PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti Eps 79


__ADS_3

Tubuh ke tiga setan bayangan, terpental jauh, dan sebagian anggota tubuhnya terlepas dari badan, dengan darah segar keluar dan mengalir membasahi tanah, tapi sungguh dahsyat dan hebatnya ilmu Rawa Rontek, sehingga membuat anggota tubuh yang terlepas dari badan, seperti hidup dan melesat menyatu kembali pada anggota tubuhnya masing-masing.


Rasa sombong dan angkuh kini semakin memperkuat ke yakinan mereka bahwa dirinya yang nomor satu di dunia persilatan, karena tidak ada ilmu yang sanggup untuk membunuhnya. Begitu pikirnya mereka.


Ketiganya kini telah bangkit dan berdiri, sambil berlaga dan bertulak pinggang.


"Hahahaa....Ayo keluarkan lagi ilmu kedidjaya'an kalian yang paling hebat." Cibirnya dengan rasa sombong.


Wira jaya, Dewi Harum dan Darma Seta, tersenyum menyeringai dengan tatapan tajam terus memandang mereka dengan sangat intens.


"Ingat wahai manusia iblis, di dunia ini tidak ada ke kuatan yang melebihi kekuatan semesta, setiap kesaktian pasti ada kelemahannya." Hardik Wira jaya.


"Buktinya kesaktian kalian yang ke sohor itu, tidak bisa membunuh kami." Ejek Tiga Setan Bayangan.


"Hahaha.. Kalian lupa ya dengan kelemahan ilmu kalian, kami bisa saja membunuhmu kalau kami mau, tapi kali ini kami masih berbaik hati kepada kalian bertiga." Cetus Darma seta.


Tiga setan bayangan hanya tertawa lepas sambil saling pandang sesama temannya, lalu berkata.


"Omong kosong, kalau pun kalian tau kelemahan kami, pasti semenjak pertarungan di hutan itu kalian tidak akan membiarkan kami hidup." Ujar Tiga Setan Bayangan.


"Lantas sekarang kalian sudah bosan hidup begitu, baiklah sekarang juga kami akan mengakhiri hidup kalian bertiga." Seru Darma seta.


Setelah itu ke tiga pendekar elang langsung melesat menyerang Tiga Bayangan Setan dengan senjatanya, Ampel kuning, Pedang merah dan Pedang Garuda berkelebat dengan cepat Mengancam keselamatan mereka.


Tiga setan bayangan tak kalah cepatnya menangkis setiap serangan-serangan senjata tiga pendekar elang dengan senjata khas mereka sebuah tongkat besi setan bertanduk.


Trang


Trang


Trang.


Suara keras dari benturan senjata begitu nyaring terdengar, sehingga mengundang seluruh warga Dusun Batu Gambir pada berdatangan menyaksikan pertarungan itu.


Daun-daun berterbangan terkena sabetan dari senjata mereka.


Darma seta melesit ke udara, memancing lawannya untuk mengejar dan bertengker di atas dahan kayu dengan sangat entengnya.


Setan ireng yang menjadi lawannya Darma seta langsung melompat ke udara mengejar Darma seta sambil berkelebat mengayunkan Tongkat Besi setan bertanduk.


Trang.


Darma seta menangkisnya dengan Pedang Garuda Cakra Buana.


Sungguh sebuah ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna, pertempuran di atas dahan kayu berlangsung dengan sengitnya, Hingga berlangsung dua puluh Jurus, Setan Ireng nampak kewalahan menghadapi jurus Garuda winata tingkat dua belas dari Darma seta, karena semakin tinggi tingkatan jurus Garuda Winata maka semakin hebat pula kekuatannya apalagi pedang Garuda yang seperti haus akan darah seperti hidup dan terus mendesak lawan, hingga akhirnya Tongkat besi setan bertanduk tak kuasa menahan kekuatan dari pedang garuda.


Senjata andalan dari setan ireng kini patah menjadi dua.


