
Setelah ketiga Ayam hutan di bawa ke tempat yang tidak terjangkau oleh air hujan, Darma seta mencabut pedang peraknya lalu di carinya sebuah batu yang bisa memercikan api, setelah batu di dapatnya, lalu pedang tersebut di tancapkannya kemudian terciptalah sebuah cahaya putih panas, dan setelah itu batu tesebut di bentur-benturkan pada pedang perak yang di bawah ada tumpukan rumput kering dan ranting-ranting dahan yang sudah mengering.
Tidak lama kemudian terciptalah sebuah percikan api dan langsung membakar rumput dan ranting kering itu dan menyalah sebuah api.
Setelah semua ranting itu menjadi bara, kemudian ke tiga ekor ayam hutan itu di panggang setelah di lucuti semua bulu-bulunya.
Kini terciptalah wajah yang ceria pada diri Darma seta, karena malam ini ibuk dan pamannya bisa kemasukan makanan, yang membuat tenaganya bisa pulih kembali.
Setelah tiga ekor Ayam hutan yang di panggang itu sudah di rasakan matang, Darma seta pun mengangkatnya, dan bara api yang masih menyala di padamkannya dengan cara menumpuknya dengan dedaunan yang basah terkena air hujan, dan pedang perak yang menancap di cabut dan di sarungkan kembali kedalam warangkanya.
Kemudian Darma seta bergegas pergi dan melesat di dalam derasnya hujan yang masih mengguyur bumi, dengan menggunakan ilmu elang kencana.
Dalam sekejap Darma setapun telah sampai di atas dahan rumah pohonnya lalu Darma seta melangkah masuk, nampak ibuknya masih bersandar di dada Wira jaya.
"Seta kamu bawa makanan apa?." Tanya Dewi harum.
"Ini buk, Paman Ayah, seta bawakan tiga ekor Ayam panggang." Jawab Darma seta sambil memberikan dua panggang ayam hutan.
"Wah waah, kamu hebat seta, di tengah hutan yang gelap dan derasnya hujan, masih bisa mendapatkan ayam hutan, sudah di panggang lagi." Ujar Deei harum dengan pasang wajah berseri-seri.
"Aku sudah terbiasa hidup di hutan buk, dan aku sudah sangat mengenal bagaimana cara kita untuk menyambung hidup." Ungkap Darma seta.
"Luar biasa kamu seta." Celetuk Wira jaya.
"Ah..Paman Ayah suka berlebihan kalau me muji." Ujar Darma seta.
Setelah itu mereka pun langsung menyantap panggang ayam hutan tersebut yang harum sampai menusuk hidung yang lagi kelaparan, Wira jaya dan Dewi harum nampak lahap sekali dalam menynatap ayam panggang itu, Karena energinya yang hampir habis selepas bertarung melawan tiga laskar jurig Galunggung, yang berkepandaian cukup untuk di perhitungkan.
Kini hujan pun sudah mulai mereda, ke tiga pendekar elang sudah nampak membaringkan tubuhnya setelah menghabiskan panggang ayam hutan itu.
Lebatnya hutan Galunggung dengan pepohonan yang menjulang ke langit dan banyaknya binatang buas, yang menjadi tempat bersembunyi nya gerombolan perampok dengan julukan jurig Galunggung, kini sudah tiada lagi setelah si kormen anggota dari jurig Galunggung yang telah tewas di tangan Darma seta, di tambah ke tiga kawanannya, Kordek, Kardut dan kuprit telah terluka parah akibat dari hantaman Ajian Cakra Dewa yang kini sudah terpisah dengan sang ketuanya yaitu Kobrek.
Malam yang gelap gulita di tengah hutan Galuggung, kini sudah berlalu ketika pancaran cahaya masuk melalui celah-celah dedaunan dan suara-suara burung yang ramai saling bersautan satu sama lainnya, menyambut pagi yang cerah.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta pun sudah bangkit dari tidurnya, dengan netranya memandang datar ke luar sambil menikmati udara pagi yang masih terasa menggigil apalgi keberada'an mereka berada di ketinggian.
