
Kekalahan kadu denta dan tirta disusul oleh rawit dan sudarta, yang harus merasakan kehebatan dari jurus-jurusnya elang emas miliknya aji sura.
Kini pertarungan sudah tidak memanas lagi para jago-jago dari halilintar merah mulai berjatuhan satu persatu, tinggal munding wesi, lingga toke dan murtala, yang masih berlangsung menghadapi wirajaya, dewi harum dan aji santang
Pertarungan berlangsung cukup lama, rumput-rumput dan semak-semak belukar kini sudah tidak hijau lagi daunnya.
Munding wesi dan lingga tole sangat kewalahan dalam menghadapi pendekar pasangan suami istri itu.
Jurus elang sakti pada waktu itu belum ada tandingannya.
Kesaktian jurus-jurus halilintar merah yang sempat menghebohkan dirimba persilatan golongan hitam, kini tidak bisa berkutik menghadapi jurus-jurus elang sakti.
Ilmu kebal munding wesipun dibuat tidak berdaya mengahdapi ajian butiran salju.
Seluruh tenaga dalam munding wesi sudah terkuras abis untuk mengatasi hawa dingjn yang terus menghujani badannya, semakin kuat munding wesi melawan maka semakin kuat pula butiran salju itu menyerang hingga pada akhirnya munding wesi harus membeku diselimuti oleh butiran salju yang semakin menebal.
Tubuh tinggi besar kini terkujur kaku, seluruh darah dan organ tubuhnya telah dibekukan oleh dinginnya salju.
Ilmu elang utara itu belum ada tandingannya, konon katanya raga nata dan seluruh pendekar elang bersatu dan saling tukar ilmu kedidjayaannya, Kake raga nata dan kedua saudaranya yaitu, ragantala dan ragan tiri, disebut tiga serangkai elang dari timur, dan pernah menjelajah sampai kenegri utara maka bertemulah dengan pendekar elang dari utara, disitu pernah terjadi pertempuran, tiga serangkai elang dari timur akhirnya memenangkan pertarungan itu beda tipis, kekuatan ajian butiran salju bisa mencair dengan ajian elang cakra dewa, dari situlah mereka bersahabat dan saling tukar ilmu kesaktiannya, dan akhirnya menjelajah sampai kenegri barat dan selatan, dinegri barat dan selatanpun sama mereka pernah berselisih beda paham dan akhirnya untuk menentukan siapa pimpinan elang yang sebenarnya, diadakan adu kekuatan.
Dan pertarunganpun berlangsung sengit, tiga hari tiga malam pertarungan berlangsung, dan akhirnya tiga serangkai elang dari timur dan elang utara yang terpilih karena menurut para elang mereka yang paling sakti, yang bisa mengalahkan para pendekar elang.
Dari situlah kake raga nata menciptakan sebuah kitab, yang isinya tercatat jurus-jurus elang sakti dari empat penjuru angin bersatu.
Makanya tidak heran kalau senjata ampelkuning wira jaya bila ditiup maka akan munculah ratusan elang-elang dari empat penjuru angin.
Betapa dahsyatnya ilmu elang utara yaitu ajian butiran salju, tercatat dalam kitab elang sakti, ilmu elang sakti akan musnah bila sudah turun pada keturunan ke tujuh.
Wira jaya adalah pewaris keturunan ke empat dari pencipta ilmu elang pertama yaitu kake suwanda, setelah kake suwanda wapat maka turunlah pada ketiga anaknya yaitu raga nata, ragantala dan ragantiri, yang mendapat julukan tiga serankai elang dari timur, dari situlah kedahsayatan pendekar elang termashur hingga ke'empat penjuru angin.
Dewi harum adalah murid tunggal dari nenek ragantiri yang mendapat julukan pendekar elang merah, dengan sebuah senjata andalannya yaitu pedang merah, yang telah mencabik-cabik seluruh anggota tubuh dari lingga tole, ilmu halilintar tingkat ketujuh dari lingga tole belum mampu mengungguli ilmu elang sakti.
