Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 79 – Penjemputan


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ke gerbang Maundo, Zhou Fu terlihat sedang berpikir cukup serius. Misinya memulangkan Shen Shen akan segera selesai dan seperti biasanya, dia belum pernah gagal menjalankan tugas. Hanya saja, ia kemudian sedikit bimbang akan ke mana ia pergi setelah memulangkan Shen Shen nantinya.


Sebelum bertemu dengan Zhao Yunlei, tentu tujuan utamanya setelah mengantar Shen Shen pulang adalah kembali ke pulau Youhi. Tetapi, setelah bertemu Zhao Yunlei dan mendengar kabar tentang keberadaan pasukan elite dari Bingdao, ada sebuah rasa penasaran yang terus bertambah di benak Zhou Fu. Ditambah lagi pertemuannya dengan Patriark Yuan Kai juga semakin membuatnya ingin mendatangi markas Pasukan Enam.


“Hei, Saudaraku, lihatlah iring-iringan prajurit di sana itu! Dari seragam yang mereka kenakan, kukira mereka datang untuk menjemput kita! Kukira kami sudah tak lagi bergantung padamu sekarang, pulanglah jika kau rindu ayah ibumu!” Feng Yaoshan bergumam seraya menoleh ke arah kanan, yaitu kepada Zhou Fu yang menunggang kuda hitam di sisi kanan kereta kudanya.


Zhou Fu yang tersadar dari lamunannya, segera ia melihat ke arah yang dimaksud oleh Feng Yaoshan. Benar saja, dari arah seberang terlihat iring-iringan prajurit berseragam militer Caihong yang kini sedang berjalan mendekat. Rombongan prajurit itu setidaknya berjumlah sekitar lima ratus orang. Perkiraan Patriark Yuan tak meleset sedikit pun, sebelumnya, pria itu telah mengatakan jika kemungkinan mereka akan dijemput oleh pasukan militer Caihong bahkan sebelum mereka tiba di Maundo.


Kabar kedatangan putra bangsawan kelas satu di pemukiman Bunga Persik tentu akan membuat prajurit-prajurit di Maundo mengambil untung keadaan tersebut. Jika mereka berhasil menjemput dan mengawal keluarga bangsawan sampai ke tembok raksasa, tentu mereka akan mendapat imbalan atas jerih payah mereka itu.


“Tiga ekor manusia dijemput oleh ratusan pasukan? Kalian ini memang gemar merepotkan banyak orang ternyata!” Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala sebab sepanjang hidupnya, setidaknya sampai saat itu, ia belum pernah merepotkan orang sebanyak itu.


“Itu menandakan kedudukan kami memang sangat berarti, Kau mengerti sekarang?” Feng Yaoshan menjawab dengan bangga.


“Bukan diri kalian yang berarti. Tapi harta kalian, ingat itu. Sewaktu-waktu ketika kalian kehabisan harta, tentu kalian akan menggali tebing terjal dan bermukim layaknya manusia goa,” ucap Zhou Fu antara bergurau tapi juga serius.


“Dasar bocah sialan, jaga mulutmu ya…” Feng Yaoshan kembali merasa jengkel karena ucapan Zhou Fu memang ada benarnya.


“Kalian berdua diamlah. Kalian mengganggu tidur siangku saja!” Shen Shen mendengus dari dalam dan disusul suara cekikikan dari Yang Zi. Yang Zi mulai berpikir, jika Feng Yaoshan dan Zhou Fu selalu berselisih ketika bertemu, bisa jadi mereka akan rindu satu sama lain ketika tak bertemu.


Feng Yaoshan dan Zhou Fu akhirnya berhenti beselisih, tapi bukan karena ocehan dari Shen Shen melainkan karena melihat tiga prajurit berkuda yang datang mendekat. Tampak tiga orang berkuda di antara iringan prajurit Caihong kini tengah memacu kudanya untuk bisa segera tiba di titik Feng Yaoshan dan Zhou Fu berada. Begitu tiga orang berkuda telah berada cukup dekat dengan Feng Yaoshan, mereka semua turun dari kuda lantas membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


“Hormat kepada Tuan Muda!” tiga prajurit berkuda itu membungkuk cukup dalam dan terlihat kebingungan. Itu adalah untuk pertama kalinya mereka menyaksikan seorang bangsawan kelas satu sedang menjadi kusir kuda.


“Tuan, sepertinya Tuan Muda mengalami rintangan yang serius dalam perjalanan. Apa yang bisa kami lakukan untuk Tuan Muda?” salah seorang prajurit bertanya seraya membungkuk lagi.


“Ah, ya… Memang benar, kami melewati hari-hari yang cukup buruk sejauh ini. Kurasa, kami butuh…


“Kami tidak membutuhkan bantuan apa-apa, cukup iringi langkah kami dan itu sudah lebih dari cukup.” Zhou Fu mengambil alih posisi Feng Yaoshan untuk memberi perintah.


