PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI EPS 12


__ADS_3

Setelah itu pemilik kedai menuruti semua permintaan Wira jaya, dengan mengantarkan wira jaya, dewi harum dan darma seta, kerumahnya kepala kampung benda.


Pemilik kedai itu di bawa menaiki kuda dan duduk di belakangnya darma seta kudapun terus berjalan pelan mengikuti perunjuk dari pemilik kedai itu......


Tidak lama lagi mereka semua sudah tiba didepan rumahnya kepala kampung, nampak terlihat banyak orang yang keluar dai halamannya rumah kepala kampung.


Ternyata kijalamprong dan ketiga temannya telah dibawa untk mempertanggung jawabkan perbuatannya, yang sama sekali tidak diketahui oleh kepala kampung.


Nampak terlihat ada beberapa pasukan prajurit dari pusat kota keraja'an membawa kijalamprong, keluar dari rumahnya kepala kampung.


Kini Wira jaya, dewi harum dan darma seta mulai memasuki depan halaman rumahnya kepala kampung.


''Samppuuu rasuuun.'' Ucap wira jaya


''Rammmpesss.'' Kepala kampung menjawab.


Lalu mereka langsung turun dari punggung kudanya masing-masing bejalan menuju teras depan rumahnya pak kepala kampung.


Dan pemilik kedai berjalan dibelakangnya darma seta, nampak seperti ketakutan melihat sorot matanya kepala kampung itu yang tajam.


''Kamu siapa kisanak, dan kenapa sama mang kosim.'' Kepala kampung bertanya, sambil terus memandangi wajah wira jaya.


''Bapak kosim ini yang menyediakan tempat para bandar judi itu melakukan pekerja'annya.'' Ucap wira jaya.


''Apaa? benar itu kosim.'' Tanya kepala kampung.


''Iya tuan aji.'' Jawab mang kosim sambil merunduk.


''Ooh kamu sudah menentang hukum kerajaan, dan kamu tau apa hukumannya.'' Ucap kepala kampung.


''Sama sekali saya tidak paham dan tidak mengerti itu tuan aji santang, ampuuni saya tuan aji, saya tidak akan sekali-kali lagi begitu.'' Ucap Pak kosim sambil merunduk minta maap.


''Sekarang saya kasih peringatan, berhubung kamu adalah rakyatku, kali ini kamu saya ampuni, tapi kalau sekali lagi kamu berkomplot dengan para bandar judi, saya tidak akan mengampunimu lagi kosim.'' Ucap aji santang.


''Terima kasih tuan aji santang, sudah mema'apkan ku, saya berjanji tidak akan sekali-kali lagi tuan.'' Jawab mang kosim sambil sujud tanda berterima kasih pada kepala kampung.


Setelah itu aji santang, mempersilahkan duduk pada tamunya, yaitu, wira jaya, dewi harum dan darma seta beserta mang kosim.


Aji santang menjamu tamunya, karena sudah berjasa memberantas perjudian yang tanpa diketahui oleh kepala kampung yaitu aji santang.


Didalam obrolannya aji santang mulai bertanya pada wira jaya dan saudaranya itu maksud dan tujuannya sampai datang ke kampung benda.


''Kisanak ini dari mana dan hendak kemana?.'' Aji santang bertanya.


''Kami bersaudara dari kampung batu gambir tuan aji santang.'' Jawab wira jaya.


''Terus tujuan kalin bertiga ini hendak kemana, apa hanya kebetulan saja melewati daerah ini.'' Kata aji santang.


''Sebelumnya kami bertiga mohon maap, atas kedatangan kami menggemparkan penduduk disekitar kampung benda ini, kami sebenarnya bertujuan ya kemari mau menemui tuan aji santang.'' Ucap wira jaya.


''Mau menemuiku, ada perlu apakah kalian bertiga ini?.'' Bertanya aji santang.


''Ini tuan saya membawa amanat, barang kali tuan mengenali sama benda ini.'' Ucap Wira jaya sambil memberikan sebuah kalung


Aji santang terus melihat lihat kalung itu, dibolak balik dan di artikan isi dari tulisan itu.


''Kalau tidak salah ini kalung silsilah dari keturunan ki Suwanda, disini ada tulisan raga nata dewi hapsari, sebentar kalung ini sama dengan kepunyaan mendiang menantuku, saya ambil dulu.'' Ucap aji santang sambil melangkah pergi.


