
Sementara didalam kamar, tempat dimana nyi anyelir ditahan, nampak terlihat sirumpang sudah menggerakan tubuhnya sambil meringis kesakitan, sambil memegang kepalanya dibagian belakang.
Lalu kedua tangan ditopang kelantai yang terbuat dari papan kayu, untuk membantu mengangkat tubuh supaya bisa berdiri.
Dengan sempoyongan si rumpang berjalan kearah pintu, begitu pintu mau dibuka, susah sekali, si rumpangpun kesal bercampur dengan marah.
''Kampret, rupanya wanita itu mengancing pintunya dari luar, gimana nih, kalau ku teriak minta dibukain, nanti saya yang kena semprot kakang Kala muksa.'' Ucap sirumpang berkata sendiri.
Sirumpang sangat kebingungan, begitu ia melihat kearah jendela kamar, terlintas dipikiran sirumpang ingin keluar melewati jendela tersebut.
''Dasar wanita bodoh, kalau mau kabur kenapa tidak lewat sini saja.'' Si rumpang bicara sendiri.
Terus sirumpang membuka jendela tersebut, begitu pintu jendela dibukanya, betapa kaget sirumpang sa'at melihat kebawah tanah.
''Haah ular, saya baru ingat ini ular jejadian ki Layung, pantesan wanita itu tidak kabur lewat sini, kalau begitu berarti saya yang bodoh.'' Si rumpang bicara sendiri sambil menepuk jidatnya.
''Hai ular minggirlah, ku suruhan ki Layung.'' Ucap Si rumpang berkata pada ular jelma'an.
Anehnya begitu sirumpang berkata begitu, ular yang lagi melingkar besar sekali, mendadak pergi keluar dari lingkarannya.
Dan sirumpangpun langsung menuruni jendela tersebut.
Ia lalu pergi dan tidur dibale bale luar rumah, untuk menghilangkan jejak, kalau nyi Anyelir kabur itu semua karena kecerobohanya sendiri.
Sirumpang pura-pura tidur seolah-olah tidak tau dengan apa yang telah terjadi pada nyi anyelir.
Kini ruangan sudah kosong hanya tongkat kayu yang menjadi saksi sebab kaburnya nyi anyelir.
Malampun terus berlalu, angin dingin pegunungan, terus menyelimuti di kesunyian malam.
Sirumpangpun terlihat sudah terlelap dalam tidurnya, suara-suara binatng malam, memecahkan dikesunyian, untuk mencari makanan buat menyambung hidupnya, karena itulah hukum alam yang sudah ditentukan semesta.
Suasana dipagi hari.
Sang surya sudah memancarkan cahayanya yang kemilau kuning ke'emasan, menyinari bumi persada.
Kala muksa dan kala durga nampak sudah terbangun dari tidurnya, begitu juga ki Layung yang sudah menggerak gerakan badannya, untuk meregangkan otot-otot yang kaku.
Lain lagi dengan sirumpang yang masih terdengar ngorok dibale-bale, Kala muksa dan Kala durgapun kaget begitu mendengar orang ngorok diluar, Begitu ia menoleh ketempat biasa si rumpang berjaga, tidak ada ditempat.
''Kenapa si rumpang tidurnya diluar, kang muksa.'' Ucap kala durga.
''Ya Mana ku tau.'' Jawab kala muksa singkat.
''Sepertinya ada yang tidak beres nih.'' Ucap Kala durga.
''Maksudmu tidak beres bagaimana?.'' Tanya kala muksa.
''Ya dari cara si rumpang, tidak biasanya dia tidur diluar.'' Ucap kala durga.
''Ya mungkin gerah atau gimana, tapi pintunya masih digembok.'' Ucap kala muksa.
Kala durga tetap keukeuh seperti ada keanehan dibalik tidurnya sirumpang, sesudah itu kala muksa dan kala durga membuka gembok pintu ruangan tempat nyi anyelir ditahan.
Sesudah pintu terbuka, Kala muksa dan Kala durga kaget dengan mata melotot, muka sangar yang sudah bawa'annya itu, menjadi tambah menakutkan karena sangat geram bercampur rasa jengkel setelah apa yang telah dilihatnya itu.
''Kurang ajar wanita itu tidak ada dikamarnya, sirumpang sangat telodor disuruh jaga disini malah tidur diluar.
Ruummmpaang, rumpang.'' Teriak kala muksa dengan muka merah terbakar emosi.
