PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti. eps 71


__ADS_3

Matahari pun kini sudah condong ke barat, ke lima para penunggang kuda terus memacu kudanya dengan sangat kencang, menyusuri jalan berbatu yang banyak di tumbuhi rumput ilalang di kiri kanannya jalan setapak tersebut.


Tidak lama kemudian ke lima penunggang kuda itu sudah memasuki area perkampungan dengan adanya pemukiman para penduduk yang masih nampat terlihat jarang-jarang.


Lalu se orang penunggang kuda yang bernama Wiku jara memperlambat lajunya kuda, dengan mengacungkan tangannya ke atas meberi isarat bahwa perjalanan sudah sampai di tujuan.


Sang kudapun meringkik ke tika ke empat penunggang kuda di belakangnya Wiku jara menarik tali kekang kuda, lalu Wira jaya berkata.


"Apa kita sudah sampai Tuan?." Tanya Wira jaya.


"Iya Pendekar itu rumahku, ku tinggal bersama istri dan dua orang anak." Ujar Wiku jara sambil meluncurkan telunjuknya je arah rumah yang berada di depannya.


"Kenapa Tuan tidak tinggal di kademangan?." Pungkas Raden Sedayu bertanya.


"Tidak pendekar saya lebih enak hidup di peloksok, lebih sejuk tenang dan bisa bersahabat dengan alam." Ujarnya.


Ketika mereka lagi berjalan pelan dengan kudanya tiba-tiba seorang bocah datang dengan berlari sambil berteriak. "Ayaahanda.." Teriaknya.


Wiku jara pun langsung melompat dari atas punggung kudanya menyambut bocah tersebut yang tak lain adalah putra kandungnya.


"Anakku Jara Denta." Ucap Wiku Jara sembari meraih tubuh Jara denta dan langsung di gendongnya.


Ke tiga pendekar elang dan Raden Sedayu langsung turun dari punggung kudanya, dan berjalan mendekari Wiku jara.


"Ini putra mu Tuan?." Tanya Wirajaya.


"Iya ini Jara denta Putra ku nomor dua, ayo nak kenalin ini para pendekar linunhung." Ujar Wiku jara.


Jara denta pun langsung mempekjenalkan dirinya pada ke tiga pendekar elang dan Raden Sedayu.


"Aku Jara denta Tuan pendekar, " Ujarnya.


Wra jaya , Dewi harum, Darma seta dan Raden sedayu tersenyum tipis. "Anak pinntar, wah tulangmu sangat bagus nak, Paman yakin suatu saat nanti kau akan menjadi pendekar tangguh." Ujar Darma seta.


"Memang anaku ini sangat tertarik dengan olah bela diri dan kanuragan, bila ada waktu sudikah pendekar mengajarkan putraku ilmu kanuragan." Ujar Wiku jara.


"Nanti ya bila ada waktu Paman akan ajarkan kau ilmu silat, bila Paman tidak ada di sini kapan-kapan kau bisa datang ke goa elang, sekarang kuatkanlah pisikmu, dan kau bisa belajar dasar-dasarnya pada ayahandamu." Ujar Wira jaya.

__ADS_1


"Baik Paman."


Selepas itu mereka pun langsung memasuki kediamannya Wiku jara.


"Lalu kapan kami harus beraksi?." Tanya Raden Sedayu.


"Kapanpun Pendekar mau, karena kebih cepat lebih baik, Pendekar bisa melakukan dulu pengawasan dengan berpura-pura jadi pedagang di alun-alun kademangan, atau singgah di sebuah kedai yang biasa sering di kunjungi oleh para sekutunya tangan waja, karena di kedai itulah para sekutu tangan waja suka berpoya-poya dengan munum arak." Jelas Wiku jara.


"Baiklah kalau begitu, kita tidak usah menunggang kuda, kita berjalan kaki saja, supaya kita lebih leluasa mengintai mereka." Cetus Wira jaya.


Kemudian Wira jaya, Dewi harum, Darma seta dan Raden Sedayu, bergegas pergi meninggalkan Wiku jara menuju ke kademangan cempaka berkelebat menggunakan ilmu lari cepatnya, sehingga tidak lama kemudian mereka telah sampai di tapal batas kademangan cempaka.


Nampak terlihat banyak orang-orang lalu lalang, ke empat prndekar masuk dan berjalan di tengah orang-orang, beberapa pasang mata nampak seperti lagi mengintai pada setiap orang yang baru datang.


Ketika ke empat Pendekar mau memasuki sebuah kedai tempat minum, terdengar suara bernada tegas menegurnya.


"Berhenti ki sanak." Tegurnya.


"Kisanak memanggil kami?." Tanya Wira jaya.


"Iya, sepertinya kalian orang baru di kademangan ini?." Ujarnya balik bertanya.


