
Wei Sihao menjadi sosok pendekar dari golongan hitam yang selalu membuat lawannya menggigil ketakutan. Minimnya pendekar-pendekar yang mampu mencapai tingkatan tenaga dalam di aura merah membuatnya selalu mengalami kemenangan dalam setiap duel dengan pendekar-pendekar lain. Tak hanya di Caihong, nama Wei Sihao juga cukup dikenal di daratan Shamo dan daratan Bingdao yang bahkan lokasinya cukup jauh dari daratan Caihong.
Itulah mengapa, Wei Sihao memiliki keyakinan di atas 100% untuk bisa mengalahkan rombongan Feng Yaoshan ketika Liu Chang menantangnya. Tak hanya sebuah tantangan, Liu Chang setidaknya telah berjanji untuk menggelontorkan sebagian pasukan Kelelawar Merah guna membantu pergerakan Wei Sihao yang berniat menguasai daratan Bingdao. Tentu saja, Wei Sihao tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan pendekar dengan level yang sama dengannya, atau bahkan kekuatan musuhnya itu berada di atasnya, ia tak begitu bisa mengira-ngira.
“Sial! Apakah Liu Chang sengaja menjebakku?! Seharusnya aku sadar jika dia memang licik selama ini!” gumam Wei Sihao membatin seraya masih memundurkan langkahnya pelan-pelan sebab musuhnya sedang mengeluarkan aura yang cukup mengintimidasi. Tentu saja sebenarnya Liu Chang sama sekali tidak sedang menjebak Wei Sihao, nyatanya Liu Chang tak pernah tahu jika ada remaja beranama Zhou Fu yang menemani rombongan Feng Yaoshan.
Melihat musuhnya mulai menampakkan kekhawatiran, Zhou Fu memperbesar pancaran auranya agar bisa lebih mengintimidasi lawan. Sebuah aura yang bersifat mengintimidasi setidaknya akan mampu menurunkan konsentrasi musuh selama pertarungan berlangsung.
“Rasakan ini!” Zhou Fu tiba-tiba melesat begitu melihat kesempatan yang paling tepat.
Bersamaan dengan hal tersebut, Wei Sihao semakin pucat sebab ia kehilangan jejak musuhnya. Ia menelan ludah dan mulai merinding ketakutan sebab tak bisa menentukan dari arah mana musuhnya akan datang. Aura musuhnya menyesaki seluruh medan pertempuran hingga semua penjuru juga sama-sama memiliki getaran aura yang kuat.
Wei Sihao menguatkan pertahanan tubuhnya, tetapi setiap kali ia menciptakan perisai pertahanan tubuh, perisai tersebut selalu terkikis dengan dengan aura intimidasi yang dipancarkan musuhnya.
“Sial, jika begini terus aku bisa kalah!” pekiknya ketika belum bisa menemukan keberadaan musuh.
Buuuuum!!! Buuum!!!
Suara debuman terdengar dari medan pertarungan antara Zhou Fu dan Wei Sihao. Dari jarak yang jauh, Feng Yaoshan beserta yang lainnya sudah tak mampu lagi menonton pertarungan dua manusia di depannya itu. Debu mengepul memenuhi medan pertempuran, kilatan-kilatan cahaya hasil bentukan dari pertemuan dua jurus saling muncul menyilaukan mata dan angin kuat berhembus mengirimkan hawa yang tak nyaman ketika bersentuhan dengan kulit.
Mereka yang melihat itu, tak tahu pihak mana yang lebih unggul dan pihak mana yang akan segera mengalami kekalahan. Suara berisik masih memekakkan telinga, dan puncaknya adalah terdengan debuman dahsyat diiringi dengan jeritan yang cukup membuat telinga merinding.
Shen Shen nampak menghela napas cukup dalam lalu menelan ludah berulang kali, ia harap telinganya tidak keliru. “Kau dengar, Yang Zi? Bukankah itu bukan suara Zhou Fu?” Shen Shen menyenggol pundak adiknya, berharap adiknya akan mengiyakan pertanyaannya tersebut.
“Ya, Kakak. Kukira itu bukan suara Kakak Zhou, kita lihat saja sebentar lagi,” Yang Zi menjawab dengan nada sedikit bergetar, sepertinya ia juga merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh Shen Shen.
“Aku yakin itu bukan suara teman kalian!” pengawal Feng Yaoshan menimpali, ia merasa cukup beruntung demi menduga kemenangan berada di tangan Zhou Fu. Bagaimana pun, jika Zhou Fu kalah maka mereka berempat juga akan mengekor kekalahan Zhou Fu, dan bisa jadi, mereka akan dibinasakan oleh Wei Sihao.
__ADS_1
“Sebelum pergi ke neraka, sebutkan siapa yang menyuruh paman menyerang kami?!” ucap Zhou Fu seraya menodongkan pedangnya ke dagu Wei Sihao yang telah terkapar di tanah.
Wei Sihao meludah dan merasa terhina dengan pertanyaan Zhou Fu, “menyuruhku katamu? Cuih! Tak ada satu pun pendekar di muka bumi ini yang mampu memberi perintah padaku!”
Meski sudah tak memiliki peluang kemenangan, Wei Sihao merasa ia tak boleh merendahkan martabatnya, bahkan sekalipun jika itu adalah hari terakhirnya melihat dunia.
“Sudah kalah begini masih congkak?” Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepalanya, “baiklah, kuganti pertanyaanku, apa yang membuat paman berniat menyerang kami?!”
“Kuberi kau informasi bagus, Liu Chang…… Uhuk….” Wei Sihao terbatuk sembari menekan dadanya yang ngilu, itu adalah untuk pertama kalinya ia mengalami kekalahan, ia tak menduga jika pengalaman kekalahannya yang pertama akan seburuk dan semengerikan itu.
