
Setelah pedang Lembayung ki Layung merobek kulit ki Gantar, ki Talang dan ki Tempang. Reksapati dan Nyai Rombeng langsung berkelebat menyerang ki Layung, Aji Santang pun tidak tinggal dia langsumg melesat dalam gerakan jurus Garuda winata
Sapuan tendangan Aji Santang yang telah dilapidi dengan tenaga dalam memghantam punggungnya Reksapati dan Nyai Rombeng.
Bug
Bug
Auuuggghh.
Reksa pati dan Nyai Rombeng langsung terpental jatuh tersungkur.
.............
Sementara di tempat lain, tiga penunggang kuda lagi memacukan kudanya dengan sangat kencang. Derap langkah kuda berlari terdengar begitu jelas, seperti para pasukan prajurit perang yang mau ke medan laga.
Ke tiga penunggang kuda itu tidak lain adalah Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, yang lagi melakukan perjalanannya menuju tanah Galuh, namun di dalam perjalanannya selalu saja menemui hambatan dan rintangan, sebuah tombak meluncur dari arah samping kiri kanan menancap di tengah-tengan jalan setapak yang mau di lalui oleh ke tiga pendekar elang.
Wira jaya pun berhenti, dan memandang pada dua buah tombak yang menancap di depan jalan yang akan di laluinya.
"Sepertinya itu senjatanya para pengemis tongkat merah Nyai." Lirih Wira jaya pada Dewi harum.
Dewi harum pun berkata sambil menoleh kebelakang ke arah Darma seta.
"Benar sekali kakang, saya hapal benar senjata para pengemis tongkat merah, sepertinya ia telah mengintai perjalanana kita." Timpal Dewi Harum.
Semilir angin meniup sepoi-sepoi mengantarkan gelombang suara dari empat penjuru, sudah di pastikan sebuah kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi.
"Selamat berjumpa kembaliii...di tanah Galuh Pendekar elang." Begitu gelombang suara yang terdengar dan menggetarkan.
Wira jaya, melompat dari atas punggung kudanya, menuju sebuah pohon yang sangat tinggi, netranya mengintai menjelajah ke segala arah, nampak terlihat kumpulan para pengemis tongkat merah di dua arah.
"Ooh itu rupanya para pengemis itu, tapi suara itu datang dari orang yang berkrkuatan tenaga dalam tingkat tinggi, mungkinkah para pengemis tongkat merah sudah ganti ketuanya." Gerutu Wira jaya dalam hati.
Baru saja Wira jaya mau melompat turun, desingan suara dari beberapa benda lagi meluncur mengarah pada Wira Jaya.
Wira Jaya tersontak, lalu iamelesit dan memutarkan tubuhnya, sembari mencabut senjata Ampelnya untuk menghadang senjata tersebut.
Trang
Trang
__ADS_1
Trang
Trang
Trang......
Dengan sigap Wira Jaya menggagalkan senjata misterius itu. Setelah itu bergerak cepat berkelebat turun menuju pada Dewi Harum dan Darma seta.
"Ada apa? Paman, sepertinya tadi ku dengar ada banyak suara benturan senjata?." Tanya Darma seta.
"Iya benar sekali, para pengemis Tongkat merah ada di depan perjalanan kita, sepertinya ada ketua baru pada kelompok itu." Tukas Wira Jaya.
"Sepertinya begitu, aku pun merasakan kekuatan dari tenaga dalam yang begitu sempurna."
Kemudian Darma seta turun dari punggung kudanya, melangkah memburu pada dua tombak yang mrnancap di tengah perjalanannya.
Siuuurrr
Wheeess wheeessss...
Kedua tombak itu di lemparkannya pada posisi semula, meluncur dengan sangat cepat.
"Hahahahaaaa....Hebat kalian telah menerima tantangan dari kami." Tukas dari salah satu pengemis Tongkat Merah.
Wira jaya dan Dewi harum turun dari punggung kuda, memandang intens pada salah satu ketua dari kelompok pengemis Tongkat Merah.
"Oo'oow,, para pengemis yang kaya raya, hebat sekarang ketuamu sudah berganti." Cibir Dewi Harum.
