
Setelah kematian dua pendekar iblis bayangan, kini Tinggal dua lagi yang tersisa, masih terus berlangsung dalam pertarungannya melawan Darma seta dan Wira jaya.
Kelebatan senjata ampel kuning dan pedang perak laksana sebuah pelangi yang bersinar ditengah rimba.
Kedua iblis bayangan yang tersisa merupakan yang paling unggul tingkat kepandaiannya di banding dengan dua orang kawannya yang telah binasa itu.!
Darma seta dan Wira jaya yang ingin cepat menyelesaikan pertarungannya itu, karena perjalanannya menuju perguruan naga bintang masih lumayan jauh apa lagi dengan jalan kaki.
pendekar elang kuning dan pendekar elang perak kini meningkat kan jurusnya ke tingkat dua puluh, sebuah jurus elang, gabungan dari empat penjuru.
Serangan Darma seta dan Wira jaya lebih cepat dan agresip dari sebelumnya, hingga kedua tokoh aliran hitam iblis bayangan nampak terdesak.
Disa'at yang bersama'an pukulan Darma seta dan Wira jaya masuk menghantam dada dari kedua iblis bayangan dalam bobot seribu kati.
Kedua tubuh iblis bayangan tak kuasa lagi menahan akhirnya kedua tubuh penghuni hutan gonggo itu terpental jauh, menimpa pepohonan.
Blak
Blaaak..
Kedua tubuh iblis bayangan kini jatuh ke tanah, dengan luka membiru di kedua dada tokoh aliran hitam tersebut.
Di sa'at Darma seta mau melepaskan serangannya dengan sebuah permainan pedang peraknya, mendadak berhenti ketika ada suara.
''Tahaan.. Seta, janganlah kau habisi lawan yang sudah tidak berdaya lagi, itu sikap seorang pengecut.'' Teriak Dewi harum.
''Tapi ibuk kedua iblis ini, sudah banyak membinasakan orang-orang yang tidak berdosa.'' Jawab Darma seta.
Dewi harumpun lalu mendekati anaknya (Darma seta), kemudian memberi wejangan pada anaknya.
''Iya seta, ibuk tau itu, tapi biarlah semesta yang menghukum mereka, kita selaku manusia tidak boleh semena-mena, biarpun kedua iblis ini orang durjana.'' Ucap Dewi harum.
Berhubung penghuni hutan gonggo yang terkenal sangat sadis dalam membunuh siapa saja yang sudah melewati hutan itu, kini sudah tiada lagi.
''Sekarang kamu buka ilmu mega mendung, yang kau gunakan untuk melindungi kuda-kuda kita, biar perjalanan kita ke perguruan naga bintang cepat sampai.'' Tutur Dewi harum.
Dari jarak yang lumayan jauh, Darma seta menurunkan tubuh dan duduk dengan merapatkan kedua kakinya, lalu ke dua telapak tangannya di putar, lalu di tarik ke depan dada, kemudian di dorongnya.
Ternyata Darma seta lagi melepaskan ilmu mega mendung yang dipakai untuk menyelimuti ke tiga kuda itu dari pandangan mata manusia, yang punya niat tidak baik.
Kini awan hitam tebal yang menutupi ketiga kuda itu perlahan-lahan memudar dan menipis sedikit demi sedikit.
Setelah itu Darma seta menarik napas lalu di buangnya perlahan melalui mulut.
__ADS_1
''Sudah paman, panggilah ke tiga kuda itu dengan suitan.'' Ucap Darma seta.
Selepas itu Wira jaya menyelipkan kedua jarinya di anatara dua bibir, lalu keluar suara sebuah suwitan yang melengking
Wiiitt
Weiit weiiiittt
Suara melengking, meluncur keluar dari mulutnya Wira jaya, lalu terdengar oleh ke tiga kuda yang lagi nyantai dinpinggiran tepian hutan gonggo.
Sang kuda begitu mendengar suara itu, lalu mendengus dan meringkik, kemudian berlari memburu pada arah suara itu.
Keteprok keteprok keteprok....
Ke tiga kuda berlari me masuki hutan gonggo, dan anehnya yang sebelumnya ke tiga kuda itu enggan untuk memasuki hutan itu, kini seperti tidak ada lagi yang di takutkannya.
Tak lama kemudian ke tiga kuda tersebut sudah sampai pada majikannya yang lagi berdiri gagah seperti menantang dunia.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta lalu memegang tali kekang kudanya masing-masing, Lalu di elusnya kepala kuda di bagian mukanya.
