PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang Sakti eps 86


__ADS_3

Tiga bulan kemudian, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta mengajarkan para pemuda Batu Gambir juus-jurus elang sakti sudah mencapai tingkat enam, di dalam setiap tingkatan terdapat sepuluh jurus, dan itu semua sudah di kuasai oleh para pemuda dengan sempurna.


Di Bulan Wesaka tahun Saka, malam itu malam purnama penuh, Mereka kini di ajarkan memainkan jurus dengan pakai senjata, Pedang, Tongkat dan ada juga yang lebih suka memainkan senjata pakai rantai, tergantung dari orangnya dalam menyikai dan memilih senjata yang mereka gunakan.


Pada dasarnya sama saja dalam memainkan senjata entah itu pedang, Tombak, Rantai atau yang lainnya.


Cuma intinya pendekar elang lebih identik dengan senjata pedang.


Ada pula salah satu dari kesepuluh pemuda yang berbeda dengan yang lainnya ia lebih suka dengan senjata yang lebih pendek yaitu senjata kujang.


Para pemuda yang sangat berbakat, Tiga pendekar elangpun merasa senang karena tidak ada kesulitan dalam mengajarkannya.


Satu persatu di panggil untuk melakukan pertarungan dengan tangan kosong maupun memakai senjata, itu semua di lakukan untuk memilih siapa di antara ke sepuluh pemuda itu yang terbaik dalam bertempur di alam bebas.


Pertemuran pun sudah berlangsung cukup sengit sorak sorai dari yang lainnya untuk memberi semangat pada yang lagi melakukan pertarungan. Delapan orang sudah melakukan pertarungan itu dan di menang kan oleh empat orang.


Tinggal dua orang lagi, dalam peserta ke lima, yang sudah siap- siap untuk maju ke depan memasuki arena.


"Suganda dan Rumanda maju ke arena." Panggil Wira jaya.


Mereka berdua pun mulai melangkah maju ke tengah-tengah Arena, untuk memulai pertarungan untuk memilih juara yang nantinya akan di pilih lagi dalam babak penentuan, sampai uang paling unggul akan terpilih cuma satu.


Suganda dan Rumanda sudah mulai daling serang, dengan jurus yang sama, di dalam pertrungan di perlukan ke cerdikan dalam menjatuhkan lawan.


Di dalam pertarungan terakhir ini nampak terlihat oleh Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, Rumanda lebih pintar dalam membuat setrategi pertempuran. Bahkan Suganda sudah dua kali terjatuh.


Dan setelah itu mereka melanjutkan pertarungan dengan pakai senjata.


Akhirnya pertarungan di menangkan oleh Rumanda, peratrungan malam itu sementara selesai.


"Untuk sementara pertarungan ini kita cukup sampai di sini dulu, kami merasa bangga kalian hebat-hebat, bagi yang kalah jangan merasa minder, teruslah berlatih sampai ke tingkat paling sempurna, dan besok malam kita lanjutkan ke pertarungan ke dua, untuk memilih satu dari ke lima pemenang yang sekarang, siapa yang giat berlatih pasti akan menjadi yang terbaik, tapi ingat ilmu silat bukan untuk kesombongan dan kejahatan, tapi untuk mrnumpas kejahatan dan ke sewenang-wenagan." Ujar Wira jaya.


Kemudian Darma seta memberi arahan dan bimbingan pada kesepuluh pemuda Batu Gambir.


"Betul apa yang di katakan oleh Ayahanda, bila kalian mempergunakan apa yang kalian dapatkan dari kami di jalan salah, nanti kalian akan menuai karmanya dari perbuatan kalian, camkan itu." Ujar Darma seta.


"Dan kalian harus seperti padi, semakin berisi sebuah padi maka akan semakin merunduk, kita juga selaku manusia harus mencintoh pada padi, di dinua ini tidak ada yang hebat, karena di atas langit masih ada langit, apa? Kalian mengerti apa yang saya wejangkan." Tukas Dewi harum.


"Iya Guru kami mengerti." Jawabnya serempak.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu sekarang kita bersiap-siap untuk pulang, lihat bulan pun sudah tinggal separoh, berarti ini malam sudah sangat larut." Tutur Wira jaya.


Mereka pun langsung beranjak pergi meninggalkan bukit Cempaka.


Waktupun terus berputar seiring dengan berputarnya roda kehidupan, sehingga tidak terasa malam sudah berganti dengan waktu pagi, suara-suara ayam jantan berkokok terdengar ramai saling bersautan.


