
Kedua telapak tangan darma seta ditempelkan pada punggungnya raden sedayu, sebuah hawa murni masuk menghangatkan tubuhnya raden sedayu yang kaku terkena dinginnya dari ajian butiran salju.
Tidak lama kemudian raden sedayu sudah kembali seperti biasa, rasa dingin yang tadinya menyelimuti dirinya sudah hilang dan kembali normal.
''Terima kasih pendekar elang perak, ilmu mu sungguh luar biasa, bisa menaklukan ilmu bayu silantangku hanya dalam sekejap.'' Ucap raden sedayu.
''Berhentilah kau memuji, sebenarnya ilmu bayu silantang sangat dahsyat, bila kau gunakan untuk menolong orang dan berbuat kebaikan.'' Ucap darma seta.
Raden sedayu hanya tertunduk dan tidak berkata, karena dia sudah merasa bersalah banget, menyerang darma seta dan wira jaya beserta ki layung dan aji santang dengan cara membokonginya.
Raden sedayu pun meminta pada darma seta untuk ikut gabung dalam mengembara, dan dia berjanji tidak akan mengulangi lagi kelakuannya yang jail dan suka bikin kaget semua orang.
Raden sedayu sebenarnya pendekar dari aliran putih, berhubung sikapnya yang terkadang jail dan suka usil, makanya sebagian tokoh dunia persilatan banyak yang beranggapan dia tokoh aliran hitam, dengan julukan pendekar bayu silantang.
Tidak lama kemudian mereka berlima karena ditambah oleh raden sedayu, sudah tiba di bale-bale rumah nya aji santang.
aji sura dan aji darma serta dewi harum sudah berada didalam rumah, lagi duduk santai, yang kebetulan waktu itu, adi kerta santang, setelah berhasil mengantarkan ki layung dan darma seta serta wira jaya, ia pun langsung pulang kembali karena tidak enak hati bila tamunya harus ditinggal terlalu lama.
Aji santang lalu menaiki tangga rumah panggungnya yang di ikuti oleh ki layung, darma seta dan wira jaya serta raden sedayu.
Begitu sampai diatas bale-bale aji santangpun mengucapkan Kata salam di jaman itu.
''Sampu rasun.'' Ucap aji santang.
''Rampess.'' Jawab mereka.
Aji sura begitu melihat kearah pintu depan, betapa kaget dirinya, melihat aji santang yang tidak ada perubahan dalam postur tubuh bentuk wajah, warna rambut maupun kulitnya, masih tetap kaya dulu waktu pertama kali mengenalinya, sewaktu dibawa olek kaka iparnya yaitu supala adi nata ayahnya wira jaya dan mendiang danang jaya ayah dari darma seta.
''Wah waah, rupanya ada tamu dari jauh nih, harum sudah kau buatkan minum belum pamanmu aji sura.'' Ucap aji santang.
''Sudah ke.'' Jawab dewi harum.
ki layung, darma seta dan wira jaya pun langsung duduk didekat aji sura.
Sedangkan raden sedayu hanya melotot kaget, ketika matanya terus memandang pada aji sura, karena dimata raden sedayu, aji sura alias pendekar elang emas, sudah tidak asing lagi, begitu juga Aji sura disa'at membalas pandangannya raden sedayu, ia pun kaget karena tidak di sangka-sangka bahwa dirinya akan bertemu kembali dengan pendekar jail dan so usil.
''Woowww rupanya ada pendekar jail dari tanah galuh.'' Ucap aji sura.
''Hahahaa, aji sura, kirain sudah tidak mengenali saya lagi, rupanya ingatanmu masih sangat bagus.'' Jawab raden sedayu.
''Siapa yang tidak kenal dengan tangan jail mu itu sedayu.'' Ucap aji sura.
''Itu dulu aji sura, tapi sekarang saya sudah tidak jail lagi.'' Ucap raden sedayu.
''Hahaha bagus, tapi jailmu masih tetap belum bisa diubah.'' Ucap aji sura.
Raden sedayu kaget dengan perkata'annya aji sura, mungkin sangat susah bagi raden sedayu untuk menghilangkan kebiasa'an jail tangannya itu, seperti yang telah dilakukannya pada ki layung disaat ki layung mau duduk, raden sedayu dengan cepat menyimpan buah sawo pas dibawah pantatnya Ki layung.
