Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 38 – Paviliun Ketiga


__ADS_3

Yuuhuu... Ch.39 Kejadian Tak Terduga sudah rilis di yutub, selamat menonton...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CH. 38 – Paviliun Ketiga


Haku masih menggeliat manja di tempatnya berada. Tubuhnya bergoyang pelan, kepalanya mengangguk-angguk dan seluruh mata di tubuhnya berkedip seirama. Ia seperti sedang memohon kepada Zhou Fu untuk mendatanginya dan memberinya sebuah usapan lembut di kepala.


Sementara itu, Zhou Fu dan Shen Shen sedang memandangi makhluk tersebut dari jarak 20 meter jauhnya. Melihat tatapan Haku yang penuh harap, Shen Shen menyenggol-nyenggol lengan Zhou Fu untuk mengajaknya pergi menjauh saja. Bisa jadi, bisa jadi makhluk besar itu hanya berpura-pura saja, pikir Shen Shen.


Zhou Fu menangkis tangan Shen Shen pelan, memintanya untuk bersembunyi jika ketakutan namun Shen Shen menggelengkan kepala. Nyatanya, bersembunyi dan jauh dari Zhou Fu rasanya lebih menakutkan bagi Shen Shen. Haku bukanlah satu-satunya makhluk yang mungkin mendiami laut Luzon. Setidaknya itu yang menghantui pikiran Shen Shen hingga perempuan itu enggan untuk jauh-jauh lagi dari Zhou Fu.


‘Baiklah, tetap di sini dan berpegangan saja pada sikuku!’ perintah Zhou Fu dalam bahasa isyarat yang langsung dibalas dengan bibir manyun oleh Shen Shen. Perempuan itu masih berharap jika Zhou Fu mau menurutinya untuk menjauh dari monster laut dengan seribu mata itu.


Zhou Fu tak merespon wajah masam Shen Shen, melainkan mencoba untuk mengarahkan matanya pada dua mata Haku yang ada di bagian kepala. Ketika mata Zhou Fu saling bertatapan dengan mata Haku, Zhou Fu merasa jantungnya seperti tersengat sesuatu. Bukan sebuah sengatan yang menyakitkan, melainkan sebuah gejolak aneh yang tiba-tiba timbul dan mengganggu pikiran.


Rasanya seperti memiliki sebuah ingatan yang hilang, lalu ingatan tersebut datang dengan sangat tiba-tiba, tetapi kemudian gagal mewujud sebagai kenangan. Hasilnya adalah, sebuah gejolak asing yang timbul di dada dan menjalar ke dua telapak kaki dan tangan, memunculkan rasa kejut serupa perasaan orang yang merinding melihat ketinggian.


Tetapi, tidak demikian dengan Haku. Makhluk itu tak menunjukkan reaksi apa-apa selain kedipan mata-matanya yang seirama. Zhou Fu kemudian memejamkan mata sembari menggeleng-geleng keras, seperti seseorang yang sedang menahan rasa pusing di kepala. Zhou Fu membuka matanya kembali dan mencoba mengesampingkan gejolak asing yang muncul di dadanya.


Itu hanya kebetulan saja! Batin Zhou Fu guna menetralkan pikirannya yang sempat sedikit bingung dan kaget.

__ADS_1


Zhou Fu mencoba menatap mata Haku dengan tatapan ramah, lalu tangan kanannya menjulur dan membuat gerakan mengundang Haku untuk mendekat. Gerakan tangan Zhou Fu cukup pelan dan tenang, hal tersebut ia lakukan untuk memberi kesan pada Haku jika ia memang tak lagi ingin melakukan pertarungan.


Mata Haku nampak mengikuti lambaian tangan Zhou Fu yang pelan, setelah terlihat tertegun beberapa saat, Haku menyeringai lalu melenggokkan sirip ekornya pelan-pelan untuk mendekati Zhou Fu. Degup Jantung Zhou Fu dan Shen Shen menunjukkan perubahan drastis, mereka berdua jelas sedang menahan rasa khawatir. Jujur saja, Zhou Fu mengakui keunggulan Haku. Jika Haku berkehendak untuk menyerang Zhou Fu, ia belum memiliki rencana bagaimana menghindarinya.


Haku pun semakin dekat dan semakin dekat, hingga kini kepalanya hanya berjarak satu meter dari Zhou Fu dan Shen Shen. Itu adalah jarak aman untuk membuat Zhou Fu tak terganggu dengan napas Haku yang menyedot dan mengeluarkan air dengan deras.


Haku membungkukkan kepala, seolah memberi kesempatan agar Zhou Fu bisa mendekat dan menempelkan tangannya di kening Haku. Zhou Fu mendekat sedikit untuk mengusapkan telapak tangannya di kening Haku sementara Shen Shen tetap mengikatkan tangannya di siku Zhou Fu.