Darma seta perlahan membuka pintu rumah pohon itu lalu duduk bersila dengan melatih pernapasan, dengan menghirup udara pagi dari tenaga inti alam lalu di keluarkannya perlahan membuang karbon di oksida, Begitu pula Dewi harum dan Wira jaya.
...................
Tiga hari kemudian.
Ke tiga pendekar elang telah memanggil kudanya dengan suitan, ke tiga kuda pun berlari dengan gagah berani memenuhi panggilan dari sang majikan.
"Sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan kita ya." Wira jaya sambil mengelus-ngelus kepala kuda di bagian mukanya, sang kudapun meringkik pertanda siap melayani sang majikan kemana pun pergi.
Lalu Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta melompat naik pada punggung kudanya masing-masing.
__ADS_1
Hea..Hea....Hea..
Mereka pun langsung memecut kudanya, sang kuda langsung berlari dengan kencangnya, dengan tujuan perguruan Naga Bintang yang tinggal sebentar lagi mereka akan segera sampai.
Kini ke tiga pendekar elang sudah keluar dari hutan Galunggung, dan ke tiga kuda nampak masih terus melaju menaiki kaki gunung Galunggung, walaupun jalanannya mulai menanjak dan berbatu tapi bagi ke tiga kuda yang sangat terlatih itu tidak menjadikan penghalang untuk terus mengantarkan sang majikannya agar cepat sampai ke tempat yang di tuju.
Setelah ke tiga pendekar elang melewati jalanan yang berbatu dan terjal, akhirnya mereka telah tiba di depan pintu gerbang perguruan Nanga Bintang.
Sebuah perguruan yang sangat besar dan megah, di pintu masuk pertama di jaga sangat ketat oleh empat orang murid yang terpilih.
Lalu Wira jaya menyapa sang penjaga pintu masuk itu.
"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.
Penjaga pun menjawab sapa'an dari Wira jaya.
"Rampes, siapa anda ada perlu apa ke sini?." Salah satu penjaga balik bertanya.
Kemudian Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta turun dari punggung kuda.
"Saya Wira jaya, mau bertemu dengan ki Sura praba." Jawab Wira jaya.
"Oh begitu, apa sebelumnya sudah ada perjanjian dengan guru besar kami?." Tanya penjaga.
"Kalau perjanjian tidak ada sama sekali, cuma kami ada perlu sama guru kalian, mau membicarakan sesuatu yang mengenai perguruan Naga Bintang ini." Jawab Wira jaya.
"Ki sanak tunggu dulu sebentar, anak buah saya lagi melaporkan dulu dengan kedatangan kalian." Ujar sang penjaga.
Ke tiga pendekar elang pun menunggu, di luar pintu gerbang.
Tidak lama kemudian penjaga yang di utus itu telah kembali dan menyampaikan suatu pesan dari guru besarnya pada ketuanya.
Lalu ketua dari penjaga itu pun menyampaikan pesan tang di bawa anak buahnya itu pada ke tiga Pendekar elang.
"Apa kisanak ini tiga Pendekar elang?." Tanya nya.
"Iya ki sanak, orang-orang memanggil kami dengan sebutan begitu." Wira jaya menjawab.
"Kalau begitu, kisanak di persilahkan untuk menemui ki Sura praba, nanti penjaga pintu ke dua yang akan mengantarkan ki sanak untuk menghadap guru." Ujarnya.
"Iya terima kasih ki sanak."
Kemudian Wira jaya pun masuk ke dalam area perguruan Naga Bintang yang di jaga ketat, dan ke tiga kuda pendekar elang di bawa oleh penjaga di tempat khusus kuda-kuda.
Tidak lama krmudian Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta sudah tiba di hadapan ki Sura praba maha guru besar perguruan Naga Bintang yang di antar oleh salah satu murid Naga Bintang yang bertugas berjaga di pintu dua.
