PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti . eps 70


__ADS_3

Setelah sekian lamanya Raden Sedayu, mencari dan menyusuri di kawasan pantai selatan, akhirnya Raden Sedayu dapat mencium keberadaan tiga pendekar elang, di sebuah penginapan kampung dukuh, dengan melihat ke tiga kudanya yang sudah hapal betul. "Sudah bisa di pastikan bahwa Kakang Wira, teteh Harum dan rayi Darma seta berada di penginapan ini." Tutur Raden Sedayu.


Kemudian Raden Sedayu menghentikan laju kudanya setelah ia memasuki halaman sebuah penginapan tersebut, dan turun dari atas punggung kudanya, lalu berjalan menuju pada kediamannya pemilik penginapan yang bergandengan dengan penginapan itu. "Sampu rasun." Sapa Raden Sedayu.


Kemudian pemilik penginapan yang lagi duduk di luar mejawab sapa'an dari Raden sedayu.


"Rampes." Jawabnya.


"Ma'ap apakah bapak pemilik dari penginapan ini?." Tanya Raden Sedayu.


"Iya betul, ada yang perlu saya bantu?." Pemilik penginapan itu balik bertanya.


"Saya ada perlu sama ke tiga pendekar yang membawa kuda itu." Ujar Raden Sedayu meluruskan telunjuknya ke arah tiga kuda yang berada di samping penginapan itu.


"Ooh itu, jadi ki sanak mengenalinya." Ucap pemilik penginapan itu.


"Iya pak mereka teman saya, apakah saya boleh menemuinya." Usul Raden Sedayu.


"Oh tentu saja boleh, kisanak tunggu di ruangan tunggu khusus, biar nanti pegawai saya yang akan memanggil mereka." Ujar pemilik penginapan sambil memanggil pegawainya itu.


"Dir Sudir." Panggil pemilik penginapan terhadap pegawainya yang bernama Sudir.


"Iya juragan." Jawab Sudir sambil bergegas menemui Juragannya itu.


"Ada apa Juragan?." Ujar Sudir lanjut bertanya.


"Kamu tau dengan tiga orang pendekar yang menyewa kamar nomor lima dan nomor tujuh?." Tanya Juragannya.


"Iya tau juragan." Jawab Sudir.


"Sekarang panggil ditunggu sama temannya di tuangan tunggu." Perintah Juragannya.


"Baik Juragan." Jawab Sudir, langsung bergegas pergi menuju kamar yang di sewa oleh Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta.


Setibanya di depan pintu kamar nomor Lima, sudir mengetuk pintu sambil menyapa.


"Sampu rasun, permisi tuan." Sapa Sudir.


Kemudian dari dalam terdengar suara lelaki yang menjawab bersama'an dengan terbukanya pintu. "Rampes, paman' ada apa?." Tanya lelaki yang berpakaian serba kuning yang tak lain adalah Wira jaya.


"Tuan di tunggu sama teman tuan di ruangan tunggu." Jawab Sudir.


"Siapa Paman?." Wira jaya lanjut bertanya.


"Tidak tau tuan, ia cuma menyebutkan temannya tuan." Jawab Sudir langsung bergegas undur diri dari hadapannya Wira jaya.


Wira jaya lalu memanggil istrinya Dewi harum.


"Nyai ada yang menemui kita kata pegawai penginapan ini." Ujar Wira jaya.


"Siapa kakang, saya ikut." Ujar Dewi harum.

__ADS_1


"Kata pegawai penginapan, tidak menyebutkan namanya, cuma bilang dia temannya kita." Ucap Wira jaya.


"Ya sudah kita temui saja dulu, siapa tau dia bawa kabar penting untuk kita." Ujar Dewi harum.


Wira jaya dan Dewi harum pun langsung bergegas pergi keruangan yang di sebutkan oleh Sudir.


Tidak lama kemudian Wira dan Harum telah tiba disebuah ruangan tunggu, nampak terlihat oleh Wira dan Harum, seorang lelaki gagah masih muda berpakaian rapi kebangsawanan telah duduk.


"Bukan kah itu Raden Sedayu." Ucap Wira.


"Iya betul." Bisik Dewi harum.


Wira dan Harum berjalan mendekati Raden Sedayu yang tengah asik duduk sambil meminum air teh hangat di gelas bambu.


"Wah waah, rupanya ada bangsawan dari timur, ada apa Raden menemui kami." Ujar Wira.


"Oow kakang Wira, Teh Harum, silahkan duduk, ada kabar yang mesti saya sampaikan pada kalian, mana Darma seta?." Ujar Raden Sedayu yang di akhiri dengan sebuah pertanya'an.


"Seta lagi istirahat, kabar apakah itu yang Raden bawa?." Dewi harum balik bertanya..


"Begini kakang Wira dan teh Harum, kini tiga setan bayangan lagi mencari kalian." Ujar Raden Sedayu.


Dewi harum dan Wira jaya tersontak kaget dengan kabar yang di bawa oleh Raden Sedayu, dan tersenyum tipis sambil berkata.


"Hehee, kamu suka bercanda saja Raden." Ujar Wira tidak percaya, karena setaunya tiga setan bayangan telah binasa dalam peratungan tempo lalu.


"Saya sedang tidak bercanada kakang, mungkin kalian mengira tiga setan bayangan telah tewas kan." Ujar Raden Sedayu.


