PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI EPS 26


__ADS_3

Permainan pedangnya darma seta begitu cepat indah dan memukau.


Kelebatan-kelebatan dan putaran-putaran dari pedang itu seperti kilatan-kilatan cahaya yang menyambar-nyambar.


Setelah berlangsung cukup lama darma seta pun menuruni panggung, sementara giri darma pun menutup acara itu dengan menaiki panggung tersebut.


''kepada warga halimun, saya segenap keluarga mengucapkan banyak-banyak terima kasih, atas bantuan kerja samanya, dan pengorbanan semua warga untuk keluarga kami, dan saya juga tidak lupa atas kerela'annya wira jaya, dewi harum dan darma seta yang sudah begitu besar jasanya pada desa halimun, saya mewakili seluruh warga halimun mengucapkan terima kasih banyak yang sedalam-dalamnya.'' Begitu ucapan kata penutup dari giri darma.


Tidak lama kemudian para wargapun sudah pada bubar sebagian, berhubung malam yang sudah larut, hanya tinggal pemuda-pemuda halimun yang masih pada kumpul dibale-bale bersama wira jaya dan darma seta.


Sementara kuwu kandi lagi asik ngobrol dengan giri darma dan istrinya didalam rumah.


Kuwu kandi merasa ikut gembira dengan kepulangannya nyi anyelir ke kampung halamannya, Karena semua itu rakyatnya juga, setidaknya tak lepas dari tanggung jawabnya selaku kuwu di desa halimun, makanya pak kuwu mengerahkan pemuda-pemuda supaya ikut dalam pencarian itu, dan memberikan bekal secukupnya untuk mereka dalam perjalanannya.


Ke esokan harinya, disaat matahari mulai memancarkan cahayanya yang kuning ke'emasan, Wira jaya, dewi harum, darma seta, ki layung, jala darma, serta giri darma dan istrinya, sehabis sarapan pagi, seperti biasa mereka selalu berkumpul dibale-bale, rasa penasaran giri darma dengan pertanya'annya kemarin malam, tentang siapa ki layung itu.


Darma seta lalu menjelaskan perihal kejadian dari mulai pertarungannya dengan ki layung, sampai akhirnya ki layung harus mengakui kehebatannya darma seta.


Sampai darma seta mengobati luka dalamnya ki layung.


''Begitu ceritanya wa, mulanya ki layung menanyakan padaku, ada hubungan apa kamu dengan aji santang, ya ku ceritakan sampai mendetil mungkin, dan ki layung ini ayahnya dari raden pinara.'' Ucap darma seta.


''Coba ki ceritakan yang lebih jelas lagi.'' wira jaya memotong pembicara'annya.


''Begini nak wira, saya dan aji santang kakemu adalah sodara seibu, aji santang ayahnya keturunan dari bangsawan dan sodagar kaya raya, setelah kake buyutmu itu meninggal semua hartanya jatuh pada aji santang, pada waktu itu aji santang masih berusia delapan tahun, karena aji santang anak satu-satunya.


Selang tiga bulan ibu menikah lagi, dengan orang sebrang yaitu ayahku bunto garai, lama kelama'an ibu mengetahui kerja'annya ayah, seorang bajak laut yang sangat disegani, karena ibu merasa dibohongi, timbulah cekcok dan pada akhirnya ayah pergi meninggalkan ibu, dan saya waktu itu masih kecil kira-kira usia lima tahunan...


''Terus kake aji santang kemana disa'at ki layung masih kecil.'' Wira jaya memotong pembicara'an.


''Pada waktu itu, kakang aji santang menjadi prajurit keraja'an, dan Setelah kakang aji santang menikah, dia berhenti menjadi prajurit dan mengelola tanah warisannya itu, dan ibu juga mendapatkan seper'empat tanah warisan itu.


Singkat cerita disa'at aku dan kakang aji santang sudah pada mempunyai anak, kita selalu hidup rukun.


