
Kimunding wesi yang memimpin laga pertarungan itu, sudah mulai memanggil para petarung yang akan berlaga adu kepandaiannya
Tepuk tangan dari murid-murid yang lain cukup memeriahkan suasana di arena itu.
Dan yang membuat suasana tambah ramenya, karena ki munding wesi memanggil para ahli tepak gendang pencak silat.
Dan para peserta pertarungan itupun tambah bersemangat karena iringan dari sebuah tepukan gendang dan suara terompet, yang seakan membakar darah para petarung.
Ki munding telah memanggil peserta pertamanya yaitu jarpat dan kadu denta.
Keduanya telah saling berhadapan dengan membangun sebuah kuda-kuda yang kokoh, setelah mendengar perintah dari ki munding wesi keduanya pun langsung melancarkan serangannya masing-masing, suara desingan pukulan berikut sabetan dan sapuan dari kaki terus gencar dilakukan dari kedua petarung itu, dengan taktik dan siasat dari kedua petarung dengan ambisi ingin saling menjatuhkan.
Peratrungan dibabak kedua lebih seru darinpada pertarungan sebelumnya.
Jarpat dengan agresip terus menggempur kadu denta.
Dijurus ketiga jarpat memutarkan tubuhnya melesat keudara, Kadu dentapun tidak tinggal diam, ia langsung mengejar jarpat secepat kilat sambil melancarkan serangannya, tubuh kadu denta memutar dalam jurus halilintar jagat, sungguh kagetnya jarpat dengan yang dilakukan Kadu denta, belum sempat Jarpat merubah jurusnya, jurus kadu denta sudah menghantam dengan cepat.
Buk buk buukk....
Jurus halilintar jagat mendobrak jurus pertahanannya jarpat.
Blaaaaakkkk....
Tubuh jarpat terpental dan jatuh ditanah, jarpat sempat merasakan sesak di ulu hatinya hingga beberapa menit, disa'at munding wesi lagi melakukan perhitungan di hitungan ke enam, jarpat langsung bangun, dan langsung memasang kuda-kuda.
''Jangan berbangga dulu kau kadu denta, saya belum menyerah.'' Ucap jarpat.
''Hai kawan ngomong apa kau, saya tidak merasa bangga sedikitpun, ini kan cuma uji keterampilan saja, bukan pertarungan hidup atau mati, tenanglah kawan.'' Jawab kadu denta.
''Jangan banyak omong kau, sekarang ayo lanjutkan lagi uji tanding kita, siapa yang lebih kuat.'' Ucap jarpat.
''Ayo dari tadi saya menunggu kau bangun, kalau saya mau pas kamu terjatuh sudah ku habisin.'' Ucap kadu denta memancing emosinya jarpat.
''Kurang ajat kau.. Ciaaaaaaattt.'' Jarpat langsung melancarkan serangannya lagi, sebuah serangan yang sangat cepat mengarah pada pada kadu denta.
Kadu denta sangat waspada dengan serangan yang dilancarkan oleh jarpat, dengan kadu menurunkan jurusnya ke jurus halilintar bayangan, jarapat tanpa disadari bahwa jurus halilintar bayangan berguna untuk menipu lawan,
Karena jarpat sudah diliputi dengan amarahnya secara tidak disadari pukulan jarpat menghantam tubuh dari bayangannya kadu denta.
''Mampus kau kadu denta.'' Teriak jarpat.
Buk buk des des....
Pukulan jarpat bertubi-tubi menghantam bayangan dari kadu denta.
Sementara kadu denta tertawa terbahak-bahak melihat ulahnya jarpat yang sangat bodoh.
''Hahahahahaaaaa... Hai kawan percuma kau hancurkan juga, cuma buang-buang tenaga saja.'' Teriak kadu denta.
Sementara jarpat, begitu mendengar tawanya kadu denta sangatlah terkejut, dan langsung membalikan badannya.
''Sialan saya sudah ditipunya.'' Berkata jarpat dalam hati.
''Jarpat.. Jarpat, Kau terlalu bodoh untuk menjadi lawanku.'' Kadu denta mengejek.
Sementara ki darpal, munding wesi dan lingga tole, begitu mengagumi dengan kepintarannya kadu denta, bisa menggunakan jurus dasrnya dengan menipu lawan.
