
“Lembah Neraka??! Mimpi buruk apa lagi ini?!!” gerutu perempuan yang diikat Zhou Fu di punggung Kuma. Perempuan itu kaget begitu menyadari jika ia sedang berada di tempat yang cukup dekat dengan Lembah Neraka.
Waktu itu hari sudah berganti, tetapi matahari masih belum nampak sebab pagi masih terlalu pagi. Zhou Fu sedang bermeditasi ketika telinganya mendengar suara berisik dari perempuan yang bersama Kuma. Ia pun membuka mata dan mendapati perempuan itu sudah berhasil melepaskan ikatan di tubuhnya. Ia nampak memijit-mijit lengannya yang sepertinya memerah karena bekas ikatan.
“Jawab dengan jujur, apakah semalam kau berteriak menyuruhku kembali?” Zhou Fu bangkit berdiri dan menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu pikirannya.
“Aku? Berteriak??? Aku bahkan baru saja berhasil membuka mata,” jawab gadis itu sembari masih memijit beberapa bagian di tubuhnya. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah Zhou Fu.
“Apakah itu artinya semalam kau mengalami serangan dari Lembah Neraka?” perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah Zhou Fu. Dan dibalas dengan anggukan ragu-ragu oleh Zhou Fu.
“Lembah Neraka adalah sebuah lubang sebesar empat meter berbentuk lingkaran, tempatnya sekitar tiga puluh meter dari sini. Lubang dalam lembah itu, tak pernah ada yang tahu seberapa dalamnya. Yang jelas, setiap malam tiba, lembah itu mengeluarkan kabut tebal yang dikatakan orang-orang bisa membuat siapa saja kehilangan nyawa karenanya. Aku sendiri tak mengerti bagaimana bisa kabut tebal mampu menghilangkan nyawa seseorang! Hei, mengapa aku bisa berbicara panjang lebar begini kepada orang yang mungkin saja adalah musuhku?” perempuan itu mendadak memundurkan langkahnya, ia seperti baru ingat jika pemuda yang membawanya itu belum tentu berkelakuan baik.
“Oh ya, aku juga baru ingat jika harus melakukan pemeriksaan padamu, nona yang mengaku sebagai Yang Zi!” Zhou Fu melesat dan dalam hitungan detik ia sudah kembali mencengkram pakaian perempuan yang ada di depannya.
“A… Aku memang Yang Zi. Kuharap kau adalah teman dari kakakku…” jawab Yang Zi seraya memundurkan wajahnya yang semakin dipelototi oleh Zhou Fu.
__ADS_1
Zhou Fu kembali mengusap-usapkan punggung tangannya ke kulit wajah Yang Zi, dan benar saja setelah beberapa kali usapan, ia menemukan sebentuk wajah yang cukup menyerupai Shen Shen. Ia seperti sedang berhadapan dengan Shen Shen, tetapi dalam sosok yang sepertinya lebih mandiri dan tidak manja.
Zhou Fu lantas melepaskan cengkramannya. Telapak tangan kanannya nampak mengacak-acak rambut gadis itu seraya berucap, “syukurlah kau masih hidup! Shen Shen akan bahagia mengetahuinya,” ujar Zhou Fu dengan senyum yang sedikit merekah. Ada sebuah kelegaan yang merayapi tubuh Zhou Fu begitu meyakini jika gadis di depannya adalah Yang Zi.
“Oh, jadi benar kau adalah teman kakakku? Syukurlah aku senang mendengarnya!” gadis itu sontak menjinjitkan kakinya dan berusaha merangkul pundak Zhou Fu yang berada lebih tinggi darinya. Sepertinya, itu adalah ungkapan kebahagiannya karena merasa kembali yakin jika kakaknya masih hidup. Yang Zi terus merangkul Zhou Fu meski Zhou Fu memintanya untuk melepaskan rangkulan tersebut. Yang Zi menjadi cukup yakin jika Zhou Fu memang dekat dengan kakaknya sebab pria itu memanggil kakaknya dengan sebutan Shen Shen, sebuah panggilan yang tak semua orang tahu.