Tubuh lingga tole sudah penuh dengan luka goresan dari pedang merah, dengan langkah gontai dan sedikit sempoyongan, lingga tole masih kuat membangun kuda-kuda.
''Sekarang kalian mendingan menyerah saja, dan obatilah luka-lukamu itu.'' Teriak dewi harum.
''Tutup mulutmu perempuan sombong, kami pantang untuk menyerah, sekarang terimalah seranganku ini, ciaaaaattt.'' Teriak lingga tole.
Tapi belum aja lingga tole melakukan serangannya, sepintasa ada bayangan hitam berkelebat menyambar tubuhnya lingga tole, dan tirta yang sudah mengetahui siapa bayangan itu, iapun dengan cepatnya menyambar tubuh munding wesi keluar dari arena pertarungan itu.
''Jangan lari kau pengecut.'' Teriak dewi harum mau mengejar lingga tole, tapi gerakan dewi harum mendadak berhenti ketika mendengar teriakan suara dari brlakangnya.
''Jangan dikejar bu.'' Ucapnya.
Dewi harupun lalu membalikan badannya kebelakang, nampak sosok laki muda yang sangat dikenalinya.
''Kau seta, kemana saja kamu?.'' Tanya dewi harum.
''Iya bu, bayangan yang barusan menyelamatkan lingga tole adalah kidarpal yang lari dari kejaranku.'' Jawab lelaki muda itu yang tak lain darma seta.
Kini suasana ditapal batas kampung bendapun menjadi sunyi, tidak lagi terdengar suara-suara gaduh benturan senjata tajam.
Wira jaya dan yang lainnya, mengangkat orang-orang yang telah tewas dari kedua belah pihak, wilayah tapal batas kampung benda kini telah dipenuhi oleh mayat-mayat.
Para pemuda kampung bendapun banyak yang sudah kehilangan nyawanya, karena membela tanah kelahirannya.
Dikala hari sudah menginjak senja, penguburan mayat-mayat dari murid-murid kidarpal dan para pemuda kampung bendapun sudah selesai.
Para pemuda kampung benda yang telah tewas dikenang sebagai pahlawan, yang rela kehilangan nyawanya demi mempertahankan tanah kelahirannya.
Ke'esokan harinya, semua pendekar telah kumpul lagi dikediamannya aji santang.
__ADS_1
Wira jaya, dewi harum, darma seta, kilayung, aji sura dan raden sedayu, lagi duduk bersila dobale-bale setelah sekesai mengobati pemuda-penuda yang mengalami luka goresan dari sebuah senjata tajam.
Raden sedayu dan dewi harum yang sedikit telah mengenali ilmu pengobatan, tentang luka dalam maupun luar, kini telah diketahui oleh seluruh warga kampung benda.
''Kake baru tau harum, ternyata kamu punya ilmu tentang ketabiban.'' Ucap Aji santang.
''saya tau sedikit-sedikit ke, dulu pernah belajar sama pamanku paman dirga liosan.'' Jawab dewi harum.
''Mendangar nama kepanjangannya, sepertinya orang sebrang, apa benar itu?.'' Tanya Aji santang.
''Neneku asli keturunan tartar, dan kake asli orang tanah jawa dwipa, dan neneklah yang pintar dalam ilmu pengobatan, malahan pernah dinobatkan sebagai tabib keraja'an, tapi nenek tidak betah, karena tidak boleh keluar dari lingkungan keraton, nenek lebih mencintai masyrakat kecil dan rela membantu yang butuh pertolongannya, terus nenek keluar dari tabib keraja'an dan akhirnya menikah dengan pemuda berdarah bangsawan dari pajajaran yang bernama jalantaka yaitu kakeku, kake lebih suka dengan berniaga, malahan sempat kenegri tartar tempat kelahiran neneku, begutu ke.'' Ucap Dewi harum menjelaskan.
