
Malam pun kini telah berganti pagi, ke tiga pendekar elang telah bersiap-siap untuk melanjutkan lagi perjalanan nya menuju ke kampung Benda.
Pegawai Marduki telah mempersiapkan tiga kuda tunggangannya tiga pendekar elang.
"Ini Tuan kuda-kuda nya, sekarang sudah nampak segar kembali, saya kasih rumput yang paling bagus yang bisa menambah tenaga dan energinya." Ujarnya.
"Terima kasih mang." Ucap Wira jaya.
"Sama-sama Tuan, selamat menempuh perjalanan jauh."
Selepas itu Ke tiga Pendekar Elang sudah menaiki punggung kudanya masing-masing, dan kudapun sudah mulai berjalan pelan meninggalkan penginapannya pak Marduki.
Setibanya di ujung perkampungan ke tiga pendekar elang mulai me macunya kudanya.
Hea
Hea
Heaaa
Kuda pun berlari dengan kencang dan gagah berani menyusuri jalan setapak menuju Wilayah barat.
...................
Sementara di sebuah padepokan Tapak benggala, sebuah perguruan Silat yang beraliran putih, yang lagi mengadakan pertemuan antara jago-jago se wilayah tatar Sunda sebagai silaturahmi, dengan mengadakan adu tanding.
Dan para peserta sudah banyak yang hadir dari berbagai wilayah Barat, Timur, Utara dan Selatan, banyak Tokoh-Tokoh sakti yang menghadiri pertemuan itu baik golongan Putih maupun golongan Hitam, bahkan dari perguruan Halilintar merah, walet merah, Pendekar bayu silantang, ki Barong besi dari gunung sangga, pendekar kelelawar, bahkan ketua perampok kelabang merah yang sangat di takuti dan suka meresahkan warga penduduk pun hadir, Lodra pati, Walang geni dan masih banyak tokoh lainnya yang hadir.
Dengan sang algojo dari perguruan Tapak benggala Bara wenda, dengan kesatiannya Ajian Tapak wisesa yang bisa menjebol dinding batu karang yang sangat keras sekalipun.
Kini acara pertemuan telah di mulai, seorang lelaki gagah naik ke atas panggung arena, untuk memberi sambutan dan persyaratan-persyaratan untuk para peserta yang ikut dalam acara Silaturahmi antara perguruan silat.
"Sampurasun! selamat datang di Tapak benggala, kepada saudara-saudaraku yang hadir di acara silaturahmi ini, perguruan Tapak benggala hampir setiap tahun mengadakan acara pertemuan antara para pendekar dari berbagai golongan, ini hanya untuk memper erat tali persaudara'an, bukan untuk memilih siapa yang paling jago, dan pada segenap tamu undangan yang sudah hadir, silahkn mendaptarkan diri anda, adapun persyaratannya sebagai berikut.
1.Kalian bertarung dengan sang Algojo dengan tangan kosong.
2.peratungan tidak boleh lebih dari lima belas jurus.
3.Barang siapa yang bisa mengalahkan sang Algojo sampai lima belas jurus, dialah pemenangnya.
4.Bila diantara peserta bisa mengalahkan sang Algojo, sebelum para peserta yang daptar belum kebagian giliran, sang pemenang itulah yang menggantikan sang Algojo.
5.Apabila sang Algojo tidak bisa dikalahkan sampai para peserta sudah kebagian gilirannya masing-masing maka dialah pemenangnya
__ADS_1
6.Kami menyediakan uang emas sebesar dua ratus ringgit sebagai tanda terima kasih dari kami.
Apakah kalian sudah paham, ingat jangan ada yang curang, di pertarungan ini petarung harus berjiwa kesatria." Begitulah ungkapan peraturan pertarungan itu.
Kemudian lelaki bertubuh tegap itu, menuruni panggung, dan para tamu undangan dengan antri mendaptar kan dirinya masing-masing, tapi nampak terlihat pendekar bayu silantang dan pendekar kelelawar tidak ikut serta mendaptarkan diri, bahkan ki barong besi juga, mungkin ada alasan lain yang membuat ketiga pendekar itu tidak daptar.
Dan setelah itu adu tanding pun di mulai, pembawa acar segera memanggil peserta sebagi pembuka yaitu. "Pendekar Lodra pati silahkan naik ke panggung."
