
Angin berhembus kencang dedaunan berterbangan lepas dari tangkainya, langit nampak mulai gelap, dengan hawa dingin mulai menyerang ke tiga setan bayangan.
Butiran-butiran salju dari langit mulai berjatuhan dengan kencang menghujani ke tiga setan bayangan.
Kecongkakan dan kesombongannya kini berubah menjadi sebuah wajah yang pucat, dengan bibir gemetaran menggigil menahan ke kuatan ajian butiran Salju yang maha dahsyat, tenaga dalam dari ke tiga setan bayangan kini mulai melemah, sedangakan butiran salju yang terus menghujani mereka, sehingga akhirnya pemilik limu Rawa Rontek yang terkenal sakti tidak bisa berbuat lebih dengan ilmu butiran salju dari ke tiga pendekar elang. Dan salju yang terus menebal membungkus tubuh tiga Setan Bayangan.
Perlahan tiga pendekar sakti aliran hitam itu terkulai lemas karena kehabisan tenaga dalamnya, sementara butiran salju yang terus berjatuhan membuat mereka kewalahan hingga pada akhirnya tiga setan bayangan membeku menyatu dengan gumpalan salju.
Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma Seta, menghentikan dan menarik kembali ke kuatan butiran Salju, langitpun kini sudah mulai terang kembali, dan hutan yang tadinya gelap kini sudah mulai lagi di masuki cahaya matahari yang tembus dari sela-sela dedaunan.
"Apa mereka sudah mati kakang?." Tanya Dewi Harum.
"Belum nyai, mereka belum mati, setelah darahnya mencair kembali mereka akan bangkit lagi, selama raga mereka masih menatapk ke bumi mereka tidak akan bisa mati." Cetus Wira jaya.
"Lalu bagaimana untuk bisa mengalahkan mereka bertiga?." Tanya Dewi Harum.
"mereka bisa mati dengan cara memisahkan anggota tubuhnya jauh di atas bumi, dan darahnya jangan sampai jatuh ke bumi, dengan begitu mereka akan mati untuk selamanya." Tutur Wira jaya menjelaskan.
"Sekarang kita tinggaalkan hutan ini Buk, Paman, biarkan ke tiga iblis itu di sini, di makan binatang buas." Ujar Darma Seta sambil menunjuk pada ke tiga setan bayangan yang masih terkujur kaku karena di bekukan oleh ilmu butiran salju.
"Ayo nyai kita tinggalkan hutan ini." Lanjut Wira jaya.
Kemudian Tiga Pendekar elang menaiki punggung kudanya masing-masing, meninggalkan hutan tersebut.
Hea
Hea
Hea
Kudapun kini mulai di pacu kembali menyusuri jalan setapak di tengah hutan yang lebat.
.......
Sementara tiga Setan Bayangan, setelah ilmu butiran salju dari tiga pendekar elang di tarik, dan salju yang membungkus tubuh Tiga Setan Bayang telah hilang, dan matahari yang masuk menyinari dan menghangatkan mereka, darah yang tadinya membeku kini sudah mulai lagi mencair dan mengalir kembali ke selurih organ tubuh.
Mereka nampak telah menggerakan jari jemarinya, lalu tubuhnya mulai bergerak, kemudian matanya terbuka perlahan. Dan salah satu dari mereka berkata sambil menengok pada ke dua temannya.
"Kemana ke tiga pendekar elang itu, ilmu butiran salju mereka begitu dahsyat, andai kita tidak mempunyai ilmu Rawa Rontek mungkin sekarang kita sudah mati membeku." Ujarnya.
Kemudian kedua temannya pun, menggerakan tangannya ke atas lalu diturunkan sambil menarik napas perlahan.
"Benar kakang, ilmu butiran Salju mereka sangat sempurna, sampai-sampai kita kehabisan tenaga dalam untuk melawannya, tapi kenapa mereka tidak membunuh kita." Ujarnya.
"Mungkin mereka mengira kita sudah mati membeku." Pungkas salah satunya ikut bicara.
"Kemungkinan mereka berpikir begitu, dasar para pendekar elang bodoh, rupanya mereka tidak tau bahwa kita tidak bisa mati." Ujarnya dengan sombong.