Entah dari mana datngnya pikiran iblis, tiba-tiba anaku pinara ingin mengambil alih harta aji santang yang sudah dipecahkan pada anak-anaknya, ajeng kerta ningrum dan adiknya, nah dari situlah timbul perang saudara yang hebat, hingga tewasnya supala adi nata dan ajeng kerta ningrum, karena kelicikan dari gembong kala ireng yang hampir tewas diujung pedang supala adi nata, tapi kala ireng dengan liciknya dia menaburkan bubuk racun kodok pada wajah supala, persis mengenai matanya, nah disa'at itulah kala ireng menusuk supala dengan goloknya, terus ajeng kerta ningrum berlari memburu suaminya yang lagi meregang nyawa, sungguh biadab Kala ireng langsung membunuh pula ajeng kerta ningrum yang lagi merangkul suaminya dalam keada'an hujan air mata, begitulah garis besarnya perang saudara itu.'' Ucap Ki Layung.


Mendengar cerita yang sangat jelas dari ki layung, wira jaya langsung bergetar tubuhnya dengan mata merah menyala, dan wajah seperti besi yang terbakar merah membara, menahan amarah yang tidak bisa dihindari lagi.


Tanpa disadari wira jaya sudah terbawa dengan amarah dan dendamnya, ia melesat secepat kilat keluar dari bale-bale langsung menerjang pohon-pohon yang banyak berjejer di depan halaman rumahnya giri darma.


''Ciaaattt...ciat...ciaaattt, Bangsat Kala ireng, saya menyesal waktu itu tidak menghabisimu.'' Teriak wira jaya sambil menghantamkan senjata ampel kuningnya pada pohon-pohon itu.


Dahan-dahan dan ranting-ranting pada berhamburan terkena tebasan-tebasan dari senjata Ampel kuning itu, melihat begitu Dewi harum langsung melesat hendak menghentikan Amukan Wira jaya yang hilang kendali.


''Hentikan kakang, ingat ini dimana, apa kakang tidak malu meruksak pohon-pohon yang tidak berdosa.'' Teriak dewi harum sambil menerjang untuk menghentikan ulah suaminya itu.


Setelah amarahnya keluar semua, dan melihat istri tercintanya menghadang, wira jaya baru tersadar dari amarahnya itu, langsung duduk dengan merundukan kepalanya karena merasa malu dengan ulahnya itu.


Dewi harum, menghampirinya dengan memeluk erat suaminya itu.


''Kakang sudah diliputi dengan amarah dan dendam, kakang juga harus bisa menahan itu semua, apa kakang tidak malu banyak dilihatin oleh kakang giri darma dan teteh padma sari.


''Iya nyai ma'apkan kakang, kakang sudah gelap mata, rasanya kakang ingin mencari Kala ireng itu untuk membuat perhitungan lagi.'' Ucap wira jaya


''Kemungkinan besar kala ireng sekarang sudah tewas, waktu itu kan dibawa oleh kawanan raja wali.'' Ucap dewi harum.

__ADS_1


Dengan penuh rasa malu wira jaya menundukan kepalanya kebumi, dewi harum terus maraih kedua bahunya wira jaya dan mengangkatnya untuk berdiri, dengan penuh rasa cintanya dewi harum pada wira jaya, sebagimana dulu ia mencintai danang jaya yang kini telah tiada.


Karena bagi dewi harum, Wira jaya sama persis dengan kakanya danang jaya, lelaki hebat penuh tanggung jawab dan berjiwa kesatria, dewi harum terus membawa suaminya duduk di bale-bale, dengan roman yang masih diliputi oleh rasa malu setelah apa yang telah di lakukannya tadi.


Wira jaya pun berkata dan memohon ma'ap pada semua yang hadir dibale-bale itu.


''Kakang giri darma dan teteh padma sari beserta jala darma dan anyelir, ma'apkan atas sikapku tadi yang kurang kontrol emosi, jujur setelah ki layung menceritakan itu semua, tiba-tiba aku gelap mata, yang ada dalam dadaku sa'at itu hanya darah panas yang mengalir yang diliputi dengan amarah dan dendam.'' Ucap wira jaya sambil menundukan kepalanya pada lantai bale-bale.


''Tidak apa-apa wira, kakang juga mengerti perasa'anmu, mungkin karena kamu belum bisa terima dengan takdir yang sudah menimpamu, karena manusia itu sudah ditentukan hidup dan matinya harus gimana, maka dengan itu kamu harus bersabar atas kehendak dari sang pencipta.'' Ucap giri darma.


