
Wira jaya yang terus memancing lingga tole, supaya keluar amarahnya, karena dengan emosi yang tidak terkendali sangatlah mudah bagi wira jaya untuk menjatuhkan lawannya.
Mendengar ejekan dari wira jaya, lingga tole sangatlah marah sekali, tanpa mikir panjang lagi lingga tole, langsung menyusun gerakan dalam jurus halilintar pemisah raga.
Kuda-kuda yang sangat rapi tangan kanan menyilang didada lalu telapak tangan kiri ditempelkan diatas kepala, siap untuk menyerang dan mrnghabisi lawannya.
Melihat begitu wira jaya pun tidak tinggal diam, ia lalu membangun kuda-kuda jurus rajawali kutub utara, tangan kanan dibentuk siku-siku berada tepat depan wajah dengan jari-jari membentuk cakar elang, dan tangan kiri ditarik kebawah sebagai ujung tombak sebuah serangan balik.
Kini keduanya sudah siap menerjang. Kilatan-kilatan cahaya putih keluar dari tangannya lingga tole.
Halilintar pelebur sukma siap memporak-porandakan lawannya.
Tak menunggu lama lagi, lingga tole melesat kearah wira jaya dengan kilau cahaya putih.
''Ciaaaaaatttt.....Mampuslah kau elang kuning.'' Teriak lingga tole penuh percaya diri.
Wira jaya dengan wajah yang penuh ketenangan, dan sangat berhati-hati sekali ditambah kecerdikannya dalam berpikir.
Disaat Lingga tole melesat ingin menghacurkan badannya, wira jaya melesit keatas dengan cakaran kukunya yang seperti memanjang, laksana besi baja yang sangat keras, lalu tubuh wira jaya melorot dengan kecepatan yang tidak terlihat, yang dibarengi dengan keluarnya tebaran hawa dingin yang amat sangat.
Kini keduanya sudah sama-sama saling berbenturan, dua kekuatan saling menghantam, cakaran kuku dari wira jaya berbenturan dengan telapak halilintar pemisah raga dari lingga tole, hawa panas dan kilatan cahaya seperti halilintar tiba membeku dilumat oleh kepulan kabut salju dari dari jurus raja wali kutub utara.
Lingga tole terus mengerahkan kemampuannya, untuk bisa mencairkan kabut salju yang semakin menebal.
Tapi tidak terkontrol oleh lingga tole tangan kiri Wira jaya yang ditangguhkan sebagai pendobrak kekuatan, menyusup dengan cepat dengan kuku yang tajam dan keras mencabik dada Lingga tole.
Kerewek kreeeekkk.
Kelima jari wira jaya telah berhasil merobek dadanya lingga tole, yang dibarengi dengan masuknya hawa dingin mengalir bersama darah yang keluar.
Rasa perih yang amat sangat kini lingga tole rasakan.
''Aaaaauuuwww.... Teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya Lingga tole, sehingga tidak bisa dihindari lagi lingga tole harus mengakui keunggulan lawannya, tubuh Lingga tole perlahan-lahan ambruk dalam keada'an kaku, karena kabut salju yang terus semakin menebal membungkus tubuhnya.
Setelah itu wira jaya menarik napasnya perlahan-lahan dari hidungnya dan dikeluarkan dari mulutnya sambil menempelkan kedua telapak tangannya didepan dada.
Sementara ki layung dan raden sedayu, yang telah berhasil melumpuhkan kadu denta dan murtala, dengan jurus lembayung senja(ki layung) dan Jurus telapak angin dewa(raden sedayu) jurus yang baru ia ciptakannya.
Kadu denta dan murtala masih terbaring ditanah tak berdaya dengan darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Dilain sisi, aji santang, aji sura dan darma seta yang masih terus berlangsung dalam pertarungannya melawan tirta, rawit dan munding wesi.
Aji sura yang lagi bertarung dengan tirta murid ki darpal yang haus akan bertarung, kini seperti kehilangan taringnya, dalam menghadapi jurus-jurus elang emas dari aji sura, Jurus elang emas banyak perbeda'annya dengan jurus-jurus dari tiga serangkai elang.
Tirta seperti sangat kelelahan melawan tokoh tua yang masih kuat. kalau melihat usia mungkin tirta akan lebih unggul karena didukung oleh tenaganya yang masih kuat, tapi ini lain yang dirasakan oleh tirta.