Tiga prajurit tersebut mengernyitkan kening lalu melempar pandangan seolah menanyakan pendapat Feng Yaoshan tentang perintah Zhou Fu. Feng Yaoshan melirik ke arah Zhou Fu dan mendapati remaja itu sedang melotot tajam kepadanya. Feng Yaoshan pun mengehela napas panjang.


“Ya, kurasa kita harus menuruti kata-katanya. Kalian akan kerepotan sekali kalau sampai membuatnya marah,” Feng Yaoshan meberi keputusan pada tiga prajurit berkuda dan disambut dengan senyum kecil oleh Zhou Fu.


“Negeri kalian memberi didikan yang cukup buruk pada para bangsawannya!” celetuk Zhou Fu tiba-tiba.


“Ya, mereka membuat kalian cukup bergantung pada keamanan yang mereka ciptakan. Lalu, saat kalian kehabisan harta benda dan terdepak dari tembok raksasa, kalian akan menyesal telah menjadi bangsawan yang terlalu manja sebelumnya!” Zhou Fu melanjutkan kalimatnya sementara Feng Yaoshan tampak tertegun memikirkannya.


“Hei, aku tahu kau sedang membicarakan aku! Iya, kan?” Shen Shen berteriak kesal dari dalam meski ia paham apa yang dikatakan Zhou Fu ada benarnya.


“Makanya, mulai saat ini, berhentilah merepotkan banyak orang! Kau harus banyak belajar dari adikmu!” Zhou Fu menimpali lagi.


“Jadi, kau sekarang mulai membanding-bandingkanku dengan Yang Zi?”

__ADS_1


Dan begitulah, perjalanan mereka di siang itu pada akhirnya harus diwarnai dengan adu mulut antara Zhou Fu dan Shen Shen yang berlangsung cukup lama. Hingga tanpa sadar, mereka akhirnya telah tiba di gerbang Maundo. Sebuah gerbang raksasa yang akan membawa rombongan mereka ke bagian dalam wilayah Caihong yang biasa disebut sebagai Tanah Surga.


***


Sore itu, iring-iringan prajurit Caihong yang mengawal kereta kuda Feng Yaoshan telah berjalan menyusuri Maundo yang memiliki luas wilayah sekitar tujuh mil. Warga di Maundo terlihat cukup antusias untuk melihat kepulangan putra-putri bangsawan yang sebelumnya telah dikabarkan hilang.


Zhou Fu menikmati perjalanan keduanya di Maundo sambil mengenang hari pertamanya tiba di tempat itu ketika bersama Zhao Yunlei. Karena bayangan Zhao Yunlei kembali hadir di kepalanya, ia kembali terusik akan pilihan mana yang bakal ia ambil setelah Shen Shen dan Yang Zi pulang dengan selamat di rumah mereka.


“Hei, lihat… Aku ingat wajah remaja berkuda hitam itu!” seru seseorang dari barisan penonton.


“Oh ya, aku juga ingat! Dia adalah bocah remaja yang berhasil mengantongi puluhan koin emas di arena permainan Maundo!” seseorang yang lain menimpali.


“Pantas saja dia berhasil meretakkan batu keramat Maundo, ternyata dia memang bukan anak sembarangan. Mungkin dia adalah pengawal pribadi keluarga bangsawan kelas tinggi!” orang yang lainnya lagi menimpali.


Beberapa waktu sebelumnya, Zhou Fu memang sempat menggegerkan Maundo sebab ia berhasil mengantongi puluhan koin emas sebagai imbalan telah berhasil menyelesaikan tantangan di sebuah medan arena. Sebelum-sebelumnya, tak pernah ada yang berhasil membuat batu keramat Maundo retak. Sebab, batu itu memang batu khusus yang digunakan oleh leluhur untuk tujuan tertentu.


Salah satu fungsi dari batu keramat maundo adalah untuk mengukur tingkat kekuatan seorang pendekar. Membuat batu tersebut mengalami keretakan setidaknya hanya bisa dilakukan oleh orang yang menguasai tenaga dalam di level aura merah. Itulah mengapa, Yang Zi sempat mengatakan pada Zhou Fu jika permainan di arena tersebut adalah sebuah jebakan yang diciptakan oleh pemerintah Caihong pusat.


***


Suasana di wilayah keluarga bangsawan kelas dua sedang riuh ketika mendengar kabar kepulangan Nona Shen Yang dan Nona Yang Zi yang telah hilang selama berbulan-bulan. Beberapa di antara mereka merasa cukup bersyukur atas kembalinya Yang Zi dan Shen Yang. Sementara itu, beberapa pihak juga tampak tak senang dengan kepulangan gadis-gadis tersebut.

__ADS_1


Bagaimanapun, kepulangan gadis-gadis itu sebelum masa pemilihan wali kota akan sangat berpengaruh pada gejolak politik yang terjadi di dalam tembok raksasa Caihong.


__ADS_2