Selepas itu Tiga setan bayang langsung bangun dan berdiri sambil menggerak-gerakan tangan dan badannya yang terasa kaku. "Kakang apa yang akan kita lakukan sekarang, apa kita terus mengejar pendekar elang, atau kita kembali ke wilayah selatan." Ujarnya.
"Kita terus cari ke tiga prndekar elang itu, dan kita harus mendapatkan pedang garuda dari tangan elang perak." Jawabnya.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang cepat kita tinggalkan hutan ini sebelum hari senja kita sudah berada di luar hutan ini."
Selepas itu ke tiga Setan Bayangan beranjak pergi meninggalkan hutan tersebut dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak yang membentang warna kecoklatan membelah hutan.
Tidak lama kemudian bertepatan dengan matahari sudah agak mulai miring ke barat mereka telah keluar dari hutan tersebut.
"Ke arah mana mereka perginya kakang." Gerutu Setan kuning.
"Yang pasti, kita ikuti aja bekas jejak kuda, dan mereka mengarah pada Desa Batu Gambir." Ujar Setan merah.
"Kalau begitu ayo kita ikuti ke tiga pendekar elang itu, saya masih penasaran dengan mereka dan pedang Garuda harus menjadi milik tiga Setan Bayangan." Cetus Setan Ijo.
Setelah itu Tiga Setan Bayangan melesat menggunakan ilmu lari cepatnya mengikuti jejak langkah kaki kuda.
...............
Sementara di tempat lain.
Ke tiga pendekar elang sudah sampai di desa Batu Gambir, dan yang perta ma kali mereka datangi adalah rumah kepala kampung.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta turun dari punggung kudanya, lalu berjalan menuju rumahnya kepala kampung.
"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.
Sejenak mereka menunggu jawaban sang pemilik rumah, selang beberapa menit pintu terbuka bersama'an dengan munculnya seorang lelaki paruh baya. "Rampes..Wah waah di kira siapa, lama sekali kalian tidak pernah main ke sini, ayo masuk kita ngobrolnya di balai-balai." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Pak kepala kampung Batu Gambir.
Selepas itu mereka pun naik ke atas balai-balai rumah panggung Pak kepala kampung, duduk bersila di atas lantai palupuh yang tebuat dari Bambu. Kemudian Kepala Kampung memanggil pada isttinya.
"Buk' bawain air minum ke sini, ada Wira jaya dan Dewi harum serta Darma seta nih." Panggil Kepala Kampung pada istrinya.
"Ayo di minum, nyi dewi, Wira dan nak Darma seta, kalian kemana saja, kenapa gak pernah main kesini, sudah lupa ya sama Warga Batu Gambir." Cetus istrinya Kepala Kampung.
"Terima kasih Buk, bukan kami lupa, ya beginilah nasib seorang pengembara selalu berpetualang ke negri orang." Ujar Wira jaya.
"Kalau aku gak mau punya suami seorang pendekar, hidupnya selalu berpindah-pindah terkadang keluarga di rumah hadi terbrngkalai." Gerutu Istri kepala kampung.
"Hehee, kalau pendekar itu, istrinya pun harus seorang Pendekar." Ujar Wira Jaya.
"Iya tapi kalau lagi berantem mungkin akan habis barang-barang seisi rumah di pakai senjata." Lanjut Istri kepala kampung.
Dewi Harum, Wira jaya dan Darma seta tertawa sedikit sambil saling pandang.
"Hehehee Ya tidak begitu juga atuh buk." Cetus Dewi Harum.
Ketika mereka lagi asih ngobrol sambil bercanda ria, karena sudah lama tidak bersua, tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang lagi makan rumput di depan luar rumah kepala kampung.
Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma seta, serta kepala kampung pun sontak kaget langsung menoleh ke arah di mana ke tiga kuda mereka berada.
Tapi naluri Darma seta sangat tajam dan langsung bisa menangkap akan gelagat yang tidak baik, tanpak mikir panjang lagi. Darma seta melesat dengan cepat keluar mburu pada tiga bayangan hitam berkelebat.
Wira Jaya dan Dewi Harum pun melompat keluar dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna, berkelebat cepat begitu ilmu mata elangnya menangkap tiga bayang.