Tetapi yang dipanggilnya, masih terus mendengkur keras, kala muksa menjadi tambah marah, lalu ia pergi keluar untuk membangunkan si rumpang.
''Rumpang.'' Bentak Kala muksa sambil memukul lantai kayu bale-bale itu.
Sirumpang yang ngorok itu mendadak bangun dengan rasa kaget yang amat sangat, sambil berkata.
''Ada apa ini, seperti suara gunung meletus.'' Ucap si rumpang panik.
''Rumpang, disuruh jaga kamu malah molor disini.'' Bentak kala durga.
''Emangnya ada apa juragan?.'' Tanya si rumpang.
''Ada apa, ada apa, tuh tahanan kabur, sekarang kamu cari wanita itu sampai dapat apapun caranya.'' Bentak kala muksa.
Disa'at Kala muksa dan Kala durga lagi marah-marah, ki Layung datang.
''E'eh ada apa ini, masih pagi sudah pada ribut?.'' Tanya ki layung.
''Tawanan hilang ki.'' Jawab kala durga.
''Oooh itu, hehee.'' Ucap ki layung dengan santainya.
''Ko aki, seperti santai-santai aja, tidak ada khawatirnya sama sekali.'' Ucap kala muksa.
''Hahahaa, kalian tidak usah khawatir, karena wanita itu tidak akan bisa pergi jauh, karena saya sudah pagari jalan keluarnya dengan ilmu kahimengan.'' Ucap ki layung menjelaskan.
__ADS_1
''Ya sudah sekarang kalian cari wanita itu.'' Ucap ki layung.
Selepas itu Kala muksa dan Kala durga serta si Rumpang, langsung bergegas pergi untuk mencari nyi Anyelir yang berhasil kabur dari tempatnya mereka.
Sementara di tempat lain.
Nyi anyelir yang berhasil lolo dari tahanan mereka, masih berputar-putar saja, kebingungan tidak tau jalan keluar.
''Kenapa dari semalam k hanya berputar-putar saja disini, ooh sangiang jagat dewa batara, tunjukanlah jalan untuk keluar dari sini, dan turunkanlah malaikat penyelamat bagiku.'' Ucap nyi anyelir memohon pada sang semesta alam.
Selepas itu nyi anyelir berjalan lagi untuk keluar dari tempat itu, rasa lapar dan dahaga kini nyi anyelir rasakan, karena semalaman ia berputar putar disitu situ aja, tubuh tinggi semampai, berjalan dengan gontai, dan rasa pening dikepala dirasakan pula oleh nyi anyelir, selain perutnya yang kosong belum terisi makanan sedikitpun, ia pun memikirkan jalan keluar yang tidak menemui titik terang.
''Ko aku kesini sini lagi sih.'' Ucap nyi anyelir merasa heran.
Saking lemesnya berjalan semalaman, iapun kini menyandarkan tubuhnya kesebuah pohon yang besar, rasa putus asa pun kini melanda dipikiran nyi anyrlir.
Disa'at nyi anyelir lagi bersandar dengan lemes sekujur tubuh.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berisik karena menginjak daun-daun yang kering yang banyak berserakan disepanjang jalan setapak.
Nyi anyelir langsung kaget, ia sudah menduga bahwa itu suara langkah kaki, Kala muksa dan anak buahnya.
Nyi nyelir langsung menyelinap kebalik pohon yang besar itu.
Dari kejauhan, nampak terlihat oleh nyi anyeli tiga orang lagi berjalan mendekati kearahnya, berpakaian serba hitam dengan ikat kepala berwarna merah, dan sebuah golok terselip dibalik ikat pinggangnya masing-masing.
''Wah bener itu mereka, lagi menuju kesini, gimana nih aku.'' Ucap nyi anyelir berkata dalam hati.
Sedangkan ketiga lelaki itu, tak lain adalah, Kala muksa, Kala durga dan sirumpang.
Yang sudah mendekati ketempat dimana nyi anyelir bersembunyi.
''Kira-kira kemana wanita itu.'' Ucap kala muksa.
''Kata ki layung dia tidak akan bisa keluar dari dari tempat ini, karena kilayung sudah mrmagarinya dengan ilmu kahimengan.'' Saut kala durga.
''Iya benar kakang.'' Ucap si rumpang ikut nimrung.
''Ayo kita geledahi di sekitar kaki gunung sembung ini, tapi ingat kalin jangan sampai keluar dari batas yang sudah ditentukan oleh kilayung tadi.'' Ucap kala muksa menjelaskan.
