
---- Bab ini hanya tampil semingguan ya, setelah seminggu kemungkinan akan saya hapus, jika mau lihat lanjutannya, bisa cek yutub iPus Channel atau di aplikasi G00dN0V3L
.....
Tuan Zhengyi meraih gulungan cokelat yang diulurkan oleh si prajurit. Beberapa kali Tuan Zhengyi mengangguk-anggukkan kepala seraya mengurut dagunya tatkala ia membaca baris demi baris surat tersebut. Sesekali, Tuan Zhengyi mengalihkan pandangannya pada Zhou Fu lalu kembali membaca baris-baris tulisan dalam gulungan cokelat.
“Apakah semua yang tertulis di surat ini adalah sebuah kebenaran, Anak Muda?” Tuan Zhengyi mengerutkan dahi seraya menyerahkan gulungan cokelat itu pada Zhou Fu. Tentu saja maksud dari Tuan Zhengyi adalah meminta Zhou Fu untuk memeriksa kembali kebenaran informasi dalam surat tersebut.
Dengan ragu-ragu, Zhou Fu meraih gulungan coklat dari tangan Tuan Zhengyi. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam lalu mulai mengamati baris demi baris tulisan yang tertera dalam surat tersebut. Semakin Zhou Fu mengamati isi surat itu, semakin kepalanya pusing karena ia sama sekali tak mengerti apa isi suratnya.
“Tuan, bisakah Tuan-Tuan keluar sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan secara pribadi pada Tuan Zhengyi,” Zhou Fu mencoba keberuntungan dengan meminta prajurit-prajurit dari Militer Caihong itu untuk keluar ruang penjamuan.
Dua prajurit dari Markas Militer Caihong itu awalnya hanya saling pandang tapi kemudian mereka bersedia untuk keluar sebentar. Begitu prajurit-prajurit Caihong itu keluar, Zhou Fu langsung berterus terang di hadapan Tuan Zhengyi dan Feng Yaoshan.
“Tuan, saya menghabiskan masa kecil dan remaja saya di dalam hutan. Saya harap Tuan maklum jika di dalam hutan tidak ada sekolah yang mengajarkan saya untuk membaca dan menulis,” ucap Zhou Fu seraya menyerahkan lagi gulungan cokelat di tangannya pada Tuan Zhengyi.
“Oh, pantas saja kau tak begitu memiliki tata krama. Pasti di hutan juga tak ada yang mengajarkan tata krama, bukan?” celetuk Feng Yaoshan tetapi ia langsung mendapat lirikan tajam dari Tuan Zhengyi.
“Aku bisa memahami keadaanmu, Anak Muda. Jangan khawatir, itu bukan persoalan besar. Jadi, gulungan coklat ini pada intinya merupakan penyempurnaan dari undangan pertama yang telah kau terima, setidaknya di sini dijelaskan kau sudah dikirimi undangan yang pertama. Apakah benar?”
Zhou Fu mengangguk.
“Nah, di sini, dijelaskan lagi bahwa pihak istana secara langsung ingin melakukan rapat denganmu. Mereka meminta maaf karena telah memberi penawaran yang terlalu kecil sebelumnya. Jadi, di surat yang sekarang ini, dijelaskan bahwa mereka telah merevisi penawarannya. Mereka ingin memberimu jabatan sebagai Raja, kau pasti tahu ‘kan jika pemerintah Caihong juga membawahi beberapa wilayah besar di luar daratan ini. Nah, sepertinya rapat yang harus kau hadiri adalah terkait pemilihan wilayah yang nantinya akan kau duduki.”
Tuan Zhengyi terlihat keheranan sekaligus merasa cukup kagum dengan tamunya yang bernama Zhou Fu.
__ADS_1
“Raja? Di wilayah kekuasaan Caihong?” Feng Yaoshan menelan ludah. Itu adalah penawaran yang cukup menggiurkan. Bagaimanapun, hak istimewa seorang Raja pasti akan berkali-kali lipat lebih banyak dari pada hak istimewa bangsawan dari semua kasta.
“Ya, Raja di wilayah persemakmuran pemerintah Caihong. Aku jadi penasaran, hal-hal hebat apa saja yang telah Anak Muda lakukan hingga menarik perhatian pemerintah pusat?” Tuan Zhengyi bertanya ke arah Zhou Fu.
“Sepertinya saya tak begitu tertarik dengan tawaran itu, Tuan. Ngomong-ngomong, bagaimana cara untuk menolak tawaran ini dengan baik dan sopan? Lagi pula, saya juga sudah menjadi Raja Hutan selama ini,” ucap Zhou Fu sambil melempar candaan kecil.
“Kau menolak diangkat menjadi Raja? Luar biasa, posisi ini bahkan biasanya diperebutkan dengan sangat sulit oleh petinggi-petinggi pemerintahan. Jangankan posisi Raja, posisi wali kota seperti yang akan kucalonkan saja sudah memicu banyak persaingan yang tidak sehat!”
Tok Tok Tok…
Tuan Zhengyi menoleh ke arah pintu. Sepertinya waktu Zhou Fu untuk berbicara dengannya telah dianggap habis oleh dua prajurit di luar sana. Tuan Zhengyi pun memberi isyarat lagi pada pengawal untuk membuka pintu ruang penjamuan. Pintu dibuka dan dua prajurit Caihong masuk kembali. Kini pandangan mereka hanya tertuju pada Zhou Fu saja.
