
Sampailah Zhou Fu dan Yang Zi di kediaman Patriark Yuan Kai, ayah dari bocah kecil yang bernama Yuan Jin. Kediaman Yuan Jin berada cukup dekat dengan lubang raksasa yang menghadap ke laut lepas sehingga pencahayaan di tempat itu terbilang jauh lebih terang daripada rumah-rumah yang menjorok lebih dalam.
Di bagian dalam rumah, terdapat sebentuk meja dan kursi-kursi yang terbuat dari batu. Bagian dinding-dinding goa, terdapat berbagai macam perlengkapan berburu, dan hiasan-hiasan yang merupakan bekas kepala binatang. Bentuk-bentuk senjata yang berjajar di sisi dinding goa itu seperti perlengkapan berburu manusia-manusia kuno. Setidaknya, orang di masa itu sudah tidak menggunakan alat-alat itu lagi.
Yuan Jin mengajak tamu-tamunya untuk memasuki bagian dalam rumahnya yaitu sebuah ruangan yang disekat dan tak nampak jika dilihat dari ruang tamu. Ruangan tersebut adalah tempat di mana ayah Yuan Jin berada.
“Oh, kau membawa tamu rupanya?” terlihat, patriark Yuan Kai sedang terbaring lemah di sebuah ranjang yang terbuat dari batu dengan sebuah alas anyaman dedaunan kering. Tubuh pria itu ditutupi selimut tebal mencapai dada, hingga yang terlihat dari tubuhnya hanyalah kepala dan pundak.
“Paman, anakmu sedang terluka parah, tidakkah lebih penting kau menanyakan keadaannya?” Yang Zi mengerutkan kening, dua tangannya mengarah ke arah Yuan Jin yang berdiri biasa saja meski ada patahan anak panah di salah satu lengan tangannya.
“Ssssstttt…. Sepertinya hal itu sudah biasa bagi paman ini,” Zhou Fu menyenggol pundak Yang Zi dan berbicara nyaris tanpa suara kepadanya.
“Oh, Yuan Jin anak yang berbakat, dia bisa mengurus lukanya sendiri. Bukankah demikian, putraku?” Patriark Yuan Kai melempar pandangan ke arah putra semata wayangnya.
“Ya, Ayah. Aku akan segera mengurus luka ini. Dan satu lagi, kuharap ayah berkenan memberikan satu kuda milik ayah untuk mereka. Kakak-kakak ini telah menolong putra ayah di waktu yang sangat tepat,” Yuan Jin membungkuk, berharap ayahnya akan bersedia memberikan satu kuda untuk orang-orang yang telah menolongnya.
“Begitukah, oh, kuda terbaikku akan segera menemukan tuan yang baru,” Patriark Yuan Kai berkata dengan suara yang lembut dan bersahaja. Dari cara bicaranya yang cukup tenang, Zhou Fu mulai mengerti mengapa Yuan Jin memiliki pemikiran yang cukup matang di usianya yang masih belia.
Mendengar ucapan ayahnya itu, Yuan Jin tersenyum dan mohon undur diri dari ruangan ayahnya untuk mengobati luka-lukanya tersebut.
“Oh, maaf Patriark yang terhormat, kami tidak memerlukan kuda yang terbaik. Cukuplah kuda yang masih bernyawa, itu sudah sangat membantu. Terima kasih sebelumnya,” Zhou Fu membungkukkan badannya, ia merasa perlu memberi hormat kepada sosok manusia yang belum ia kenal tersebut.
“Ah, kebetulan sekali. Kuda terbaikku itu pasti akan sangat senang mendapat tuan seperti kalian,” Patriark Yuan Jin menimpali, bukannya menuruti saran Zhou Fu, ia justru semakin yakin jika tamu-tamunya itu pantas mendapatkan imbalan yang terbaik.
“Ehm… Baiklah jika Patriark memaksa,” jawab Zhou Fu seraya memberi isyarat pada Yang Zi untuk membungkuk memberi hormat pada Patriark Yuan Kai, “Patriark, sebenarnya ada yang mengganggu pikiran saya,” Zhou Fu tiba-tiba melontarkan pertanyaan. Dari wajahnya yang sedikit bingung, sepertinya ia memang sudah menyimpan pertanyaan itu sejak beberapa waktu sebelumnya.
“Silakan,” jawab Patriark Yuan Kai cukup singkat, tapi masih dengan pancaran wajah yang bersahaja.
“Patriark, mengapa di ruang tamu terdapat benda-benda aneh yang terpampang di dinding-dinding goa?”
“Ah, ya, saya juga merasa itu aneh, Paman. Bukankah perlengkapan itu terlalu kuno?” Yang Zi menambahi.
“Oh, itu rupanya. Ya, benda-benda itu adalah peninggalan nenek moyang, para penghuni desa Malam generasi pertama, tapi, mereka bukan nenek moyang kami,” jawab Patriark Yuan Kai seolah memberi klue agar dua tamunya menimpali dengan pertanyaan berikutnya.