Yang di panggil pun langsung melesat keatas arena, dan sang Algojo sudah berdiri dengan gagah dan penuh percaya diri.
Bara wenda salah satu murid yang sudah menyerap semua ilmu dari Tapak benggala, bersikap dingin dan tenang dengan kedua bola matanya yang tajam menatap Lodra pati seperti tembus ke dalam jantungnya.
"Ayo Bara wenda, kali ini kamu akan mampus dalam sepuluh jurus saja." Lodra pati memancing amarah.
Tapi Bara wenda tetap dingin tidak terpancing sama sekali, malah sebaliknya Bara wenda mengejek dengan ucapan yang begitu pedas, sehingga Lodra pati yang terpancing amarahnya, bersama'an dengan langsung menyerang Bara wenda.
Kini suara para penonton ramai terdengar, memecahkan suasana di Tapak benggala. Gerakan-gerakan begitu cepat di lancarkan dari kedua lawan.
Pertarungan kini sudah meningkat ke lima jurus, sesumbar Lodra pati sebelum pertarungan di mulai yang ingin melumpuhkan Bara wenda dalam sepuluh jurus cuma hiasan bibir belaka, karena dua pukulan dan satu tendangan Bara wenda telah bersarang di tubuhnya Lodra pati.
Buk..Buk..Deeass.
Keseimbangan Lodra pati tidak bisa menahan bobotnya daya pukulan dan tendangan Bara wenda, Lodra pati terpental jauh keluar panggung arena.
Sedangkan Lodra pati masih tetap geram yang masih ingin melanjutkan pertarungan itu, tapi mengingat akan peraturan itu maka ia bersikap lebih kesatria dan duduk di tempat yang telah di sediakannya.
Selanjutnya pertarungan di teruskan pada utusan dari perguruan Halilintar merah, yakni Kadu Denta yang sudah banyak menyerap ilmu Halilintar merah, ia melesit dengan ilmu meringankan tubuhnya naik ke atas panggung adu jago.
Petarung yang ini tidak banyak berkomentar lagi, ia langsung menyerang Bara wenda dengan gencarnya, pertarungan yang kedua ini sangatlah seru, dan penonton pun lebih meriah memberikan semangat pada kedua petarung.
Sapuan dan pukulan jurus Halilintar begitu cepat dan ganas ingin menghabiskan Bara wenda, tapi Bara Wenda pun begitu cerdik dan gesit, dalam mengelak serangan demi serangan yang di lancarkan oleh Kadu Denta.
Di jurus ke sepuluh kedua petarung sama-sama saling mendaratkan pukulannya, tapi kedua petarung itu cukup kuat dan tangguh, Kadu Denta melesit ke atas mengubah jurusnya dengan jurus Halilintar pemecah Raga.
Melihat lawannya yqng seperti ingin membinasakannya. Bara Weda dengan gerakan yang begitu cepat mengubah jurusnya dengan Jurus Tapak bayangan.
siiuuurrr
Tubuh Kadu Denta melorot turun dengan cepat ingin memecakan kepala Bara Wenda, tapi Bara Wenda tetap bersikap tenang karena ia sudah mempersiap kan tapak bayangan, begitu Kadu denta menyambabar, tanpak terlihat oleb nya sebuah pukulan Bara wenda telah meluncur mendobrak dadanya Kadu Denta.
Hiukk
Buk..Deeeaasss.
__ADS_1
Auuuuggghhh.
Jerit kesakitan sempat keluar dari milutnya Kadu Denta, ke tika Tubuh Kadu Deta mau jatuh kelantai panggung, kelebatan bayang melesat menghantam tubuh Kadu Denta.
Seperti yang telah terjadi sebelumnya, tubuh Kadu Denta terpental jauh keluar panggung.
Sorak sorai teriakan dari penonton yang menyebutkan nama Bara Wenda, membuat para peserta semakin geram, tanpak harus menunggu panggilan dari ketua, Walang geni melompat ke atas panggung dan langsung menerjang Bara Wenda.
Pertarungan berlangsung seperti biasa, Walang geni pun sama seperti peserta yang lain, bahkan Walang geni di delapan jurus pun sudah keok, begitu dan begitu seterusnya hingga tiba di peserta terakhir ke tua perampok Kelabang merah, yang bernama Badrowi yang punya ilmu kebal dan pukulan sengatan kelabangnya yang mematikan.