Setan ireng terbelalak kaget ketika senjatanya hanya tinggal sepotong, lalu tanpak di sadari pedang garuda melesat dengan cepat menebas leher dari setan ireng.

__ADS_1


Siuuuukkk.


Clerk cek.


Kini kepala setan ireng lepas dari tubuhnya, dengan sangat cepat Darma seta menangkap kepala setan ireng itu lalu di lilit oleh kain sampai setebal mungkin agar darahnya tidak sampai menetes ke bumi.


Sementara tubuh setan ireng yang sudah di totok jalan darahnya masih menyangkut di dahan, kemudian setelah itu Darma seta menebas dahan kayu yang sekiranya kuat untuk memanggang tubuh setan ireng yang sudah tanpak kepala, karena dengan cara begitulah penggenggam ilmu Rawa Rontek tidak bisa hudup kembali sampai darahnya tidak jatuh kebumi.


Dengan ke kuatan pedang Garuda, darah yang memerah di kain yang di pakai buat membungkus kepala setan ireng seperti tersedot habis.


Lalu setelah itu Darma seta melompat ke bawah sambil menenteng kepalanya setan ireng, dan di tunjukan pada ke dua temannya, setan merah dan setan hijau yang masih bertarung melawan Dewi Harum dan Wira jaya.


"Hentikan pertaungan kalian." Seru Darma seta.


Dengan ke kuatan tenaga dalam Darma seta, setan merah dan setan hijau langsung melompat ke belakang menghentikan serangannya lalu menoleh pada Darma seta yang lagi menenteng kain yang membungkus kepala setan ireng.


"Coba kalian perhatikan ini kepala siapa? siapa bilang yang punya ilmu Rawa Rontek tidak bisa mati, dengan kehendak sang pencipta Setan Ireng kini telah binasa, apa kalian ingin bernadib sama, Hahahaha." Ujar Darma seta tertawa lepas.


Setan Merah dan Setan Hijau lalu mendonggakan wajahnya ke atas pohon, nampak jelas terlihat tubuh Setan Ireng telah terpaku di atas dahan kayu.


"Keparat kau elang perak.. Heaaaa..." Setan merah langsung melesit ke atas pohon ingin membebaskan tubuh setan ireng yang terpaku di dahan kayu, tapi belum saja ia sampai di atas dahan, sekelebatan sinar perak telah melesat dan menghantam tubuh Setan Merah.


Siuuurrrr..


Deeasss.


Auuuugggh


Kini ke tiga pendekar elang telah menyarungkan kembali senjatanya.


Sementara di sisi lain, para Warga Dusun Batu Gambir yang sedari tadi bersembunyi di balik semak belukar menonton pertarungan tiga pendekar elang dan tiga bayangan setan, beranjak dari tempat persembunyiannya memberi semangat pada tiga pendekar elang.


"Horee..Hidup Kakang Wira..Hidup Teteh Harum...Hidup Darma seta."


Wira jaya, Dewi Harum dan Darma Seta kaget, ketika mendengar sorak dorai dari warga, yang tdak menyangka pertarungannya itu telah di tonton oleh banyak orang.


Kemudian para warga, yang sedari tadi bersembunyi kini beranjak dari tempat persembunyiannya, memburu dan menyambut pada tiga pendekar elang.


"Pertarungan yang sangat luar biasa, aku merasa bangga bahwa Dusun Batu Gambir kini telah mempunyai pendekar didjaya, apa kabar kakang Wira, Teh Harum dan Darma seta." Sapa seorang lelaki yang sebaya sama Wira.


Wira Jaya terbelalak kaget seperti lagi mengingat wajah lelaki itu, dan selang beberapa menit ia langsung ingat.


"Uluuuh.. Ini kamu Pranata." Sambut Wira jaya sambil memeluk tubuh lelaki itu yang tak lain pranata salah satu temannya dulu.


"Iya ini aku, temanmu dulu dikala kita berladang, dan mengembala kambing." Balas Pranata.


