
Di dalam Benteng Bunga Krisan, setidaknya terdapat sekitar sepuluh ribu pasukan dari Sekte Sungai Utara. Sebuah Sekte yang pernah menjadi bahan olok-olokan kelompok hitam di distrik Jinwei karena tiga anggotanya tak pernah kembali setelah berhasil menangkap Shen Shen di sekitar pulau Youhi. Karena sudah tak memiliki muka di distrik Jinwei, sekte Sungai Utara pun bermigrasi dari distrik Jinwei ke wilayah perbatasan lalu merebut Benteng Bunga Krisan dari tangan militer Caihong.
Kedatangan rombongan Feng Yaoshan di wilayah kekuasaan mereka tentu akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh mereka. Sebagaimana mereka tahu sebelum-sebelumnya, bangsawan selalu membawa banyak harta. Jangankan bangsawan kelas satu, mereka sudah sering merampok bangsawan tanpa gelar, dan meskipun tak bergelar, bangsawan dari Caihong nyatanya kaya raya semuanya.
“Mereka datang dengan hanya membawa satu pengawal yang berkuda hitam itu! Pasti mereka telah kehilangan banyak pasukan di perjalanan. Ini akan menjadi sangat mudah!” gumam seorang bergigi hitam yang sebelumnya menjawab perintah Feng Yaoshan.
“Tuan muda! Silakan masuk, pintu benteng telah terbuka!” gumamnya lagi, kali ini dengan suara cukup keras agar calon mangsanya mendengar instruksi darinya.
“Baik, kami akan masuk!” Feng Yaoshan kembali ke posisinya, mengemudi kereta untuk memasuki benteng Bunga Krisan. Begitu juga dengan Zhou Fu, saat itu ia mengenakan topeng agar rekan-rekannya tak terlalu khawatir karena kulit di wajahnya sudah pucat seperti mayat.
Pelan-pelan, kereta pun masuk ke wilayah benteng Bunga Krisan. Kuda Zhou Fu pun mengiringi tepat di samping kereta kuda Feng Yaoshan. Di dalam benteng tersebut, Feng Yaoshan dan Zhou Fu melihat ada ratusan prajurit pemanah yang telah bersiap di bagian atas benteng. Di bawahnya, terdapat ratusan lagi para prajurit yang sepertinya telah berada dalam posisi siaga.
Feng Yaoshan tersenyum melihat berratus-ratus prajurit yang menyambutnya tersebut, sebuah penyambutan yang mengharukan menurutnya. Ia seolah sedang merasa menjadi pahlawan yang baru kembali dari perang.
“Wah, terima kasih atas sambutan hangat ini…” Feng Yaoshan tersenyum bangga.
“Dasar bangsawan bodoh!” Zhou Fu mengumpat, tapi umpatannya hampir tak mengeluarkan suara. Penglihatannya mengatakan hal yang sebaliknya, pasukan-pasukan itu tak sedang menyambut mereka, tetapi sedang bersiap-siap menghabisi mereka dalam sekali serangan.
Zhou Fu pun menoleh ke belakang. Benar saja, pintu gerbang ditutup dengan sangat buru-buru dan pasukan pemanah telah bersiap dengan busur mereka masing-masing.
“Yang Zi, selamatkan Shen Shen dari sini! Tempat ini bukanlah….” pekik Zhou Fu tapi lagi-lagi ia tak mendengar suaranya sendiri. Entah telinganya yang mengalami gangguan atau tenggorokannya yang rusak yang jelas ia seperti kehilangan suara.
Beberapa detik setelahnya, Zhou Fu mendapati dadanya telah ditancapi tiga anak panah. Pandangannya mulai kabur, samar-samar ia melihat Feng Yaoshan bersama dengan Yang Zi berjuang menangkis serangan-serangan yang datang. Setelah itu, semuanya gelap.
***
Zhou Fu mendengar suara batu yang yang dipukul-pukulkan ke batu. Suara itu cukup mengganggu telinganya. Setelah beberapa saat hanya menggeser-geser posisi tidurnya, ia baru tersadar jika ia sedang berada di medan pertempuran. Ia pun bangkit dan membuka kedua matanya yang masih terasa cukup berat.