Tapi ki Layung sangat jeli dan terasa ada sesuatu dibawah tempat duduknya iapun lalu mengangkat kan tubuhnya lagi dan melihat pada posisi yang mau dijadikan tempat duduknya.
''Jurig hurik, ini semua pasti ulahnya si sedayu.'' Ucap ki layung sambil melemparkan buah sawo kearah mulutnya raden sedayu.
Dengan sangat cepat, buah sawo itupun meluncur kearah mulutnya raden sedayu, tapi raden sedayu juga sudah sangat waspada sebelumnya karena takut dapat malu bila yang dijailinya itu lebih sakti.
Dengan gesitnya tangan raden sedayu menangkap buah sawo itu.
Keeeppp.
Buah sawo sudah berada digenggaman raden sedayu.
''Hahaha.... ternyata ki layung dan aji sura sangatlah hebat.'' Ucap raden Sedayu sambil tertawa melebar.
''Walah walaaaah, bagai mana kalian tuh malah main sulap dirumahku.'' Ucap aji santang.
''Hahahahahaa.'' Semua pun pada tertawa menyaksikan tingkahnya raden sedayu dan ki layung yang lucu sekali.
Di malam itu suasana dirumah aji santang menjadi ramai karena adanya tamu dari para pendekar, ditambah aji santang yang sudah mengundang para warga, untuk memeriahkan kembalinya ki layung ke kampung benda, serta untuk menjamu tamunya yaitu aji Sura dan anaknya beserta raden sedayu.
Dan acara pun dimeriahkan dengan seni tayub atau juga disebut ronggeng, para penari ronggeng yang sangat cantik dan masih muda-muda, membuat para menak dan sodagar yang mata keranjang rela mengeluarkan banyak uang yang penting bisa menari bersama.
Raden sedayu ditugaskan menjaga dan mengawasi para penari, takut kalau para penari lelaki yang rese dan saling berebutan, maka raden sedayulah yang bertugas untuk mengamankannya itu.
__ADS_1
Dengan sikapnya yang agak gendeng dan tangannya yang Jail, terkadang raden sedayu suka lupa dengan janjinya yang tidak akan jail lagi.
Tapi yang namanya kelakuan sudah mendarah daging, walau pun dihati tidak ada niat, tapi tangannya itu seperti hidup sendiri, seperti yang telah dilakukan pada penari lelaki seorang sodagar kaya yang lagi menari bersama sinden tayub yang cantik.
Dengan tangan jailnya raden sedayu mengambil sebutir tanah kering sebesar biji saga, lalu ia sentilkan pada seorang sodagar yang lagi menari dengan sinden yang cantik itu.
Peletraakk...... Sebutir tanah itu melesat kearah kepalanya sodagar itu.
''Aaaauuuuuuwwww........Sodagar itu menjerit sambil memegang kepalanya karena rasa sakit yang amat sangat dan akhirnya tubuh sodagar itu secara perlahan jatuh dan tersungkur di lantai panggung tersebut.
Biarpun tanah yang menghantam kepala Sodagar itu sebesar biji saga, tapi daya benturannya sangat berbobot karena sudah dilapisi dengan tenaga dalam oleh raden sedayu.
Semua penonton heboh, berbagai macam perkata'an yang keluar dari mulutnya para penonton.
''Sered saja sered, mungkin dia pusing karena kehabisan duitnya.''
''Paling juga ditembak istrinya biar kapok.''
''Paling juga birahinya bangkit karena melihat kecantikan nyai ronggeng, dan akhirnya kepala yang atas yang pusing.
''Wit wit wit wiiiiitt...
Begitulah kata-kata yang keluar dari mulutnya para penonton.
Sungguh ramai dan berisik sekali suasananya, irama gendang, saron, kolenang, dan rebab pun jadi tidak jelas terdengar karena tertimpa oleh berisiknya suara dari para penonton.
Aji sura yang sudah sangat mengenal dengan ulah yang kaya gitu, langsung ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri raden sedayu.
''Sedayu apa yang telah kau lakukan, dan kamu sudah mengingkari janjimu sendiri.'' Ucap aji sura.
