Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 50 – Jejak Kapal Guichuan


__ADS_3

Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Zhao Yunlei menyadari jika ia sama sekali tidak bisa memaksa Zhou Fu untuk mengikuti kehendaknya. Meski Zhao Yunlei telah mengiming-imingi Zhou Fu akan informasi menarik tentang catatan di kaki Haku, nyatanya Zhou Fu tak goyah untuk tetap pada keputusannya pergi ke Maundo, bukan ke markas Pasukan Enam. Zhao Yunlei pun bertanya tentang seberapa penting seorang gadis bernama Shen Shen yang harus segera diselamatkan itu.


“Apakah dia terlalu cantik sehingga kau tak sabar ingin menolongnya?” tanya Zhao Yunlei memancing.


“Apakah menurutmu kecantikan adalah sesuatu yang tepat untuk dijadikan alasan menolong seseorang?” Zhou Fu memalingkan wajahnya, merasa sedikit kesal karena tak sekali dua kali orang menganggap ia  berbaik hati pada Shen Shen adalah karena kecantikan perempuan tersebut.


“Jika bukan demikian, mengapa kau terlihat sangat memedulikan perempuan itu?” Zhao Yunlei bertanya kembali.


“Daripada berdebat tentang hal ini, aku sebenarnya lebih tertarik dengan kekuatan tanpa tenaga dalam yang kau miliki,” Zhou Fu mencoba membelokkan percakapan.


Terlihat, Zhao Yunlei mengerlingkan matanya ke arah Zhou Fu lalu bergumam dengan penuh semangat, “aku bisa membawamu kepada guruku, tentu saja jika kau bersedia kuajak untuk datang ke markas Pasukan Enam! Aku hanya seorang murid yang bisa saja keliru jik menjelaskan sesuatu, ayolah ikut denganku saja” bujuk Zhao Yunlei kembali, ia mengerti jika Pasukan Enam pasti akan sangat senang jika ia membawa Zhou Fu kepada mereka.


“Sudah kubilang, tidak! Setidaknya untuk sekarang!” Zhou Fu menjawab dengan sedikit datar, lalu memalingkan tubuhnya dan pergi memasuki kapal, meninggalkan Zhao Yunlei yang termenung sendirian.


***


Selama tiga hari penuh, Zhou Fu tak menampakkan diri keluar. Ia menutup rapat ruangannya dan tak membiarkan siapapun juga memasuki ruangan, termasuk pelayan yang ingin mengirimkan makanan dan minuman. Zhao Yunlei meminta pelayan untuk tetap menyiapkan makan dan minum Zhou Fu tetapi menempatkannya di depan pintu ruangan Zhou Fu. Sayangnya, Zhou Fu bahkan tak menyentuh secuil saja dari hidangan-hidangan tersebut.


Beberapa kali, Zhao Yunlei sempat merasakan adanya getaran-getaran yang keluar dari ruangan Zhou Fu. Menurut praduga Zhao Yunlei, sepertinya Zhou Fu sedang melakukan penyempurnaan jurus tertentu, sehingga ia bahkan tidak membiarkan tubuhnya kemasukan makanan dan minuman. Pada hari ke empat, Zhao Yunlei memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Zhou Fu karena ada hal penting yang harus ia katakan.


“Zhou Fu, jika kau mendengarku, bukalah pintunya, ada kabar yang tidak terlalu baik untukmu,” ucap Zhao Yunlei dengan ketukan-ketukan lembut di pintu. Bukan karena takut mengganggu Zhou Fu, tapi karena fisik Zhao Yunlei memang sangat rapuh dan sebisa mungkin ia selalu menjaga tubuhnya dari gesekan atau benturan dalam bentuk apapun.

__ADS_1


Zhou Fu mendengar ketukan lembut di ruangannya, ia melangkah menghampiri pintu dan membukanya, “kabar buruk apa yang kau maksud?” Zhou Fu langsung bertanya tanpa basa-basi.