''Benar wira, kamu jangan terlalu diliputi dengan dendam, karena akan merugikan diri kamu sendiri.'' Ibu padma sari ikut bicara.


''Iya teteh, saya khilap.'' Jawabnya wira jaya.


Darma seta hanya tersenyum dan memaklumi apa yang telah pamannya yang sekaligus ayah tirinya itu lakukan.


Sedangkan ki layung yang sudah membaik dari luka dalamnya, merasa malu pada dirinya sendiri, karena ulah anaknya, persaudara'an jadi pecah belah, dan kilayung ingin memperbaiki hubungan persaudara'annya lagi dengan aji santang.


Ki layung bertekad untuk pulang ke kampung benda.


Dan setelah mereka makan-makan bersama dibale-bale kilayung berpamitan pada giri darma dan istrinya, untuk pulang ke kampung benda.


Darma seta dan wira jaya beserta dewi harumpun bertekad untuk menemui aji santang di kampung benda, mungkin sudah menjadi kebetulan atau mungkin sudah kehendak dari sang pencipta,, yang jelas mungkin sudah takdir bahwa kembalinya ki layung ke kampung benda harus dengan jalan pertarungan dulu dengan darma seta.


Giri darma, padma sari, jala darma dan nyi anyelir, sangat keberatan bila wira jaya dan dewi harum harus pergi meninggalkan desa halimun, tapi apa hendak dikata, giri darma sekeluarga, tidak bisa menghalang-halangi niat dan tekadnya mereka itu.


Sebelum ke kampung benda wira jaya dan yang lainnya ingin menemui dulu semua kerabatnya seperti yang tertulis dikitab elang.


Ingin mempersatukan kembali kerabatnya yang sudah terpecah belah, sebelum melaksanakan perjalanannya ke kampung benda, mereka hendak singgah dulu ke padukuhan halimun girang, ingin menemui bibinya yang bernama ratna sari dan aji sura pamannya.


Seperti halnya yang lagi berlansung di sebuah padukuhan, lagi ada suatu pertontonan atraksi akrobat, semua warga ramai memenuhi tempat itu, karena dijaman itu suatu pertontonan yang biasa digelar yaitu, seni pencak silat, akrobat, dan seni tarian ronggeng.


Sang ketua dari pagelaran seni akrobat itu maju kedepan dengan memegang pedang, dan mempertunjukan keahliannya dengan menyayat tangannya dengan pedang yang sangat tajam, semua penonton pada tegang karena melihat kilauan pedang yang tajam disayat-sayat pada seluruh tubuh ketua akrobat itu.


Setelah itu ketua akrobat menancapkan pedangnya dengan ujung yang runcingnya di atas, setelah itu kawannya yang maju, sebelum atraksi dimulai, tidak lupa memberi hormat dan salam pada para penonton.


''Mohon ma'ap sebelumnya, kami menunjukan ini bukannya sombong atau jumawa, tapi ini hanya sekedar buat hiburan, seguru se ilmu jangan ganggu ya.'' Ucap peserta akrobat itu.


Selepas itu ia melompat dengan tubuh memutar jungkir balik melesit ke atas, lalu duduk bersila di atas ujung pedang itu, yang seterusnya di ikuti oleh kawanan yang lainnya dengan hal yang sama menumpuk di atas orang itu, yang dua berdiri dengan kaki ditumpu pada paha yang lagi duduk bersila itu kiri kanan, dan yang satunya berdiri dengan kaki menapak dikedua bahu orang yang duduk bersila itu.


Sorak sorai dan tepuk tangan para penonton begitu meriah sekali.


''Hore-hore hore......'' Begitu suara yang terdengar dari para penonton.


Singkat cerita acara pun telah ditutup, bersama'an dengan salah satu dari personil debus itu menuruni panggung, bermaksud mau minta sumbangan dari para penonton, dan para penonton memberikan sekepeng dua kepeng uang sebagai rasa peduli pada seni debus itu, dan ada pula yang tidak memberikan sama sekali.


Selepas itu para penonton pun langsung pada bubar karena acara debusnya sudah selesai, mungkin para porsonil debus itu akan pindah tayangnya ke kampung sebelah.