Sayangnya, yang ada di depan matanya bukanlah medan pertempuran melainkan sebuah langit-langit hitam yang kelabu. Ia mulai merasa panik sebab ia seharusnya berada di medan perang bersama teman-temannya yang lain.
__ADS_1
“Oh, Tuan Muda sudah bangun?” seseorang bergumam sambil melempar senyum kecil, orang itulah yang telah menciptakan suara bising yang mengganggu telinga Zhou Fu.
Zhou Fu pun menoleh ke arah suara tersebut berasal, ia kaget, tentu saja. Zhou Fu lantas memijit-mijit keningnya, mencoba mencari tahu apakah itu hanyalah kejadian di alam mimpi atau kejadian yang terjadi di alam nyata.
“Tabib Wu Quibai? Apakah saya benar-benar ada di desa Malam?” Zhou Fu meminta penjelasan pada tabib sepuh yang kini sedang berjalan ke arahnya.
“Benar, Tuan Muda. Yuan Jin yang membawa tuan kemari,” jawabnya singkat.
“Lalu??? Teman-teman saya? Bagaimana mereka?” Zhou Fu bertanya tak sabar.
“Tenang, mereka semua aman. Jika bertemu nanti, berterima kasihlah pada Yuan Jin. Dia banyak membantu teman-teman Tuan Muda,” ucap tabib Wu seraya menyerahkan segelas ramuan kepada Zhou Fu, meminta pemuda tersebut untuk menenggak ramuan obat itu.
Setelah menenggak habis ramuan yang diberikan oleh tabib Wu, mulut Zhou Fu sudah berada dalam posisi siap untuk memberondong beberapa pertanyaan pada tabib Wu Quibai. Sayangnya, tabib Wu memberi isyarat pada Zhou Fu agar pemuda itu menutup mulutnya rapat-rapat.
“Tuan Muda, kembalilah ke asal Tuan Muda. Kembalilah ke guru Tuan Muda. Ilmu Tuan Muda masih cukup mentah. Hal ini sangat berbahaya jika diterus-teruskan,” ucap tabib Wu Quibai sembari mencengkeram lengan Zhou Fu, menekan-nekan beberapa titik urat di tangannya dan membuat Zhou Fu mengaduh kesakitan.
“Mentah?” Zhou Fu mengernyitkan kening, tak begitu mengerti dengan ucapan tabib Wu Quibai.
“Saya tidak akan pulang sebelum memastikan teman-teman saya kembali ke Caihong dengan selamat. Persetan ilmu yang masih lemah, toh segini saja saya masih belum terkalahkan!” geram Zhou Fu seraya bangkit dari tempat tidur. Ia hendak pergi dari situ, tetapi kemudian baru ingat jika ia tak tahu tujuannya ke arah mana.
“Tuan Muda mau menjemput teman-teman tuan muda?” tabib Wu Quibai sama sekali tak kaget melihat sikap keras kepala dari Zhou Fu, meski masih butuh istirahat, nyatanya pemuda itu telah berkeras hati untuk pergi demi memastikan keselamatan teman-temannya. Sikap itu, sama persis seperti Patriark Yuan Kai. Tabib Wu Quibai pun seperti melihat kembali Patriark Yuan Kai yang masih muda.
“Ya. Saya akan menjemput mereka. Sekalipun tabib tak memberi tahu keberadaan mereka, saya akan mencari tahu dengan kemampuan saya sendiri!” balas Zhou Fu dengan memendam amarah, ia berpikir, tak seharusnya seseorang memisahkannya dari rombongan teman-temannya.
“Mereka sedang menunggu tuan muda di pemukiman Bunga Persik. Itu adalah pemukiman yang paling dekat dengan gerbang Maundo.” Jawab tabib Wu Quibai dengan ramah.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana?” Zhou Fu bertanya lagi sebab ia tak begitu mengenal wilayah daratan Caihong.
“Tiga hari. Mungkin Tuan Muda bisa menempuhnya dalam waktu dua hari saja.”
__ADS_1
“Tiga hari??!! Berapa lama saya berada di desa Malam?”
“Tiga hari tiga malam, Tuan.”