Tirta malah terlihat seperti terkuras abis tenaganya, keringat yang terus mengalir membasahi pakaiannya.
''Gilaa, Tokoh tua ini sangat kuat dan sakti, saya merasakan lelah begini, tapi pendekar elang emas, nampak seperti biasa-biasa saja.'' Ucap tirta dalam hatinya.
Apa yang ada dipikiran tirta seperti diketahui oleh aji sura.
Dengan tenangnya aji sura berkata seperti para seorang pujangga.
''Wahai Satria, apabila lelah telah engkau rasakan kini, beristirahatlah esok atau lusa masih banyak waktu, untuk kita bersua.'' Ucap aji sura.
Tirta begitu kaget dan tercengang, mendengar perkata'an dari pendekar elang emas itu.
''Pendekar elang emas, ternyata sangat bijaksana sekali, aneh sipat dan watak dari pendekar elang itu macam-macam, ada yang bijak, ada yang jumawa dan adapula yang suka memancing amarah.'' Ucap Tirta dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara darma seta yang lagi bertempur dengan tangan kanannya ki darpal yaitu munding wesi, masih terus berlansung suara senjata begitu nyaring tatkala ada benturan dari kedua senjata yang saling menyerang dan menahan.
Trang trang trang trang....
Suara benturan dari kedua senjata saling menangkis.
Kelebatan pedang perak darma seta begitu cepatnya, sehingga munding wesipun tidak bisa mengelak atau menangkis pedang tersebut.
Clek celeseeeetttt.
Pedang perak mendarat didada munding wesi, tapi apa yang terjadi, tubuh munding wesi tidak luka atau lecet sedikitpun.
Ternyata munding wesi mempunyai ilmu kebal senjata tajam, beberpa kali pedang peraknya darma seta menghujani tubuh munding wesi, tapi tidak ada bekas goresan apalagi sobekan dari sabetannya pedang perak miliknya darma seta ke tubuhnya munding wesi.
__ADS_1
Rasa sombong munding wesi semakin merasa dirinyalah yang paling didjaya.
''Hahahahaaa... Ayo elang perak cari kulitku yang empuk, itu cuma senjata mainan anak kecil, gunakan lagi senjatamu yang lebih ampuh.'' Teriak munding wesi dengan penuh rasa sombong.
Darma seta hanya tersenyum tipis mendengar perkata'annya munding wesi.
''Jangan jumawa kau kebo besi, saya akui tubuhmu mungkin tidak mempan senjata tajam, tapi apa tubuhmu akan kuat menahan kekuatan tiga inti alam.'' Ucap darma seta sambil menyarungkan kembali pedang peraknya.
Darma seta melompat untuk mencabut pedang yang baru selesai dibikin oleh aji santang itu.
Setelah pedang didapat darma seta lalu melepas kain putih yang melilit membungkus pada pedang tersebut.
Begitu kain putih yang membungkus pedang tersebut terlepas, tiba-tiba angin meniup kencang dan bumi seperti bergetar dibarengi dengan sambaran-sambaran cahaya kuning kemerah-merahan.
Darma seta lalu memainkan jurus-jurus elang garuda winata.
Sementara munding wesi seperti terkesima melihat pedang yang lagi di mainkan oleh darma seta.
''Jagat dewa batara, betapa dahsyatnya pedang itu, tapi kenapa pemuda itu seperti enteng sekali memainkan pedang itu.'' Celoteh munding wesi dalam hatinya.
''Ayo munding wesi, apa tubuhmu akan kuat menahan pedang ini.'' Teriak darma seta.
Munding wesipun tidak mau kalau harus mati konyol, ia lalu mengeluarkan senjatanya, sebuah golok yang ukurannya lebih besar dari golok biasa yang sering dipake oleh para petani.
Munding wesi melompat dengan tubuh jungkir balik di udara sambil menebaskan sabetan-sabetan goloknya.
Darma seta pun langsung menyongsong serangan Munding wesi dengan pedang yang amat dahsyat itu, kilatan cahaya yang keluar dari pedang itu sudah banyak bikin pohon-pohon patah dengan daun-daun yang berhamburan tersapu angin yang sangat kencang.
