Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 22 – Mampir di Dengguang


__ADS_3

Sesaat ketika Rao Guohoa melepaskan serangan terakhirnya, Zhou Fu sempat melihat jika Rao Guohoa terkulai tak sadarkan diri. Karena tubuhnya berada di udara, Rao Guohoa pun jatuh dari ketinggian dengan laju kecepatan yang tinggi. Pedang Rao Guohoa terjun bebas mendahului pemiliknya, dan Zhou Fu menangkap pedang tersebut dengan sempurna.


Anehnya, Zhou Fu tak mendengar suara tubuh tercebur air. Mata Zhou Fu pun menyisir ke segala arah, tetapi hanya remah-remah kapal yang nampak. Jika tubuh Rao Guohoa jatuh ke air, tentu telinganya mendengar meski jika pada saat yang bersamaan kebetulan matanya tak sedang melihat. Baik mata maupun telinga Zhou Fu, tak menangkap kejadian Rao Guohoa jatuh ke air.


“Perempuan itu masih hidup,” Zhou Fu berbisik pada Shen Shen begitu menyadari ada aura dingin yang sekelebat melewati tubunya. Bulu kuduk Zhou Fu berdiri, bukan karena takut tetapi karena aura dingin yang lewat itu nyatanya lebih pekat dari beberapa saat sebelumnya.


“Seberapa lama kau bisa bertahan di atas air?” Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari arah belakang Zhou Fu. Ia pun membalikkan badan untuk melihat si pemilik suara tersebut.


Zhou Fu dan Shen Shen kaget secara bersamaan. Suara berat dan menyeramkan itu ternyata keluar dari mulut Rao Guohoa, tetapi dengan penampilan yang berbeda. Kulit perempuan itu tampak lebih hitam legam, pipi tirusnya terlihat semakin menonjol, bagian pinggiran matanya menjadi cekung dan bola matanya tampak membesar. Itu adalah Rao Guohoa dengan bentuk tiga kali lebih menyeramkan ketimbang sebelumnya.


“Tak perlu bingung, itu tak akan mengubah keadaan,” Rao Guohoa tersenyum tipis. Ia berdiri mengambang di atas air dengan dua tangan kosong, tapi aura pekatnya membuat Zhou Fu yakin jika serangan Rao Guohoa kali itu akan lebih hebat ketimbang ketika ia masih menggunakan pedang.


“Fu’er, jika ada kesempatan untuk lari, kita lari saja kali ini. Aku tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya,” Shen Shen yang berada di punggung Zhou Fu memperingatkan sinyal bahaya dalam situasi tersebut.


Zhou Fu menggeleng. Ia justru merasa beruntung karena permainan akan semakin menarik.


“Aku ingin mencoba kekuatannya, tapi keberadaanmu hanya menjadi beban kali ini, apa kau bisa berenang dan mengapung beberapa saat di remah bangkai kapal?”


“Banyak bicara kalian ini! Hiaaaa!” Rao Guohoa tak mau basa-basi, ia langsung melancarkan sebuah serangan pada Zhou Fu yang masih membawa Shen Shen bersamanya.


Dengan sigap Zhou Fu melempar Shen Shen sedikit jauh dari tempatnya berada, “jaga dirimu baik-baik!” ucap Zhou Fu ketika tubuh Shen Shen terdengar tercebur ke air laut.


Zhou Fu melakukannya karena Shen Shen tak menguasai satu pun ilmu pertahanan diri. Seorang pendekar, selain harus menguasai  ilmu bela diri juga harus menguasai setidaknya satu ilmu bertahan. Ilmu tersebut akan sangat berguna ketika seorang pendekar sedang dipertemukan dengan musuh yang senang mengintimidasi dengan aura negatif.


Selama bertarung dengan Rao Guohoa, Zhou Fu sudah menyisihkan beberapa tenaga dalamnya untuk membuat pertahanan agar tubuhnya tak terkena pengaruh buruk dari aura yang dilepaskan Rao Guohoa.