''Nah sekarang yang kamu takutkan sudah tidak ada lagi.'' Ucap Dewi harum.
Sang kudapun meringkik sambil menunudukan kepalanya mendekati wajah Dewi harum.
Kemudian setelah itu mereka pun langsung menaiki punggung kudanya, kuda di pecut, lalu berlari di antara sela-sela pepohonan dan gelapnya hutan gongo.
Kuda terus berpacu menyusuri jalan setapak di dalam hutang gonggo yang begitu luas.
Hea
Hea
Hea
Heaaa....
Ketiga pendekar elang terus berlari dengan ketiga kudanya yang tangguh dan gagah berani.
Tidak lama kemudian Wira jaya, Dewi harum dan Darma set sudah mulai mendekati ke tepian hutan sebelah timur, nampak hari sudah mau memasuki senja, sinar lembayung merah jingga nampak sudah menggurat di atas cakrawala bumi nusantara.
Ketiga pendekar elang terus memacu kudanya ke arah timur, menuju perguruan naga bintang, di bawah kaki gunung galunggung.
Kini haripun sudah gelap, para binatang malampun sudah keluar dari tempat persembunyiannya, untuk melakukan kegiatannya di malam hari.
__ADS_1
Sementara ke tiga kuda yang lagi di tunggangi oleh ketiga pendekar elang terus berpacu di antara gelapnya malam.
Kelebatan-kelebatan bayangan tiga orang berkuda terus menembus dalam kegelapan malam, di iringi dengan angin sepoi-sepoi menerpa wajah.
''Kakang gimana kalau kita cari sebuah penginapan.'' Ujar Dewi harum sambil terus memacu kudanya.
''Iya nyai, di bawah sana ada sebuah pemukiman penduduk siapa tau ada yang menyewakan penginapan untuk kita beristirahat.'' Ujar Wira jaya.
Sedangkan Darma seta terus aja memacu kudanya sambil memasang panca indranya.
Ketika sebuah benda langit yang bundar dan bersinar terang muncul di malam hari, ketiga pendekar elang telah memasuki perkampungan, dan laju kudapun kini mulai pelan.
''Kita cari tempat penginapan.'' Ujar Wira jaya.
''Cari dimana kakang?." Tanya Dewi harum.
''Kita tanyakan pada penduduk sini, nah disana sepertinya ada beberapa warga penduduk lagi pada kumpul.'' Tutur Wira jaya.
Kemudian Wira jaya memacu kudanya mendekati pada beberapa orang yang lagi pada berkumpul, Dewi haru dan Darma seta pun mengikutinya dari belakang.
''Sampu rasun.'' Sapa Wira jaya.
''Rampess.''
''Ma'ap ki sanak, kami kemalaman, apa di disini ada yang suka menyewakan penginapan?.'' Tanya Wira jaya.
''Kisanak hendak kemana?.'' Tanya salah satu warga.
''Kami lagi melakukan perjalanan ke gunung galunggung, dan kami pingin beristirahat dan bermalam dulu, barang kali ada yang menyewakan penginapan.'' Ujar Wira jaya.
''Ooh begitu, ya sudah ki sanak ikut saya.'' Ujar salah seorang lelaki bertubuh tegap, sambil melangkahkan kakinya.
Wira jaya. Dewi harum dan Darma seta pun mengikuti lelaki itu, menuju ke sebuah rumah panggung dengan kolongnya yang tinggi, Lalu lelaki itu menyuruh ke tiga pendekar elang, untuk menyimpan kudanya dibawah kolong rumah bagian belakang.
Lalu setelah itu di ajaknya naik ke atas, setibanya di atas lelaki itu berkata.
''Nah inilah penginapan yang ki sanak butuhkan, ki sanak boleh menginap di sini sesuka hati." Ujarnya.
"Ooh sebuah penginapan yang cukup besar dan resik, ini penginapan ki sanak punya?." Tanya Wira jaya.
"Iya, ini penginapan saya, yang akhir-akhir ini sangat sepi pengunjung, makanya ki sanak kalau mau bermalam di sini silahkan se suka hati kalian.'' Ujarnya.
''Kami cuma butuh untuk malam ini saja." Ucap Wira jaya.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang saya tinggal dulu, apabila kalian butuh sesuatu, tinggal panggil saja mang Rusdi salah seorang pegawai saya." Ujarnya.