Munding wesi masih terus bertahan, dengan melompat kesana kemari untuk menghindari hempasan cahaya kuning kemerahan yang keluar dari pedang tersebut.
Segesit apapun munding wesi menghindari serangan dari darma seta, akhirnya rasa lelahpun kini munding wesi rasakan, keringat yang keluar dari sekujur tubuh munding wesi, telah membasahi seluruh pakaiannya.
Jurus terakhir dari perguruan halilintar, yaitu jurus halilintar pemisah raga tidak bisa berbuat banyak dihadapan darma seta, apalagi pedang itu berada dalam genggaman darma seta.
Pedang yang haus akan darah terus dengan gencarnya menyerang munding wesi, hingga disaat munding wesi mau menghindari dari pedang tersebut, serbuan cahaya kuning kemerahan melesat menghantam munding wesi, dan munding wesi menahan dengan golok raksasanya, hanya beberapa menit saja golok raksasa munding wesi terbakar dan meleleh, tidak bisa dihindari lagi kekuatan pedang itu langsung menghantam tubuh munding wesi.
Weeesss wesss...
Sinar yang keluar dari pedang tersebut menggulung, hingga tubuh munding wesi terpental jauh.
Munding wesi terkapar dengan luka bakar, dan darah segar keluar dari kedua sudut bibirnya.
Darma setapun langsung menancapkan pedang itu ketanah, lalu dibungkus lagi dengan kain dengan melilitkannya pada pedang tersebut.
kini ke enam murid andalannya ki darpal sudah tidak berdaya lagi, menghadapi ketiga pendekar elang, Kilayung dan raden sedayu.
Lingga tole dan ke empat kawanannya yang masih ada sisa tenaganya langsung memburu tubuh munding wesi yang terlempar oleh kekuatan pedang sakti buatan aji santang.
Dengan langkah agak gontai mereka memboyong tubuh munding wesi lalu dinaikan keatas punggung kudanya milikny munding wesi.
Dengan geramnya lingga tole sesumbar, mengeluarkan ancaman pada pendekar elang, ki layung dan raden sedayu.
''Pendekar elang, kali ini kalian menang, tapi jangan bangga dulu, tunggulah pembalasan dari kami, akan ku hancurkan semua keturunan kalian ingat itu, dan kau ki layung, raden sedayu hidup kalian tidak akan tenang.'' Begitulah ancaman dari lingga tole.
''Hahahaha.... Sudah mau mati juga, masih berani sesumbar, dasar manusia-manusia busuk.'' Teriak raden sedayu tertawa lebar.
''Tunggu pembalasanku raden sedayu.'' Teriak murtala.
''Ku tunggu kedatangan kalian, apa perlu ku antar kalian dengan bayu silantangku, supaya lebih cepat sampai ke bukit karang, hahahahaa...... Raden sedayu tertawa puas.
''Cuuiih...ku muak melihatmu sedayu.'' Ucap murtala sambil melepaskan air ludahnya.
''Setan alas kau, ku paling gak tahan melihat manusia meludah di hadapanku, Ciaaaaatttttt... Teriak raden sedayu sambil memutar kedua tangan dengan kaki kanan ditekuk dan kaki kiri didorong kebelakang.
''Ajian bayuuuu Silantang.'' Teriak raden sedayu terpancing amarahnya, sambil mendorongkan kedua telapak tangannya.
Angin mendadak meniup dengan kencangnya, dengan memutar bah angin ****** beliung, menggulung ke enam murid dari perguruan halilintar merah.
Ke'enam murid kidarpal, langsung terlepas dari punggung kudanya masing-masing, mereka berterbangan disapu angin topan dari kekuatan ajian bayu silantang.
Aaaaaaauuuu aaaaaaaauuuuuuwwwww.
Suara yang keluar dari ke enam murid kidarpal itu, perlahan-lahan menghilang karena semakin jauh dibawa angin topan jejadian raden sedayu.
__ADS_1
''Pergilah kau semua kebukit karang, ku muak melihat tampang kalian semua.'' Teriak raden sedayu.
Sementara, wira jaya, aji santang, darma seta, aji sura dan kilayung, hanya menggeleng-gelengkan kepala, mengagumi kekuatan ajin bayu silantang yang sangat dahsyat itu.