Setelah itu aji santang datang lagi dengan membawa kalung.


''Nah ini, sebentar saya pasangkan dulu,Ooooh Iyaa benar ini kalung dari keturunan ki Suwanda dan ini ada hubungannya dengan mendiang menantu saya.'' Ucap aji santang.


''Terus siapakah menantu tuan itu.'' Dewi harum bertanya.


''Menantuku bernama Supala adi nata, keturunan dari ki Raga nata, atau tiga serangkai raja wali.'' Kata aji santang.


''Saya jadi semakin tidak mengerti, lalu hubungan kisanak sama kalung ini, dan Saya lihat dari cara kisanak berpakaian mengingatkan saya pada besan saya yaitu Raga nata atau tiga serangkai raja wali.'' Aji santang bertanya.


''Apakah tuan mempunyai cucu dari mendiang putri tuan.'' Tanya Dewi harum.


''Saya mempunyai dua cucu, cuma takdir yang mimisahkan saya sama cucu-cucu dan anak saya dan menantu, karena terjadi selisih paham antara sodara saya sendiri, dan terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat waktu itu, waktu itu kedua cucu saya di bawa kabur untuk di amankan, sama tukang urus kuda saya, hari kedua Setelah perselisihan mereda, saya mencari kedua cucuku itu, pas di ujung kampung benda saya menemukan tukang urus kuda yang biasa bekerja ditempat saya, sudah meregang nyawa dengan luka tusuk dan bacokan disekujur tubuhnya, dan kedua cucuku sudah tidak ada.'' Begitu Aji santang menjelaskan.


''Kalau boleh tau siapakah nama dari kedua cucu kake itu?.'' Tanya wira jaya

__ADS_1


''Kedua cucuku itu.


Danang jaya dan wira jaya.'' Ucap aji santang.


Begitu ji santang menyebutkan kedua nama itu, dewi harum dan w


ira jaya terasa disambar petir, karena apa yang ditulis dikitab elang itu benar sekali adanya.


Wira jaya tanpa disadari menangis dan merangkul a


ji santang.


''Maksudnya apa kisanak saya belum mengerti.'' Ucap aji santang.


Setelah itu wira jaya menjelaskan, dengan air mata yang terus menetes.


''Akulah cucu kake, aku wira jaya ke.'' Ucap wira jaya sambil terisak isak.


''Jagat dewa batara, apa benar ini semua.'' Ucap aji santang.


''Cobalah kake perhatikan wajahku baik-baik ke.'' Ucap wira jaya.


Aji santang terus menatap wajah wira jaya, sejenak nampak di pandangan aji santang wajah putrinya.


''Ajeng kerta ningrum anaku.'' Aji santang sambil memeluk wira jaya.


''Aku wira jaya ke.'' Ucap wira jaya.


''Iya, Cucuku kake terharu ternyata wajahmu sama persis dengan mendiang ibumu, terus danang jaya mana.'' Ucap aji santang sambil melihat pada darma seta.


''Ini danang jaya, wira?.'' Aji santang bertanya.


''Ini putra kakang danang, dan ini istrinya kang danang ke.'' Jawab wira jaya.


''Lalu kemana cucuku danang jaya.'' Kata aji santang.


Disaat itu pula, dewi harum menceritakan kejadian dua puluh tahun silam, kejadian yang menimpa keluargannya, hingga akhirnya harus berpisah dengan suami tercintanya selama lamanya, Semua diceritakan tidak ada yang dilewat, sampai dewi harum belajar ilmu silat dari nenek elang merah yaitu gurunya ragan tiri.


''Dan ini cicit kake, darma seta.'' Ucap Aji santang.


''Maapkan aku kake buyut.'' Ucap darma seta sambil memeluk aji santang.


''Justru buyutmu ini yang harus minta maap, karena kamu sudah terlantar nak, sekarang saya merasa lega, ternyata sang pencipta mengabulkan permohonanku.'' Ucap aji santang.


Alangkah bahagianya aji santang, ternyata cucunya masih hidup, biarpun danang jaya sudah tiada, tapi sebagi pengobat rasa rindunya ada keturunannya yaitu darma seta.


