
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, sudah memacu kudanya keluar dari kampung pakuan, kuda pun mulai di pacu dengan kencang, begitu mereka sudah keluar dari kampung pakuan.
Hea
Hea
Hea..
Begitu suara dari ketiga pendekar elang yang lagi terus memecut kudanya agar berlari kencang.
.................
Sementara di tempat lain, yaitu di kampung benda tepatnya di kediamannya ki layung, Pendekar bayu silantang atau Raden Sedayu, sedang duduk berdua di atas balai-balai bambu, dengan sebuah teh hangat menemani mereka dalam obrolannya.
''Bagai mana langkah selanjutnya ki, apa ki Layung masih ingin berkelana atau mau memundurkan diri dari dunia persilatan?.'' Tanya Raden Sedayu.
''Saya ini sudah tua Sedayu, dan liang kuburpun sudah menanti, sudah sa'atnya saya mengundurkan diri dari dunia persilatan, untuk menebus dosa-dosa yang telah ku lakukan semasa dalam pengembara'an.'' Jawab ki Layung.
''Iya benar ki, karena di dunia persilatan penuh dengan kekejaman dan angkara murka, kalau tidak membunuh pasti kita akan di bunuh, itulah dunia persilatan.''
''Iya makanya, di sisa umurku, ingin rasanya ku menebus semua dosa dan kesalahan dengan berbuat baik.'' Tutur ki Layung.
''Ya sudah kalau begitu saya mau undur diri, Terima kasih ki layung sudah memberi tempat untuk istirahat, dan segala jamuan ki layung saya senang sekali.'' Ujar Raden sedayu.
Setelah itu raden Sedayu langsung pergi meninggalkan tempat kediamannya ki layung, kemudian raden Sedayu melompat ke atas punggung kuda.
Hea hea hea..
Kuda langsung di pacu meninggalkan ki Layung, raden Sedayau terus meluncur dengan kuda putihnya, bulu yang tumbuh di tengkuk kuda bagian belakang sampai menari-nari karena cepatnya sang kuda berlari, di tambah dengan angin yang menerpa melawan arah begitu kencang, sehingga tidak terasa perjalanan raden Sedayu sudah sangat jauh.
..................
Kembali lagi ke kisah perjalannya ke tiga pendekar elang, yang sudah mulai me masuki hutan gonggo, hutan yang sangat angker, dan jarang di masuki oleh manusia.
Menurut cerita, di hutan gonggo itu banyak sekali menyimpan cerita mistiknya, konon katanya setiap manusia yang sudah memasuki hutan gonggo itu tak penah bisa keluar lagi dengan selamat.
Sejenak kemudian, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta menghentikan kudanya, karena kuda-kuda mereka meringkik-ringkik seperti enggan untuk berjalan.
''Kenapa dengan kuda-kuda kita ini.'' Gerutu Wira jaya.
''Entahlah kakang, sepertinya kuda kita merasakan ada sesuatu di dalam hutan ini.'' Ucap Dewi harum.
''Iya benar, ibuk, paman, ku mencium bau banyak siluman di dalam.hutan ini.'' Celoteh Darma seta.
Sedangkan kuda yang di tunggangi oleh Dewi harum, terus memutar dan seperti mau balik arah kebelakang.
__ADS_1
''Kakang, ini tidak beres, kudaku ini sama sekali tidak mau masuk kedalam hutan ini, malahan ia minta untuk kembali.'' Ucap Dewi harum.
''Sama nyai dewi, kudaku juga, kalu begitu terpaksa kita harus berjalan kaki, biar kuda-kuda kita simpan saja diluar bibir hutan, nanti pulangnya kita ambil lagi kuda-kuda kita.'' Saut Wira jaya.
''Iya benar sekali paman, kita juga tidak boleh memaksakan kuda-kuda kita yang seperti ketakutan.'' Pungkas Darma seta.
Kemudian setelah itu, ketiga pendekar elang keluar dari hutan itu, menuju bibir hutan untuk menyimpan kuda-kudanya di tepian bibir hutan.
''Terus apa kuda-kuda ini tidak akan ada yang ngambil.'' Celoteh Dewi harum.
''Kalau orang biasa tidak mungkin berani memasuki hutan ini, terkecuali orang-orang yang berilmu tinggi.'' Ujar Wira jaya.
Untuk menjaga kuda-kudanya dari segala kemungkinan yang akan terjadi, Darma seta pun mengurung kuda-kuda itu dengan ilmu mega mendungnya.
''sekarang sudah ku kasih batasan kuda-kuda ini tidak akan pergi jauh, dan tidak akan ada seorangpun yang melihat kuda-kuda kita.'' Pungkas Darma seta.