Dan raden sedayu pun sudah menghentikan kembali kekuatannya, ia lalu menarik napas dalam-dalam dan dikeluarakannya secara perlahan-lahan melalui mulutnya.
Bukit santang kini sudah mulai tenang kembali, dan merekapun sudah meninggalkan bukit itu, mereka berjalan menuruni jalanan setapak menuju rumahnya aji santang di kampung benda yang tidak terlalu jauh dari bukit tersebut.
Tidak lama kemudian merekapun sudah sampai dipenghujung kampung benda.
Para warga benda yang melihat para tokoh sakti itu datang dari arah bukit, langsung menyambut dan bertanya, perihal kejadian di bukit santang.
''Waah Tuan aji santang, ada kejadian apa diatas bukit itu, sepertinya ada sebuah pertempuran, suara-suara senjata tajam yang beradu sampai terdengar jelas kesini.'' Ucap salah satu warga.
''Kami mendapat serangan dari perguruan halilintar merah.'' Jawab aji santang.
''Tapi mereka semua, sudah pergi kebukit karang, untuk melaporkan pada kidarpal guru besar mereka.'' Ki layung memotong pembicara'an.
''Ooh begitu, terus bagaimana kalau mereka datang mengobrak abrik kampung benda ini.'' Ucap warga yang bernama sobri.
''Ya itu juga sudah kami pikirkan, dan kami semua akan melindungi warga sini.'' Ucap darma seta.
''Tapi perguruan halilintar merah, muridnya banyak apa mungkin tuan ber'enam mampu menghadapi mereka semua.'' Saut sobri.
''Ya kita semua harus bersatu supaya lebih kuat.'' Ucap wira jaya.
''Iya tapi kami kan tidak bisa bela diri tuan.'' Pungkas sobri.
''Iya Nanti kami akan melatih kalian ilmu bela diri.'' Ucap wira jaya.
''Benar itu tuan?.'' Tanya sobri.
''Ya kapan kami berbohong, Nanti malam kumpulkan anak-anak muda, kita adakan latihan bela diri.'' Ucap wira jaya.
''Terima kasih tuan, kami semua sangat senang sekali, supaya kampung ini tidak di injak-injak oleh orang-orang jahat.'' Ucap Sobri.
Selepas itu aji santang beserta kawanannya, langsung meninggalkan sobri dan warga kampung yang lainnya.
Setelah itu merekapun sampai pula didepan rumah.
Suasana rumah nampak agak berbeda dari sebelum wira jaya beserta yang lainnya datang kekampung benda.
Suasana rumah sekarang nampak hangat dan tidak sepi lagi.
''Sampu rasuun.'' Aji santang berkata.
setelah itu dari dalam rumahpun terdengar langkah kaki dan berkata.
''Rampeess.'' Begitu jawabnya dari dalam
Tidak lama kemudian munculah sosok wanita yang cantik, berpakaian serba merah dan bercorak bulu raja wali, dialah dewi harum alias sipendekar elang merah istrinya wira jaya dan ibunya darma seta.
dewi harum lalu menyambut kedatangan suami dan anaknya beserta aji santang, ki layung dan raden sedayu.
''Kakang kenapa, ada apa ini kake, seperti habis bertarung?.'' Tanya dewi harum pada aji santang.
''Iya benar harum, kake baru mendapat serangan dari murid-murid halilintar merah, untung ada wira jaya, kilayung, aji sura, darma seta dan raden sedayu.'' Jawab aji santang.
''Bagaiman ceritanya, bisa sampai diserang oleh orang-orang bukit karang.'' Ucap dewi harum.
''Ceritanya panjang nanti kake jelasin.'' Ucap aji santang.
''Nyai sekarang sedia'in makanan untuk kita, rasanya lapar banget.'' Ucap wira jaya.
''Baiklah kakang.'' Jawab dewi harum sambil melangkahkan kakinya, untuk mengambil makanan yang telah disediakan sebelumnya.
Tidak lama kemudia dewi harum sudah menyediakan makanan untuk para pendekar yangnkelelahan setelah mereka melakukan pertarungan dibukit santang..
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤☆☆☆☆¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
BERSAMBUNG.
Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya, mohon ma'ap bila ada kekurangannya, dalam tulisan ataupun dalam dialog percakapan.
Selamat membaca.