"Jangan banyak bacot kau Nona cantik, hari ini dan detik ini juga, Pendekar Elang akan segera berakhir, dan para pengemis lah yang akan merajai di rimba persilatan." Tukasnya dengan pertentang merasa yakin bahwa kekuatan Tongkat Merah kini lebih dahsyat.
Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma seta tersenyum semringah sembari menepuk-nepuk telapak tangannya.
"Owww..Luar biasa sekali, perkataan anda seperti peramal ahli nujum, kami sangat suka dengan cibiran busukmu itu wahai para pengemis, hidup kalian tak ubah seperti para perampok rendahan yang bisanya merendahkan orang lain, sekarang tunjukan kehebatanmu ketua tongkat merah." Tantang Darma seta.
"Bedebah,, kutu busuk bocah kemarin sore, kencingpun baru bisa berdiri, sudah berlaga hebat di depan Lodaya Merah." Makinya.
"Cuiihhh...kata-katamu sungguh menjijikan Lodaya Merah, ingin rasanya ku meobek-ronek mulutmu itu cuiiihh." Dengus Darma Seta.
"Anak sialan, ku ***** kau." Bentak Lodaya merah sambil memberi kode pada para anggota pengemis merah untuk menghabisi Tiga Pendekar Elang.
Para anggota pengemis Tongkat Merah, langsung sigap melesat membangum serangan untuk membantai tiga Pendekar Elang.
__ADS_1
Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma Seta, bergerak cepat dengan putaran senjatanya.
Trang
Trang
Trang
Trang.....
Suara benturan senjata Tongkat Merah dan pedang Merah, Ampel kuning dan pedang Garuda Cakra Buana, begitu nyaring dan mendebarkan kelebata-kelebatan sabetan senjata begitu menyilaukan pandangan.
Pedang merah dan ampel kuning mengeluarkan sinarnya dan membentuk kepala burung elang melesat dan menyambar para anggota dari tongkat merah, korbanpun sudah mulai banyak berjatuhan.
Lodaya merah yang bertarung sengit melawan Darma seta, sudah mencapai pada tingkatan lebih tinggi. Lima belas jurus sudah dikeluarkannya tapi mereka masih sama-sama kuat. Darma seta melompat ke belakang memutarkan pedang Garuda, dalam jurus garuda winata tingkat tujuh belas, sinar putih keluar berkelebat cepat dengan filapidi angin yang menderu kencang siap untuk menjatuhkan Lodaya merah.
Pendekar dari ujung kulon itu, memang tergolong pendekar sadis dan sakti, tidak pernah membiarkan lawannya hidup, tapi kali ini ia nampak tersontak kaget dengan kehebatan jurus dan pedang Garuda yang di mainkan oleh Darma seta. Sehingga ia kurang begitu waspada dalam keadaan seperti itu, sekelebatan sinar putih melesat menghantam tubuh Lodaya merah.
Wees wess...
Jelegeerrrr..
Auuigghhhhh
Tubuh Lodaya merah terpelanting hingga beberapa tumbak, mental pada batang pohon lalu jatuh tersungkur, dengan sisa tenaga dalamnya Lodaya Merah bangkit sambil mengkerutkan keningnya, karena ia merasakan ada cairan hangat yang keluar dai sudut bibirnya, perlahan tangan kirinya di angkat untuk mengusap darah yang mengalir di bibirnya.
Darma seta tersenyum menyeringai, sambil menyunggingkan bibirnya.
"Mana sesumbar murahanmu itu, cuma segitukah kemampuanmu Lodaya Merah." Cibir Darma seta.
"Jangan jumawa kau bocah ingusan, kali ini boleh kau berbangga hati, tapi apakah kau mampu bertahan dengan ilmu andalanku." Ujarnya sambil memandang tajam pada Darma seta.
"Jangan banyak bacot Lodaya merah, heaaaa." Teriak Darma seta melompat menerjang.
Ketua dari pengemis itu menghempakan senjata rahasianya berupa taring-taring lodaya beracun menyerbua bagaikan ratusan anah panah.
Darma seta tersontak ketika serbuan taring menghujani dirinya, Darma seta berputar cepat dengan pedang Garudanya menangkis ratusan taring yang melesat ke arahnya.
Trang trang trang trang trang.
Suara nyaring dari pedang Garuda menangkis taring-taring tersebut.
__ADS_1