PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang Sakti eps 77


__ADS_3

Matahari pun sudah hampir tenggelam, ketiga pendekar elang, Raden Sedayu dan Bara wenda sudah keluar dari hutan Jati, Kali ini Raden sedayu mau membawa Bara wenda ke Gunung Bongkok daerah kawasan keraja'an Galuh yang berpusat di Kawali.


Satu kuda di tunggangi oleh dua orang tentu sangat menambah beban sang kuda, setelah Mereka menjauh dari negri alang-alang, Raden Sedayu dan pendekar elang pun berhenti di salah satu perkampungan yang cukup ramai dan padat penduduk, singgah di salah satu kedai yang sangat ramai pengunjung.


Lalu mereka turun dari punggung kudanya, dan berjalan memasuki sebuah kedai.


"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.


"Rampes." Pemilik kedai dan para pengunjung menjawab secara serempak.


"Ayo kisanak silahkan duduk, mau minum apa mau makan." Tawar pemilik kedai.


"Tolong bikinin nasi putih lima pak." Ujar Raden Sedayu.


"Baik di tunggu sebentar ya."


Tidak lama kemudian pemilik kedai membawa lima piring nasi putih dengan lauknya ayam panggang bersama sambel dan lalapan mentah.


Dengan laparnya mereka langsung menyantap makanan, apalagi Bara wenda setelah sembuh dari luka dalamnya seperti kelaparan hanya dalam sekejap saja srpiring nasi putih bersama lauknya habis.


"Wah waah kamu cepat amat makannya." Cetus Darma seta.


"Iya nih rasanya lapar banget, apa mungkin pengaruh obat penawar itu kali." Ujar Bara Wenda.


"Bisa jadi begitu rayi, karena obat penawar itu epeknya akan merangsang napsu makan." Cetus Raden Sedayu.


Selepas mereka srlesai makan, lalu Raden sedayu membayar semua makanan itu, .mereka pun langsung melanjutkan lagi perjalanannya.


Ketika memasuki tapas batas kerajaan Galuh dan keraja'an Sunda kuno di tepian kali Citarum, mereka berpisah, Raden sedayu mengambil arah ke kiri untuk menuju Kawali sedangkan pendekar elang lurus menunju arah ke Batu Gambir, untuk bisa sampai ke Batu Gambir mereka harus menembus dulu hutan yang sangat panjang.


"Wah sebentar lagi hari akan berganti gelap kakang, sebaik nya kita bermalam dulu di sekitar daerah sini." Usil Dewi harum.


"Iya tapi di sini kan sangat jauh dengan perkampungan, gimana kalau kita mencari gubuk atau tempat berteduh dari air hujan yang sewaktu-waktu bisa turun." Ujar Wira jaya.


"Biasanya di lahan pertanian suka ada gubuk para petani." Cetus Darma seta.


Lalu mereka melajukan kudanya dengan pelan sambil celingukan ke sana kemari siapa tahu ada sebuah gubuk yang bisa di jadikan tempat istirahat untuk satu malam.


Setelah dua puluh tumbak mereka berjalan akhirnya di temukan sebuah gubuk yang lumayan cukup besar untuk di jadikan mereka beristirahat.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung turun dari punggung kudanya.


Dan hari pun sudah gelap, bertepatan dengan purnama penuh yang sangat terang menerangi bumi, lalu mereka pun menanggalkan tali kekang kuda di batang pohon yang banyak tumbuh di sekitar gubuk tersebut. Mereka masuk ke gubuk dan duduk di balai bambu sembari netranya memandang ke angkasa yang begitu terang benderang oleh cahaya bulan.

__ADS_1


Untuk menghangatkan tubuhnya dari angin yang mulai terasa dingin, Darma seta pergi keluar untuk mencari ranting dan dahan kayu kering, setelah semua di dapatkannya Darma seta mengeluarkan batu ganda wesi dan sepotong bambu yang di belah menyerupai panah, lalu di potongan bambu itu di putar di atas batu tersebut, lama kelama'an tercipta sebuah asap yang akhirnya menimbulkan percikan api lalu membakar pada tumbukan jerami kering.


Setelah api menyala Darma seta langsung menumpuk kayu kering satu persatu dan terciptalah api unggun.


Kini mereka pun tertidur dengan pulasnyadi atas balai bambu.


......................


Ke esokan harinya.


Tatkala terdengan suara ayam jantan berkokok dari sebuah perkampungan jauh di sebrang ladang tempat mereka tertidur.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta nampak sudah menggerakan badannya.


"Wah rupanya sudah pagi, enak benar tidur kita semalam." Celetuk Wira jaya.


Dewi harum pun menggeliat, sambil mengangkat tubuhnya dari balai bambu itu.


"Iya rasanya baru saja kita tertidur, eeh taunya sudah pagi." Cetus Dewi harum.


"Ibuk, Paman ku mau mencari dulu mata air, rasanya tubuhku lengket sekali, sepertinya di bawah sana ada sebuah kali." Ujar Darma seta.


"Serasa di ingatkan, ya sudah kamu duluan seta." Ujar Dewi harum.