"Ampun Guru, ke tiga tamu segera menghadap." Ujarnya.
__ADS_1
"Ya terima kasih penjaga, ya sudah silahkan kamu kembali berjaga." Ujar ki Sura praba.
Selepas itu Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta maju kedepan memberi hormat pada ki Sura praba.
"Sampu rasun, hormat kami ki Sura praba." Wira jaya.
"Rampes.. Terima kasih, mimpi apakah aku semalam bisa kedatagan tiga Pendekar elang, sungguh sebuah kehormatan bagi kami." Jawab ki Sura praba.
"Wah waah, ki sura ini sunghuh berlebihan kalau memuji, kedatangan kami ya ingin berkunjung saja dan sedikit yang akan kami bicarakan." Saut Wira jaya.
"Waduh jadi degdegan hati ini, apa yang akan Dinda bicarakan itu?." Tanya ki Sura praba.
Kemudian Wira jaya mengeluarkan suatu benda logam berbentuk panah yang ukurannya sangat kecil Yang di belakang mata anak panahnya agak bulat menyerupai koin tapi agak lonjong bergerigi menyerupai Bintang dan terpatri lukisan seekor Naga.
"Apakah ini benda dimbol dari perguruan ki sura praba." Ujar Wira jaya sambil memberikan Benda tersebut.
Ki Sura praba lalu menerima Benda itu dari uluran tangan nya Wira jaya, dalam sekejap pandangan nya ki Sura praba telah hapal akan Benda tersebut.
"Benar ini adalah Benda lambang perguruan kami yang sekaligus menjadi senjata rahasia, tapi yang bisa memakai Benda ini hanya murid-murid yang sudah terpilih, dari manakah Dinda mendapatkan Benda ini?." Ki Sura praba bertanya.
Lalu Wira jaya menceritakan waktu pertama kali mendapat senjata itu, waktu mau membantu rakyat Ranca galuh yang tertindas oleh sang penguasa Jagal pati dalam perjalanannya ke hutan Carik di cegat sekrlompok orang tidak di kenal.
"Nah begitu ki Sura praba, kami mendapatkan Benda itu ketika lagi mencoba mencari tau pada orang yang lagi menghembuskan napas terakhir, tapi belum saja orang itu menjawab satu senjata rahasia telah melepaskan nyawa orang itu." Ungkap Wira jaya.
"Setelah mendengar cerita dari Dinda Wira, sekarag saya tau pemegang senjata ini siapa." Ujar ki Sura praba.
"Maksud Aki, dia adalah salah satu murid Aki yang durhaka, dia bernama Jareti gangga, memang dia salah satu murid yang berbakat dan pintar, tapi ilmu yang di dapatnya di sini malah di pake di jalan yang salah." Jelasnya ki Sura praba.
"Ooh begitu."
"Tapi Dinda bisa tau dari mana bahwa senjata ini milik perguruan ini?." Tanya ki Sura praba.
"Saya memastikan aja, karena melihat simbol dan bentuk senjata itu, makanya kami menyempatkan untuk berkunjung kesini." Jawab Wira jaya.
"Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada kalian bertiga, kalau Dinda tidak keberatan tolong cari Jareti gangga dan sadarkanlah dia supaya kembali ke jalan yang benar, karena dengan senjata rahasianya itu bisa mengadu dombakan antara perguruan ini dengan perguruan yang lainnya baik itu aliran putih ataupun aliran hitam." Ungkap ki Sura praba.
"Baik ki, nanti kami akan berusaha mencarinya di sekitar Ranca galuh, karena saya pertama kali menemukan jejaknya di situ." Ujar Wira jaya.
Setelah itu Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung pamit untuk kembali ke wilayah barat.
*******
Bersambung.
Besar kecilnya dukungan dari para Reader dan kaka Author, saya mengucapkan banyak terima kasih, jangan lupa sertakan like, comentar, saran juga boleh, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Salam sehat sejahtera selalu, sukses bagi semuanya.
__ADS_1