Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 47 – Selangkah Menuju Maundo


__ADS_3

Matahari sudah pergi dan telah digantikan oleh temaram cahaya bulan sabit. Zhou Fu sedang berada di kediaman tetua Wang Yue yang selamat dari kebakaran, untuk memberikan salam perpisahan kepada segenap warga di Yimin. Ketika hendak melanjutkan perjalanannya, Zhou Fu baru teringat jika ia sudah tak memiliki kapal. Padahal, butuh waktu sekitar satu minggu perjalanan laut untuk menempuh jarak dari Yimin ke Maundo. Tentu saja, jarak tersebut bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan tanpa menggunakan kapal.


Selama beberapa saat, Zhou Fu menggaruk rambutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya konsentrasinya sedikit menurun lantaran tubuhnya telah kekurangan asupan air selama seminggu lebih. Melihat raut wajah Zhou Fu yang nampak kebingungan, tetua Wang Yue memiringkan kepalanya untuk bertanya.


“Apakah Tuan Muda memerlukan sesuatu? Katakan apa yang Tuan Muda inginkan atau perlukan, kami bukanlah warga yang tak mengerti balas budi,” tanya tetua Wang Yue ragu-ragu.


“Aku ingin mengejar kapal Guichuan yang mungkin saat ini sedang menuju ke sungai Juda. Seingatku, satu-satunya akses menuju sungai Juda adalah gerbang Maundo. Kukira, aku harus segera ke Maundo untuk mengejar kapal Guichuan. Sayangnya, aku tak memiliki kapal dan juga uang,” jawab Zhou Fu berterus terang.


“Jadi, Tuan Muda hendak ke Maundo? Wah, kebetulan sekali… Aku juga akan mengantar keponakanku ke Maundo dalam waktu dekat,” tetua Wang Yue nampak berbinar-binar sebab jika beruntung, perjalanannya menuju ke Maundo akan disertai oleh Zhou Fu yang tangguh.


“Benarkah? Dalam urusan apakah paman dan keponakan paman datang ke Maundo?” Zhou Fu mengerutkan kening karena penasaran.


Tetua Wang Yue tersenyum tipis. Ia pun meminta Zhou Fu untuk duduk kembali di ruang tamunya, dan mulailah tetua Wang membuka sebuah cerita. Berceritalah tetua Wang tentang harapan-harapan besar imigran Bingdao akan kehidupan yang lebih layak di negeri Caihong. Hampir semua orang yang yang ditakdirkan hidup di luar Caihong memiliki harapan yang sama yaitu mendambakan kehidupan di negeri Caihong.


Harapan tersebut sempat hampir menjadi kenyataan bagi para imigran Bingdao beberapa puluh tahun silam. Dikisahkan oleh tetua Wang Yue bahwa salah satu petinggi Bingdao mengirimkan surat kepada warga Bingdao di distrik Bianyunan untuk segera melakukan imigrasi ke Caihong demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak.


Seluruh warga Bianyunan pun berduyun-duyun melakukan perjalanan yang cukup panjang mengarungi beberapa perairan dan pulau-pulau untuk bisa tiba di Maundo. Sayangnya, takdir berkata lain. Pemerintah Caihong menolak kehadiran warga Bianyunan karena tak satu pun dari warga Bianyunan bisa membayar biaya masuk ke tembok raksasa.


“Kabar yang beredar mengatakan jika pemerintah Caihong telah berkhianat pada pahlawan Bingdao. Diceritakan dari mulut ke mulut, kelompok pendekar Bingdao telah turut andil menyelamatkan kekisruhan yang terjadi di tembok raksasa puluhan tahun silam,” tetua Wang Yue menghentikan ceritanya, ia menarik napas panjang lalu mempersilakan Zhou Fu untuk meneguk minuman yang baru saja diberikan oleh pelayan, Zhou Fu memberi anggukan pelan sambil sorot matanya terus memandang tetua Wang dengan serius.

__ADS_1


“Pemerintah Caihong menjanjikan untuk menerima kedatangan warga Bingdao sebagai imbalan dari keberanian pendekar Bingdao dalam menghentikan kekisruhan di tembok raksasa. Kabarnya, pemerintah Caihong lupa diri dan yang cukup disayangkan, para pendekar Bingdao yang menjadi pahlawan itu, tak ada kabar tentang keberadaan mereka,” lanjut  tetua Wang Yue meneruskan ceritanya.


“Jika demikian, mengapa paman masih ingin pergi ke Maundo? Bukannya mereka sudah menolak kalian?” Zhou Fu bertanya keheranan.