''Ma'ap aji sura, saya tidak berniat bikin ulah, cuma saya tidak suka pada sodagar yang sok kaya, dan bermata keranjang, sedangkan anak istrinya menanti dirumah.'' Jawab raden sedayu.
''Iya, tapi bukan begitu caranya, kalau sudah begini bisa kacau nanti acaranya.'' Ucap aji Sura.
Setelah aji sura memberi peringatan pada raden sedayu, kini acara seni tayub pun berjalan lancar, para penonton pun tambah asik melihat tarian dari para sinden tayub yang cantik, dengan liukan-liukan gerakan dari tubuh yang lentur seperti se'ekor ular yang lagi menari.
Tak heran bila para sodagar yang banyak terkuras duitnya, karena daya tarik dari para penari itu yang membuat lupa segalanya.
Dan suasana di rumah aji santang sekarang sudah kembali seperti semula, nampak terasa sepi karena para rombongan seni tayubpun sudah membereskan peralatannya dan diangkut oleh kereta kuda, sedangkan para penari sinden pun sudah pada berangkat dengan kereta kuda yang khusus untuk para sinden dan personil pemain alat-alat seni tersebut.
Sedangkan aji santang beserta rombongan wira jaya lagi duduk bersantai sambil menghangatkan tubuhnya dengan meminum wedang, dan ada pula yang meminum kopi hitam yang ditumbuk yang ditambahin pemanis gula aren.
''Kakang ada yang mau saya tanyakan, kalau kakang tidak keberatan.'' Ucap ki layung.
''Mau tanya apa.'' Ucap aji santang.
''Kalau boleh saya tau, pesanan siapakah senjata itu kakang?.'' Tanya ki layung.
''Oooh itu, Pesanannya sahabat kakang sewaktu masih jadi prajurit dikeraja'an.'' Jawab aji santang.
''Oooh begitu, siapakah dia kakang?.'' Tanya ki layung.
''Namanya, ki darpal.'' Jawab aji santang.
''Haaahhh... Ki darpal.'' Ucap ki layung dan aji sura serentak kaget.
''Ko kalian seperti kaget mendengar nama ki darpal?.'' Aji santang balik bertanya.
''Ki darpal itu, ketua padepokan halilintar merah yang sangat disegani, dan saya yakin, dengan ki darpal memesan senjata, pasti dia mempunyai niat yang tidak baik.'' Ucap ki layung.
''Tidak mungkin,, kakang lebih tau dan mengenal ki darpal sudah lama, sejak masih sama-sama menjadi prajurit.'' Ucap aji santang.
''Mungkin dulu iya tuan, tapi ki darpal yang sekarang, bukan ki darpal yang tuan aji santang kenal dulu, dia sekarang tokoh aliran hitam yang sangat sakti dan ingin menguasai rimba persilatan dengan kekuatannya, murid-muridnya banyak berkeliaran dimana-mana.'' Ucap aji sura membenarkan perkata'an ki layung.
''Jagat dewa batara, kenapa dia sampai tega membohongi sahabatnya sendiri, untung saja pedangnya belum ku sempurnakan, terima kasih rayi dan aji sura sudah kasih tau saya.'' Ucap aji santang.
''Tuan aji santang, kalau dibolehkan bisa saya lihat dulu senjata yang tua bikin itu.'' Ucap raden sedayu.
''Tentu saja boleh.'' Jawab aji santang sambil memberikan pedang itu.
Raden sedayu terus melihat pedang yang dibikin oleh aji santang, di raba-raba dan dibulak balik secara teliti, nampak terlihat di raut wajah raden sedayu seperti mengagumi senjata itu.
__ADS_1
''Senjata yang luar biasa, terbuat dari logam pilihan, keras dan berat sekali, dan saya yakin bila pedang ini sudah dibikin sempurna, akan menjadi rebutan para pendekar aliran hitam.'' Ucap raden sedayu.
''Ternyata kamu banyak tau tentang senjata, sedayu.'' Aji sura berkata.
''Tau banyak, ya tidak juga, cuma saya tau jenis logam yang sangat bagus untuk senjata semacam ini.'' Jawab raden sedayu.
