang memburumu! Tentu kekuatan mereka di Baisha akan sangat berbeda dengan kekuatan mereka di Juda.”
“Di Baisha aku sendirian. Di Juda aku akan bersama kakak, bukankah itu namanya berimbang? Ayolaaah, aku juga ingin bertarung sungguhan. Menghajar musuh, atau bahkan terluka oleh mereka. Ah, itu pasti mengasyikkan!” Yang Zi merengek sambil berangan-angan sedang membasmi musuh. Meski ia memiliki ilmu bela diri yang lumayan, ia cukup jarang menghadapi pertarungan yang sebenarnya karena pertarungannya selama ini hanyalah berupa latihan bersama guru-gurunya.
__ADS_1
“Kau sudah pernah sekarat?” Zhou Fu menghentikan kudanya hingga kuda itu meringkik keras. Sementara itu, Yang Zi membalikkan setengah badannya ke belakang dan bertanya.
“Sekarat? Mau mati? Ah, tentu saja tidak! Memangnya kenapa?” Tanya Yang Zi.
“Semua pertarungan memiliki risiko kematian. Aku sudah cukup sering mengalami sekarat di waktu kecil, dan kuberi tahu kau, rasanya sangat tidak menyenangkan. Dalam detik-detik mengalami kesakitan itu, kau mungkin akan memohon untuk segera bertemu ajal. Atau mungkin juga menyesal pernah hidup di dunia. Ah, pokoknya itu tak baik untukmu. Hiduplah dengan nyaman, lakukan hal-hal yang menyenangkan. Mengerti?” Zhou Fu menempelkan telapak tangannya di kepala Yang Zi, mengusap-usap kepala gadis itu dengan harapan gadis itu bersedia mendengarkan ucapannya.
“Minggir! Aku tak takut mati! Asal kakak tahu saja, hal yang menyenangkan bagiku adalah bertarung dan bertarung!” jawab Yang Zi seraya mengenyahkan tangan Zhou Fu dari kepalanya, “ Fufu, ayo jalan lagi. Jika orang ini tak mengajakku menyebrangi Juda, kau mau kan menemaniku?” ucap Yang Zi pada kuda hitamnya yang mulai berlari kembali.
Zhou Fu mendengus kecil tapi bibirnya menyunggingkan senyum, “hei, apa kau ini benar-benar adiknya nona Shen? Haha… Kau cukup berbeda dengannya!” Zhou Fu bergumam sambil tersenyum, jangankan untuk mati, berdarah sedikit saja Shen Shen pasti menjerit kesakitan dan tak akan berhenti mengeluh. Ternyata, Yang Zi justru berkebalikan dari kakaknya.
Karena Yang Zi tak menyahut, Zhou Fu pada akhirnya membolehkan gadis itu untuk ikut bersamanya menyebrangi sungai Juda, lalu mendarat di sebuah wilayah yang disebut sebagai daratan bebas hukum Caihong.
Senyum Yang Zi merekah ketika ia mendapat izin untuk turut serta pergi ke wilayah bebas hukum Caihong. Sebagai seorang pendekar Mahir tahap puncak dengan level aura hujau kuat, Yang Zi memang dapat digolongkan sebagai pendekar perempuan muda berbakat. Dengan aura hijau kuat, Yang Zi seharusnya bisa mencapai pendekar Ahli dalam waktu dekat. Itu artinya, kekuatan Yang Zi bisa dibilang hampir mengimbangi para tetua dalam suatu sekte sedang dan besar.
***
Matahari hampir berada di puncak langit ketika kapal Guichuan dijemput oleh perahu-perahu kecil yang akan membawa mereka pada pintu rahasia menuju markas pusat organisasi Kelelawar Merah. Perahu-perahu kecil itu berjumlah tiga, satu perahu berukuran lebih besar dari dua lainnya yang berukuran kecil. Ada sekitar sepuluh penjemput, sembilan di antaranya merupakan pendekar dengan aura hijaudan di tingkat pendekar Mahir. Sementara satu di antaranya adalah pendekar Ahli dengan aura berwarna biru.
