
Langit memerah awan hitam berkejaran tersapu angin, Hiruk pikuk orang-oang berlalu lalang dengan membawa peralatan tani.
Di tanah Galuh di bawah kepemimpinan Raja Wretikandayun, Rakyat nampak gemah ripah loh jinawi, tanah yang subur dengan cocok tanam hasilnya sangat bagus, tapi terkadang rakyat pun merasa was-was dan cemas setelah mereka selesai panen pasti aja ada yang menjarah hasil panen mereka, dari kelompok orang-orang/perampok yang memanpa'atkan ilmu silat dan kanuragannya untuk menakut-nakuti rakyat dan berbuat sesuka hatinya, memeras, membunuh bahkan memperkosa sètiap gadis kampung, yang penting mereka puas tidak perduli akan penderitaan rakyat yang mereka tindas. Dan mereka selalu bergerak di malam hari.
Di bulan wesaka di kala rembulan lagi bersinar penuh/purnama para Warga kampung Haur Gereng, kala itu di sebuah tempat di mana setiap mereka hasil panennya bagus, sudah menjadi adat dan tradisi di wilayah Galuh suka merayakan dengan mengadakan pesta adat, dengan membuat sesajen dari berbagai varian makanan dan minunan, yang di persembahkan untuk para leluhur mereka penunggu Kampung Haur Gereng, yang bersemayam di sebuah pohon beringin yang sangat besar dan di akhiri dengan sebuah vesta tarian dengan sang penari ronggeng yang cantik dan bahenol.
Vesta adat pun sudah mulai di gelar, para penari ronggeng sudah melenggak lenggok dengan tariannya, yang di iringi oleh tepak gendang dan suara kesetan rebab begitu melengking yang di padukan oleh ketukan kolenang dan Gong.
Sorak sorai dari para penonton begitu meriah sekali, dan beberapa pemuda naik panggung ikut menari bersama para penari ronggeng sekedar meriahkan suasana.
Ketika para warga lagi asik menyaksikan tarian ronggeng yang indah dari penari yang cantik dan bahenol dari liukan-liukan badannya yang begitu menggoda, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kejauhan bersama'an dengan suara kentongan yang di pukul sebagai tanda adanya bahaya.
Para penari pun langsung beranjak turun dari panggung, begitu pula para pemain alat-alat seni langsung menghentikan alat musik tariannya itu, untuk segera di tutup.
Tapi baru saja mereka mau membereskan alat-alat, kelebatan dua bayangan melesat dan menapakan kakinya di panggung tanpak ada suara sedikitpun dan berkata.
"Teruskan, jangan tutup hiburan ini, atau kalian semua akan binasa, dan kalian para penari lanjutkan tarian kalian." Bentaknya lelaki yang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna merah, setelah itu ia langsung turun memburu sebuah bangku dan duduk sambil mentap para penari yang sudah mulai menaiki lagi panggung.
Karena takut dengan ancaman kedua lelaki yang baru di kenalnya itu, dengan sangat terpaksa pemimpin dari seni tari itupun menyuruh anak buahnya untuk melanjutkannya.
Kini lantunan tepak Gendang, kesetan rebab, dan ketukan kolenang bersama suara gong sudah terdengar kembali.
Kedua lelaki itu duduk manis di bawah panggung sambil menatap penuh birahi pada para penari yang meluak liuk dengan gerakan tubuhnya yang gemulai.
"Coba lihat kakang penari yang itu, tubuhnya begitu indah." Cetus lelaki yang berikat kepala warna hijau.
"Dasar lelaki hidung belang, tau saja kau sama wanita idaman para lelaki, itu bagian kakang." Ujarnya.
Ketika ke dua lelaki itu lagi asik menikmati tarian dari para penari dengan gemulai gerakannya yang indah, tiba-tiba beberapa kelebatan bayangan melesat dan mendarat di panggung pentas seni, Sontak saja para penari itu langsung mundur.
"Hahahahaha.. Para penari penari yang cantik dan bahenol." Ujar lelaki tinggi besar sambil menggengam sebuah kapak besar.