“Apa??? Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu pada teman-teman saya? Tabib, bukankah sangat berbahaya membiarkan mereka berpisah dari saya?”
“Tenang, Tuan. Tak akan ada yang bisa mencelakai mereka. Mereka sudah bersama dengan orang yang tepat. Kalaupun sekarang Tuan Muda memilih untuk kembali pulang tanpa pergi ke pemukiman Bunga Persik, teman-teman tuan muda akan tetap selamat setidaknya sampai di gerbang Maundo.”
Zhou Fu mengernyitkan keningnya lagi, tak mengerti dengan ucapan tabib Wu Quibai. Akhirnya tabib Wu Quibai menjelaskan jika Patriark Yuan Kai sendiri yang turun tangan mendampingi rombongan Feng Yaoshan. Tabib Wu mengatakan juga jika Patriark Yuan Kai bahkan masih bisa mengalahkan sepuluh pendekar yang setara dengan Wei Sihao meski keadaannya sedang lumpuh.
“Dia bersedia keluar dari desa Malam untuk yang pertama kali, demi menyelamatkan teman-teman tuan muda. Dan demi membujuk tuan muda untuk kembali pulang ke tempat asal tuan muda. Sepertinya Patriark Yuan sangat mengkhawatirkan keadaan tuan muda hingga ia ingin menggantikan posisi mengawal para bangsawan sebagai tanggung jawabnya,” jelas tabib Wu Quibai yang semakin membuat kening Zhou Fu berkerut-kerut.
“Apapun itu, saya tidak akan pulang sebelum mengantar teman-teman saya ke Maundo!”
“Ya, saya juga sudah memberi pesan pada Patriark Yuan Kai jika saya mungkin akan gagal memaksa tuan muda untuk pulang. Itulah mengapa, Patriark Yuan Kai bersedia menunggu tuan muda di pemukiman Bunga Persik. Setelah empat hari dari hari ini, jika tuan muda masih tak menemui mereka di sana, maka Patriark Yuan Kai menganggap Tuan Muda sudah kembali pulang.”
“Baguslah! Saya akan tiba di pemukiman Bunga Persik dalam waktu satu hari!” celetuk Zhou Fu seraya menguatkan tali-tali pakaiannya. Menutup luka-lukanya, dan melepas perban-perban luka yang melingkar di kepalanya.
“Oh, bagaimana bisa anak ini mewarisi sifat dan kekuatan Patriark Yuan Kai!” Tabib Wu Quibai tersenyum ramah. Sebagaimana ia sangat menyayangi Patriark Yuan Kai, kini ia juga mulai menaruh rasa sayang terhadap pemuda keras kepala yang bernama Zhou Fu itu.
“Oh ya, bagaimana dengan musuh-musuh di benteng Bunga Krisan?” Zhou Fu bertanya lagi sebelum ia benar-benar pergi dari kediaman tabib Wu Quibai.
“Sekte Sungai Utara? Oh, jangan risau soal itu, teman perempuan Tuan Muda ternyata cukup berbakat. Selain pandai memasak, ternyata ia juga pandai melibas musuh!” gumam tabib Wu Quibai penuh bangga pada Yang Zi.
“Ah, anak itu memang bisa diandalkan!” celetuk Zhou Fu seraya bibirnya menyunggingkan senyum.
***
Di dalam tembok raksasa, beberapa prajurit khusus telah membuat laporan tentang kematian pendekar Wei Sihao yang kabarnya begitu cepat menyebar di berbagai penjuru dunia. Kabar kematian Wei Sihao mendapat perhatian lebih dari pemerintah Caihong pusat sebab itu artinya ada pendekar baru yang sakti yang belum masuk ke daftar catatan mereka.
__ADS_1
Sebuah catatan khusus yang memuat daftar-daftar pendekar yang akan dimusnahkan dari muka bumi jika mereka mendapat kesempatan. Di daftar tersebut, nama kakek Zhou Fu juga tertulis. Beberapa pendekar Bingdao yang tergabung dalam Pasukan Lima dan Pasukan Enam juga tertulis di sana. Hanya tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk mengetahui siapa yang telah menghabisi pendekar Wei Sihao di perbatasan sungai Juda.