............
Sementara di angkasa tepatnya di atas puncak gunung sembung ada tiga bayang lagi berputar putar mengelilingi area gunung itu.
Setelah itu sang elangpun terus pergi dengan kibasan sayapnya yang panjang dengan sekejap sudah tidak terlihat lagi.
Nyi anyelir pas mendengar lengkingan suara elang, mendadak hatinya berbunga, karena dipikirannya sebentar lagi akan turun dewa penolong baginya.
''Suara elang itu, serasa di ingatkan pada rayi darma seta dan paman wira jaya, ku yakin pasti itu telik sandinya rayi darma seta.'' Anyelir berkata sendiri.
Sementara ditempat lain darma seta bersama kawanannya sudah mendekati lereng gunung sembung.
Ke'empat kuda terus berlari berpacu menelusuri jalanan yang terjal dan penuh bebatuan dan kerikil-kerikil yang tajam, tapi ke'empat kuda yang ditunggangi mereka itu, kuda yang sangat terlatih dan punya kemampuan pisik yang cukup kuat.
Apalagi kuda yang ditunggangi oleh darma seta, kuda pemberian kake buyutnya yaitu aji santang, kuda terlatih yang biasa dipake oleh prajurit perang keraja'an sewaktu aji santang masih bejerja dikeraja'an pajajaran sebagai ponggawa pasukan perang.
Ketika darma seta lagi memacu kudanya menaiki kaki gunung sembung, tiba-tiba bayangan hitam dari angkasa melorot mendrkati darma seta dan bersuara keras.
Mendengar suara yang tidak asing lagi ditelinga darma seta, ia pun mengangkat tangan kanannya ke atas, memberi aba-aba pada kawannya untuk berhenti.
''Ada apa kakang darma seta, ko malah berhenti?.'' Tanya seno.
''Kamu dengar lengkingan suara burung elang.'' Ucap darma seta.
''Iya dengar kakang, emang kenapa?.'' Seno bertanya tanda belum mengerti.
''Itu suara elang perak dan elang abu-abu, mungkin akan membawa kabar baik untuk kita.'' Ucap darma seta.
Sang elangpun melorot lalu bertengker diatas batu hitam, tepatnya didepan pandangan darma seta.
''Apa kabar sahabatku, apakah ada kabar baik yang akan disampaikan pada kami.'' Ucap darma seta.
''Tentu pendekar elang perak, kami mencium bau manusia dikaki gunung sembung, dan Kami yakin itu adalah manusia yang sedang engkau cari.'' Jawab elang abu-abu.
''Apakah masih jauh dari sini?.'' Tanya darma seta.
''Sudah dekat pendekar, tidak lama lagi akan sampai, tapi kami tidak bisa menembusnya...'' Elang abu-abu berkata.
''Terus kenapa, kan kalian punya sayap tentu akan sangat mudah untuk menerobos tempat serumit apapun.'' Ucap darma Seta.
''Ada pagar gaib yang menghalangi jalan itu, hanya pendekar peraklah yang bisa menghancurkan pagar gaib itu.'' Jawab elang abu-abu.
''Ooh begitu, rupanya mereka sangat waspada, mungkin orang itu bukan orang sembarangan.'' Ucap darma seta.
Seno dan kawan-kawannya hanya terpaku, penuh rasa heran, karena seumur hidup seno baru kali itu melihat dan menyaksikan ada elang bisa bicara.
__ADS_1
''Sungguh luar biasa, baru kalini seumur hidupku melihat burung elang bisa bicara.'' Ucap seno berkata dalam hati.
''Cepetan kesana pendekar perak, hancurkan pagar gaib itu.'' Berkata elang abu-abu pada darma seta.
''Baiklah, terima kasih sahabatku telah membantu kami, dan kamu pergilah kebarat selatan dan timur kasih tau, pada paman wira jaya yang dibarat, sara yuda yang diselatan dan kakang jala darma yang ditimur, bahwa titik pencarian sudah ada diutara disekitar kaki gunung sembung.'' Ucap darma seta.
''Baik pendekar perak, kami pun para elang akan segera meluncur.'' Kata elang abu-abu.
Ketiga elang itupun kini mulai membentangkan sayapnya, dan terbang meluncur kearah yang telah disebutkan oleh darma seta tadi.
Sedangkan darma seta terus memacu kudanya dengan menaiki kaki gunung sembung.
Hea hea hea.