''Ooh begitu, kake juga belum tau siapa orang tuamu, dan kamu belum sempat cerita sama kake.'' Ucap Aji santang.
''Iya ke, nanti harum ceritain, tentang kehidupan harum.'' Ucap Dewi harum.
Wira jaya lalu menghampiri istrinya yang lagi mengobati sebagian orang-orang yang terluka.
''Nyai itu obatnya langsung diminumkan tidak, soalnya mereka sudah siuman.'' Ucap Wira jaya.
''Ooh sudah pada sadar kakang, ya sudah kakang bantu saya ya, mungpung mereka sudah pada sadar, ayo darma seta bantu ibu.'' Ucap Dewi harum sambil memanggil anaknya darma seta.
''Baik bu.'' Jawabnya singkat.
Dewi harum dan wira jaya beserta darma seta beranjak dari bale-bale, dan masuk keruangan dimana para pemuda yang terluka dirawat.
Dewi harum lalu pergi kebelakang untuk mengambi ramuan obat-obatan yang sudah diracik untuk diminumkan pada mereka yang sedang mengalami luka dalam dan luar.
Setelah itu satu persatu yang sudah tersadar diberikan ramuan obat untuk diminumkan guna membantu penyembuhan dari dalam.
''Kakang ini diminumkan selagi masih hangat.'' Ucap dewi harum pada suaminya.
Wira jaya terus mengambil ramuan obat itu untuk diminumkan pada orang-orang yang mengalami luka dalam.
Disebuah bukit yang dipenuhi dengan batu-batu kapur, disetiap dinding tebing terkadang tumbuh pohon pohon semak dan rumput-rumput liar merambat mengelilingi perbukitan itu.
Dibawah kaki bukit itu ada sebuah padepokan atau perguruan beraliran hitam, telah digemparkan, karena kekalahannya dalam pertarungan melawan para pendekar beraliran putih.
Padepokan halilintar merah yang diketuai oleh sang maha guru besar, ki darpal nama guru dari seluruh murid-murid halilintar merah itu.
Setelah kekalahannya oleh para pendekar elang dan pendekar aliran putih lainnya, seperti ki layung dan raden sedayu beserta aji santang dan anaknya kerta santang.
Ki darpal melakukan semedi guna memperdalam lagi kesaktiannya.
Disebuah gua sebelah utara padepokan, ki darpal melakukan tapa bratanya.
Sementara para murid halilintar merah yang pada terluka, dibawa keruang pengobatan tabib.
Munding wesi yang sudah mulai membaik luka dalamnya. kini lagi melakukan gerakan-gerakan ringan guna mperlancar peredaran darahnya.
Jurus-jurus dasar dari halilintar kini munding wesi peragakan, ditambah dengan sistem pernapasan untuk memompa jantung guna mengalirka darahnya keseluruh organ tubuhnya.
Suara hembusan napas dari mulut ki munding wesi dilakukannya secara berulang-ulang, yang dibarengi dengan gerakan-gerakan ringan.
''Kali ini saya harus segera angkat kaki dari sini, lama-lama saya muak berada dipadepokan ini terus, yang selalu pecundang terus, kidarpal tak ubahnya seperti pecundang, saya muak dengan kekalahan ini.'' Gerutu munding wesi.
Selepas itu ki munding wesi, segera mengangkat tubuhnya dari posisi yang lagi duduk bersila dihamparan batu cadas kapur itu.
Terus tubuh tinggi besar itu berjalan menyusuri rimbunan semak-semak belukar.
Munding wesi terus berjalan menjauh keluar dari perguruan halilintar merah, rupanya tangan kanan kidarpal itu, merasakan kekecewa'an yang sangat menyakitkan hatinya.
__ADS_1
Munding wesi terus berjalan mengikuti kata hatinya, semakin jauh munding wesi meninggalkan perguruan halilintar merah, jalan yang terjal, masuk hutan keluar hutan, munding wesi telah laluinya dan ia semakin bersemangat untuk menjauh dari kidarpal.