“Apakah itu artinya tempat ini sudah ada ketika Patriark datang kemari?” Zhou Fu bertanya penasaran.
“Ya, tapi ada yang lebih penting dari pada hal tersebut. Ketika kami diusir dari Maundo, kami berkelana ke berbagai tempat di lereng tebing daratan Caihong. Mencari lahan-lahan kosong yang bisa ditempati. Kami tak pernah bisa benar-benar berjodoh dengan semua tempat hingga akhirnya kami menemukan tempat ini. Dan menemukan sebuah buku kuno yang menuturkan sejarah kota Caihong,” ucap Patriark Yuan Kai.
“Sejarah kota Caihong???” Yang Zi mengerutkan alis.
__ADS_1
“Berkumpul di tempat ini, para pribumi Caihong yang didepak keluar dari tanah surga milik mereka sendiri, begitu judul di sampul buku kuno yang tertinggal di tempat ini,” jawab Patriark Yuan Jin seolah ingin memancing pertanyaan baru.
“Siapa? Siapa yang mengusir mereka?” Yang Zi bertanya.
“Sekelompok orang-orang hebat, berlabuh ke tanah surga Caihong. Mereka semua berpakaian rapi dan bertutur kata sopan. Mereka membawa sebuah bendera yang bertuliskan ‘Kedamaian Hidup dengan Tatanan Dunia Baru’, orang-orang hebat itu telah berkelana ke berbagai wilayah dan menemukan kekejaman-kekejaman yang tiada bandingan di luar sana. Mereka pun mengajak pribumi Caihong untuk membangun tembok raksasa dalam waktu yang cukup lama.”
“Lalu???” Yang Zi menelan ludah beberapa kali, ia belum pernah mendengar cerita yang seperti itu.
“Tidak tahu,” jawab Patriark Yuan Kai singkat.
“Tidak tahu? Lalu?” Yang Zi bertanya lagi.
“Sudah kubilang, tidak tahu,” Patriark Yuan Kai menimpali.
“Halaman bukunya hilang?” Zhou Fu bertanya menebak.
“Bisa dibilang begitu. Tapi, bukan hilang. lapuk entah dimakan masa atau binatang. Cerita yang hilang itu, selalu mengganggu pikiran kami. Apakah itu benar, jika memang buku itu menceritakan sebuah kebenaran, sungguh, kasihan sekali negeri yang kaya ini justru dikeruk oleh tamu-tamu yang tak tahu sopan santun,” Patriark Yuan Kai bergumam pelan sementara Yang Zi menunjukkan sebuah ekspresi yang sepertinya bimbang dan gusar.
“Dan kalian percaya pada cerita di buku kuno itu, lalu membenci pemerintah Caihong?” Yang Zi giliran bertanya.
“Haha, bahkan, sebelum menemukan buku itu, kami sudah membenci mereka. Kami tidak sendiri. Apakah kalian tahu daerah bebas hukum di wilayah daratan Caihong,” Patriark Yuan Kai bertanya.
“Ya, benar. Kudengar, wilayah bebas hukum itu sedang menghimpun kekuatan selama sepuluh tahun belakang ini. Mereka agaknya ingin mencoba menerobos keamanan di dalam tembok raksasa!”
“Oh, coba saja. Sudah berapa kali orang-orang ingin membobol keamanan di Caihong. Nyatanya, tak satu pun ada yang berhasil,” Yang Zi berkilah.
“Jangan salah, jika dulu akses keluar masuk ke Caihong hanya di pelabuhan dekat Maundo, sekarang mereka telah membuat akses baru. Pendekar-pendekar hebat dari luar Caihong kabarnya sudah mulai menduduki Juda dan membangun markas besar di sana.”
Patriark Yuan Kai menggeser menggerakkan tubuhnya untuk berbaring setengah duduk, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Jangan salah, meski kami tak menyukai pemerintah Caihong, kami juga tak rela jika Caihong jatuh ke tangan kelompok bengis yang menduduki Juda. Kukatakan hal ini sebab kulihat kalian sepertinya berasal dari Caihong. Katakan pada pemerintahmu untuk mulai menaruh perhatian pada wilayah-wilayah di dekat sungai Juda.”
“Shufashen?” Zhou Fu bergumam pelan ketika melihat tanda hitam di dada Patriark Yuan Kai, tanda itu tadinya tak terlihat karena posisi patriark Yuan Kai yang rebahan.
“Kurang ajar! Ucapkan sekali lagi!” tiba-tiba, patriark Yuan Kai mendelik dan menghardik Zhou Fu untuk mengulangi kata yang barusan ia ucapkan.
Yang Zi dan Zhou Fu kaget secara bersamaan, Yang Zi menepuk tangan Zhou Fu seraya berbisik padanya apakah barusan Zhou Fu menyinggung perasaan tuan rumah tersebut. Zhou Fu mengerutkan alis dan menggeleng.
