PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI Eps 25


__ADS_3

Setelah wira jaya dan Darma seta beserta pemuda halimun menemukan Nyi Anyelir mereka langsung bergegas melakukan perjalanannya lagi menuju Desa halimun.


Kini semua kuda sudah dikendalikan melaju dengan kencangnya menuju desa halaimun, kuda yang ditunggangi Wira jaya bersama nyi Anyelir yang duduk dibelakang begitu kuat dan gagahnya melaju dengan kencangnya, begitu pula Darma seta dan ki Layung satu kuda ditunggangi berdua.


Setelah mereka melewati kaki gunung sembung


jalanan yang dilalui menuju desa halimun tidak begitu menyulitkan, karena banyaknya padang rumput dan tegalan yang mereka lalui.


''Hea hea hea.


Kuda terus dipacu, Hingga akhirnya mereka tiba dipinggiran hutan paceklik, kini laju kuda pun tidak bisa melaju dengan kencang, karena jalan dihutan itu sangat menyulitkan sang kuda, bayaknya tanaman-tanaman gambut dan rumput-rumput liar yang merambat, mereka pun terus waspada takut ada bahaya datang yang tidak terduga.


Darma seta dan Wira jaya terus memasang mata dan pangrungu elang saktinya demi menghindari bahaya-bahaya yang suatu sa'at datang menghadang.


''Seno, Landu dan kau Genta, kalian haris wasapada, karena hutan ini banyak menyesatkan orang yang melewati wilayah ini.'' Ucap Darma seta.


Seno,Landu dan Genta yang belum banyak pengalaman dalam hal pengembara'an selalu mengingat kata-kata Darma seta, karena bagi mereka Darma seta dan Wira jaya sosok guru yang sangat bijak, sekaligus pelindung bagi orang-orang yang ada disekelilingnya.


Disa'at mereka telah berada ditengah-tengah hutan paceklik, sesa'at Darma seta menghentikan laju kudanya dengan memberi kode mengacungkan tangan kanannya ke atas.


''Ada apa kakang Seta?.'' Tanya Landu.


''Diam jangan ada yang berisik, ku mendengar ada suara rombongan seperti Burung sedanga mengarah pada kita.'' Jawab Darma seta.


''Sudah pasti itu adalah pasukan kelelawar, penunggu hutan ini, yang sangat haus akan darah, dan sudah mencium kedatangannya kita disini.'' Saut Wira jaya.


''Waah serem juga paman, bukankah kelelawar itu makannya buah-buahan.'' Seno memotong pembicara'an.


''Ini bukan kelelawar biasa seno, tapi kelelawar pengisap darah penunggu hutan ini, makanya hutan ini dinamakan hutan paceklik, karena jarang ada seorang manusia yang melintas dihutan ini.'' Ucap Wira jaya.


Pada sa'at mereka lagi bersiap-siap dan waspada akan bahaya yang datang menyerang, terdengar dengan jelas suara binatang mengerikan semakin mendekat ke arah mereka.


Dari arah selatan nampak terlihat gumpalan hitam meluncur dengan suara-suara yang menyakitkan ditelinga.


''Awaaas, cabut semua senjata kalian para kelelawar sudah mendekat.'' Teriak Wira Jaya.


Seno Landu dan Genta pun Segera mencabut senjatanya, untuk meng anti sipasi bahaya yang akan menyerang.


Ki layung dan Nyi Anyelir di amankan oleh Darma seta, kesebuah tempat yang cukup aman, agar keberada'an Kilayung dan nyi Anyelir benar-benar aman, Darma seta memagarinya dengan ilmu mega mendung.


Ki Layung dan nyi Anyelir kini lenyap tidak terlihat dalam pandangan, hanya awan hitam yang terlihat menutupi keduanya itu.


Setelah semua serasa aman, Darma seta lalu menuju ketempat di mana wira jaya dan yang lainnya berada.


Setibanya ditempat Rombongan kelelawar itu sudah mendekati dan mulai menyerang dengan kibasan sayapnya dan taring-taringnya yang terlihat mengerikan.


Suara-suara yang menyakitkan telinga dari para kelelawar tersebut membuat orang yang tidak mempunyai ilmu kanuragan dan bela diri membuat merinding dan akan lari kocar kacir.


