Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 45 – Janji Bertemu di Juda


__ADS_3

Para pasukan dari Shamo berduyun-duyun meninggalkan lapangan luas tempat Zhou Fu dan Rao Guohoa berhadap-hadapan. Mereka semua menggiring serta para tawanan untuk turut menjauh dari tempat tersebut lantaran Rao Guohoa memberi peringatan dengan suara lantang. Ming Tian pun turut bersegera pergi sembari terus memegangi lengannya yang mengeluarkan aroma bakar. Sepanjang ia menjauhi lapangan luas itu, ia terus bertanya-tanya bagaimana bisa pendekar seberingas Rao Guohoa nampak cukup berhati-hati dalam menghadapi seorang remaja.


Beberapa tawanan dari Bingdao nampak sesekali menolehkan kepala ke lapangan rumput, mereka cukup penasaran dengan identitas Zhou Fu. Tentu saja para tawanan tersebut berharap jika Zhou Fu adalah keturunan dari pendekar Bingdao sehingga mereka memiliki harapan untuk diselamatkan meski nyatanya banyak dari mereka yang cukup meragukan kemampuan Zhou Fu.


“Apakah kau mendengar percakapan mereka berdua?” salah seorang tawanan Bingdao menanyai rekannya sembari berbisik.


“Sedikit. Sepertinya pendekar perempuan itu marah karena dua hal. Yang pertama adalah karena pedangnya hilang, dan yang kedua adalah karena bangsawan yang dijaganya kehilangan kapal. Sepertinya, pemuda itu yang menyebabkan dua hal tersebut,” jawab salah seorang tawanan yang kebetulan sempat mendengar percakapan antara Rao Guohoa dengan Zhou Fu.


“Diam atau kusumpal mulut kalian berdua!” bentak seorang militer Shamo yang mendapati dua tawanan Bingdao sedang membicarakan sekutu mereka, Rao Guohoa. Dua tawanan dari Bingdao itu pun serentak menutup mulut mereka karena takut. Beberapa saat sebelumnya, mereka menyaksikan bagaimana militer Shamo menyumpal mulut rekan mereka dengan bara api.


“Semoga kebiadapan kalian dibayar tuntas hari ini juga! Dan demi apapun, aku akan mendukung anak muda itu selagi ia ingin memerangi militer Shamo!” batin salah seorang tawanan Bingdao sembari mengepalkan dua tangannya yang masih terikat. Ia pun mengikuti arahan dari orang-orang Shamo untuk bergerak menjauhi lapangan rumput.


Setelah beberapa saat, lapangan rumput telah sepi dan hanya menyisakan dua manusia bernyawa dan ditambah dengan tumpukan jasad-jasad tanpa kepala. Dua manusia itu kini sudah saling bersiap untuk menyerang setelah sebelumnya mereka berdebat akan beberapa hal.


Tampak oleh para militer Shamo yang melihat dari kejauhan, Rao Guohoa melancarkan serangan terlebih dahulu. Pendekar perempuan itu mengayunkan-ayunkan pedang yang ia pinjam dari Ming Tian.


“Luar biasa, lihat rumput-rumput itu! Rerumputan itu terpotong meski tak bersentuhan dengan pedang Rao Guohoa!” salah seorang memekik sembari menunjuk ke arah potongan rerumputan yang melayang di udara karena tertebas angin.


“Tidak hanya rumput, kalau kau melihat lebih teliti lagi, tanah yang terkena dampak pedangnya juga terbelah agak dalam. Padahal, itu adalah pedang algoco biasa!” salah seorang menimpali.

__ADS_1


Di lain sisi, Zhou Fu sedang menyaksikan bagaimana pendekar yang telah ia buat sekarat dua kali itu kini memang memiliki kekuatan yang berbeda. Tak hanya harus menghindari pedang milik Rao Guohoa, Zhou Fu juga harus mengingat ke mana saja pedang itu pernah bergerak dan ke mana juga pedang itu akan bergerak. Sebab, bekas libasan pedang Rao Guohoa nyatanya menyimpan daya rusak yang bisa bertahan selama beberapa detik. Jika saja Zhou Fu salah melangkah, ia bisa terluka akibat simpanan daya rusak pedang Rao Guohoa yang masih bertahan.


“Keluarkan semua kekuatanmu, agar aku bisa terkesan, Bibi!” seru Zhou Fu untuk memancing Rao Guohoa menyerang lebih beringas lagi, sekaligus untuk mengukur seberapa kuat perempuan itu setelah melewati sekaratnya yang terakhir tempo dulu.


“Bajingan tengik! Akan kucincang tubuhmu dan kusantap sebagai makan malamku hari ini!” sahut Rao Guohoa marah sekaligus memberikan serangan-serangan baru pada Zhou Fu. Perempuan itu mengeluarkan berbagai jurus kombinasi untuk mempersempit langkah Zhou Fu, agar pemuda itu bisa terpojok.


“Sialan! Mengapa dia bahkan bisa bergerak secepat dan setepat itu! Terakhir aku melawannya, dia tak setepat ini dalam bertarung!” Rao Guohoa membatin kesal dan disambut dengan senyum seringai oleh Zhou Fu.