“Kami tak punya pilihan,” tetua Wang Yue menghela napas panjang lalu menunduk sebentar,”kehidupan di Bingdao cukup keras. Kami beruntung bisa tinggal di pulau Yimin yang subur ini. Tetapi, kejadian penyerangan militer Shamo kembali menguatkan harapan kami. Tembok raksasa di Caihong adalah harapan semua orang!”


“Lalu, bagaimana jika pemerintah Caihong menolak lagi?”


“Tidak. Kali ini pasti tidak. Aku sudah bekerja cukup keras untuk mengumpulkan uang, keponakanku harus bisa hidup dengan layak. Jika tidak, aku akan merasa berhutang budi seumur hidupku pada kedua orang tuanya.”


“Jadi, satu-satunya jalan untuk tinggal di Caihong adalah dengan menyerahkan sejumlah harta?” Zhou Fu bertanya lagi.


“Bagaimana jika seseorang gagal membayar pajak?”


“Tentu saja mereka harus dikeluarkan dari tembok raksasa. Kecuali…


“Kecuali apa???” Zhou Fu bertanya cukup penasaran sebab raut wajah tetua Wang Yue berubah muram.


“Kecuali seseorang bersedia bekerja untuk mereka dengan tanpa dibayar,” jawab tetua Wang Yue menunduk, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya meneruskan kalimatnya yang terputus.

__ADS_1


”Ya, beberapa orang menganggapnya sebagai ‘menjadi budak bangsawan Caihong’, tetapi hal itu lebih baik daripada hidup dengan penuh kekhawatiran. Lagipula, keponakanku cukup cantik, jika beruntung dia pasti dipersunting oleh bangsawan kaya.”


Zhou Fu masih tak begitu mengerti mengapa orang rela menukar hal-hal yang berharga hanya untuk sebuah kehidupan di dalam tembok raksasa. Fakta tersebut semakin membuatnya tak sabar untuk bisa segera sampai ke Caihong. Apalagi, kakek Li Xian juga pernah tinggal di sana. Semenarik dan menakjubkan seperti apakah Caihong hingga banyak orang mendambakan untuk hidup di sana.


Dan, bagaimana bisa kakek Li Xian justru meminta Zhou Fu untuk sebisa mungkin tidak terlibat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di tembok raksasa. Sebuah larangan yang semakin membuat Zhou Fu ingin melanggarnya, demi sebuah pemenuhan atas penasaran yang memenuhi kepalanya.


“Baiklah, kukira paman tidak akan keberatan jika aku menumpang di kapal paman. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa berangkat sekarang?” Zhou Fu bangkit berdiri, jika sudah menentukan pilihan, Zhou Fu memang sangat kesulitan untuk bersabar. Menunggu adalah penderitaan terbesar bagi pemuda yang memiliki semangat meluap-luap seperti dirinya.


“T..Tapi, bukankah ini sudah cukup malam untuk memulai perjalanan, Tuan Muda? Lagi pula, pulau Yimin baru saja mengalami bencana besar. Tidakkah tuan muda ingin beristirahat sejenak untuk sekadar bernapas dengan tenang?” tetua Wang Yue membujuk Zhou Fu sebab nyatanya ia memang cukup letih hari itu.


“Paman, hidup terlalu sebentar jika kita terus mengulur-ulur waktu. Ayolah, kita bisa beristirahat di dalam kapal!” tukas Zhou Fu tanpa bersedia duduk kembali.


Dan, bisa ditebak, keputusan Zhou Fu yang pada akhirnya dipilih. Tetapi, tetua Wang Yue mengubah rencana. Ia meminta Zhou Fu untuk menjagakan keponakannya, seorang gadis manis yang berusia 17 tahun saat itu. Agaknya tetua Wang Yue mengira jika Zhou Fu sudah berusia lebih dari 17 tahun sebab diam-diam tetua Wang berharap jika Zhou Fu akan tertarik dengan keponakannya.


Malam itu juga, tetua Wang Yue mempersiapkan bekal-bekal yang harus dibawa ke Maundo. Tak lupa juga, ia meminta keponakannya untuk mandi sebersih-bersihnya, berdandan dengan cantik dan sekaligus meminta gadis tersebut agar berperilaku baik dan menurut pada Zhou Fu. Tetua Wang sepertinya cukup berharap untuk memiliki menantu keponakan seperti Zhou Fu.


\=\=\=\=


Yutub sudah sampe chapter 49 ya... Lelet update karena memang super banyak kegiatan, jadi maaf saja jika mengecewakan...

__ADS_1


__ADS_2