Yang sama persis dari bentuk tubuh dan rupanya menyerupai ayahnya yaitu danang jaya.


Sebagai rasa kegembira'annya Aji santang, mengundang seluruh warga kampung benda, dan Anaknya yang lelaki juga segera datang yang bernama Adi kerta santang, adik dari ibunya wira jaya yaitu Ajeng kerta ningrum.


Aji santang mengadakan pesta, dengan menjamu semua warga kampung benda dengan makan-makan.


Dengan memotong dua ekor kerbau, sebagai rasa syukur pada sang pencipta akhirnya generasi penerusnya itu telah datang.


''Saudar-saudara ku kampung benda, saya sengaja mengundang bapk ibu semuanya, sebagai rasa syukur saya pada sang pencipta, bahwa cucu saya, anak dari mendiang ajeng kerta ningrum dan supala adi nata, kini telah kembali didalam rangkulan keluarga saya, bertahun-tahun saya mencari dan menanti, sebelumnya saya sempat putus asa, dan ku pasrah pada sang maha agung mungkin sudah menjadi suratan takdir, tapi disaat yang tidak disangka sangka keluarga saya kini kembali, dan perkenalkan yang duduk didepan yang berpakaian kuning itu cucu saya, yaitu wira jaya, mungkin kalian juga tau yang sebaya dengan cucu saya itu, dan yang duduk ditengah itu cicit saya, anak dari Mendiangnya danang jaya, yang bernama darma seta, dan yang disamping darma seta cucuku juga yaitu ibu dari darma seta atau istrinya danang jaya yang telah tiada, yang bernama dewi harum.'' Begitu penjelasan dari Aji santang selaku sesepuh kampung benda.


Dan para pendudukpun menyambutnya dengan penuh kegembira'an, karena merasa dikampungnya telah ada tiga benteng yang begitu kokoh.


''Hiduup Wira jaya, darma seta, dan nyi dewi harum, selamt datang di kampung kami.'' Ucap Salah satu warga.


Setelah aji santang memperkenalkan cucu-cucunya pad warga, kini semua warga dipersilahkan mencicipi idangan yang telah disediakannya.


Para warga pun secara bergantian mengambil idangan-idangan itu.


Pesta meriah yang di adakan oleh aji santang membuat warga kampung benda merasa senang.


Kini Wira jaya, darma seta dan dewi harum telah menemukan leluhurnya dari mendiang ibunya yaitu Ajeng kerta ningrum, yang ternyata wira jaya itu bukan seorang anak dari lelaki gembala yaitu pak sodikin warga penduduk kampung batu gambir, yang kini telah tiada.


Wira jaya dan darma seta juga kini dapat bagian harat warisnya dari mendiang ibunya, yang sementara dikelola oleh pamannya adi kerta santang, adik satu-satunya dari mendiang ibunya.


wira jaya, darma seta dan dewi harum, dilarang kembali lagi ke kampung batu gambir oleh kakenya, karena rumah yang disana berada diatas harta milik kepala kampung batu gambir.


Aji santang juga membujuk cicitnya yaitu darma seta, untuk mempersatukan Wira jaya dan dewi harum.

__ADS_1


Semula darma seta tidak setuju karena setatusnya jadi membingungkan, tapi setelah darma seta berdialog dengan ibunya dan kakenya adi kerta santang, ya sah-sah saja kata kakenya karena itu tidak ada pertalian darah selagi kedua dari mereka atas dasar suka dan saling menyayangi, terus darma seta bertanya pada ibunya sendiri, jawab dewi harum dengan kejujuran suka dan sayang karena wira jaya sudah banyak berkorban dari semenjak suaminya danang jaya masih hidup, hingga sampai saat ini pengorbanan wira jaya tidak pernah surut.


Setelah dipikir-pikir di bolak-balik oleh darma seta, akhirnya menyetujuinya, karena darma seta juga berdosa bila melarang ibunya yang masih membutuhkan kasih sayang dari seorang suami.


Akhirnya pernikahan wira jaya dan dewi harumpun berlangsung sangat meriah dengan mengadakan pesta tarian ronggeng tradisi adat ditatar sunda.