''Iya benar seta, paman pun tadi sudah berniat begitu, ya sudah sekarang kita lanjutkan perjalanan kita, yang sudah hampir dekat dengan perguruan naga bintang.'' Ucap Wira jaya.
Kemudian ke tiga pendekar elang, memasuki lagi hutan gonggo tersebut dengan berjalan kaki, mereka tetap waspada dàn berhati-hati, lalu mereka memasang indra pendengaran dan indra penglihatannya untuk mengetahui kalau ada bahaya yang mengincar mereka, karena naluri dari ke tiga pendekar elang itu cukup tajam, mereka pun menghentikan langkahnya.
''Ada bahaya yang lagi mengintai kita, waspadalah.'' Seru Darma seta.
Daya penciuman dari ke tiga pendekar elang sangatlah tajam, seketika itu Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta melihat ada beberapa kelebatan bayangan hitam melompat dari balik pohon-pohon yang besar.
''Ada empat bayangan hitam berkelebat di depan kita, tapi ku tidak mencium bau siluman, sepertinya bayangan itu manusia biasa, dan kesaktiannya cukup untuk kita perhitungkan.'' Ujar Wira jaya.
Setelah itu ke tiga pendekar elang terus melangkah menyusuri jalan setapak yang sisi kiri kanannya banyak sekali rumput-rumput liar dan semak-semak belukar, baru beberapa langkah mereka berjalan ada suara mendesis seperti suara ular, melesat ke arah Dewi harum.
''Ibuk awaass.'' Teriak Darma seta dengan secepat kilat menghunus pedang peraknya.
Begitu pula Dewi harum dengan cepat mencabut pedang merahnya.
Heaa....
Trang...
Trang...
Trang.....
Sebuah senjata rahasia berbentuk jarum telah bisa di lumpuhkannya oleh ke tiga pendekar elang.
Kemudian setelah itu ada suara tertawa menyeramkan membuat bulu kuduk sampai merinding.
Hihihihihihi.....
__ADS_1
Heheheeee.....
''Sungguh hebat kalian para satria, bisa mematahkan semua jarum-jarum beracunku.'' Tutur suara yang belum nampak wujudnya.
''Hai kau siluman apa manusia, tunjukanlah batang hidungmu, jangn cuma main petak kumpet seperti bocah.'' Seru Darma seta.
''Hahahaa....Sungguh berani sekali nyali kalian para satria, jarang sekali manusia yang sudah memasuki hutan gonggo ini bisa keluar dengan selamat...Hahahaaa.'' Ujar suara tanpa wujud.
''Jumawa, dasar siluman pengecut, hidup dan mati manusia sudah di tentukan oleh sanghyang widi, keluarlah atau ku obrak abrik hutan ini.'' Teriak Darma seta.
Beberapa bayangan hitam berkelebat, menghadang perjalanan ke tiga pendekar elang, nampak terlihat oleh ke tiga pendekar elang empat orang berjubah hitam dengan ikat kepala serba hitam, telah berdiri dengan memancarkan aura jahat di ke empat wajah mereka.
''Selamat datang di wilayah kami para satria.'' Ujar ke empat orang berjubah itu.
Kemudian ke tiga pendekar elang itu saling pandang, lalu Wira jaya berkata.
''Apakah? kalian penghuni hutan ini, ijinkanlah kami untuk mrlewati hutan ini.'' Tutur Wira jaya.
''Siapa saja bebas melewati hutan ini, tidak ada larangan bagi kami, tapi sebelum kalian keluar dari hutan ini, serahkan dulu wanita cantik yang bersama kalian, dan kami butuh darah segar untuk menambah energi kekuatan kami.'' Ujar mereka.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, langsung merah menyala wajahnya, ketika mendengar perminta'an mereka yang sangat kotor dan menjijikan itu.
''Sungguh busuk sekali ucapanmu, sebelum kalian bisa menyentuh tubuh ibuku, terlebih dahulu saya akan mengirim kalian ke neraka.'' Seru Darma seta.
''Hai para iblis, sudah banyak kalian menghilang nyawa manusia, sekarang kami akan menjemput nyawa kalian ber'empat.'' Teriak Dewi harum dengan pasang muka garang.
''Oo, oo' galak benar kamu cantik, jadi bikin kami semakin bergairah aja, hahahaha.'' Ujarnya sambil tertawa terbahak.
''Bedebah....Ciaaaatttt.'' Dewi harum langsung melesat menerjang, mereka, Wira jaya dan Darma seta pun langsung menyusul dengan jurus elang menembus sukma.
Trang..
Traang....
Traang.......
Suara benturan senjata dari kedua belah pihak, berbunyi keras sekali, sehingga menimbulkan percikan kembang api, akibat dari benturan logam yang sangat keras.
************
Bersambung.
Jika suka dengan cerita ini, sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
''Assalam mualaikum''