“Shu..Shufashen…?” Zhou Fu bergumam pelan, memiringkan kepalanya, ia tak tahu apa yang dia ucapkan, tetapi kata tersebut muncul begitu saja ketika ia melihat dada Patriark Yuan Kai.
“Kau, tinggalkan kami berdua! Cepat!” Patriark Yuan Kai menuding Yang Zi dan memintanya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Awalnya Yang Zi kaget dan tak mengerti, tetapi, setengah sadar dan tak sadar, perempuan itu membalikkan badannya dan pergi dari ruangan tersebut. Zhou Fu diam mematung, untuk pertama kalinya, ia terdiam tanpa bisa berkata-kata meski mulutnya ingin mengucapkan sesuatu.
“Anak muda, kemari…” Patriark Yuan Kai melambai ke arah Zhou Fu dan memintanya mendekat. Zhou Fu berjalan mendekati pria yang terbaring sakit itu, tanpa perlawanan. Lebih tepatnya, tanpa bisa melawan. Kakinya seolah berjalan sendiri tanpa bisa dihentikan dan mulutnya masih mengatup rapat meski kepalanya dipenuhi dengan rupa-rupa pertanyaan.
“Bagaimana kau tahu tanda di dadaku? Anak muda?!” tanya Patriark Yuan Kai tanpa suara.
“Itulah, saya juga bertanya-tanya… Saya tak tahu, Patriark. Jujur saja. Apakah saya membuat masalah karenanya?” Zhou Fu akhirnya bisa membuka suara, ia masih merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya dan itu semua sepertinya ulah dari Patriark Yuan Kai, “Dan, bagaimana bisa orang sakit seperti anda bisa melakukan semua ini???”
“Kau bukan dari Caihong. Itu pasti. Di mana kau tinggal selama ini?”
“Maaf, saya tidak bisa mengatakannya,” Zhou Fu menjawab singkat.
“Baiklah, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Apakah orang yang merawatmu sudah mengatakan sesuatu tentang Shufashen?” Patriark Yuan Kai bertanya dengan cukup serius.
“Kurasa… Kurasa, tidak… Ah, mungkin belum… Apakah itu penting, Patriark Yuan yang terhormat?” Zhou Fu menjawab sambil mengingat-ingat apakah kakek Li Xian pernah menyebutkan tentang hal itu, tapi sepertinya memang belum pernah.
“Bagaimana bisa??!! Apakah dia sudah mendidikmu dengan baik? Apakah kau mendapat sumber daya yang cukup darinya? Ah, kau harus tinggal di sini sementara waktu!”
“Tidak! Saya sedang dalam misi menyelamatkan seseorang!” Zhou Fu menjawab tegas.
“Persetan misi macam apa itu! Misimu adalah menemukan Shufashen!”
“Apa itu?”
“Sesuatu dari Peninggalan kuno. Kau dibutuhkan banyak orang! Kau juga diburu sekelompok orang, anak muda… Oh, siapa yang merawatmu selama ini. Apakah aku mengenalnya?” Patriark Yuan Kai berbicara tanpa arah, ia sepertinya memiliki cukup banyak kalimat yang ingin ia katakan dalam waktu yang bersamaan.
“Maaf, Patriark, saya tidak bisa menjawabnya. Saya juga tak akan tinggal di sini apapun yang terjadi. Sudah saya katakan, saya memiliki misi untuk diselesaikan,” Zhou Fu mencoba memberi pengertian. Ia sadar jika orang di depannya mungkin saja memiliki hubungan dengan kakek Li Xian, atau setidaknya, saling mengenal satu sama lain. Tetapi, menjaga kerahasiaan kakeknya tetaplah sebuah keharusan.
“Di sini, bukan kau yang menentukan. Tapi aku!” Patriark Yuan Kai memberi tatapan tajam dan seketika itu juga Zhou Fu merasakan ada sesuatu yang aneh di ruangan tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nah, setelah sekian lama saya akan menjelaskan tentang tingkatan kependekaran di chapter setelah ini. Untuk memberi gambaran di tingkat mana Zhou Fu saat ini, dan seseorang yang baru ia temui di desa Malam itu. InshaAllah tidak akan seperti di PPN yang tidak dilanjut pembahasan tentang tingkatan kekuatannya, di sini akan saya pakai terus.
Soal apa itu Shufashen, saya kira sudah ada sedikit gambaran ya… Pertama kali Zhou Fu menemukan Shufashen adalah ketika dia berada di dasar laut Luzon, bersama Haku. Mengapa kakek Li Xian tidak pernah bercerita? Nanti-nanti akan saya bahas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa kunjungi yutub iPus Channel untuk baca chapter2 terbarunya/lanjutan dari ini.
__ADS_1
Kalian juga bisa mendukung penulis di Karya k a r s a jike berkenan 😊😊😊