Dan Kedua lelaki yang lagi menonton di bawah panggung serasa telah di gagalkan dan di kacaukan tontonannya.
Kemudian lelaki yang mengenakan ikat kepala berwarna merah meraih batu sebesar biji kekereng, lalu di sentilnya.
Dan batu tersebut meluncur dengan cepat menghantam kepala lelaki bertubuh tinggi besar.
weeeeessss...
Taaak..
Aduuh.
Terdengar suara mengaduh sambil memegang kepalanya di bagian belakang yang terasa sakit, lalu ia membalikan badannya dan mencari dari mana arah batu tersebut berasal.
Ketika tatapannya bearadu dengan ke dua lelaki berpakaian serba hitam denga ikat kepala Hijau dan merah, lelaki tinggi besar itu lansung melompat ke bawah panggung sambil menggenggam kapak raksasanya.
__ADS_1
"Kurang ajar kalian yang melempar saya dengan baru kerikil." Bentaknya.
Kedua lelaki itu, yang tak lain adalah Dua setan bayangan setan merah dan setan hijau hanya menyeringai dan saling pandang sambil menyunggingkan senyumannya.
"Hahaha, kalau iya kamu mau apa?." Tanya Setan merah.
"Bedebah, rupanya anda berdua belum tau siapa kami." Ujarnya memperlihatkan taringnya.
"Siapapun kalian kami tidak pernah takut dengan cecunguk-cecunguk macam kalian, hahahaha." Dengus Setan Merah.
"Setan alas ku bunuh kalian, heaaaa." lelaki tinggi besar beserta anak buahnya langsung menyerang Setan merah dan setan hijau.
Sementara para warga yang lagi menonton tarian ronggeng langsung bubar, begitu pula para group penari langsung membereskan peralatannya dan beranjak dari tempat itu.
Pertarungan pun kini berlangsung sengit Setan merah dan setan hijau dan lelaki tinggi besar itu rupanya ketua dari para perampok yang sudah berhasil menjarah barang-barang warga dari hasil panennya.
Ciat
Ciaat
Ciaat.
Kelebatan-kelebatan sambaran dari senjata para perampok terus menggulung Setan merah dan Setan hijau.
Setan merah dan setan hijau lepas tangannya terkena oleh sabetan kapak raksasa dari ketua para begundal, tapi kedua setan bayangan itu hanya tertawa lepas.
"Hahaha, ayo cincang tubuh kami, sepuas nya kalian." Ujar Setan Merah penuh percaya diri.
"Jangan belagu kau ki sanak, Ciaaatt." Ujarnya sembari melesat menyerang lagi kedua setan bayangan itu.
Trang
Trang
Trang...
Suara benturan senjata tajam begitu nyaring terdengar.
Ke sepuluh anak buah lelaki tinggi besar selaku ketua dari perampok kapak merah telah banyak berjatuhan terkena sabetan dari permainan tongkat besi setan bertanduk dari dua setan bayangan.
Darah-darah menyembur keluar dari anggota tubuh para begundal kapak merah yang terkena oleh sabetan dari senjata dua setan bayangan.
Kini tempat yang biasa di gunakan oleh warga untuk upacara adat dari mulai akan bercocok tanam sampai menjelang panen tiba, telah di banjiri oleh darah-darah segar.
Sardogel ketua kapak merah, terkesima melihat anak buahnya pada berjatuhan dengan bermandikan darah segar.
Di sisa tenaganya Sardogel melesat ke atas sambil memutarkan kapak raksasanya untuk menghabisi setan merah dan setan hijau.
__ADS_1
Ciaaaat...
"Mampus kalaian berdua." Sungut Sardogel penuh keyakinan.
Kapak raksasa melesat dan bergerak memutar ingin memutuskan kepalanya dari Dua Setan Bayangan.
Kali ini Setan merah dan Setan Hijau berkelebat menghindari serangan dari kelebatan kapak raksasa yang menderu berputar sampai menggidikan bulu kuduk bila orang yang mendengarnya.