Darma seta lalu berjalan ke arah barat, dengan menuruni ladang para petani untuk mencari mata air yang terdengar gemericik.


..........


Bertepatan dengan munculnya sang surya dari timur, pendekar elang baru sampai di tepian bibir hutan.


Kudapun langsung di pacunya memasuki hutan tersebut, di jalanan setapak nampak membentang membelah hutan yang begitu panjang yang banyak berjejer pepohonan yang tinggi besar menjulang keangkasa.


Ketika mereka sampai di tengah-tengah hutan, Darma seta mencium aura kesaktian yang begitu kuat di depan sana, Darma seta menyuruh pada ibuknya dan Pamannya untuk berhenti.


"Berhenti dulu Buk." Cetus Darma seta.


Wira jaya dan Dewi harum menarik tali kekang kudanya dan bertanya.


"Ada apa seta? kenapa kamu meminta kita berhenti?." Tanya Dewi harum.


"Coba ibuk dan Paman gunakan panca indra elang, ku merasakan di depan ada ke kuatan yang begitu kuat menghadang kita." Jawab Darma seta.


Dewi harum dan Wira jaya lalu menggunakan ilmu panca indra elang sukma.

__ADS_1


"Benar seta, ku merasakan ada tiga kekuatan mau menghadang kita." Ujar Wira jaya.


"Wah waah, masa sarapan kita di pagi ini dengan sebuah pertempuran." Cetus Dewi harum.


"Ya apa boleh buat, bila kita harus bertarung,, ya bertarunglah." Ujar Wira jaya.


"Sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan kita, dan kita harus tetap waspada jangan sampai ke colongan." Ujar Darma seta.


Hea hea hea..


Kudapun langsung mereka pacu kembali, tetap mereka waspada dan memasang ilmu elang sukma, setelah ke tiga pendekar elang melajukan kudanya sekitar sepuluh tumbak nampak di depan telah berdiri tiga orang berpakaian serba hitam menghadang lajunya kuda ke tiga pendekar elang, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta pun menghentikan laju kudanya.


Ketiga orang itu lalu menegur sambil bertulak pinggang. "Kita jumpa lagi di sini, apa kabar pendekar elang." Sapa dari salah seorang dari mereka.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta begitu kaget dengan kemunculannya Tiga orang itu yang mempunyai julukan pendekar tiga setan bayangan.


"Ternyata benar apa kata Raden Sedayu tiga setan bayangan telah hidup kembali." Batin Wira jaya.


"Kenapa kalian bengong, hahaha kaget kalau kami masih hidup." Sungut dari mereka.


Darma seta turun dari kudanya, begitu pula Dewi harum dan Wira jaya.


"Rupanya Giling wesi telah menurunkan ilmu rawa ronteknya pada kalian bertiga." Tutur Darma seta.


Ke tiga orang itu langsung tersontak kaget ke tika mendengar ocehan dari dari Darma seta kenapa? pemuda itu bisa tau, padahal sewaktu dirinya hampir sekarat oleh ke ganasan jurus dan permainan pedang dari Darma seta, mereka sudah tiada lagi di tempat.


Tiga orang yang berwajah angker itu langsung menutupi ke kagetannya dengan Kata-kata ejekan pada Darma seta Wira jaya dan Dewi harum.


"Hahaha, sekarang kalian tidak akan bisa membunuh kami." Ujarnya.


"Dasar manusia jumawa, ingat manusia itu tidak akan ada yang kekal, sehebat apa pun ilmu kalian, ada kalanya maut akan menjemput kita." Ujar Wira jaya.


"Iya benar apa yang kau ucapkan elang kunimg, sekarang kami akan menjemput sang malakal maut kalian." Makinya dari ke tiga setan bayangan.


"Jangan banyak cingcong, ku pingin tau sampai di mana ke ampuhan Rawa Rontek yang kalian miliki itu." Hardik Darma Seta.


Tiga setan bayangan langsung melesat melakukan serangannya pada ke tiga pendekar elang, pendekar elang pun langsung menyamabut serangan tiga setan bayangan. Kelebatan-kelebatan jurus-jurus dari kedua lawan saling terjang sama-sama ingin menjatuhkan lawannya.


Ketiga pendekar elang bergerak sangat cepat, dan beberapa kali senjata pendekar elang menebas anggota tubuh dari tiga setan bayangan. Tapi apa yang terjadi luka merobek di tubuhnya langsung merapat kembali tidak berbekas.


Dengan demikian tiga setan bayangan semakin sombong dan jumawa, bahwa dirinya tidak bisa mati, lalu mereka berkoar sambil menyunggingkan senyum kesombongannya.


"Hahahaha, ayo keluarkan senjata kalian yang lebih ampuh, bila perlu pedang garudamu keluarkanlah elang perak." Ejek Tiga Setan Bayangan.

__ADS_1


Darma seta, Wira jaya dan Dewi harum hanya tersenyum tipis melihat kesombongan dari ke tiga lawannya itu.


"Jangan jumwa kau manusia busuk, sekarang buktikan sampai seberapa hebatkah ilmu Rawa Rontek yang kau miliki." Ujar Darma seta.


__ADS_2