“Begini, kapal kita beberapa hari ini telah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku ingin mengejar kapal Guichuan, sesuai keinginanmu. Tapi, sejauh ini aku tak melihat adanya tanda-tanda keberadaan kapal tersebut. Sepertinya, kapal Guichuan tidak sedang menuju ke Maundo. Apa yang membuatmu yakin kapal itu menuju Maundo?” Zhao Yunlei menjelaskan keadaan yang sebenarnya sebelum akhirnya mempertanyakan keyakinan Zhou Fu akan tujuan kapal Guichuan.


“Apakah itu artinya, ada rute lain menuju ke sungai Juda? Seingatku, bahkan Shen Shen juga mengatakan jika sungai Juda terletak di wilayah daratan Caihong. Pintu keluar masuk dari Caihong hanya bisa diakses melalui gerbang Maundo. Hem… Sepertinya petualangan ini semakin menarik?!” Zhou Fu menyilangkan tangannya di dada sembari menyandarkan punggungnya ke pintu, seolah ia sama sekali tak kaget ataupun khawatir akan keselamatan Shen Shen.


“Kau? Bukankah kau seharusnya mengkhawatirkan perempuanmu itu? Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpanya?” celetuk Zhao Yunlei keheranan.


“Khawatir? Ah, dia diperebutkan bukan untuk dibunuh. Baiklah, sepertinya aku memang harus mengambilnya ke Juda!” tukas Zhou Fu setelah merasa keadaannya tidak mungkin mendukung untuk menyelamatkan Shen Shen sebelum sampai di Juda.


“Jadi, kita berdua tetap ke Maundo dan berpisah di sana?” Zhao Yunlei mengerutkan kening, ia tak ingin terlibat dengan urusan Zhou Fu dan Shen Shen. Tujuannya saat itu adalah mendaftar menjadi bangsawan Caihong, lalu menjalankan misinya sebagai Pasukan Lima. Dan jika beruntung, di lain waktu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa Zhou Fu ke Bingdao. Jika perlu, ia juga akan memanfaatkan kecantikannya untuk hal tersebut.


“Ya, kita berpisah di Maundo. Dan mungkin, di lain waktu sepertinya aku juga ingin bertemu dengan kelompok yang kau sebut sebagai Pasukan Enam itu,” ujar Zhou Fu dengan ringan. Setelah memulangkan Shen Shen nanti, sepertinya ia ingin mencuri-curi waktu sebentar sebelum kembali ke pulau Youhi untuk menyempurnakan latihannya.


“Hei, tunggu sebentar… Aku ingin memeriksa sesuatu!” tangan Zhou Fu menyingkirkan pundak Zhao Yunlei pelan, ia melangkah cepat melewati gadis itu untuk memeriksa apa yang ada di sekitar kapal Merak Biru.


Hal tersebut ia lakukan karena ia merasakan beberapa getaran pendekar berilmu yang datang mendekat dan seperti mengelilingi kapal Merak Biru. Begitu Zhou Fu sudah berada di geladak kapal, matanya terperangah akan sesuatu. Untuk sejenak, keheranannya akan beberapa getaran aura pendekar terpaksa ia kesampingkan karena ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya.


Sebuah tebing tinggi lagi besar nampak seperti sedang menghadang kapal Merak Biru. Untuk melihat ke bagian atas tebing tersebut, seseorang harus mendongakkan kepala penuh lalu menyipitkan pandangan sebab bagian ujung dari tebing raksasa itu cukup tinggi untuk sekadar dilihat oleh mata telanjang.


“Itulah daratan Caihong. Daratan yang seperti tebing raksasa dan seolah mengambang di atas permukaan air laut. Katanya, di atas itulah surga kehidupan berada. Apa kau percaya Caihong adalah surga di dunia ini?” cerocos Zhao Yunlei yang mengekor di belakang Zhou Fu.