Ternyata permainan jurus kapak dari ketua perampok kapak merah itu tidak bisa di anggap remeh oleh kedua Setan Bayangan.
Setelah merasakan jurus kapaknya itu sangat berbahaya, Setan Merah dan Setan Hijau, sangat berhati-hati sekali, walaupun dirinya mempunyai ilmu rawa rontek tapi sebisa mungkin jangan sampai kapak tersebut sampai menebas lagi anggota tubuhnya.
Ketua kapak merah alias sardogel kini mendapatkan lawan yang tangguh, apalagi Setan merah dan setan hijau dua pendekar sakti, Sardogel kini harus menerima kehebatan dari dua setan bayangan, ketika setan merah dan setan hijau mengeluarkan pukulan rawa ronteknya, dan sardogel mencoba menahan pukulan rawa rontek itu dengan senjata andalannya kapak raksasa, tapi tenaga dalam dari setan merah dan setan hijau begitu sempurna sehingga sinar merah dari pukulan rawa rontek itu menghantam tubuh Sardogel dan kapak raksasa nya pun terlepas bersama'an dengan terpentalnya tubuh Sardogel.
Aauuugghhh..
Terdengar jerit kesakitan dari mulutnya Sardogel, tubuh yang tinggi besar itu kini telah terkapar di hamparan tanah, darah segar telah keluar dari hidung, mulut dan kedua telinganya.
"Hahaha.. Cuma segitu kah kekuatan dari kapak merah, ayo kakang kita rampas barang jarahannya." Ujar setan hijau.
"Ayo rayi, kita tidak harus susah payah menakut-nakuti rakyat, dengan hasil rampasan ini kita bisa makan enak selama tiga bulan." Sungut setan merah.
Setelah itu Setan merah dan setan hijau pergi dengan membawa barang hasil jarahan dari kapak merah. Bahkan binatang ternak pun mereka bawa.
Kedua Setan Bayangan tertawa puas, karena sudah berhasil mengusai kampung haur gereng sebagai mata pencahariannya untuk kelangsungan hidupnya selama mereka berada di wilayah itu.
Para penduduk Haur gereng yang menyaksikan pertempuran antara para perampok kapak merah dan kedua Setan Bayangan, kini semakin ketakutan, dengan sangat kejamnya dua setan bayangan menghabisi para perampok itu.
Sejumlah penduduk yang berusia masih muda dan yang bernyali besar kini lagi berkumpul di sebuah rumah kepala kampung Haur Gereng.
"Sekarang bagaimana langkah kita Ki, masa kita harus berdiam diri terus, dengan ke sewenang-wenangan mereka, kita secepatnya harus bertindak." Usul salah satu pemuda yang penuh dengan keberanian.
"Tenang, kalian jangan terbawa emosi, untuk menghadapi mereka kita tidak cukup dengan hanya mengandalkan keberanian saja, karena lawan yang akan kita hadapi orang-orang sakti mandra guna, apakah kalian mau mati konyol." Ujar Kepala Kampung.
"Ya terus harus bagai mana ki, apakah kita akan terus pasrah dengan kekejaman mereka." Ujar para pemuda.
"Di utara Kampung kita, ada Dusun Batu Gambir, dan di sebuah lembah hantu ada sang pertapa sakti yang suka membantu melawan para penindas, kalau tidak salah mereka sering di sebut pendekar elang, entah masih hidup atau telah tiada, karena sudah lama sekali." Ujar kepala kampung.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita minta bantuannya Ki, untuk membebaskan penderita'an warga dari para durjana." Ujarnya.
"Iya Besok saya akan kesana, kiranya siapa? yang mau menemani kesana?." Tanya Kepala Kampung.
"Kami siap menemani besok." Ujar para pemuda bersemangat.
"Iya terima kasih atas keperdulian kalian, tapi cukup dua orang saja, kalau banyak orang nanti di kira kita mau nyerang." Ujar Kepala Kampung.
Malam pun kini telah semakin larut dan para pemuda Haur Gereng sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1