"Wah ternyata kita sudah tua ya, punya anak berapa?." Tanya Wira jaya.


"Ku di karuniai anak tiga, lalu kamu sendiri sudah punya ke turunan dari teh Harum?." Pranata balik bertanya.

__ADS_1


"Ku belum di percaya punya anak." Jawab Wira.


"Yang sabar mungkin belum saatnya."


Setelah itu pak kepala kampung langsung mempersilahkan Tiga pendekar elang untuk kembali duduk di balai-balai sambil minum dan makan makanan seadanya.


sementara kepalanya setan ireng yang di bungkus oleh kain di gantungkan di atas dahan kayu, untuk di jauhkan dari raganya yang terpanggang di atas pohon yang sangat tinggi.


"Mau kau bawa kmana itu kepalanya setan ireng seta?." Tanya Wira jaya.


"Ku akan menguburnya di atas puncak gunung sembung paman." Jawab Darma seta.


"Kalau begitu jangan sampai di lama-lama, tapi ingat jangan sampai menyentuh tanah, harus pakai peti kayu yang tahan ratusan tahun." Ujar Wira jaya memberi saran.


"Iya betul Paman, kalau sudah ratusan tahun setidaknya hanya tinggal tulang tengkorak nya saja yang tersisa, terkecuali tersiram darah, maka ia akan bangkit lagi dalam bentuk yang menakutkan." Ujar Darma Seta.


Selepas itu Darma seta pun langsung melompt ke ats punggung kuda dengan membawa buntelan kain yang berisi kepalanya Setan ireng. Kuda di pacunya dengan sangat cepat, menuju ke utara timur yaitu gunung sembung.


Hea


Hea


Hea


Kuda terus di pacu menyusuri hutan ladang, dan jalanan yang terjal dan berbatu.


Hingga tidak lama kemudian Darma seta telah tiba di bawah kaki gunung sembung, sejenak ia termenung seperti lagi mengingat sesuatu yang pernah terjadi dan di alaminya.


"Dua kali ku menginjakan kaki di sini, kalau melihat ke sebelah sana nampak masih jelas pertarungan ku dulu dengan ki Layung, yang ternyat masih ada ikatan keluarga dari kakek Aji Santang." Gumam Darma seta dalam hati.


Lemudian Darma seta memacu kudanya dengan pelan karena jalan yang ia laluinya sudah mulai menanjak.dan penuh dengan lempengan batu cadas kapur.


Setelah itu Darma seta menghentikan laju kudanya sambil berkata pada sang kuda.


"Kamu tunggu dulu di sini ya, ku mau naik keatas puncak gunung ini." Gerutu Darma seta berkata pada sang kuda sambil mengelus elus kepala sang kuda.


Heaaaa


Wes wes wes.


Darma seta melesit ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Setelah tiba di atas gunung sembung, Darma seta menyiapkan kayu dan di kupasnya dengan pedang Garuda di bikin papan dengan ketebalan sepuluh senti untuk di bikin sebuah peti berukuran kecil dan di pasak menggunakan bambu duri, dengan bantuah sebuah getah kayu kalijaran, setelah petinya jadi, lalu kepala setan ireng di masukan dan di tutup rapat pakai papan kayu yang daya tahannya bisa mencapai ratusan tahun.


Kemudian Darma seta menggali tanah sedalam-dalamnya.


Selepas itu sebuah peti lalu dimasukan kedalam lubang yang sudah di gali dan di timbun lagi oleh tanah dan bebatuan besar.


"Berdiamlah kau di sini Setan bayangan, dan jangan pernah lagi muncul kedunia." Ujar Darma seta bermonolog.

__ADS_1


Selepas itu, setelah semua selesai ia pun langsung turun melompat ke bawah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, dengan sangat entengnya Darma seta langsung duduk di atas punggung kuda. Sang kuda pun meringkik senang karena majikannya sudah kembali dengan selamat.


__ADS_2