Setelah saling berkomunikasi beberapa saat, enam dari sepuluh penjemput itu mengambil alih kapal Guichuan. Mereka kemudian membawa kapal Guichuan ke sebuah tempat rahasia yang tak diketahui oleh pemerintah pusat. Ternyata, terdapat aliran air tenang di balik air terjun sungai Juda, aliran air tenang itulah yang dijadikan sebagai pelabuhan rahasia oleh beberapa kelompok hitam untuk keluar masuk wilayah Caihong tanpa melewati gerbang Maundo.
Kini, Rao Guohoa beserta pengikutnya telah menaiki sebuah perahu kecil yang juga dinaiki oleh Feng Yaoshan dengan Shen Shen di ada gendongannya. Wajah lelaki itu sama sekali tak sedang baik-baik saja. Ia masih gagal untuk menenangkan hatinya terkait dengan keadaan Shen Shen yang tak kunjung bangun.
__ADS_1
Rao Guohoa menunjukkan ekspresi tak senang pada Feng Yaoshan yang terus mendekap Shen Shen tanpa mau dipisahkan dari tubuh gadis itu. Rao Guohoa itu pun berjalan pelan mendekati seorang penjemput yang memiliki aura biru.
“Apakah semua yang kubutuhkan sudah kau persiapkan?” Rao Guohoa berbisik pada pendekar Ahli yang memiliki aura biru tersebut. Pengawal itu mengangguk pelan sembari sesekali menoleh ke arah seorang pemuda tampan berpakaian mewah, “semua yang nona Rao Guohoa minta sudah kami persiapkan,” jawab pengawal itu dengan tanpa suara.
Kehadiran seorang pendekar Ahli dengan aura tenaga dalam biru tersebut sebenarnya cukup janggal. Sebuah penjemputan di pelabuhan rahasia sungguh tak memerlukan pendekar sekuat pendekar Ahli. Pendekar Ahli adalah pendekar yang rata-rata menduduki posisi penting di suatu sekte sedang dan sekte besar. Tetapi, sepertinya hal itu memang sengaja diminta oleh Rao Guohoa.
“Bagus sekali!” Rao Guohoa tersenyum sinis. Ia mengamati sekitar, seperti sedang tak sabar untuk menunggu pesanannya datang.
Tak lama setelah itu, sebuah gelombang air datang dari arah laut bebas. Gelombang air itu memiliki kekuatan setara dengan tsunami yang tentunya akan menggulung perahu kecil yang ditumpangi rombongan Rao Guohoa dan Feng Yaoshan. Tsunami itu bisa juga menyeret perahu mereka ke tengah lautan.
“Awas!!! Ada gelombang air pasang!” seru beberapa pendekar yang menjemput kedangatan Rao Guohoa tepat ketika melihat gulungan air yang menjulang tinggi menghampiri mereka.
“Selamatkan diri kalian masing-masing!” Rao Guohoa berteriak kepada seluruh rombongannya.
Benar saja, dalam waktu yang cukup singkat, tiga perahu yang menjemput kedatangan Rao Guohoa kini sedang dilahap tsunami. Gelomang air itu bahkan menghantam sisi tebing Caihong hingga terlihat tiga perahu yang dilahapnya itu juga terlempar menabrak dinding tebing. Beberapa pendekar nampak tubuhnya terhempas ke dinding tebing, lalu terjun bebas ke lautan.
Hantaman tsunami sekuat itu, secara teori tak akan melenyapkan nyawa seorang pendekar mahir dengan tenaga dalam hijau. Tetapi meskipun tak mengakibatkan kematian yang fatal, hempasan air yang tiba-tiba itu setidaknya telah memecah belah rombongan Rao Guohoa. Beberapa pendekar telah terpisah satu dengan yang lainnya.
“Bagus. Kini, kau yang harus membereskan sisanya,” ucap Rao Guohoa dengan senyum sinis. Dengan gerakannya yang cukup gesit, ia kini telah berada di sisi tebing seraya mengempit tubuh Shen Shen di ketiak kanannya.
“Serahkan semuanya padaku, Nona Rao!” jawab seorang pendekar Ahli yang kemudian dalam kedipan mata saja, tubuhnya telah lenyap entah pergi ke mana.
__ADS_1