
Malam yang hening sunyi, dengan semilir angin dingin telah memberikan napas yang segar pada bumi, daun nyiur melambai-lambai seperti mengajak pada seluruh isi bumi, untuk lebih dekat dan mengenal pada sang penguasa alam(Tuhan yang menciptakan alam semesta).
Puluhan bayangan berjalan menaiki Bukit Ranca Galuh, dengan sebilah tongkat nampak tergenggam di tangan kanannya masing-masing, pakaian yang terlihat kumuh dan compang camping itu sudah menjadi ciri khas dari sebuah perkumpulan pengemis tongkat merah.
Jareti Gangga adalah ketua dari Tongkat merah, berjalan terlihat cepat di atas bumi di jalan setapak dengan menanjak yang sebentar lagi akan segera sampai ke puncak Bukit Ranca Galuh.
Tidak lama kemudian Jareti Gangga telah samapi di atas puncak Bukit tersebut, lalu memberi kode isyarat pada seluruh anggotannya untuk tidak ikut naik ke puncak Bukit, cukup diam sambil mengawasi gerak gerik dirinya nanti dalam peratungan melawan Pendekar elang.
Ketika Jareti Gangga Sudah berada di atas Bukit, nampak terlihat seorang lelaki berbadan tegap dengan rambut agak terurai dengan di ikat oleh ikat kepala berwarna kuning, membelakangi Jareti Gangga, lalu berkata.
"Ternyata kamu banyak juga membawa pasukanmu Jareti Gangga, saya kira kamu adalah lelaki sejati, ternyat tak ubahnya seperti se ekor kotok sayur yang berani berkoar di kandang sendiri." Ujarnya.
Jareti Gangga sampai tersontak kaget dengan netranya terbelalak penuh keheranan.
"Hebat, ternyata Pendekar elang yang namanya sangat di kenal dikalangan duni persilatan, mempunyai kedidjaya'an yang luar biasa, dia bisa tau kedatanganku beserta anggotaku." Batin Jareti Gangga.
Untuk menghilangkan rasa kagetnya ia langsung melempar lelaki itu yang tak lain Wira jaya si pendekar elang kuning dengan perkata'an yang ingin memancing amarah.
"Owh sungguh hebat juga batinmu pendekar elang, tapi sayang semua itu akan berakhir, karena malam ini juga, nama pendekar elang yang termashur akan tamat riwatnya di Bukit Ranca Galuh ini, hahaha.." Ejek Jareti Gangga.
Wira jaya yang sudah kenyang makan asam garang, perkata'an begitu sudah biasa sering ia jumpai di setiap petualangannya.
"Hahaha... betapa jumawa sekali lidahmu itu, apa mungkin sebaliknya malam ini nama Jareti Gangga murid durhaka dari Padepokan Naga bintang akan mengalami kesialannya." Ungkap Wira jaya dengan tenang nya.
Jareti Gangga nampak memerah wajahnya.
"Kurang ajar, sekarang kau akan binasa pendekar elang." Teriak Jareti Gangga melesit, menerjang Wura jaya yang masih berdiri dengan tenangnya dalam posisi semula.
Begitu Jareti Gangga melepaskan pukulan jurus Naga Bintangnya. Tiba-tiba sasarannya menghilang, akhirnya pukulan Jareti menghalau ruang kosong, lalu ia membalikan badannya takala mendengar gelak tawa terbahak di belakangnya.
"Hahahaha...Jurus Naga Bintang mu belum begitu sempurna Gangga. Baru segitu juga bicaramu sudah tekabur." Ujar Wira jaya.
"Jangan banyak cingcong, kalau memang kau pendekar linuhung hadapilah seranganku." Congkak Jareti Gangga.
Wira jaya tersenyum tipis, dengan mata memandang tajam pada Jareti. "Baiklah ayo serang aku." Tantang Wira jaya.
__ADS_1
Siuuurrr Jareti melesat, menerjang Wira jaya dengan jurus Naga bintang. Kibasan sayap elang berhembus dalam bentuk kedua tangan Wira jaya membendung pukulan Naga Bintang dengan jurus elang cakra winata.
Buk
Buk
Kedua pukulan berbenturan yang di lapisi dengan tenaga dalamnya masing-masing.
Satu tumbak tubuh Jareti mundur kebelakang, permula'an pertarungan yang tidak menguntungkan bagi Jareti Gangga.
"Sungguh tenaga dalam yang amat sempurna." Batin jareti.