Pertarungan Zhou Fu dan Rao Guohoa berlangsung lebih sengit dari sebelumnya. Setelah beberapa kali melakukan pertukaran jurus dengan Rao Guohoa, Zhou Fu menyadari satu hal, serangannya tidak bisa melukai perempuan menyeramkan itu. Meski kini Zhou Fu sudah bertarung dengan bantuan pedang pusaka, nyatanya itu tak menambah nilai serangannya.


Rao Guohoa seperti menjadi berlipat-lipat kali lebih kuat dan lebih cepat. Jika Zhou Fu tak segera membalik keadaan, ia ragu apakah masih bisa memenangkan pertarungan tersebut mengingat musuhnya kini seperti sedang kerasukan iblis jahat.


“Mati kau kali ini! Ha ha ha!!!” Rao Guohoa menyerang Zhou Fu yang masih mengatur pernapasan.

__ADS_1


Mendapat serangan mendadak, Zhou Fu tak memiliki pilihan lain, ia menaikkan level kekuatannya dengan mempertaruhkan penggunaan tenaga dalam di ambang batas maksimal. Jika serangannya tak mampu mengakhiri Rao Guohoa, kekalahan akan segera menghampiri Zhou Fu.


“Terima juga seranganku ini!!!” Zhou Fu membalas dengan suara lantang.


Dua jurus yang sama-sama kuat akhirnya saling bertemu dan berhasil membuat keduanya saling terpental jauh. Terlihat Rao Guohoa bangun lebih cepat dari Zhou Fu, perempuan itu pun melesat cepat dan tiba-tiba tangan kirinya sudah mencengkeram leher Zhou Fu.


“Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” tangan kanan Rao Guohoa seperti sedang mengerahkan kekuatan besar yang akan digunakan sebagai jurus untuk mengakhiri hidup Zhou Fu.


Zhou Fu yang tenaga dalamnya sudah semakin menipis, merasakan jika kekuatan di tangan Rao Guohoa memiliki daya rusak yang cukup besar dan mengerikan. Meski demikian, bibir Zhou Fu menampakkan sebuah senyum sinis.


“Hiaaaa!!!” Rao Guohoa mengerahkan seluruh kekuatan di tangan kanannya untuk dipukulkan ke dada Zhou Fu, tapi anehnya, Zhou Fu hanya merasa seperti tergigit semut merah.


Rao Guohoa kaget setengah mati mendapati serangannya seperti hilang dalam sekejap mata.


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?” Rao Guohoa menoleh ke tangan kanannya.


“Zhou Fu, habisi dia sekarang!” Shen Shen berteriak dari kejauhan dan segera dibalas dengan anggukan oleh Zhou Fu.


JLEEEEEBBBBB!!!


Tanpa basa-basi, Zhou Fu menusukkan pedang pusaka ke jantung Rao Guohoa. Darah pun mencuat keluar seperti air mancur dari arah dada Rao Guohoa, perempuan itu melotot kaget karena tak menyangka jika tubuhnya akan ditusuk oleh pedang pusaka miliknya sendiri.


“Zhou Fu, pastikan dia tewas kurang dari satu menit! Jika tidak… Aaaaarhhh” Shen Shen tak bisa meneruskan kalimatnya sebab Rao Guohoa mengirim sebuah serangan jarak jauh hingga membuat Shen Shen terpental.


Zhou Fu geram melihat musuhnya yang sudah sekarat pun masih bisa melukai seseorang dari jarak yang jauh.


“Rasakan ini!” Zhou Fu menusuk monster di depannya berulangkali hingga perempuan itu kehabisan darah dan meregang nyawa.


Rao Guohoa tewas dalam keadaan mata membelalak. Seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali dua matanya yang seperti bohlam di tengah kegelapan.


Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya sebab baru kali itu berhadapan dengan lawan yang cukup menguras tenaga.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus berlatih lebih kuat lagi!” Zhou Fu melepaskan cengkeramannya dari leher Rao Guohoa dan membiarkan tubuh perempuan itu tenggelam pelan-pelan.