Satu usapan, dua usapan, tiga usapan. Zhou Fu menghentikan usapan tangannya, lalu mundur satu meter lagi dan meminta Haku untuk mengangkat kepala. Haku tak menurut melainkan memilih untuk menyondongkan kepalanya pada tubuh Zhou Fu. Membuat Zhou Fu bersentuhan langsung dengan kepala Haku dan sungut-sungut Haku yang lain.


Bolehkah kami menunggangimu? Zhou Fu bertanya pada Haku dengan bahasa tubuh.


Haku nampak menyeringai gembira. Kepalanya mengangguk-angguk sembari ia menutup sisik matanya perlahan dimulai dari leher, badan, hingga ekor. Sebuah pemandangan yang indah sekali serupa pertunjukan pemadaman seribu lentera yang bergerak berirama.


Shen Shen merinding takjub melihat kehebatan makhluk laut yang belum pernah dibacanya dari buku sejarah manapun. Hampir saja mulut Shen Shen menganga, tetapi buru-buru dia teringat jika masih berada di dalam lautan.


Hap!!!


Zhou Fu bergerak lincah menaiki dahi Haku sekaligus menarik tangan Shen Shen untuk turut bersamanya. Zhou Fu duduk bersila di dahi Haku yang permukaannya tidak beraturan, sesekali ia mengusap rambut alis Haku yang panjangnya sepanjang rambutnya sendiri. Setelah semuanya siap, Zhou Fu menunjuk ke sebuah arah untuk meminta Haku berenang ke arah tersebut.


***

__ADS_1


Dengan menumpang di dahi Haku, perjalanan Zhou Fu dan Shen Shen menuju ke Paviliun ketiga hanya memakan waktu kurang dari lima menit. Zhou Fu dan Shen Shen turun dari dahi Haku dan meminta makhluk tersebut untuk berdiam diri menunggui selagi mereka mencari tahu isi dari gulungan ketiga yang ada di dalam mulut patung singa.


Tak seperti patung pertama dan kedua, Shen Shen tak menemukan bentuk taring singa yang aneh, yang menandakan bahwa itu adalah tuasnya. Shen Shen mencoba menggoyang satu demi satu taring-taring di mulut patung singa tetapi tetap saja tak terjadi apa-apa. Zhou Fu menyingkirkan tangan Shen Shen dari dalam mulut patung singa, ia mencoba untuk mengambil giliran menemukan taring yang mana yang menjadi pembuka mulut singa.


Setelah beberapa kali mencoba, Zhou Fu mencoba memejamkan mata. Ia sedang berkonsentrasi mengumpulkan pecahan-pecahan ingatan pada penampakan singa di paviliun pertama dan kedua. Beberapa saat setelah matanya terpejam, Zhou Fu membuka mata dengan tiba-tiba, seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga.


Benar saja, apa yang dicari Zhou Fu benar-benar ada. Paviliun Bunga Teratai, itulah nama paviliun yang berada di dalam peradaban yang tenggelam. Paviliun pertama, kedua dan ketiga sama sama memiliki patung singa yang disangga di bagian atap. Cukup aneh memang, mengapa dinamai Bunga teratai jika lambang yang ditampakkan adalah kepala singa.


Berkat keanehan itulah, Zhou Fu sempat mengamati setiap jengkal patung kepala singa di masing-masing paviliun. Dan, mata Zhou Fu memang menemukan sesuatu yang tak biasa, ada sebentuk bunga teratai di bagian atas dahi singa, tepatnya di sisi kiri tepat di atas surai rambut singa. Paviliun pertama dan kedua hanya memiliki masing-masing satu bunga. Sedangkan paviliun ketiga memiliki tiga bunga.


Meski memiliki jumlah bunga yang sama, teratai di paviliun pertama dan kedua nyatanya memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jumlah kelopak dari bunga teratai tersebut. Dan, sepertinya, jumlah kelopak teratai itu adalah sama dengan kunci jawaban dari taring nomor ke berapa yang berfungsi sebagai tuas.


Bulu kuduk Zhou Fu merinding bersamaan. Lekas-lekas ia menghitung jumlah masing-masing kelopak bunga teratai yang ada di kepala singa, ada tiga bunga dengan jumlah kelopak ganjil yang berbeda-beda. Setelah menghitung semuanya, Zhou Fu memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali dan menarik satu tangan Shen Shen. Zhou Fu menempatkan tangan Shen Shen pada satu taring singa, dan dua tangannya sendiri pada dua taring singa.


Kening Shen Shen berkerut, tetapi ia menurut saja ketika Zhou Fu memintanya untuk menarik taring itu bersama-sama dengan dua taring yang dicengkeram Zhou Fu.


Cekleeeeeek!!!!


Dugaan Zhou Fu benar sepenuhnya. Kelopak bunga teratai itu adalah lambang penomoran yang diberikan oleh orang-orang di peradaban masa lalu. Kepala singa itu pun membuka perlahan-lahan, dan sekaligus memunculkan sesuatu yang ada di dalamnya.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Maaf ya kemarin libur...


__ADS_2