Ketika matahari sudah memancarkan cahayanya, warga penduduk Batu Gambir nampak terlihat lalu lalang untuk pergi ke sawah dan ladang dengan kesibukannya masing-masing.


Sementara di tempat lain.


Di bawah kaki gunung galunggung tepatnya di sebuah hutan Galunggung, ke lima tokoh sakti dari golongan hitam yang tiga di antaranya mengalami luka dalam yang cukup serius setelah pertempuran melawan Ki sura praba guru besar dari perguruan Naga Bintang, kini nampak seperti sudah pulih kembali.


Tiga bulan setelah pertempuran di Naga Bintang


Reksa pati, ki Gantar nyai Rombeng, ki Tempang dan ki Talang lagi duduk bersemedi menyerap tennaga inti alam guna meningkat kan lagi kesaktiannya.


Bagi ke lima tokoh itu, Ternyata Naga Bintang lawan yang tangguh didalam petualangannya selama ini.


Banyak Tokoh lain di tanah jawadwipa sudah mereka lumpuhkan tapi baru kali ini mereka mengalami ke kalahannya.


Tiga bulan mereka berdiam di hutan galunggung, bertapa untuk mendapatkan kesaktian yang lebih dahsyat, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang akan mereka jajal, yang sudah mereka catat dalam daptar kependekaran


Reksa pati lalu membuka matanya, begitupula nyai Rombeng, kiTalang, kiTempang dan ki Gantar lalu mereka mendorongkan ke dua tangannya ke depan.


Wees wes wes


Jeleguuurrr


Suara dahsyat terdengan dari lima kekuatan yang menghantam pepohonan di dalam hutan galunggung.


Ternyata ke lima tokoh itu menciptan ilmu gabungan dari ke kuatan mereka di gabungkan mrnjadi satu ke kuatan yang maha dahsyat.


"Hahahahaa...Kita berhasil mengabungkan ke kuatan kita." Celetuk Reksa pati.


"Lantas apa nama ilmu gabungan ini kakang Reksa pati?." Tanya Kigantar.


Reksa pati sejenak terdiam sambil mengerlingkan alisnya lalu berkata.


"Bagaimana kalau kekuatan gabungan ini kita namakan Ajian Panca Sakti.

__ADS_1


Nyai Rombeng, Kigantar, Kitempang dan Ki talang, menganggukan kepalanya.


"Iya bagus saya setuju."


"Sayapun setuju."


"Setuju."


Kemudian setelah itu Ke lima tokoh sakti itu menurunkan kakinya dari tempat duduk nya semula di atas lempengan batu hitam di bawah tebing batu bercadas.


"Sekarang siapa yang akan mencarikan makanan, untuk memenuhi kewajiban yang tidak bisa di tunda ini." Ujar Reksa pati memberi tawaran.


Kigantar dan Kitalang beranjak turun dari tempat duduknya. "Biar saya dan Kigantar yang akan mencarikan makanan untuk memenuhi perut yang keroncongan ini." Usul Kitalang


"Baiklah kalau begitu." Sambut Reksa pati.


Selepas itu Kitalang dan Kigantar beranjak pergi menelusuri jalan di dalam hutan galunggung, untuk mencarikan makanan, untuk memenuhi panggilan di dalam perutnya yang sudah terasa perih.


Setelah jauh mereka berjalan Kitalang menarik tangannya Kigantar.


"Tunggu dulu, sepertinya ada se ekor menjangan yang lagi makan rumput di sana." Bisik Kitalang.


"Mana?." Tanya Kigantar.


"Tuh di bawah pohon dadap." Tunjuk Kitalang sambil meluruskan telunjuknya kearah pohon dadap.


Kigantar lalu meraih sebuah senjata rahasianya di balik sabuknya.


Wes..Wes wes


Cleekkk.


Dua buah pisau kecil telah menancap di perut dan di lehetnya se ekor menjangan, menjangan itu langsung jatuh tersungkur, ki Gantar dan Kitalang melesat memburu pada se ekor menjangan yang lagi sekarat.


"Hahaha nanti malam kita bisa pesta, tapi kita tidak punya stok arak." Celoteh Kigantar.


Setelah itu mereka pun langsung pergi dengan membawa se ekor menjangan untuk di panggang guling.


Setibanya di tempat Kigantar dan Kitalang, langsung mengkuliti menjangan tersebut, untuk di jadikan daging guling.

__ADS_1


Sedangkan Reksa Pati langsung mengunpulkan kayu bakar dari dahan kayu yang kering, untuk memanggang guling dari menjangan tersebut.


__ADS_2