Acarapun berlangsung dengan aman tidak ada gangguan, karena yang biasa mengacaukan dalam acara-acara pesta yaitu gembong kala ireng, yang sekarang sudah berhasil dilumpuhkan dan ditumpas oleh wira jaya, darma seta dan dewi harum.


Satu hari setelah acara pesta berlangsung.


Wira jayapun disuruh menempati rumah mendiang ibunya yang cukup besar dan bagus, sedangkan darma seta menemani kake buyutnya aji santang, yang terkadang ditempat ibunya juga.


Kini malam telah tiba, wira jaya dan dewi harum lagi asik berdua didalam kamarnya, dewi harum mendapatkan bujang setengah abad, istilah adat ditatar sunda, dewi harum turun tangga, karena menikah dari adik mantan suaminya yang telah tiada.


''Kakang maapin aku, kalau selama ini aku banyak merepotkan kakang.'' Ucap dewi harum.


''Jangan berkata begitu nyai, karena ku sangat sayang pada keluarga.'' Ucap Wira jaya sambil mengelus ngelus rambut dewi harum.


''Terima kasih kakang, sepuluh tahun setelah kakang danang tiada, entah kenapa hati kecilku sangat sayang padamu.'' Ucap dewi haru sambil rebahan didada wira jaya.


''Ya mungkin semua ini juga sudah menjadi suratan takdir dari sang pencipta.'' Ucap wira jaya sambil mencium kening dewi harum.


''Ooooh kakang, ku sangat terharu sekali.'' Ucap dewi harum sambil balas menciumi wira jaya.


Wira jaya terus membelai belai dewi harum dengan lembut, dan dewi harum sangat merasakan kemesra'an sentuhan-sentuhan dari wira jaya, yang sudah lama tidak merasakannya, kini terasa menjadi gadis lagi.


''Aaaahh kakaaang.'' Ucap fewi harum sambil terpejam matanya.


Wira jaya terus memberikan kemesraan yang lembut dan menyentuh dengan menciumi seluruh anggota tubuh dewi harum.


Dewi harum kini telah terbawa dari dorongan birahinya yang menggebu gebu, hingga tidak terasa dewi harumpun melepaskan semua kain yang menempel ditubuhnya.


Dewi harum memeluk erat tubuh wira jaya.


''Aah aaah kakng, ku tidak tahan lagi.'' Ucap dewi harum.


''Aaah nyai, ku juga sama.'' Jawab wira jaya dengan nada bergetar dan sahdu.


''Ayo kakang.'' Ucap dewi harum sambil menggeliat-geliat karena terdorong oleh sahwat birahinya.


Wira jaya pun terus mencumbui dewi harum dengan lembut. kini keduanya sudah larut dan terbawa terbang dalam asmara birahi, kini senjata wira jaya sudah masuk dalam warangkanya, dewi harum dengan mesranya dan merintih-rintih merasakan satu kenikmatan dari sentuhan-sentuhan kejantanan wira jaya.


Wira jaya terus merengkuh dengan erat pada tubuh istrinya, kini malam pertama malam terindah yang mereka rasakan, dewa kamajayapun merasuk kedalam kedua insan hingga keduanya merasakan sebuah kebahagia'an yang tak terhingga.


Dan akhir tercapailah sudah gairah mereka setelah memuncaknya api asmara dari keduanya, kini kedua nampak terlihat lemas.


''Alangkah bahagianya malam ini kakang.'' Ucap dewi harum sambil mencium pipi wira jaya.


''Iya nyai, ku juga begitu.'' Jawab Wira jaya sambil memeluk tubuh istrinya dewi harum.


.............................


Dua minggu kemudian.


Wira jaya dan dewi harum mau pamit dulu pada kakenya aji santang, mau menengok dulu ke batu gambir, sekalian membawa sulastri gadis desa yang sebatang kara, karena di usir orang tuanya, yang waktu itu dititipkan pada kepala kampung.


**************


Lanjut Eps 13.


Selamat membaca, mohon maap sebelumnya bila ada cerit-cerita yang sedikit agak dewasa, karena itu hanya bumbu dari sebuah perjalanan hidup didalam sebuah cerita, agar para pembaca tidak merasa bosan.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan.


. 👍 like


. Comentar


. ❤ Favorit


. 💓 Vote nya.


Terima kasih yang sudah mendukung karya-karya ku.

__ADS_1


__ADS_2