
Kini Darma seta sudah mulai memacu kudanya kembali menuju Dusun Batu Gambir, derap langkah kuda berlari begitu nyaring terdengar, debu-debu yang berterbangan tersapu oleh sapuan langkah kuda, mengubah suasana menjadi menegangkan
Binatang-binatang pada berlarian jauh begitu melihat kuda yang di tunggangi oleh Darma seta berlari begitu kencang bagiakan anak panah yang lepas dari gondewa.
Bersama'an dengan itu langit mendadak mendung seperti mau hujan, tapi udara nampak tenang, lalu sayup-sayup terdengar suara bergema memecahkan suasana. Bersama'an dengan bermunculan cahaya hitam membentuk tubuh manusia, Darma seta tidak begitu tertarik dengan pertunjukan itu, ia tetap memacu kudanya malah semakin kencang.
Tapi cahaya hitam itu kini malah semakin mendekat dan mengejar, kecepatannya seperti angin. Lama kelama'an Darma seta merasa terganggu dengan cahaya hitam itu yang terus membayang bayangi dirinya.
Kemudian ia menarik tali kekang kuda, dan si kudapun akhirnya berhenti dengan meringkik sambil mengangkat ke dua kaki depannya ke atas.
"Kalian siluman kah atau bangsa dedemit, minggirlah jangan ganggu perjalanan ku, karenna aku lagi tida bernapsu meladeni bangsa dedemit." Teriak Darma seta.
"Huhahaha...Hai manusia, kami adalah para penunggu gunung sembung, dan kamu mengubur kepala manusia di tempat kami tidak ada sopan santun sedikitpun, dan kami merasa di hina dengan kehadiran kamu yang tanpak permisi terlebih dahulu." Seru suara yang bergema itu.
Darma seta termenung sambil mengerutkan kulit keningnya. "Oh jadi itu alasan kalian mengejar saya, ya sudah saya minta ma'af bila kehadiran saya di gunung sembung membuat kalian tersinggung, karena saya pikir bumi ini miliknya sang pencipta." Ujar Darma seta.
"Iya memang bumi ini miliknya sa g pencipta, tapi kami pun di ciptakan untuk menetap di bumi, dan tempat inilah yang kami diami, karena bangsa kami tidak menyukai tempat keramaian seperti layaknya bangsa manusia."
"Lantas kalian maunya apa dari saya?." Tanya Darma seta.
"kami menginginkan kamu untuk di jadikan santapan bangsa kami." Ujarnya.
"Kalau saya tidak mau bagaimana." Tawar Darma seta.
"Terpaksa kami akan melakukan cara kami untuk menangkapmu, huhuhahaha." Ujarnya sambil tertawa mengerikan.
"Dasar siluman bicara se enak jidatmu, baiklah kalau begitu terpakasa saya harus membela diri." Ujar Darma seta.
Setelah itu cahaya hitam itu melesat memburu Darma seta, Darma seta langsung melompat dari atas punggung kuda, sambil menghunus pedang Garuda Cakra Buana.
Kini pertempuran anatara Darma seta dengan bangsa dedemit Gunung Sembung berlangsung sengit. Kelebatan pedang Garuda memutar dengan cepat membabat setiap mahluk yang berupa gumpalan cahaya yang ingin menyerangnya.
Sungguh luar biasa kehebatan dan kesaktian pedang Garuda, ternyata kekuatan yang bersemayam di dalam pedang Garuda itu mampu menembus dinding gaib, dan itu semua di rasakannya oleh bangsa dedemit tersebut dengan terdengarnya jerit kesakitan yang menggidikan bulu kuduk.
Darma seta terus berputar-putar, melompat-lompat di udara, yang terus dengan gencar memainkan pedang Garuda, cahaya putih merah jingga yang terus semakin kuat, dan tebaran hawa panasnya kini telah di rasakan oleh bangsa dedemit penguasa Gunung Sembung yang terus menggulung bayangan-bayangan hitam, hingga pada akhirnya sang raja dedemit itu merasa kewalahan dan tak kuasa melawan tebaran hawa panas yang keluar dari pedang Garuda yang terus semakin kuat membakar dirinya.