Setelah itu mereka pun saling membenahi dirinya masing-masing untuk melakukan istirahat, berhubung malam pun yang semakin larut, wira jaya dan dewi harum sudah memasuki ruangan untuk beristirahat dikamar yang sudah disediakan.
Aji sura dan anaknya serta darma seta memilih tidur diruangan tengah.
Semaentara raden sedayu di ajak oleh ki layung untuk bermalam dirumahnya, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumahnya aji santang.
Kini mereka semua sudah terlelap dalam tidurnya, dan malampun terasa sunyi, hanya suara binatang malam yang terdengar nyaring memecahkan dikesunyian.
Udara dingin kini sudah mulai menyelimuti di seluruh wilayah kampung benda.
Sehingga tidak terasa malam berputar begitu cepatnya.
Pagi pun sudah datang yang selalu identik dengan suara-suara berkokonya ayam jantan di mana-mana.
Dewi harum nampak lagi sibuk memasak, membuat makanan untuk sarapannya aji santang beserta yang lainnya.
Setelah masakannya sudah selesai dibuat, ia pun tidak lupa membuatkan minuman wedang dan kopi hitam yang dicampur dengan pemanis gula aren.
Aroma yang tercium dari wedang jahe dan kopi yang dicampur gula aren begitu harum baunya, sehingga membuat darma seta, aji sura dan jala aji darma terbangun dari tidurnya.
''Oooh harumnya, aroma yang tercium berasal dari dapur.'' Ucap darma seta.
Darma seta pun langsung berdiri, langsung berjalan kearah dapur, setibanya ditempat yang dituju, nampak terlihat oleh darma seta, Ibunya lagi bikin wedang jahe dan kopi hitam kental.
''Pantesan harumnya sampai tercium keruang tengah, ternyata Ibu lagi bikin kopi dan wedang jahe.'' Ucap darma seta.
''Iya Seta, cepetan mandi sana, sehabis mandi baru menghangat tubuhmu dengan kopi atau wedang.'' Jawab dewi harum.
''Iya buk.'' Jawab darma seta.
Setelah itu darma seta, langsung berjalan keluar untuk membersihkan tubuhnya, disebuah sumur yang tempatnya berada dibawah kampung benda.
Setibanya ditempat, nampak sebuah sumur yang digali, .dengan airnya yang jernih keluar dari akar-akar pohon.
Darma seta pun langsung membuka semua pakaiannya, dengan gayung yang terbuat dari batok buah berenuk, bergagang panjang, darma setapun langsung menggunakan gayung tersebut untuk mengambil air, lalu ditumpahkan kekepala hingga sampai membasahi keseluruh tubuhnya, begitu dan begitu seterusnya.
Begitu pula aji sura dan jala aji darma secara bergantian, membersihkan tubuhnya disumur tersebut.
Singkat cerita darma seta, aji sura dan jala aji darma sudah kembali mengenakan pakaiannya lagi, lalu ia berjalan menanjak menuju rumahnya aji santang.
Sesampainya di depan rumah, mereka lalu duduk dibale-bale.
Dan dewi harumpun lalu mengantarkan kopi dan wedang jahenya.
''Selepas mandi, hangatkan tubuh kalian dengan minum kopi dan wedang hahe, pasti tubuh terasa seger.'' Ucap dewi harum.
''Terima kasih marum, e'eeh wira jaya belum bangun?.'' Tanya aji sura.
''Kakang wira sudah bangun dari tadi Paman.'' Jawab dewi harum.
''Terus sekarang kemana?.'' Tanya aji sura.
''Pagi-pagi kakang wira, pergi ke istal, mau ngasih makan kuda-kuda, dan sekalian katanya mau ambil kayu bakar.'' Jawab dewi harum.
''Suamimu itu rajin, selain pendekar, ia juga pekerja keras, dan sangat cerdik.'' Ucap aji sura.
Disa'at mereka lagi duduk sambil minum kopi, Tiba-tiba munculah wira jaya sambil memikul ikatan kayu bakar dan aji santang mengikutinya dari belakang.
♧♧♧♧♧♧◇◇◇◇◇♧♧♧♧♧♧
Bersambung.......
Untuk kelangsungan episode selanjutnya, jangan lupa, klik like, tulis comentar dan saran, ranting dan favorit serta Vote juga.
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Selamat membaca semoga terhibur.