
Ketika ki Talang dan ki Tempang , sudah merasa kenyang perutnya dengan sate bakar daging monyet, ia pun langsung di serang oleh rasa kantuk yang tidak lagi bisa di tahan, mereka pun langsung menyandarkan tubuhnya pada akar pohon yang begitu besar, sementara Reksa pati, Ki Gantar dan Nyai Rombeng masih juga belum siuman dari luka dalamnya.
...................
Sementara di tempat lain.
Wira jaya, dewi harum dan Darma seta yang sudah tiba di dusun Batu Gambir, langsung menuju pada kediamannya, dan ke tiga kuda di ikat di tiang kolong rumah yang sangat tinggi, lalu Darma seta mengambil keranjang tempat rumput dengan sebilah sabit dan bergegas melangkah pergi untuk mencari rumput buat makannya sang kuda.
Selang beberapa menit Darma seta telah kembali dengan membawa keranjang yang sudah penuh dengan rumput-rumput hijau.
"Sekarang waktunya kalian makan dan istirahat." Ujar Darmaseta bermonolog.
Setelah itu Darmaseta pun melangkah menaiki anak tangga satu persatu untuk memasuki ke dalam rumah.
Baru saja Darma seta mau merebahkan badannya di balai-balai, nampak jelas di bawah ada banyak suara me manggil dirinya, Wira jaya dan Dewi harum.
"Sampu rasun... Kang Wira, Kang Seta, Teh Harum apa kalian ada di atas." Sapanya.
Darma seta langsung beranjak bangun dari balai-balai bambu, dan melangkah lalu menengok ke bawah nampak ada sepuluh orang pemuda lagi memandang ke arahnya.
"Rampes ada perlu apa kalian?." Tanya Darma seta.
"Maaf kakang Seta bila kami mengganggumu." Ujarnya.
"Ooh tentu tidak." Ujar Darma seta sembari melangkah menuruni anak tangga.
Setibanya di bawah, Darma seta pun mengajak kesepuluh pemuda tersebut untuk duduk di bangku di sebelah barat rumahnya.
"Apakah ada yang perlu saya bantu, sehingga kalian mendatangi tempat ini?." Tanya Darma seta.
"Begini kakang, kami bersepakat untuk meminta kakang mengajarkan kami ilmu silat, untuk menjaga kampung ini, bila sewaktu-waktu ada serangan dari para perampok seperti puluhan tahun silam, di saat kakang Seta, Kakang Wira dan teh harum lagi tidak ada di kampung ini, setidaknya kami bisa melakukan perlawanan." Ungkapnya.
"Ooh itu, dengan sangat senang hati, apabila kalian benar bersungguh-sungguh ingin belajar bela diri akupun siap mengajarkannya." Ujar Darma seta.
"Terima kasih kakang, terus kapan kita bisa mulai belajar?." Tanya salah satu pemuda tersebut.
"Nanti malam kalian datang ke bukit cempaka, kita berlatih di sana." Ujar Darma seta.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, apa yang harus kami bawa?." Bertanya.
"Kalian semua bawa obor, untuk penerangan, karena malam nanti purnama ke tiga jadi bulan munculnya sudah larut malam." Ujar Darma seta.
Ke sepuluh pemuda Batu Gambir merasa senang, karena niatnya yang sungguh-sungguh ingin belajar bela diri silat akhirnya bisa terlaksana.
......................
Singkat cerita.
Malampun sudah datang, dan para pemuda sudah berdatangan ke bukit cempaka dengan membawa obor satu persatu.
Di atas bukit cempaka nampak Wira jaya dan Dewi harumpun sudah hadir siap untuk memberikan ilmu silatnya pada para penuda Batu Gambir.
"Sekarang tancapkan obor-obor kalian pada tempat yang sudah saya persiapkan." Perintah Wira jaya.
Mereka pun langsung menancapkan obornya masing-masing pada bambu yang sudah di persiapkan sebelumnya, oleh Wira jaya.