Kelima pendekar itu sangat disibukan dalam menghadapi ribuan kelelawar yang menggulung dan menyerang mereka.


Sabetan pedang perak Darma seta terus memutar dan membunuh setiap kelelawar yang menyerang dirinya.


begitu pula Wira jaya, Seno, Landu dan Genta, dengan lincahnya menyabitkan senjatanya untuk melindungi dirinya dari gigitan kelekawar yang haus akan darah.


Puluhan kelelawar yang jatuh terkena sabetan-sabetan dari senjata kelima pendekar itu, Tidak membuat para kelelawar seperti ketakutan, malah semakin agresip dan ganas untuk meminum darah dari kelima pendekar itu.


Kelima pendekar itu dibuat kelelahan oleh para pasukan kelelawar yang tidak ada habisnya, yang terus menggulung.


Wira jaya terus melompat sambil meniupkan senjata ampel kuningnya, lengkingan suara yang keluar dari senjata ampel kuning itu membuat suasana tambah mencekam, angin berhembus dari utara begitu kencang.


Tidak lama kemudian gumpalan seperti kabut melesat semakin mendekat, tidak lain itu para pasukan elang yang mendengar seruan dari ampel kuning yang ditiupkan oleh Wira jaya.


Hutan paceklik seperti diserbu oleh pasukan elang yang datang seperti siluman.


Lengkingan suara-suara elang itu membuat gendang telinga menjadi pecah, sebagai mana yang di rasakan oleh seno, Landu dan Genta, ketiga pemuda halimun itu menutupi telinganya dengan jari telunjuknya, karena tidak tahan dengan suara-suara dari pasukan elang yang datang seperti menyerukan sebuah peperangan.

__ADS_1


Para pasukan elangpun seperti mengerti suara yang terdengar dari tiupan senjata ampel kuning Wira jaya, langsung menyerang ribuan kelelawar itu


Hutan yang tadinya sepi, kini menjadi gaduh oleh suara-suara kibasan sayap dari para pasukan elang dan kelelawar.


Setelah para pasukan elang datang membantu kelima pendekar itu, para kelelawarpun sudah banyak yang berjatuhan bermandikan darah, rumput-rumput yang tadinya hijau, kini berubah warnanya menjadi merah oleh setiap tetesan darah dari para kelelawar yang mati terbunuh dari sabetan pedang perak dan senjata-senjatanya mereka, ditambah dengan patukan dan cakaran para elang yang merobek-robek isi perut dari para kelelawar itu.


Setelah banyaknya para kelelawar yang mati terbunuh, Sisa dari kelewar yang masih hidup seperti ketakutan dan tidak mampu untuk menghadapi amukan dari pasukan elang dan Rombongannya Wira jaya.


Para kelelawar itupun langsung terbang tinggi dengan kibasan-kibasan sayapnya dan suara-suaranya yang mengerikan pergi meninggalkan tempat itu.


Kini Wira jaya, Darma seta dan ketiga pemuda Halimun, menarik napasnya dalam-dalam, pertarungan yang cukup melelahkan melawan ribuan kelelawar, Dan merekapun sudah menyarungkan kembali pedangnya yang sudah dilumuri oleh darah-darah dari para kelelawar yang mati terbunuh.


Sedangkan pasukan elangpun sudah pergi lagi meninggalkan tempat itu, datang dan perginya pasukan elang itu seperti sekutu para tentara langit, Hanya dalam sekejap matapun sudah hilang dalam pandangan.


Setelah semua terasa aman, Darma seta lalu pergi menuju ke tempat dimana Ki Layung dan nyi Anyelir di amankan.


Setibanya ditempat, Darma seta melepaskan ilmu mega mendungnya, dengan perlahan-lahan Ki Layung dan Nyi Anyelir sudah nampak terlihat dari kabut hitam yang telah menyelimutinya.


Mereka bertiga lalu menuju pada Wira jaya dan ketiga pemuda desa halimun, tidak lagi menunggu-nunggu berdiam diri terus disitu, semua kini sudah berada diatas punggung Kudanya masing-masing, kini sang kudapun sudah pada dikendalikannya.