"Ampuuun manusia.. Hentikan lah permainan senjata mu." Jeritnya sang Raja Dedemit itu.
Darma seta hanya menyeringai sambil berkata.
"Benarkah kalian mau menyerah?." Tanya Darma seta yang masih belum menghentikan perminan pedangnya.
"Benar kami menyerah." Jawabnya.
"Baiklah, kalau benar kalian menyerah, saya sumpahin, bila perkataan kalian bohong, maka seluruh bangsamu akan terbakar dan hancur berantakan oleh kekuatan semesta karena melanggar sumpah apa kalian setuju." Ujar Darma seta memberi tawaran.
"Iya kami setuju, dan tidak akan melanggar, karena bangsa kami sangat takut dan mematuhi sekali pada sumpah." Ujarnya.
Selepas itu Darma seta pun langsung menghentikan permain jurus pedang Garuda, dan menyarungkan kembali pedang tersebut pada warangkanya.
__ADS_1
Wes
Wes
Darma seta melompat ke atas punggung kuda, sambil berkata. "Ma'ap saya tidak bisa berlama-lama di sini karena masih banyak urusan yang lebih penting, selamat tinggal bangsa guriang." Ujar Darma seta.
"Iya tuan bila butuh bantuan kami, kami bangsa guriang siap untuk membantumu." Ujar sang Raja Guriang.
"Iya terima kasih." Balas Darma seta.
Setelah itu kudapun langsung di pacu meninggalkan kawasan Gunung Sembung, menuju keselatan barat yaitu Dusun Batu Gambir.
Hea
Hea
Hea
Kuda berlari begitu kencang, bulu tengkuk kuda sampai menari nari tersapu angin, karena begitu cepatnya sang kuda berlari.
Tidak lama kemudian Darma seta sudah sampai di Dusun Batu Gambir, tepatnya di rumah kepala kampung, lalu ia turun dari punggung kuda nampak suasan di rumah pak kepala kampung sudah sepi.
"Ibuk dan Paman sudah berada lagi di sini, mungkin sudah kembali ke rumah yang di ujung kampung ini sepertinya." Batin Darma seta.
Sementara Wira Jaya dan Dewi harum yang sydah berada di rumah, nampak lagi beristirahat di sebuah kamar di mana dulu tempatnya Danang jaya selagi masih hidup.
"Kita sudah lama menunggu suasana seperti ini kakang." Lirih Dewi harum sambil mendonggakan wajahnya menatap wajah tampan Wira jaya.
"Iya nyai kakang pun sama." Balas Wira jaya sambil memeluk erat tubuh **** Dewi Harum.
Hasrat cinta yang selama ini terpendam karena terlalu lamanya mereka berpetualang kini menjadi berkobar, Wira jaya mencium Dewi harum dan membelai belai dengan lembut seluruh tubuh Dewi harum.
Lalu tangan Wira jaya perlahan membuka ikat pinggangnya Dewi harum, bersama ikat yang mrlingkar dikepalanya, begitupun sebaliknya Dewi harum melakukan hal yang sama.
Semilir angin dingin sepoi-sepoi seperti memicu gairah percinta'an sepasang suami istri untuk melakukan gairah asmaranya.
Kemudian Dewi harum membalikan tubuh Wira jaya , menjadi terlentang diatas tempat tudur. Dan Dewi harum terus melakukan sentuhan-sentuhan lembut di dada bidangnya Wira jaya dalam posisi diatas Wira jaya sambil tangan jailnya melepaskan semua pakaian wira jaya.
Tak kuasa lagi menahan gairah percintaan, kini dua insan tersebut sudah berada dalam pengaruh dewa kamajaya, suara lirih sendu menjadi irama nada percinta'an mereka, untuk menanamkan benih-benih cinta dan saling melengkapi dari segala kekurangan mereka.