"Asal kakang dan teh Harum tau. Tiga setan bayangan telah di tolong oleh kakek giling wesi, dan dengan ilmu rawa rontek nya, tiga setan bayang telah hidup kembali, dan akan mencari kalian bertiga." Jelas Raden Sedayu.


"Sakti juga rupanya kì giling wesi, bisa menghidupkan kembali, apa mungkin tiga setan bayangan itu bekum mati cuma luka parah saja mungkin." Pungkas dewi harum ikut bicara.


"Bisa jadi begitu teh Harum." Ujar Raden Sedayu.


Selepas itu Dewi harum dan Wira jaya undur diri dari Raden Sedayu mau istirahat dulu untuk melepaskan lelahnya. Raden Sedayu pun akhirnya menyewa satu kamar untuk menyertai dalam petualangannya bersama tiga Pendekar elang besok psgi.


.....................


Singkat cerita.


Ke esokan harinya Tiga pendekar elang dan Raden Sedayu telah melakukan lagi perjalanan nya, mereka memacu kudanya k arah barat menuju kademangan.


Menurut kabar berita yang tertangkap oleh Tiga pendekar elang dan Raden sedayu, di kademangan,


telah terjadi huru hara, adanya penyerangan dari sekelompok orang yang ingin menguasai wilayah kademangan.


Di dalam sebuah perjalanannya tiga pendekar elang dan Raden Sedayu sempat terhenti, karena di hadang oleh se orang penunggang kuda yang berpakaian rapi seperti para pejabat pemerintahan kademangan.


"Berhenti Pendekar." Teriak Suara yang menyerukan untuk berhenti pada tiga pendekar elang dan Raden Sedayu.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta serta Raden Sedayu mendadak menarik tali kekang kuda, sang kuda pun meringkik dengan kaki depannya agak terangkat, lalu tiga pendekar elang dan Raden Sedayu menoleh ke arah Suara yang memanggilnya itu. "Siapa dia kakang?." Tanya Dewi harum berbisik lirih di telinga Wira jaya.

__ADS_1


"Kalau di lihat dari cara berpakaiannya, sepertinya ia pejabat pemetintahan." Jawab Wira jaya.


"Itu adalah cara berpakaian kademangan." Tutur Raden Sedayu.


kemudian se orang penunggang kuda itu berjalan dengan kudanya mendekati tiga pendekar elang dan Raden Sedayu.


"Ma'ap Pendekar, kalau kedatangan saya mengganggu perjalanan kalian."


"Ada apakah tuan menghentikan perjalanan kami?." Tanya Raden sedayu.


"Apakah kalian para pendekar elang dari timur?." Orang itu balik bertanya.


"Maap tuan kami cuma orang biasa, tapi orang-orang memanggil kami, seperti yang telah tuan utarakan barusan." Jawab Wira jaya.


"Sungguh bijaksana sekali dan suka merendah, saya sudah tau semua sepak terjangmu pendekar, makanya saya sudah ber hari-hari mencari kalian." Ujarnya.


"Ada perlu apakah tuan, sampai mencari kami?." Tanya Dewi harum.


"Bisa kita bicara dulu sebentar, saya sangat membutuhkan kalian ber'empat ini." Ucapnya.


"Ya sudah, kita bicara di sana saja, sepertinya ada sebuah gubuk, sangat tidak pantas membicarakan suatu hal yang penting di atas punggung kuda." Ujar Wira jaya.


"Ya sudah kenalkan dulu, saya Wiku jara." Ujarnya memperkenalkan dirinya pada tiga pendekar elang dan Raden Sedayu.


Setelah itu mereka berjalan menuju sebuah gubuk yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.


Setibanya di sebuah gubuk, mereka pun turun dari punggung kudanya masing-masing dan duduk di balai-balai bambu yang sudah licin, pertanda bahwa di gubuk itu sering kali di singgahi orag.


Lalu wiku Jara mulai membicarakan maksud dan tujuannya mencari ke tiga pendekar elang.


"Begini Pendekar maksud dan tujuan saya sampai mencari kalian, saya mau minta tolong atas apa yang telah menimpa di kademangan." Ujar Wiku Jara.


"Lantas apa Tuan, yang telah terjadi di kademangan?." Tanya Darna seta.


"Kini kademangan lagi di kuasai sitangan waja, siapa saja yang membangkang pada perintahnya ia akan mengalami hukuman yang sangat kejam." Jelas Wiku Jara.


"Terus kenapa Wiku jara sendiri tidak melakukan perlawanan?." Wira jaya bertanya.


"Sitangan Waja terlalu kuat untukku, makanya saya mencari kalian sampai berhari-hari dan saya mendengar kabar kalian berada di pantai selatan, kebetulan kita berjumpa di sini." Jawabnya.


"Iya memang kita ini tadinya berada di kawasan Pantai selatan, dan kami ber'empat memang mau lewat kademangan, ya mungkin semesta telah mempertemukan kita di sini, lalu sekarang kita kemana mau langsung ke kademangan apa gimana." Ujar Wira.


"Kalian kerumah saya saja dulu."


"Baiklah, kalau begitu."


Kemudian mereka pun beranjak dari tempat duduk di sebuah gubuk, dan memburu pada kudanya masing-masing. Dan setelah itu mereka pun langsung melanjutkan lagi perjalanannya menuju kademangan cempaka, setengah hari lagi perjalanan mereka untuk sampai di Kademangan Cempaka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2