Kelima ekor kuda kini melaju, untuk keluar dari hutan paceklik, hutan yang penuh dengan misteri dan banyak sekali teka-teki, barang siapa yang melintas pertama kali dihutan itu, pasti akan susah untuk bisa keluar lagi.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di perbatasan, untuk keluar dari hutan paceklik itu.


Rasa lega yang kini mereka rasakan, karena sudah bisa terbebas dari hutan paceklik, yang menyimpan banyak sekali teka teki.


''Akhirnya kita bisa lepas dari misteri hutan paceklik itu.'' Ucap Landu sambil menarik napas panjang


''Iya, Semesta masih berpihak pada kita semua.'' Saut Darma seta


''Ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya, nanti hari keburu gelap.'' Ucap Wira jaya memotong pembicara'an.


''Ayooo, hea hea hea.'' Ucap semuanya mrngendalikan lagi kudanya.


Kuda terus dipacu menelusuri jalanan setapak menuju desa halimun.


••••••••••••••••••••••••


Sementara ditempat lain.


Didesa Halimun, rombongan Sara yuda dan Jala darma yang sudah sampai duluan kedesa halimun, sekaligus disuruh oleh Wira jaya supaya cepat-cepat balik, untuk menyampaikan pada Giri darma dan Ibu Padma sari, bahwa nyi Anyelir sudah diketahui keberada'annya, dikaki gunung sembung.


Sara yuda dan Jala darma beserta pemuda Halimun, lagi pada kumpul dibale-bale rumahnya Giri darma, dan menceritakan Darma seta yang sudah berhasil menemukan keberada'annya nyi anyelir, Ibu padma sari dan Giri darma nampak berseri-seri karena merasa senang akhirnya anak perempuannya itu diketemukan juga.


''Terus kenapa kalian tidak ikut membebaskan Anyelir?.'' Tanya Ibu Padma sari.


''Paman Wira, menyuruh kami balik kehalimun, dan cepat kabarin paman dan ibu padma sari katanya.'' Jawab Sara yuda.


'''Ooh begitu.'' Jawabnya singkat.


''Iya Paman, Pasukan elang yang dipimpin elang abu-abu itu, yang menyampaikan Kabar pada kami.'' Ucap Sara yuda.


''Iya benar ayah, karena Paman takut ada hal-hal yang tidak diharapkan seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya.'' Jala Darma memotong pembicara'an.


''Wira jaya emang sangat waspada, dan sangat cerdik, percis kaya ayahandanya, Paman Supala Adi nata.


Giri darma dan Istrinya Padma sari beserta para warga halimun, terus menunggu dan menunggu kedatangannya Wira jaya dan Darma seta, hingga tidak terasa waktu kini telah mendekati senja, sinar kuning agak kemerahan sudah mulai condong kebarat dan hampir mau tenggelam.


Begitu hari sudah mau gelap, dari kejauhan terdengar suara bergemuruh seperti suara ketukan benda kebumi dan berirama.


Semua yang duduk dibale-bale langsung menggerakan badan beranjak dari tempat duduknya.


"Wah seperti suara kuda berlari menuju kesini." Ucap Jala Darma.


"Itu pasti Wira jaya dan Darma seta, Landu, Genta dan Seno, yang sudah berhasil membebaskan Anyelir putriku.'' Saut Giri darma.

__ADS_1


Serentak semua pada berdiri sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga Bale-bale rumahnya Giri darma.


Tidak lama kemudian suara lankah kaki kuda yang melaju dengan kencangnya semakin mendekati keberada'an mereka.


"Iya benar itu Paman Wira dan Darma seta." Teriak Sara yuda.


Ternyata yang datang itu Wira jaya Darma seta serat ketiga pemuda desa Halimun, yaitu Landu, Genta dan Seno.


Wira jaya nampak terlihat yang memimpin digaris depan yang di ikuti oleh Landi, Genta, Seno dan Darma seta yang berada digaris paling belakang sebagai pengawal kalau ada bahaya yang muncul membokongi mereka.


Sesa'at kemudian tibalah mereka didepan halaman rumahnya Giri darma, begitu mereka semua sudah turun dari punggung kudanya, Roman wajah ibu Padma sari dan Giri darma berseri-seri penuh rasa gembira, karena putrinya selamat tidak kurang sesuatu apapun.