“Sudah hentikan, yang terpenting adalah, beri tahu aku bagaimana cara melewati Lembah Neraka!” Zhou Fu memaksa Yang Zi untuk menyudahi rangkulannya.
“Kita bisa melewatinya setelah matahari muncul di permukaan, ada jembatan kayu kokoh yang melintasi lembah tersebut! Kabut berbahaya itu hanya keluar ketika matahari tak sedang bersinar. Jadi, apakah tujuanmu kali ini adalah menuju ke tempat kakakku berada?” jawab Yang Zi yang kemudian juga bertanya.
“Mengapa bisa begitu? Memangnya, apa yang ada di dalam lembah tersebut?” Zhou Fu mengerutkan alis.
“Hem… Begitu rupanya, cukup menarik…” jawab Zhou Fu mengangguk-anggukkan kepala, ia baru kali itu mendengar tentang adanya lokasi yang cukup misterius seperti lembah neraka itu.
Yang Zi lalu meminta Zhou Fu untuk duduk sebentar bersamanya sebab gadis itu mengatakan jika ia memiliki sebuah informasi yang wajib diketahui Zhou Fu. Mereka pun duduk bertiga bersama Kuma yang juga sedang beristirahat di jalan setapak yang menghadap ke jurang.
__ADS_1
Dengan cekatan, Yang Zi menciptakan api unggun sebab ia merasa hawa di tempat tersebut cukup dingin. Melihat Yang Zi yang cukup mandiri itu, Zhou Fu sempat bingung bagaimana bisa gadis itu memiliki kakak yang justru sangat manja dan tidak bisa apa-apa.
“Jadi, apa yang ingin kau ceritakan?” tanya Zhou Fu seraya mendekatkan dua tangannya ke sumber api yang baru saja dibuat oleh Yang Zi.
“Soal sumber uang yang kau dapat di Maundo. Percayalah padaku, memukul batu hitam hingga retak, itu adalah pilihan yang tidak bijak!” jawab Yang Zi dengan tatapan yang serius.
Beberapa jam sebelumnya, ketika baru saja berpisah dengan Zhao Yunlei, Zhou Fu memang berkeliling di kawasan Maundo untuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan uang. Ia akhirnya menemukan sebuah arena menarik di mana pihak penyelenggara akan membayar mahal siapa saja yang bisa meretakkan batu hitam yang sudah ia siapkan.
“Tidak bijak maksudmu? Darinya, aku bisa mendapatkan kuda ini!” Zhou Fu berkilah.
“Bukan begitu, aku melihat penyelenggara itu bekerja sama dengan pemerintah Caihong. Orang-orang yang berhasil meretakkan batu hitam itu akan segera dilukis wajahnya, lalu gambar wajahmu akan dikirim ke pemerintah pusat dan mereka akan mulai menyelidiki tentang dirimu. Permainan itu, jika kau percaya padaku, itu adalah jebakan!” tukas Yang Zi dengan ekspresi yang masih cukup serius.
Sebagai seseorang yang berhasil menyamar menjadi petugas pelabuhan, Yang Zi telah berhasil menemukan fakta-fakta menarik seputar negeri Caihong yang ia tinggali itu. Salah satunya adalah tentang fakta permainan meremukkan batu hitam di Maundo. Permainan tersebut sengaja dibuat untuk menemukan orang-orang hebat yang berpotensi akan mendatangkan masalah bagi negeri Caihong. Untuk menemukan orang-orang berbakat itu, si penyelenggara arena permainan mendapat sumbangan penuh dari pemerintah.
“Hem, bagaimana jika aku tidak peduli?” Zhou Fu nampak menguap dan sedikit tak berminat dengan topik pembicaraan yang diusung Yang Zi. Meski demikian, apa yang dituturkan oleh Yang Zi merupakan sebuah kebenaran. Dalam waktu dekat, lukisan wajah Zhou Fu bisa dipastikan akan dikirim ke markas pemerintahan Caihong.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Dua chapter lanjutan dari ini sudah rilis di yutub. Di chapter 54. Cerita Penculikan Yang Zi, akan terkuak mengapa Shen Shen diculik dan mengapa Yang Zi memiliki harga kepala lebih mahal (Seperti yg disinggung di chapter 13)