__ADS_1


“Eh,” Zhou Fu menoleh karena kaget akan celetukan Zhao Yunlei yang membuyarkan khayalannya tentang Caihong, “jadi, tebing besar itu adalah negeri Caihong? Jika ada kehidupan di sana, bukankah itu cukup merepotkan? Bagaimana cara kita bisa sampai ke atas sana?” tanya Zhou Fu sedikit merasa aneh karena ada pulau raksasa yang menyerupai bongkahan daratan dengan ujung-ujung berupa tebing, bukan pantai. Tak ada pesisir, Caihong bahkan tak memiliki pantai! Bagaimana cara mendaratkan kapal ke sana?


“Setelah kita tiba di pelabuhan, kau akan melihat keindahan lereng-lereng tebing Caihong yang tak bakal kau temui di manapun! Mereka juga memiliki pelabuhan paling unik sedunia! Kau lihat kapal-kapal itu? Mereka adalah armada kapal militer Caihong, pasukan yang bertugas menjaga keamanan perairan Caihong dari segala kemungkinan bahaya. Tentang bagaimana kita bisa sampai ke atas itu, kau akan segera menemukan jawabannya!” Zhao Yunlei menjelaskan panjang lebar.


Zhou Fu menganggukkan kepala mengerti, akhirnya ia akan menginjakkan kakinya ke tempat di mana kakeknya pernah tinggal. Sebuah tempat yang mungkin juga merupakan tanah kelahirannya. Pandangan mata Zhou Fu tak berkedip memandangi bongkahan tebing raksasa yang menjulang di sana. Seindah apakah Caihong itu? Dan, semengerikan apa negeri itu hingga membuat kakenya kabur dan bersembunyi cukup lama.


“Hei, baik-baiklah setelah kita berpisah nanti! Kau sudah berjanji untuk ikut denganku setelah urusanmu dengan nona Shen selesai!” Zhao Yunlei menghadangkan wajahnya tepat di depan wajah Zhou Fu sebab Zhou Fu nyatanya tak berkedip sekalipun ketika memandangi daratan Caihong.


“Minggir, wajahmu membuyarkan khayalanku!” Tangan kanan Zhou Fu menangkis pipi Zhao Yunlei untuk menjauhkan kepala gadis itu dari wajahnya.


Zhao Yunlei meringis memegangi pipinya yang baru saja disentuh oleh tangan Zhou Fu. Ada sedikit rona merah di sana, bukan karena malu melainkan kulitnya memang terlalu sensitif dengan segala bentuk sentuhan. Melihat ruam merah di pipi Zhao Yunlei, Zhou Fu menarik napas dalam dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Ah, mengapa aku selalu dipertemukan dengan makhluk-makhluk rapuh begini! Apkah aku perlu meminta maaf untuk ini?” Zhou Fu mencoba meraih dagu Zhao Yunlei dan menghembus-hembuskan udara dari mulutnya ke pipi gadis itu. Zhao Yunlei pun tersenyum karenanya, menurutnya Zhou Fu pastilah pemuda yang hatinya belum terkontaminasi dengan kebusukan.


“Sudah cukup! Kau tak boleh terlalu baik dengan perempuan. Atau, kau bisa membuat mereka menderita karena kebaikanmu!” celetuk Zhao Yunlei yang kini menyingkirkan kepala Zhou Fu dari dekat wajahnya.


“Ehm… Tuan dan Nona, maaf mengganggu waktunya. Kita sudah hampir tiba di pelabuhan, harap Tuan dan Nona mempersiapkan diri, maaf jika saya lancang,” seorang awak kapal menyela obrolan Zhou Fu dan Zhao Yunlei, entah sejak kapan dia menunggu di sana yang jelas baik Zhou Fu maupun Zhao Yunlei sempat sedikit kaget karena tegurannya yang tiba-tiba.


“Ah, tak kusangka kita akan segera berpisah,” ujar Zhao Yunlei dengan senyum tipis.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Satu kata dari saya, Maaf....


__ADS_2