Kuda terus dipacu dijalan setapak yang berliku-liku penuh dengan rumput-rumput yang merambat dari pohon kepohon yang lainnya membentang menghalangi perjalanan.
Tetapi itu semua tidak menjadikan penghalang bagi darma seta dan kawan-kawan, untuk cepat sampai ketempat yang dituju.
Begitu mereka tiba dijalan yang bercabang, tiba-tiba darama seta memberi kode pada temannya untuk berhenti.
''Ada apa lagi kakang, kita harus cepat sampai ditujuan sebelum senja?.'' Tanya seno.
''Sebentar, saya merasakan keanehan pada Jalan ini, landu.'' Panggil darma seta.
''Iya kakang ada apa?.'' Tanya landu.
''Coba kamu turun dari kuda, dan cari sepotong kayu atau batu kerikil, lalu kamu lemparkan ketengah-tengan jalan yang bercabang itu. Nanti Kalian akan tau maksud saya.'' Ucap darma seta.
Setelah mendengar perintah dari darma seta, pemuda yang bernama landu, lalu turun dari punggung kuda, terus mencari sepotong kayu, atau sebuah batu, Setelah itu Landu menemukan sebuah batu sebesar kepalan tangan, setelah batu didapatnya lalu Landu mengambil ancang-ancang, tapi darma seta tiba-tiba menahannya.
''Tahan, jangan gegabah, kamu pusatkan dulu tenaga dalammu, dan pandanganmu arahkan kebatu yang akan kamu lemparkan, jangan sampai kamu hilang pandangan pada batu itu, takut ada epeknya nanti, paham dengan maksud saya.'' Ucap darma seta.
''Paham kakang.'' Jawab landu.
''Ya sudah, lekas laksanakan.'' Ucap darma seta.
Landu pun memusatkan tenaga dalamnya, lalu mengangkat tangan Kanannya dengan mata pokus pada sasaran dan batu yang akan dilemparkannya.
Hiiiuuuukkk.
Sebuah batu sebesar kepalan tangan lepas dari tangannya landu, meluncur dengan cepat ketengah-tengah jalan setapak yang bercabang.
Begitu batu itu kena pada sasaran, apa yang terjadi, batu tersebut malah mental berbalik arah menyerang landu..
Tapi landu sudah siap-siap sebelumnya, dengan cepatnya Landu melompat ke atas.
Batu itu pun melesat menghantam kearah pohon yang berada jauh dibelakang mereka.
Duuukkk bluuuurrrr.
Suara batu yang menghantam pohon, sehingga pohon itupun menjadi terbelah dan tumbang jatuh ketanah.
''Nah itulah yang saya maksud, kalian paham sekarang?.'' Tanya darma seta.
''Paham kakang.'' Jawab seno dan genta.
''Itulah pagar gaib, sebuah pagar gaib yang kuat dan tebal, pasti orang yang memasang pagar gaib ini, bukanlah orang sembarangan, Sekarang kalian turun dari kuda dan mundur agak Jauh.'' Perintah darma seta kepada ketiga temannya itu.
Merekapun segera mundur beberapa tumbak dari tempat semula.
Sedangkan darma seta, mengambil kuda-kuda denagn kedua kaki dibuka agak renggang, tangan kiri menyilang didada, sedangkan tangan kanan lurus diatas kepala, dan setelah itu....
Tangan kanan bersinar keperakan, lalu di ayunkan kearah jalan bercabang itu, kilatan cahaya perak meluncur kearah jalan tersebut.
''Pukulaaaan elang cakraaaaa dewa...
Ciaaaaaaaaattttt.
Jeleguuuuuuurrrrr...........
Teriak darma seta meluncurkan pukulan sakti elang cakra dewa, yang menimbulkan suara yang amat keras, karena benturan dua kekuatan yang sangat dahsyat.
Setelah itu Jalanpun terlihat jelas, pertanda pagar gaib itu sudah berhasil dihancurkannya.
Kehancuran pagar gaib yang dipasang oleh kilayung, terasa menghantam dada ki layung yang lagi duduk bersila, sambil menunggu, Kala muksa, Kala durga dan sirumpang kembali membawa gadis tahanannya itu.
*******************
Lanjut eps 23
Selamat membaca semoga bisa terhibur, luangkanlah waktu sedikit untuk.
Like, comentar dan mengklik tombol favorit, dan vote nya juga ya jangan pelit.
Terima kasih bagi yang sudah mendukung saya. semoga kalian sukses selalu.
__ADS_1