''Saya harus balas kekalahan ini, dua kali saya dikalahkan oleh pendekar elang.'' Gerutu munding wesi.
Disa'at munding wesi lagi menaiki jalannan yang menanjak dan dipenuhi tumbuhan semak-semak belukar disamping kiri kanannya jalan, terdengar suara oleh munding wesi suara nenek yang menyeramkan, sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Hehehee..Hehehee.
''Lelaki bertubuh gempal, apa kamu sudah bosan sama sidarpal hah, hehehehehh.''
''Haii siapa kamu? tunjukan batang hidungmu, jangan cuma bersembunyi dibalik pohon.'' Teriak munding wesi.
Lalu berkelebat sebuah bayangan dari atas pohon dan berdiri didepan munding wesi.
Serentak munding wesi tercengang, melihat sosok wajah yang menyeramkan berambut putih dan gimbal.
''Apa anda ini mausia atau siluman, kenapa menghalangi perjalananku?.'' Tanya munding wesi.
''Hehehehh, sabar dulu anak muda, jangan terbawa emosi, saya manusia sama seperti kamu.'' Ucap nenek itu sambil mengekeh tertawa.
''Kalau anda manusia, kenapa rupamu jelek sekali, dan tubuhmu sangat bau.'' Kata munding wesi.
''Kurang ajar, bocah masih bau kencur sudah berani menghina nini kalingking, apa kamu sudah bosan hidup rupanya.'' Ucap nenek itu, yang menyebutkan namanya nini kalingking.
''Ooh jadi ini rupanya, tokoh sakti dari lembah mayit, pantesan wajahmu jekek sekali, dan aroma tubuhmu sangat bau sekali.'' Ucap munding wes.
''Kurang aja, dasar manusia pecundang, akan ku akhiri hidupmu disini, ciaaaaatttt..'' Teriak nini kalingking, sembari melompat menerjang munding wesi.
Pertarunganpun terjadi, nini kalingking berputar-putar di udara, sambil menghujani munding wesi dengan hempasan-hempasan selendang mayitnya.
Aroma yang tercium oleh munding wesi, dari sebuah selendang mayitnya nini kalingking membuat orang tergelepak.
Munding wesi lalu mencopot ikat kepalanya itu, dipake untuk menutupi hidungnya.
Setelah itu aroma bau yang menyengat dari selendangnya nini kalingking, tidak terlalu menyengat lagi.
''Dasar manusia busuk, selendangnya pun sudah bau menyengat, apalagi matinya.'' Teriak munding wesi sambil menangkis serangan demi serangan dari nini kalingking.
Nini kalingking terus melakukan serangan demi serangannya pada munding wesi.
Trang trang trang.
Suara tangkisan kedua senjata yang saling berbenturan, begitu nyaring terdengar.
Dalam pertarungan nini kalingking lebih banyak makan asam garam, maka tak heran dalam ke lima belas jurus munding wesi terdesak, dan disa'at itu pula pukulan tapak wisa nini kalingking tanpa bisa dihindari mendobrak dadanya munding wesi.
Asap putih kehitaman, dengan dada membiru dan tergambar sebuah telapak didada munding wesi.
Tubuh gempal dan tinggi besar itu, dan ilmu kebal yang dimiliki munding wesi, patah oleh sebuah ajian ampuh dan beracun cipta'an sipenguasa lembah mayit alias nini kalingking.
Sebuah tawa menyeramkan keluar dari mulut keriput dengan mata dalam bersinar, memecahkan kesunyian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≈\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Nantikan kisahnya dalam episode selanjutnya.
Bagi yang suka dengan cerita lokal dinegri nusantara ini, yang ragam adat dan budayanya, cukup dengan berikan like, comentar, jadikan favorit bila suka, dan berilah ranting dan votenya.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=