Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 33 – Memasuki Peradaban yang Tenggelam


__ADS_3

Identitas manusia berbalut kain putih itu masih menjadi misteri. Mengapa ia menenggelamkan kapal orang Shamo, mengapa ia tak berminat menyerang Zhou Fu dan Shen Shen, semuanya masih menjadi tanda tanya besar. Terlepas dari siapa orang itu sebenarnya, Zhou Fu yakin jika orang tersebut memiliki kemampuan yang jauh lebih unggul dari dia.


“Untunglah dia tidak mengejar kita,” ujar Shen Shen yang juga turut melihat kepergian si manusia berbaju putih meninggalkan kapal Shamo yang karam.


“Sepertinya, orang Shamo memang berselisih dengan banyak pihak! Orang itu salah satunya!” tukas Zhou Fu merespon kalimat Shen Shen, tetapi tatapan mata Shen Shen belum bisa berpaling dari arah kapal Shamo yang sedang tenggelam perlahan-lahan.


“Apa kapal yang karam itu mengganggu pikiranmu?” Tanya Zhou Fu penasaran.


“Tidak. Aku tidak berpikir tentang kapal itu. Tapi, tentang kasus yang pernah menimpa beberapa keluarga bangsawan di Caihong,” Shen Shen menggelengkan kepala, ia mengingat ada sebuah kasus yang sempat menggegerkan keluarga bangsawan Caihong beberapa bulan silam.


Shen Shen pun kemudian bercerita pada Zhou Fu jika ada kejadian luar biasa di pemukiman bangsawan Caihong di mana lima keluarga yang terdiri dari 23 orang tewas dengan keluhan yang sama yaitu kebocoran lambung. Sayangnya, tak ada satu tabib pun yang berhasil menemukan penyebab kebocoran lambung itu.


“Apa kau menganggap ada keterlibatan orang Shamo dalam insiden tersebut?” Zhou Fu mengerutkan alis, sepertinya masuk akal juga jika hal tersebut dihubungkan dengan warga negara Shamo.


“Entahlah, aku sendiri baru mengetahui jika Feng Yaoshan memiliki darah Shamo. Kukira, gelar bangsawan kelas satu hanya diberikan kepada pribumi Caihong? Sepertinya ada yang tak beres dengan hal tersebut.”


“Tenang, kita akan mendapatkan jawabannya nanti, setelah kita bertemu ayahmu!” Zhou Fu menepuk-nepuk bahu Shen Shen lalu mengajaknya masuk ke dalam kapal. Sebelum mereka memasuki kapal, tak lupa Zhou Fu meminta seorang awak kapal untuk mengurus jasad orang Shamo yang ada di kapalnya.


***


Setelah kejadian pertemuan dengan kapal Shamo, perjalanan Zhou Fu dan Shen Shen menuju laut dangkal tidak mengalami satu hambatan yang berarti. Kapal mereka berlayar dengan sangat lancar menuju ke arah tenggara guna menemukan perairan dangkal, sebuah lokasi yang biasa dihuni oleh habitat terumbu karang.


Hanya membutuhkan waktu tiga hari tiga malam saja, kapal Zhou Fu sudah tiba di sebuah perairan laut dangkal. Itu adalah perairan yang memiliki kejernihan air setara dengan kaca. Ikan-ikan dengan rupa-rupa warna berlalu lalang seperti sedang bermain petak umpet dengan kawanannya. Terumbu karang dan aneka tanaman laut melambai dengan gemulai seperti rumput yang tersipu oleh rayuan angin semilir.


Shen Shen dan Zhou Fu menjatuhkan diri dari kapal secara bersamaan.  Selagi Shen Shen menikmati ketakjubannya pada biota laut yang hampir tak pernah ia temui, Zhou Fu menyisir laut dangkal untuk menemukan montipora biru keunguan. Sejenis terumbu karang yang nampak seperti tabung berkelok-kelok dan berpori besar dengan batang dan ujung yang memiliki warna yang berbeda.

__ADS_1


Montipora biasa hidup di kedalaman 300 kaki, dan itu membuat Zhou Fu menyelam lebih dalam meninggalkan Shen Shen yang sibuk mengamati ikan singa. Seekor ikan unik yang bercorak loreng dengan surai bermekaran di beberapa bagian tubuhnya. Surai-surai cantik itu sepertinya telah membuat Shen Shen mengabaikan bahaya yang mengancamnya.


Beberapa saat berlalu, Zhou Fu sedang sibuk mengumpulkan montipora ke dalam jubah bajunya. Mata Zhou Fu kemudian menangkap sebuah tubuh perempuan yang perlahan-lahan tersedot ke dalam laut. Tak lain tak bukan, itu adalah tubuh Shen Shen. Zhou Fu berenang dengan cepat untuk meraih tubuh Shen Shen dan membawanya ke permukaan.


“Dasar bodoh! Bayi monyet saja mengerti jika sirip ikan singa mengandung racun!”  hardik Zhou Fu ketika tubuh Shen Shen sudah ia baringkan di dalam kapal. Shen Shen tentu tak tahu jika ikan singa memiliki 18 titik beracun yang tersebar di setiap surai di tubuhnya. Sirip yang berbentuk surai itu akan menyuntikkan racun berbahaya ketika mereka merasa sedang berada dalam keadaan berbahaya.