.................
Dan selepas itu, setelah mereka sudah mengenakan kembali pakainnya, terdengarlah suara kuda meringkik di bawah, Wira jaya dan Drwi harumpun saling pandang lalu berkata.
"Darma seta nyai." Ujar Wira jaya.
"Iya kakang, untung saja kita sudah bertarungnya." Jawab Dewi Harum.
Wira jaya hanya tersenyum simpuh, sambil menatap wajah istrinya dengan intens.
__ADS_1
Lalu terdengar suara yang memanggil keduanya.
"Buk.. Paman.." Panggilnya.
Wira jaya dan Dewi Harum langsung keluar dari kamar dan bergegas keluar rumah, nampak Darma seta lagi berdiru di bawah.
"Kamu lama sekali seta?." Tanya Wira jaya.
Darma sera perlahan mengangkat tungkai kakinya menaiki tangga kayu, setelah tiba di atas balai-balai ia lalu berkata.
"Iya Paman di jalan ku di hadang oleh bangsa Guriang penghuni Gunung Sembung." Jawab Darma Seta.
"Lalu bagaimana?." Tanya Dewi Harum.
"Ya terpaksa ku meladeni para Guriang itu, dan akhirnya ku bisa menundukan Rajanya, dan menyerah padaku karena tak kuasa menahan kedahsyatan pedang Garuda ini." Ujar Darma seta.
"Tapi jangan terlalu percaya pada para Guriang, mereka makhluk yang licik." Celoteh Wira jaya.
"Tidak paman, karena mereka sudah ku sumpah." Ujar Darma seta.
"Bagus itu, karena bangsa Guriang sangat takut akan sumpah." Cetus Wira jaya.
Selepas itu Darma seta beristirahat di dalam rumah sambil membaringkan tubuhkanya di atas tempat tidur ranjang Bambu.
Sedangkan Wira jaya pergi untuk mencari kayu bakar buat keperluan Dewi Harum me masak.
..................
Sementara di tempat lain.
Di Sebuah bukit haur gereng, nampak ke dua lelaki yang lagi duduk beristirahat yang lagi melakukan perjalannya, kedua lelaki itu tak lain adalah Kedua orang dari tiga setan bayangan, Setan Hijau dan setan merah.
"Bagai mana kakang selanjutnya, apa kita akan kembali ke batu Gambir atau kita memulihkan dulu ke kuatan kita." Ujar Setan Hijau.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membalas kematiannya kakang Setan Ireng." Ujar Setan Merah.
"Pokonya kita harus bisa membebaskan tubuh kakang Setan ireng." Cetus Setan Hijau.
"Iya, tapi kita harus mempertimbangkan matang-matang untuk membalaskan dendam kita, menurut saya bukan hal yang mudah untuk membebaskan tubuh kakang Setan ireng yang terpanggang di atas pohon, sudah tentu elang perak telah mengikatnya dengan kekuatan dan kesaktiannya." Ujar Setan Merah.
"Untuk memancing pendekar elang keluar kita harus bikin rusuh di suatu perkampungan kakang." Usul Setan Hijau.
"Masud kamu?." Tanya Setan Merah.
"Kita taklukan para perampok di wilayah ini, setelah itu paksa untuk jadi pengikut kita, dan saya dengar ada kelompok perampok yang sangat sadis di wilayah ini yang suka menjarah hasil dari panen para penduduk di bawah bukit ini." Usul dari Setan Hijau.
"Wah hebat juga idemu, lalu kapan kita akan beraksi?." Tanya Setan Merah.
"Kita tunggu tujuh hari lagi setelah purnama penuh, di mana para warga lagi merayakan hasil panennya, di situlah para perampok akan bergerak, nah kita baru bertindak dan merebut hasil jarahan dari mereka." Ujar Setan Hijau.
__ADS_1