“Tuan Muda, waktu kami tidak banyak. Kereta kuda sudah menunggu di luar, mari kami antar Tuan Muda menuju ke kereta kuda,” ujar salah seorang prajurit pada Zhou Fu tanpa memedulikan orang-orang lain di ruangan tersebut.
“Maaf sebelumnya. Bagaimana cara yang paling sopan untuk menolak tawaran ini?” Zhou Fu bertanya pada semua orang, ia sebenarnya mau-mau saja menolak dengan terang-terangan, tetapi saat itu ia sedang ingin menurut pada pesan Kakek Li Xian dan Patriark Yuan Kai untuk berusaha menghindari konflik dengan pemerintah Caihong.
“Ya, Tuan Zhengyi benar. Jika Tuan Muda ingin menolak tawaran ini, maka katakanlah hal tersebut dalam rapat bersama.” ujar salah seorang prajurit membenarkan kalimat ayah Shen Shen.
“Oh tidak. Saya kira Tuan Muda bisa menolak penjemputan ini. Saya hampir lupa. Tuan bisa menolak undangan ini, tapi dengan satu syarat. Tuan harus menerima bingkisan dalam gulungan berikut. Ada satu gulungan lagi untuk Tuan Muda,” satu orang prajurit mengambil gulungan lain yang tergantung di punggungnya. Itu adalah gulungan yang tak perlu diberikan pada Zhou Fu jika Zhou Fu langsung bersedia dijemput untuk dibawa ke istana.
“Kami mendapat perintah untuk memberikan gulungan ini, jika ada kemungkinan Tuan Muda menolak tawaran istana. Mohon terima, dan jika Tuan telah menerimanya, maka kami juga telah dibebaskan dari tugas menjemput Tuan Muda.” Prajurit itu mengulurkan gulungan perak kepada Zhou Fu.
Semua orang di dalam ruangan tersebut menjadi makin penasaran dengan isi gulungan yang kedua itu. Zhou Fu menerima terlebih dahulu gulungan perak tersebut, di antara semua orang yang penasaran, tentu Zhou Fu adalah yang paling penasaran dari semuanya.
“Tuan bisa membukanya setelah kami undur diri. Baiklah, Tuan-Tuan, terima kasih atas waktunya. Kami akan pergi jika Tuan Muda bersikeras untuk tidak ikut dalam rombongan kami.”
__ADS_1
“Ya, kalian pergilah. Kukira aku lebih memilih mendapatkan gulungan perak ini.” jawab Zhou Fu singkat.
***
Hening beberapa saat setelah kepergian dua prajurit istana. Tuan Zhengyi dan Feng Yaoshan terlihat sangat ingin mengetahui isi dari gulungan perak itu. Karena itu, dalam detik-detik Zhou Fu membuka gulungan perak itu, Tuan Zhengyi dan Feng Yaoshan seperti menahan napas bersamaan.
“Apa isinya?” seru Tuan Zhengyi dan Feng Yaoshan tepat ketika Zhou Fu memperlihatkan ekspresi yang cukup terkejut setelah berhasil membuka bingkisan itu.
Zhou Fu menelan ludah berkali-kali, ia tak pernah menduga hal itu akan terjadi. Setidaknya, isi dari bingkisan tersebut berhasil membuatnya marah dan bingung. Ia memuji kepandaian dalang di balik perintah penjemputannya tersebut sebab setelah menerima gulungan perak itu, Zhou Fu pun memastikan jika ia harus berangkat sendiri ke istana.
“Hei, apa isinya?” Feng Yaoshan mengepalkan tangan menahan penasaran.
“Beri tahu aku, berapa lama perjalanan dari sini menuju ke istana?”
“Anak Muda, mengapa kau berubah pikiran secepat ini? Sebenarnya apa isi dari gulungan tersebut? Bukankah kau tak bisa membaca tulisan? Memangnya kau mengerti apa maksud dari gulungan itu?”
Zhou Fu menghela napas panjang. Ia pun akhirnya meletakkan gulungan itu ke meja, membukanya lebar-lebar sehingga Tuan Zhengyi dan Feng Yaoshan bisa melihatnya.
Tuan Zhengyi mengerutkan dahi karena masih tak mengerti, sementara Feng Yaoshan terlihat mengangguk-anggukkan kepala seolah ia paham mengapa Zhou Fu harus datang ke istana.
“Itu…” Feng Yaoshan menunjuk ke arah gulungan di meja.
“Ya, kau benar!” Zhou Fu menimpali bahkan sebelum Feng Yaoshan menuntaskan kalimatnya.
“Apa maksudnya?” Tuan Zhengyi bertanya sembari menoleh ke arah Zhou Fu dan Feng Yaoshan secara bergantian.
__ADS_1
“Itu adalah teman Zhou Fu,” ucap Feng Yaoshan sambil menunjuk tepat ke wajah seorang gadis cantik yang terlukis di atas gulungan perak, “Zhou Fu harus datang ke istana karena temannya telah dibawa ke sana,” ujar Feng Yaoshan lagi seolah mewakili Zhou Fu untuk memberi penjelasan pada Tuan Zhengyi. Feng Yaoshan pun mulai berpikir tentang sesuatu yang buruk setelah melihat cara pihak pemerintah memaksa Zhou Fu untuk datang ke istana.