Meski mendengar hardikan dari Zhou Fu, Shen Shen diam tak menyahut, suhu badannya meninggi sementara tubuhnya terasa menggigil kedinginan. Ia masih kaget ketika ikan cantik yang ia kagumi justru mencelakainya tanpa permisi.


“Berhadapan dengan ikan sekecil itu saja keselamatanmu sudah terancam, ah manusia macam apa kau ini!” alis Zhou Fu menyatu ketika ia melanjutkan ocehannya tersebut.


“Aku takkan mati kali ini. Sudahi amarahmu itu. Yang terpenting kita sudah mendapatkan montipora bukan?” sahut Shen Shen dengan mulut gemeretak karena menggigil.


“Kita?!! Kau bahkan tak tahu di mana letak montipora berada! Sudahlah, lain kali berusahalah sedikit untuk menyelamatkan nyawamu sendiri!” tukas Zhou Fu sembari membalikkan badan dan meninggalkan Shen Shen yang kedinginan. Shen Shen hanya melempar sebuah senyum kecil ketika punggung Zhou Fu perlahan-lahan lenyap dari pandangan.


***


“Untuk memasuki Peradaban yang Tenggelam, kita harus menemukan tiga pusaran air di sekitar perairan ini,” Shen Shen mendongakkan kepala selagi ia dan Zhou Fu berada di ujung kapal.


“Laut setenang ini memiliki pusaran air?” Zhou Fu bertanya penasaran, dua alisnya terangkat dan kepalanya pun turut mendongak mengikuti Shen Shen yang sedang menyisir lautan.


“Lihat, ke arah barat daya! Pasti itu adalah pintu masuk menuju Peradaban yang Tenggelam!” jari telunjuk Shen Shen mengarah kepada tiga titik hitam yang berada di arah barat daya.


Mata Zhou Fu mengikuti petunjuk tangan Shen Shen, ia lantas mengangguk-angguk ketika melihat tiga titik yang berputar-putar di permukaan lautan.


“Tunggu apa lagi, ayo kita mempersiapkan diri!” Zhou Fu mengambil sebatang montipora dari dalam jubah bajunya, ia lantas meremukkan terumbu karang itu dalam genggamannya.

__ADS_1


“Ini untukmu!” tukas Zhou Fu sembari menyerahkan remah-remah montipora pada Shen Shen. Shen Shen menerimanya dan segera membuka mulut untuk melahap remah montipora itu.


“Sialan! Siapa yang menyuruhmu memakannya?!!” tangan kiri Zhou Fu dengan tangkas menutup mulut Shen Shen yang menganga, Shen Shen pun mengerutkan alis keheraran. Tangan kirinya menyingkirkan telapak tangan Zhou Fu yang menutupi bibirnya.


“Lalu? Memangnya bagaimana cara menggunakan montipora ini? Kau tak pernah memberitahuku sebelumnya, ingat itu!” gerutu Shen Shen dengan mulut maju ke depan.


“Masukkan remahan itu ke lubang hidungmu. Hirup sekuat tenaga untuk memastikan remahan itu masuk ke saluran pernapasanmu. Oh ya, rasanya mungkin sedikit tak menyenangkan!” Zhou Fu menjelaskan panjang lebar dan membuat Shen Shen sedikit bergidik ngeri.


“Apa kau ingin membunuhku? Bagaimana jika remah montipora ini melukai saluran pernapasanku?” sergah Shen Shen ketus tapi tak ditanggapi oleh Zhou Fu. Alih-alih menjawab keraguan Shen Shen, Zhou Fu justru mempraktikkan langsung menghirup remahan montipora ke hidungnya.


Pertama-tama, Zhou Fu terlihat terbatuk-batuk dengan dua mata memerah dan mengeluarkan air mata.


“Hhhhh… Sudah, setelah ini, kita bisa bertahan tidak bernapas di air. Ingat, tetap tutup mulutmu selagi kita di dalam laut!” Zhou Fu menghela napas panjang setelah memasukkan remah terumbu karang ke saluran pernapasannya.


Shen Shen menelan ludah berkali-kali, ia masih enggan memasukkan remah-remah montipora ke dalam hidungnya. Melihat hal tersebut, Zhou Fu mendorong telapak tangan Shen Shen ke hidung dan dengan sekejap mata meraih pinggang perempuan itu untuk diajak terjun ke laut.


“Sialan!” Shen Shen mengumpat dan buru-buru menyedot remah montipora ke hidungnya sebelum terlambat.


Zhou Fu memilih untuk menghampiri tiga pusaran air dengan cara berlari di atas air. Itu akan membuat jalannya menuju ke Peradaban yang Tenggelam semakin cepat.


“Pusaka-pusakan kuno, kami datang untuk menjemput kalian!!!” Seloroh Zhou Fu bersemangat, begitu jarak tubuhnya hanya berkisar sepuluh meter dari tiga pusaran air.


\=\=\=\=\=\=


Makasih yg udah baca novel ini di youtube saya^^

__ADS_1


__ADS_2