“Ketika kekuatanmu bertambah hanya karena selamat dari sekarat, kekuatanku juga bertambah dengan cara yang lebih baik! Itulah jawaban dari kebingunganmu itu, Bibi mayat hidup!” celetuk Zhou Fu sembari terus menunjukkan gerakan-gerakannya yang cukup baik dalam bertarung.


Ya, sepuluh hari di dalam labirin kuno di bawah Laut Luzon merupakan hari-hari yang cukup berharga bagi Zhou Fu. Di sana, Zhou Fu seperti dihajar oleh guru baru yang bernama jebakan labirin itu sendiri. Sepanjang sejarah, setidaknya hanya ada kurang dari sepuluh orang yang mampu melewati labirin kuno di Luzon. Satu dari orang tersebut adalah Zhou Fu.


Dan, beberapa menit berselang setelah Rao Guohoa mengatakan akan memberi kejutan, terjadilah pertukaran jurus yang berdampak cukup besar pada lapangan rumput. Pada saat yang bersamaan, Ming Tian merasa bersyukur dia tak harus berlama-lama bertarung dengan Zhou Fu. Sementara itu, para tawanan Bingdao mulai menunjukkan rasa yakin mereka akan pemuda yang dihadapi Rao Guohoa.


Zhou Fu mundur beberapa langkah, diikuti juga dengan Rao Guohoa. Mereka berdua saling mengambil napas yang putus-putus. Zhou Fu tak menyangka jika ketahanan tubuh Rao Guohoa meningkat sangat pesat. Ia perlu mundur sejenak untuk mengatur tenaga, meski serangan Rao Guohoa tak mampu melukai Zhou Fu, nyatanya untuk membuat satu goresan luka pada tubuh Rao Guohoa, itu juga memakan waktu yang tak sebentar.


Ya. Rao Guohoa mengalami luka membentuk garis diagonal di dadanya. Luka itu tidak dalam, karena perempuan itu memang sudah tak memiliki daging. Andai perempuan itu memiliki daging di bawah kulitnya, agaknya Zhou Fu yakin jika serangannya itu bisa membuat luka sedalam dua centimeter ke dalam. Sayang musuhnya adalah jelmaan mayat hidup yang tak berdaging.


“Apa? Kulitku bisa tergores?” Rao Guohoa yang baru saja melompat mundur, terlihat sangat tidak baik raut mukanya. Ia sudah hampir mencapai titik kesempurnaan dari jurus Dewa Abadi. Dalam titik tersebut, setidaknya tubuhnya sudah kebal dengan berbagai senjata.

__ADS_1


“Apakah luka ini ditimbulkan dari kekuatan anak muda itu, atau dari pedang aneh tersebut?” Rao Guohoa menyentuh dadanya yang tergores, ada darah hitam yang keluar tipis-tipis dari sayatan lukanya. Darah yang menunjukkan jika Rao Guohoa telah memiliki susunan tubuh yang berbeda dengan manusia.


“Sialan! Darah hitam itu beracun!” Zhou Fu menunduk sebentar untuk mengusap-usapkan pedangnya ke padang rerumputan. Ia tak mengira jika percikan darah Rao Guohoa akan menimbulkan luka bakar dan lepuhan-lepuhan pada bagian kulit di tangannya.


Sepertinya, Zhou Fu baru menunduk sekitar dua detik, tetapi Rao Guohoa telah lenyap dari pandangan. Kepergiannya bahkan tak menimbulkan suara. Zhou Fu mendongak ke segala arah, tapi ia tak menemukan keberadaan bahkan ke mana arah Rao Guohoa pergi.


“Ini adalah hari yang buruk untuk mati. Kuampuni kau kali ini, anak muda. Jika kau cukup kuat sepertinya kita akan bertemu lagi di sungai Juda. Ha ha ha! Kau tahu mengapa, karena kapal Guichuan kini telah ada dalam kendali anak buahku!” suara itu terdengar seolah dari segala penjuru.


Zhou Fu melotot kaget, sedari awal ia tak menyangka jika kapal yang dinaiki Shen Shen kini telah berada di bawah kendali iblis dari kelompok Kelelawar Merah itu.


“Kurang ajar! Dengarkan aku baik-baik, bibi mayat hidup! Kapal Guichuan akan kuambil kembali sebelum kalian membawanya ke Juda!” tukas Zhou Fu dengan mendongakkan pedangnya ke atas. Sungguh, kecepatan gerakan Rao Guohoa yang sekarang memang sangat sulit dikenali dan dideteksi.


Bersamaan dengan hal tersebut, ada sebuah gejolak membara di dada Zhou Fu, ketika musuhnya semakin kuat ia merasa memiliki seribu semangat untuk menjadi lebih kuat.


“Baiklah, sepertinya ini adalah hari yang cukup baik untuk kalian semua mati!” Zhou Fu langsung mengalihkan pandangannya ke arah gerombolan militer Shamo yang saat ini sedang berkeringat dingin. Menurutnya, urusannya dengan Rao Guohoa akan disambung kembali setelah menuntaskan perkara di pulau Yimin.


 Dalam waktu kurang dari lima detik, Zhou Fu sudah tiba di dekat para gerombolan militer Shamo. Tepatnya berada di dekat pria bertubuh kekar yang beberapa saat sebelumnya telah memenggal puluhan kepala tawanan Bingdao. 


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Chapter 46 - Hari Pembalasan bisa ditengok di youtube...


__ADS_2