"Bukannya tidak boleh ki sanak, soalnya di kademangan ini lagi di perketat, takutnya ada penyusup para pengikut dari Wiku jara, yang ingin merebut kekuasaan tangan Waja." Jeasnya.


"Oh begitu rupanya, jadi di kademangan cempaka ini lagi ada perebutan kekuasaan maksud ki sanak." Ujar Dewi harum.


"Iya benar nyi sanak, terus kalian sendiri datang dari mana?." Bertanya.


"Kami tidak punya tempat tinggal yang tetap, kami seorang pengembara, di mana bumi di pijak di situlah langit di junjung." Ujar Raden Sedayu.


Kemudian ke empat pendekar itu masuk kedalam kedai dengan memesan makanan dan minuman untuk mengisi isi dalam perutnya yang sudah terasa lapar.


"Ki sanak ayo gabung sama kami, minum arak." Ajak ke enam orang yang lagi berpesta pora.


"Terima kasih, ma'af ki sanak, kami tidak suka dengan arak." Jawab Darma seta.


Ke enam orang itu malah tertawa mendengar jawaban dari Darma seta.

__ADS_1


"Lalu apa kesukaan kalian?." Tanya lelaki yang berbadan kurus, dengan bicaranya ngelantur, mungkin pengaruh dari arak yang di minumnya itu.


"Kami lebih suka minum air putih." Jawabnya.


"Apa air putih, ha...ha .. ahahahaha." Ujarnya tertawa terbahak-bahak. "Itu minuman bocah cilik ki sanak." Lanjut berkata.


Darma seta nampak seperti naik darah, lalu Wira jaya berkata pada Darma seta untuk tidak terpancing emosinya. "Tenanglah seta, jangan sampai kau terpancing, nanti semuanya akan jadi berantakan." Tutur Wira jaya.


"Iya benar Rayi Seta, kau harus lebih santai jangan di bikin pusing, karena orang-orang itu, lagi tidak waras pikirannya, kalau kita ladeni sama saja kita ikutan tidak waras." Celetuk Raden Sedayu.


Ke empat prndekar tetap santai dalam posisinya sambil menyantap makanannya, tapi tak lepas netranya tetus mengintai dari gerak-gerik ke enam lelaki yang lagi mabok itu, kemudian Raden Sedayu berjalan menghampiri mereka lalu ikut duduk bersama dan berkata. "Wah waah ternyata kalian ini jago sekali dalam minum arak." Ujar Raden sedayu.


"Tentu saja, karena bagi kami arak adalah penyemangat hidup." Ujarnya bernada melow karena pengaruh arak.


"Apa kalian mau nambah lagi minumannya." Rayuan Raden Sedayu.


"Boleh boleh, apa anda mau membayarnya?." Bertanya.


"Sudah tentu, saya yang memberi tawaran berarti saya yang akan membayarnya, pak arak satu kendi lagi." Pesan Raden Sedayu pada pemilik kedai.


"Baik tuan."


Ke enam lelaki itu langsung meneguk lagi arak yang telah di pesannya oleh Raden Sedayu secara bergiliran, ketika mereka sudah terlihat mabok beneran, Raden sedayu mulai melemparkan pertanyaannya. "Kalian ini kerjaannya minum apa tidak takut di tangkap oleh tuan demang?." Tanya Raden sedayu.


"Hahaha... Siapa yang mau menangkap kami ki sanak, sementara demang yang sekarang berkuasa adalah kakang Tangan Waja." Jawabnya.


"Memangnya bisa sebebas itu demang yang berkuasa sekarang?." Raden sedayu terus membidikan pertanyaan.


"Iya, kakang tangan Waja memberi ke bebasan pada kita, minum, main wanita sesuka hati kita."


"Memangnya apa kehebatan tangan Waja, sehingga orang-orang pada takut padanya?."


"Kakang tangan Waja tidak mempan semua jenis senjata apapun, biarpun itu senjata pusaka." Jawabnya.


"Semua ilmu pasti ada kelemahannya, tidak mungkin kalau tidak punya kelemahan." Raden Sedayu terus mengorek ke terangan.


Ke enam lelaki itu tidak sadar bahwa dirinya lagi di mintai keterangan oleh raden sedayu, karena pengaruh arah yang sudah menyatu dalam darah sehingga otak dan pikiran tidak berjalan sama sekali.

__ADS_1


Tapi belum saja Raden sedayu mengorek semua keterangan dari ke enam lelaki mabuk itu, tiba-tiba terdengar ada suara kuda yang berhenti di depan kedai, Raden Sedayu pun akhirnya kembali ke tempat duduk semula bersama Wira jaya.


Nampak terlihat oleh ke empat pendekar, salah seorang lelaki berkumis tebal dan bebadan tegap memasuki kedai tersebut.


__ADS_2