__ADS_1
Nampak tiga lelaki berjanggut lagi berdiri menyongsong kedatangannya tiga pendekar elang.
"Manusia iblis, rupanya kalian tidak ada kapoknya." Ujar Darma seta.
Ternyata ke tiga bayangan itu tak lain adalah tiga Setan Bayangan dari pantai selatan yang baru sampai di desa Batu Gambir.
"Hahahaha... Kamu salah elang perak, Tiga Bayangan setan tidak ada kata kapok, justru kami masih penasaran dengan kesaktian anda bertiga." Sungutnya berkata dengan Jumawa.
Wira Jaya, Dewi harum dan Darma seta, hanya saling pandang sambil menyunggingkan senyumannya.
"Dasar manusia iblis, sudah mau mati juga masih saja jumawa, kalau tau begin tadi akan ku biarkan tubuh kalian mati membeku.Cetus Darma Seta.
"Jangan banyak mulut pendekar elang, kalian belum merasakan betapa dahsayatnya pukulan Rawa Rontek kami." Ujarnya melompat membuat serangan pada ke tiga pendekar elang.
Pertarungan pun terjadi di depan Rumah kepala kampung.
Suara sabetan, dan pukulan dari jurus-jurus dari kedua lawan begitu cepat dan agresip.
Tiga Bayang Setan tokoh sakti dari golongan hitam yang berambisi ingin menguasai pedang garuda miliknya Darma seta, terus menyerang Darma seta, dengan jurus andalannya, tapi masih tetap seperti yang sudah-sudah terjadi, Darma seta terlalu sukar untuk di tembus apalagi di lumpuhkan, karena Darma seta adalah pewaris ke tiga dari Raga Nata. di tambah ia menggenggam sebuah senjata pusaka Pedang Garuda Cakra Buana yang sudah banyak di ketahui oleh seluruh pendekar rimba persilatan kesaktiannya yang belum ada tandingannya.
Tujuh belas jurus sudah sudah berlangsung, namun ke tiga pendekar elang belum bisa mereka lumpuhkan malahan sebaliknya Tiga bayangan setan sudah sering jatuh bangun terkena hantaman dan pukulan dari jutus-jurus elang sakti.
"Hahaha, ayo keluarkan jurus kalian yang lebih ganas lagi, apa sudah tidak ada lagi simpanan kesaktian wahai para manusia iblis." Caci Darma seta.
"Kurang ajar kau elang perak, janganlah berbangga hati dulu, sekarang kalian rasakan pukulan gabungan dari ilmu Rawa Rontek kami." Serunya Tiga setan bayangan.
mereka bertiga melompat merapat dengan membentuk pormasi sebuah serangan yang mematikan.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta saling pandang.
"Mereka akan mengeluarkan pukulan Ajian rawa rontek, kita hadapi dengan ilmu Cakra dewa." Bisik Darma seta.
Pendekar elang pun tidak mau kalau harus mati konyol oleh pukulan Rawa Rontek yang dahsayat itu, Ketiga nya membagun posisi Burung elang Darma seta berada di tengah antara Wira jaya dan Dewi Harum, tangan kiri Wira Jaya dan Tangan Kanan Dewi Harum membentang laksana sayap elang, sedangkan Darma seta membungkukan badannya posisi kepala elang dengan tangan kanan menyilang di dada dan tanga kiri menapak ke bumi gabungan cahaya kuning, merah dan putih keluar dari tubuh tiga pendekar elang, yang kian lama kian mengembang, dan saiap untuk menghadang pukulan Rawa Rontek.
Kini kedua gabungan ilmu kekuatan antara Rawa Rontek dan Cakra Dewa saling menghantam.
Bluuuueeeaarrrr...
Terdengar suara ledakan yang begitu keras dan telah menumbangkan banyak pepohonan, dan setelah itu tubuh Tiga Bayang Setan terpental jauh.
Blak
Blak
Blak
Ke tiga tubuh bayang setan jatuh ke tanah laksana sebuah benda jatuh secara beriringan.
***********
Bersambung
__ADS_1
Salam sehat sejatera dan Sukses selalu.
Terima kasih atas dukungannya.