Pertarungan terakhir ini nampak lebih seru dam sangat menghebohkan para penonton karena kalau melihat dari jurus-jurus yang dimain kan antara Badrowi dan Bara wenda nampak seimbang, malahan pertarung sudah berlangsung empat belas jurus, tentu bagi Bara wenda sangat menguras tenaganya karena ia bertarung belum isturahat sama sekali.
Diawal jurus ke lima belas, nampak Bara wenda seperti kehilangan kendali, mungkin karena paktor energinya yang banyak terkuras, apalagi Badrowi mempunyai daya tahan pukul yang begitu hebat, berakali-kali pukulan Bara wenda mengenai sasaran tapi sedikitpun tidak membuat tubuh Badrowi terjatuh hanya begeser sedikit saja. Tentu sangat melelahkan bagi Bara Wenda, ketika itu pula pukulan sengatan kelabang Badrowi menghantam dada dan tulang rahang Bara Wenda.
Tidak bisa di hindari lagi, kini Sang Algojo jatuh keluar panggung, dan para murid Tapak bebggala langsung memburu tubuh Bara wenda, nampak luka membiru di dada dan tulang rahang Bara Wenda.
Kemudian Sang ketua membuka matanya dan berkata. "Anda curang Badrowi, di peraturan sudah sangat jelas tidak boleh menggunakan senjata dan ilmu kedidjaya'an." Serunya.
Badrowi tertawa terbahak. "Hahaha, hai mahesa pati itu kan bukan senjata yang saya pergunakan itu cuma pukulan tangan kosong, sekarang mana hadiahnya." Bentak Badrowi.
Tapi suasana yang menggaduhkan itu, tiba-tiba menjadi sepi ketika mendengar teriakan suara wanita dari belakang para penonton.
"Tunggu...Ketua ijinkan saya mendaptar, dia belum berhak menang." Lantangnya suara itu.
Semua mata terbelalak menoleh pada arah suara itu, nampak se orang wanita berpakaian serba merah dengan sebilah pedang di balik pinggangnya berjalan mendekati ketua.
Setelah ketua itu mengijinkan wanita itu untuk tampil, wanita itu langsung melesat ke atas panggung arena, dengan sangat entengnya kedua telapak kaki wanita tersebut mendarat di lantai panggung dan berkata. "Heh perampok bajingan masih ingatkah anda pada saya." Ujarnya Wanita itu dengan netra yang tajam memandang penih kebencian.
Badrowi sejenak termenung, kemudian wajahnya nampak berseri dengan senyum penuh semringah, lalu tertawa kecil dan berkata yang membuat wanita itu jagi naik pitam. "Hehee, iya-iya saya baru ingat, ternyata kau masih hidup nona manis, lalu kamu kesini mau mengajak kakang bersenang-senang gtu." Ujarnya
Kulit yang putih bersih nampak terlihat berubah memerah. "Puiiih. Sangat menjijikan sekali ucapan mu tua bangka, ku ke sini mau mengantarkanmu ke neraka." Ujar wanita itu.
"Hahaha, aduh sayang kulitmu yang putih mulus, nanti bisa lecet." Badrowi tertawa penuh ledekan.
"Bedebah dasar bajingan, seberapa kebal kulitmu itu, heaaa." Ujar wanita itu langsung melesat nenyerang Badrowi dengan kecepatan yang luar biasa.
Ternyata Wanita itu adalah Dewi harum, yang lagi melakukan perjalanannya, Ketiga pendekar elang dapat kabar dari obrolan beberapa warga yang secara tidak sengaja Ke tiga Pendekar elang mendengarnya dengan sangat jelas, karena rasa penasarannya ke tiga pendekar elang pingin melihat pertarungan adu jago itu, pas sampai ditempat ternya pertarungan yang terakhir, setelah di lihat dengan jelas Dewi harum sangat mengenal pada lelaki yang bernama badrowi itu, yang dulu pernah beramai-ramai menginjak harga dirinya. Dan membunuh Danang jaya mendiang suaminya, terbakarlah kembali api dendam yang sudah lama padam, makanya Dewi harum langsung menyerukan ikut daptar.
*******
Terima kasih atas dukungannya, semoga selalu di limpahkan rijkinya, sehat-sehat selalu dan di mudahkan segala maksud dan tujuannya.
Jangan lupa sertakan like, comentar, saran, favorit, berikan vote serta hadiahnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=