***


Malam sudah mulai berganti fajar ketika tubuh Zhou Fu dan Shen Shen terbaring di sebuah balok besar dari sisa-sisa bangkai kapal yang hancur. Mereka berdua dibantu tiga petugas kapal yang sebelumnya bersembunyi dengan sangat baik selama pertarungan terjadi.


Tiga petugas kapal tersebut meyakini jika Zhou Fu dan Shen Shen bukanlah orang jahat sehingga mereka menawarkan bantuan pada Zhou Fu dan Shen Shen.


“Kami akan membawa kalian ke Dengguang, sebuah pulau kecil yang berada di antara beberapa pulau besar,” ujar salah seorang petugas kapal menawari Zhou Fu dan Shen Shen yang baru saja mengalahkan Rao Guohoa.


“Baiklah, Paman. Terima kasih karena kalian tak turut mati dalam pertarungan tadi. Kukira tak ada awak kapal yang selamat sebelumnya,” jawab Zhou Fu menerima uluran bantuan.


Ketika Zhou Fu dan Shen Shen sudah berada di atas balok besar, pertama-tama Zhou Fu mengucapkan terima kasih pada Shen Shen karena sudah membantunya mengalahkan Rao Guohoa di saat yang tepat.


“Kukura, tanpa bantuan pusaka yang kau bawa itu, pertarungan tadi akan berlangsung sangat lama,” ujar Zhou Fu sambil menunjuk pada sebuah pusaka yang digantung di pinggang Shen Shen. Sebuah pusaka yang ia dapat dari kelompok Taoqi di desa Dozhu pulau Jidong.


“Perempuan itu menguasai jurus Dewa Abadi. Jurus tersebut membuat penggunanya akan memiliki kekuatan berlipat ganda ketika tubuhnya berhasil selamat dari sekarat. Setiap kali ia berhasil lolos dari kematian, semua kekuatan dari jurus yang ia miliki akan meningkat baik daya rusak maupun kecepatannya. Aku tahu karena pernah membacanya dalam buku sejarah,” Shen Shen mebalas terima kasih Zhou Fu dengan sebuah informasi, ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya sebab ia bisa berjumpa langsung dengan pengguna jurus Dewa Abadi yang sangat langka itu.


Zhou Fu mengerutkan kening mendengar jawaban Shen Shen. Zhou Fu yang tadinya hendak melakukan penyembuhan pada tubuhnya, terpaksa menunda hal tersebut sebab ia lebih tertarik dengan cerita Shen Shen.


“Begitukah? Di mana aku bisa mempelajari jurus tersebut? Apakah di buku sejarah disebutkan?” Zhou Fu menunjukkan ekspresi bersemangat.


“Jangan! Jangan pernah mempelajari jurus itu. Setiap jurus berbahaya akan membawa dampak buruk yang berbeda-beda, kau lihat wajah menyeramkan perempuan tadi? Itu adalah salah satu efek buruk dari jurusnya. Tubuhnya akan menjadi semakin kurus, hawa kehidupannya seperti disedot oleh jurus tersebut. Itu baru salah satu efek buruknya!” Shen Shen mengingatkan.


“Tuan dan nona, kalian tidurlah dahulu, tubuh kalian sepertinya sangat butuh istirahat. Laut sedang sangat tenang, kami bisa membawa balok ini ke Dengguang tanpa bantuan tuan muda,” salah seorang petugas kapal yang paling tua mengingatkan. Ia nampak bersimpati pada Zhou Fu dan Shen Shen yang terlihat sangat berantakan.


 


\=\=\=\=\=\=


Valentine gini pada dapat hadiah apa sih kalian? Hehe, selamat hari kasih sayang ya… Sebelum menyayangi orang lain, pastikan kalian menyayangi diri sendiri dahulu^^

__ADS_1


__ADS_2