Kini wira jaya memerinrah para pemuda untuk membentuk barisan menjadi dua barisan dan jarak antara orang ke orang berjarak kira-kira satu meteran.
Latihan pun di mulai, dengan jurus-jurus dasar elang sakti, mereka pun bersemangat karena tegadnya yang kuat ingin membentengi kampungnya dari gangguan para durjana.
Lalu Wira mendekati ke arah pemuda yang sepertinya kurang begitu sempurna di dalam membangun kuda-kuda pertahanan.
"Siapa namamu?." Tanya Wira jaya.
"Sukanta kang." Jawabnya.
"Kuda-kudamu kurang kuat badanmu agak di turunkan sedikit, harus bisa menyeimbangkan antara tubuh dan kaki, dan pusatkan tenaga kalian ke tangan dan ke kaki." Ujar Wira jaya.
"Baik kakang."
Hea...Hea
Hea....Hea
Hea...Hea
__ADS_1
Begitu semangatnya ke sepuluh pemuda Batu Gambir dalam memainkan jurus-jurus dasar elang sakti.
Sepuluh jurus dasar sudah di peragakannya sampai berulang-ulang, dan waktu malam pun terus bergeser, sehingga Wira jaya pun menyuruh mereka untuk berhenti dulu.
"Saya lihat kalian sangat bersemangat sekali, untuk malam ini latihan cukup sampai sini dulu, dan besok malam latihannya di lanjut kembali." Tutur Wira jaya.
"Baik kakang."
"Sekarang cabut obor kalian, kita pulang bareng." Ujar Wira jaya.
Setelah itu mereka pun langsung memburu pada obor nya masing, serempak melangkah menuruni jalan setapak di bukit cempaka. Wira jaya dan Dewi harum berjalan di barisan depan dan sepuluh pemuda Batu Gambir di barisan tengah di ikuti oleh Darma seta paling belakang.
Bukit cempaka, sebuah bukit yang di tumbuhi oleh hamparan rumput hijau yang siangnya di jadikan tempat gembala ternak oleh warga kampung.
.............
Di malam kedua.
Tiga pendekar elang dan ke sepuluh pemuda sudah berada di bukit cempaka, dan obor-obor pun sudah di pasang di pinggir kiri kanan.
"Sekarang sebelum melanjutkan pada latihan jurus, kalian ambil posisi duduk bersila, dan ikuti apa yang saya perintahkan, kali ini kita belajar dulu pernapasan untuk latihan tenaga dalam, kalian harus pokus kosongkan pikiran negatip di benak kalian, apakah kalian dudah siap?." Tanya Darma seta.
"Siap kakang." Jawabnya serempak.
"Pertama-tama tarik napas melalui hidung, lalu tahan sebentar dan keluarkan melalui mulut secara perlahan, lakukan secara berulang-ulang ikuti saya." Ujar Darma seta.
Darma seta duduk bersila menghadap kepada ke sepuluh pemuda, untuk melakukan latihan dasar tenaga dalam.
Karena ke inginan dan tekadnya yang membaja merekapun sangat sungguh-sungguh apa yang di ajarkan oleh Darma seta sampai Darma seta menyuruh untuk berhenti.
"Sekarang buka mata kalian, dan apa yang kalian rasakan?." Tanya Darma seta.
Mereka pun langsung menjawab secara serempak.
"Tubuh serasa agak lebih enteng kakang."
"Bagus berarti tenaga inti alam sudah mulai menyatu dengan tubuh kalian, dan itu bisa terus kalian latih di rumah atau di mana saja." Ujar Darma seta.
__ADS_1
Setelah itu selepas melatih tenaga dalam oleh Darma seta, Wira jaya pun langsung melanjutkan dalam melakukan latihan jurus-jurus.
Di malam ke dua ada peningkatan tiga jurus gabungan antara jurus cakar elang dan jurus Dasar, Wira jaya pun sangat memberi pujian pada para pemuda, karena mereka semua crpat tanggap, baru dua malam saja meteka nampka banyak perubahan dalam memain jurus yang telah di ajarkannya.