Sebelum Jareti melakukan kembali serangannya, Wira jaya memberi tawaran pada Jareti.
"Dari pada kau buang-buang tenaga, mendingan sekarang ikut denganku ke lereng Gunung Galunggung, untuk memohon ampunan pada Ki Sura praba." Tawar Wira jaya.
"Kutu meong, semakin lancang saja bicaramu. Heaaa..." Jareti kembali melancarkan serangannya, kelebatan bayangan begitu cepat ke arah Wirajaya seperti ingin memecah belahkan kepala Wira jaya, tapi Jareti kini di buat lagi kaget, ia merasakan satu guntingan dari pukulan yang begitu berbobot, telah menebas pergelangan tangannya Jareti.
Deaaasss
Ringkik suara yang terasa sakit terdengar dari mulutnya Jareti Gangga, begitu kakinya di pijakan ke bumi Jareti menggenjotnya mundur empat langkah.
Dinginnya semilir angin malam, telah membuat Jareti basah kuyup dengan cucuran keringat, apalagi ejekan dan hinaan kini ia terima dari mulutnya Wira jaya.
"Jareti Gangga, kenapa pula tubuhmu basah kuyup begitu, padahal pertarungan baru beberapa jurus saja." Cerca Wira jaya.
Wajah yang me merah, dengan kedua bibir bergetar, tangan kanannya di angkat lalu jari jemarinya mencengkram sebuah gagang yang yang terselip di balik ikat pinggang nya.
Sereweng
Suara logam keras tipis telah di hunusnya dari warangkanya, bau tidak sedap sudah mulai terasa bersama'an dengan asap merah mengepul tipis terasa panas yang semakin lama-semakin mengembang. "Sekarang tamatlah riwatmu pendekar elang." Batin Jareti Gangga.
Wira jaya terus memandang tajam dengan tatapan elang pada Jareti Gangga, sambil mengeluarkan senjata ampel kuningnya, perlahan cahaya kuning ke emasan keluar yang terus menebal membentu kepala burung elang yang siang menghadang serangan pedang naga beracun miliknya Jareti Gangga.
Sebelum nya Wira jaya meraih tiga butir benda bulat kecil sebesar kacang ijo dari balik ikat pinggangnya lalu di telannya, ternyata benda bulat kecil tersebut adalah obat penawar dari segala jenis racun yang paling ganas sekalipun.
__ADS_1
Dengan sangat besar hati Jareti Gangga bisa menghabisi Wira jaya malam itu juga, kemudian bergerak cepat dengan pedang naga beracun di genggamannya.
Wira jaya pun langsung melesat menghadang serangan demi serangan Jareti Gangga.
Trang...Trang...Trang...
Suara benturan kedua senjata begitu nyaring terdengar memecah di ke sunyian malam, asap merah dengan bau yang sangat menyengat saling berbenturan dengan cahaya kuning yang sudah membentuk kepala elang, kemudian Wira jaya melesit bergerak cepat ke atas, merubah jurusnya dengan jurus elang menembus sukma, Senjata ampel kuning Wira jaya meluncur dengan cepat ingin menghantam batok kepala Jareti Gangga, secepatnya Jareti Gangga mengerakan pedang naga beracunnya untuk membentengi kepalanya dari terjangan ampel kuning.
Truueeennnggg...
Suara benturan senjata bersama'an dengan memecahnya asap merah dan sinar kuning terpental hingga menimbulkan ledakan suara yang begitu keras.
Jareti Gangga Bergeser tubuh kebelakang terlalu kuatnya daya dorong dari tenaga dalam nya Wira Jaya, di saat itu pula Wira Jaya memutarkan tubuhnya melesat bagaikan kilat menerjang Jareti Gangga, dalam Jurus Gelombang elang halilintar.
Wes
Wes
Wes
Bruugghh..
Telapak tangannya Wira Jaya menghantam keras dadanya Jareti Gangga, Jareti terpental beberapa langkah ke belakang, nasib naas kini menimpa dirinya, tubuhnya terkapar di tanah darah segar keluar dari kedua sudut bibirnya, Lalu sekelebat bayangan melesat mendekati tubuh Jareti Gangga.
Dengan secepat kilat bayangan itu membawa tubuh Jareti Gangga.
Lalu kenapa Wira jaya hanya diam dan tidak mengejar bayangan tersebut.
*******
Bersambung
Jangan lupa ya sertakan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1