Disa'at itu pula wira jaya, dewi harum, darma seta dan ki layung baru samapai diperbatasan padukuhan halimun girang, bersama'an dengan para porsenil debus itu melakukan perjalanannya untuk keliling tayangnya kekampung lain.


''Nah itu ada kereta kuda, bagaiman kalau kita tanya pada orang yang lagi ada didalam kereta kuda itu.'' Ucap wira jaya.


Setelah itu wira jaya bersama yang lainnya langsung melajukan kudanya lagi, disa'at sudah mendekati para rombongan debus itu, wira jaya bertanya pada sang kusir dari kereta kuda itu.


''Sampu rasun kisanak.'' Ucap wira jaya.

__ADS_1


''Rampes.'' Jawabnya.


''Numpang tanya kisanak, apa ini padukuhan halimun girang?.'' Tanya wira jaya.


''Iya benar sekali kisanak.'' Jawab seorang kusir itu.


''Apakah kalian tau dimana tempat kediamannya aji sura?.'' Wira jaya bertanya lagi.


''Ma'ap kisanak, kami cuma kebetulan lewat saja dipadukahan ini, kalau yang dimaksud kisanak itu, kami kurang tau, coba aja kisanak tanya pada warga barang kali kisanak dapat jawaban yang pasti.'' Jawab kusir.


''Ya sudah terima kasih kisanak.'' Ucap wira jaya.


''Sama-sama.'' Jawabnya.


Berhubung sang kusir itu tidak bisa memberikan jawaban atas pertanya'annya wira jaya.


Maka wira jaya beserta yang lainnya pun mengendalikan lagi kudanya masing-masing Menuju pada warga padukuhan yang masih ada Satu dua ditempat bekas para rombongan debus itu melakukan pentasnya.


Kini dewi harum mendekati tiga orang pemuda yang lagi berjalan membelakanginya.


''Sampu rasuun ki Sanak.'' Ucap dewi harum.


''Rampess.'' Jawab ketiga pemuda itu secara bersama'an sambil membalikan badannya.


''Numpang tanya, apa kalian kenal dengan paman aji Sura?.'' Tanya dewi harum.


''Oooh, Tentu saja kenal, Paman aji sura yang istrinya bibi ratna sari bukan.'' Jawabnya.


''Iya benar sekali, kalau boleh tau, rumahnya dimana.'' Kata dewi harum.


''Dari sini nini sanak lurus, pas ada jalan yang menikung ambil kiri, terus naik keatas jalan setapak nah disitu tempat tinggalnya paman aji sura, soalnya tidak ada rumah lagi cuma ada satu rumah disitu.'' Jawab salah satu dari mereka.


''Oooh... Terima kasih kisanak.'' Ucap dewi harum.


''Sama-sama.'' jawabnya.


Setelah itu dewi harum dan yang lainnya pun ikut melajukan lagi kudanya setelah dewi harum mendapat jawaban dari ketiga pemuda itu.


Dan terus mengikuti jalan seperti petunjuk dari ketiga prmuda itu, kini ke empat kuda mulai menaiki jalanan setapak jalanan yang menanjak dan licin karena tanahnya lembab seperti habis tersiram air hujan, laju kudapun tidak bisa kencang.


Setelah itu tibalah mereka semua didepan sebuah rumah panggung yang sangat tinggi, mereka lalu turun dari punggung kudanya masing-masing dan menuntun kudanya lalu di'ikat didahan-dahan pepohonan.


Begitu mereka mau menaiki tangga rumah panggung itu tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud dengan dilapisi tenaga dalam yang tinggi.


''Siapa kalian kisanaaakk.....'' Ucap Suara itu.


Wirajaya, darma seta, dewi harum dan ki layung begitu kaget, Karena kedatangannya sudah diketahui oleh penghuni rumah....


•••••••••♤♤♤♤♤♤♤♤••••••••••••


Bersambung eps 27


Nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya.


Klik 👍like, saran dan comentar, Favorit, ⭐⭐⭐⭐⭐ Ranting dan vote.

__ADS_1


Selamat membaca dan terima kasih.


__ADS_2