Sekujur tubuh Wei Sihao mati rasa tetapi bagian ulu hatinya menderita ngilu yang membuat kepalanya susah berkonsentrasi. Dalam beberapa detik, terjadi perubahan ekspresi di wajah Wei Sihao. Sorot matanya melunak dan sisa-sisa kecongkakan seperti luntur perlahan-lahan dari raut wajahnya.
“Sebentar, sebelum kulanjutkan, beritahu aku dari mana dirimu… Aku akan segera mati, tak mengapa berkata jujur padaku… Ah, bukan apa-apa, setidaknya aku tak akan menderita penasaran ketika di neraka!” ucap Wei Sihao kali ini dengan nada memohon.
Zhou Fu mengamati tubuh lawannya, ia lantas menempelkan ujung kakinya tepat ke persendian di pergelangan tangan Wei Sihao. Benar saja, denyut nadi pria itu melemah dan terus melemah. Ia kira, tak ada salahnya mengucapkan kebenaran kepada seseorang yang sudah akan bertemu dengan ajal.
Mendengar nama Li Xian disebut, mata kuyu Wei Sihao nampak terbelalak beberapa waktu. Lalu, bibirnya mulai tertarik ke kiri dan kanan, menampakkan sebuah senyum kecil yang susah dimengerti maksudnya.
“Oh… Tua Bangka itu?! Ha ha ha… Tak kusangka dia mengambil murid. Baguslah… Setidaknya aku kalah dengan tidak memalukan!” ucap Wei Sihao sembari beberapa kali masih menyebut-nyebut nama Li Xian seperti seseorang yang mengigau.
“Ya, bagus kalau paman mengenalnya. Kembali lagi soal Liu Chang, siapa Liu Chang itu?” tanya Zhou Fu cepat, ia khawatir Wei Sihao akan mengatakan sebuah kalimat yang tak dikehendakinya tentang kakek Li Xian, jadi cepat-cepat ia mengganti topik pembicaraan.
“Ah ya, soal Liu Chang itu…. Dia dari organisasi Kelelawar Merah, dia mengharapkan kematian kalian se….”
Wei Sihao menghembuskan napas terakhirnya bahkan sebelum ia menuntaskan kalimatnya tersebut.
***
__ADS_1
Beberapa warga perbatasan sungai Juda digemparkan dengan kematian Wei Sihao. Orang yang bisa mengalahkan Wei Sihao, tentu mampu memporak-porandakan daerah perbatasan tersebut hanya menggunakan satu tangan. Karena itulah, mereka semua gemetar ketakutan ketika mengetahui jika pembunuh Wei Sihao masih dalam keadaan baik-baik saja.
Warga perbatasan yang kebetulan sempat melihat pertarungan Zhou Fu dan Wei Sihao, mereka semua bersembunyi di balik rumah mereka masing-masing. Tak sedikit pun memiliki keberanian untuk menampakkan batang hidung sebab khawatir akan kehilangan nyawa juga.
“Kalian semua, dengarkan aku baik-baik!” Zhou Fu memberi pengumuman dengan suara lantang, ia yakin warga perbatasan mendengar suaranya dan melihat pertarungannya.
“Kebumikan pendekar Wei dengan layak! Jangan beritahu siapapun tentang siapa yang mengalahkannya, cukup katakan pendekar bertopeng yang kebetulan mampir ke perbatasan yang telah mengalahkan pendekar Wei. Aku ingin kalian mendengar dan menuruti perintahku, karena itu demi kebaikan kalian!” ucap Zhou Fu dengan nada serius.
Dari balik rumah-rumah warga, mereka semua nampak mengangguk-anggukkan kepala dengan suka rela, entah bagaimana, perintah yang dikeluarkan oleh Zhou Fu seolah membuat mereka merasa memiliki kewajiban untuk mentaatinya.
Itu adalah untuk yang pertama kalinya Zhou Fu memberi pidato panjang, di seberang, nampak Feng Yaoshan merasa cukup iri melihat kharisma yang keluar dari suara Zhou Fu yang bahkan masih cukup muda untuk memiliki wibawa sebesar itu.
“Sialan, dari mana sebenarnya bocah itu berasal?!” Feng Yaoshan mengepalkan tangannya, keberadaan Zhou Fu sedikit banyak telah membuat posisinya menjadi nomor dua di mata semua orang, terutama di mata Shen Shen.
“Kakak Zhou mungkin adalah keturunan dari tujuh Kesatria Langit, aah… Dia sangat hebat!” untuk pertama kalinya, Yang Zi merasa terpukau dengan kehebatan Zhou Fu.
“Aku yakin, orang tuanya pasti seorang legenda!” celetuk pengawal Feng Yaoshan yang juga merasa kagum dengan kemampuanZhou Fu.
“Kalian tahu, dia bahkan bisa bertahan di dalam laut berhari-hari!” Shen Shen berucap dengan sedikit kaku, sepertinya ia tak begitu ikhlas membiarkan mulutnya memuji Zhou Fu, tetapi pujian itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Semua orang ternganga dengan pengakuan Shen Shen, tentu jika Shen Shen mengatakan hal tersebut sebelum kejadian hari itu, mereka akan menganggap jika Shen Shen membual. Tak hanya Feng Yaoshan, pengawalnya, dan Yang Zi yang tercekat kaget, seseorang yang sedang bersembunyi juga nampak menunjukkan kekagetan ketika mendengar pengakuan Shen Shen.
Orang itu, ia sudah tak sabar untuk melaporkan temuannya kepada atasannya. Ia pun melesat pergi tanpa sempat diketahui oleh siapa pun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf lahir batin kawan... Author banyak salahnya, banyak khilafnya... Mohon dimaafkan....
__ADS_1