Yang Pertama disambut oleh Giri darma dan Padma sari adalah nyi Anyelir, Ibu dan Bapak langsung berpelukan secara bergantian.


''Kamu tidak apa-apa nak, Bapk sangatbkuatir dengan keada'an kamu, ma'apkan bapak ya nak, tidak bisa menjagamu dari penculikan itu.'' Giri darma berkata sedih, yang dibarengi dengan hujan air mata Bahagia.


''Iya Ayah tidak apa-apa, ku juga disekap dan diperlakukan dengan baik, dan merekapun tidak macam-macam padaku.'' Jawab Nyi Anyelir.


''Syukurlah kalau begitu, Ibu merasa senang.'' Ucap Padma sari.


''Kalau begitu, apa alasannya mereka menculik kamu putriku?.'' Tanya Giri darma.


''Entahlah ayah, ku juga tidak mengerti.'' Jawab Nyi Anyelir.


Setelah Giri darma dan Padma sari mencurahkan rasa rindu dan kawatirnya yang selama ini menghantui pikiran dan perasa'annya pada Nyi Anyelir.


Baru Giri darma dan Padma sari menyambut Wira jaya, Darma seta, Seno, Landu dan Genta serta Ki layung


Giri darma dan Padma sari menatap heran pada kilayung.


''Ma'ap Wira itu siapa?.'' Tanya Giri darma sambil melihat pada Ki Layung.


''Oo itu, Namanya ki Layung, biar nanti aja Darma seta yang ceritain semuanya.'' Jawab wira jaya.


Selepas itu Giri darma mengadakan sukuran atas kepulangannya putrinya kerumah dengan Selamat, semua warga halimun diundangnya untuk makan-makan.


Dengan rasa bahagianya Giri darma mengundang warga halimun, atas ucapan terima kasih juga pada warga halimun yang sudah rela membantu mencari putrinya hingga bisa dibawa pulang kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.


Dua kambing jantan besar sudah disembelihnya, ada yang sibuk bikin panggangan buat sate, ada juga yang sibuk memasak didapur yang banyak dikerjakan oleh kaum hawa membantu Dewi harum dan Ibu Padma sari.


Dimalam itu warga halimun telah memenuhi halaman rumahnya Giri darma.


Dan dimeriahkan pula oleh seni pencak silat, suara terompet dan tepak gendang terdengar dengan indah, apalagi bagi orang yang senang dengan seni pencak silat, bikin lutut jadi gemetaran ingin ikut naik panggung untuk memeriahkan suasana malam itu.


Suara sorak sorai dari para penonton memberi semangat, ikut memeriahkan acara itu.


Wira jaya yang pertama naik panggung, sebagai pembuka'an acara seni itu, yang disusul oleh Dewi harum, gerakan dari jurus-jurus yang dimainkan oleh Dewi harum begitu indah dan luwes sehingga banyak para gadis-gadis yang tertarik akan indahnya permainan jurus Dewi harum, karena permainan jurus itu tidak dimiliki oleh Wira jaya dan Darma seta.


Jurus elang bidadari yang diturunkan oleh nini Ragan tiri alias pendekar elang merah kepada Dewi harum.


Setelah Dewi harum selesai dan sudah menurini panggung, acarapun terus berlangsung.


Kini para pemuda-pemuda Halimun yang naik panggung satu/satu, hingga acara selesai dan ditutup oleh Darma seta, dengan permainan pedang.


Gerakan-gerakan Darma seta yang begitu cepat dan agresip dengan permainan pedangnya yang sangat luar biasa sekali.


Suara tepuk tangan dan suit-suit dari penonton memberi acungan jempol pada Darma seta.


♤♤♤♤♤♤♤¤¤¤¤¤♤♤♤♤♤♤


Bersambung Eps 26.


Nantikan kelanjutan kisahnya pendekar elang sakti di eps selanjutnya.


Kilik 👍like, tulis comentar, dan berikan ⭐⭐⭐⭐⭐ Ranting dan votenya.

__ADS_1


Selamat membaca dan terima kasiih.


__ADS_2