Kidarpal pun berbisik pada munding wesi dan lingga tole.
''Hebat.. Kadu denta, sangat pintar dan cerdik, inilah sosok pendekar yang saya butuhkan ki munding dan kau ki lingga.'' Ucap Ki darpal.
''Iya benar ki, dari sejak pertarungan babak pertama, kadu denta selalu menang dengan kepintarannya dalam memainkan jurus-jurus halilintar.'' Jawab ki lingga tole.
''Dan yang saya unggulkan cuma tiga, apa kalian bisa menilai sama seperti saya, munding wesi, lingga tole?.'' Tanya ki darpal
''Iya ki, ada tiga yang menjadi pilihan saya, yaitu kadu denta, tirta dan murtala.'' Jawab Ki munding dan ki lingga.
''Hebat hebat, ternyata batin kalian sangat hebat.'' Ucap ki darpal sambil menepuk-nepuk bahunya ki munding dan ki lingga.
Setelah itu, ki darpal, munding wesi dan lingga tole, pokus lagi pada pertarungan kadu denta dan jarpat, nampak terlihat jarpat sudah terdesak oleh kadu denta, didalam lima jurus kadu denta tidak memberi kesempatan pada lawannya, hingga di akhir jurus kelima jarpat nampak seperti kelelahan dan disa'at itu pula kadu denta bisa melancarkan serangannya bertubi-tubi, jarpat seperti mati kutu dibuatnya, karena kepintarannya kadu denta mengkolaborasikan jurus-jurusnya.
Secepat kilat kadu denta melesat, dengan sabetan jurus halilintar menembus sukma menggempur tubuhnya jarpat.
Hiuuuukk.. Duk duk duk.
__ADS_1
Gemburan telapak tangan kadu denta mendobrak dadanya jarpat secara bertubi-tubi.
jarpat terpental sambil menyemburkan cairan merah segar dari mulutnya, tubuh Jarpat terkapar ditanah, dan tidak berdaya lagi.
Ki mundingpun memerintah kan murid-muridnya yang lain, untuk membawa tubuh jarpat keluar dari arena.
Dan Pertarungan secara murni di menangkan oleh kadu denta.
Sorak sorai dan tupukan tangan, dari murid-murid yang lainnya, membuat suasana tambah memanas, yang di iringi dengan tepukan gendang dan lantunan suara terompet, semakin menggetarkan jantung para peserta yang belum mendapat giliran.
Pertarungan terus berlanjut, suasana tambah memanas dan menegangkan, satu persatu para peserta sudah memasuki arena, hingga akhirnya pertarunganpun sudah selesai.
Ki darpal pun maju ketengah-tengah arena, memberikan ulasan dan pesan bagi para muridnya yang masih belum matang untuk naik ke tingkat berikutnya.
''Saya selaku ketua sekaligus guru dari kalian semua, bagi para murid-muridku yang tidak lolos dalam pemilihan ini, kalian janganlah berkecil hati, teruslah kalian berlatih, dan contohlah pada teman-teman kalian yang sudah berhasil dihari ini, seperti kadu denta, tirta, murtala, Rawit dan sudarta, mereka semua petarung yang hebat dan cerdas.'' Begitu Ucap ki darpal memberi semangat pada murid-muridnya.
Setelah itu, para murid-muridpun sudah diperbolehkan untuk kembali pada pondoknya masing-masing untuk beristirahat.
................
Sementara ditempat lain.
Wira jaya, dewi harum, darma seta dan ki layung, berpamitan pada bibinya dan pamannya yaitu ratnasari dan suaminya aji sura.
Aji sura yang sudah lama meninggalkan dunia persilatan, rasanya ingin lagi ia ikut berkelana seperti kilayung biarpun masih tua tapi masih malang melintang di dunia persilatan.
Tapi karena usianya yang sudah tua, dan ingin hidup tenang menikmati di sisa umurnya, Karena dunia persilatan penuh warna warni kehidupan, setidaknya pasti akan membunuh biarpun itu tidak diinginkan, tapi apa boleh buat bila lawannya berniat membunuh, karena di dunia persilatan seperti medan peperangan di bunuh dan membunuh.
''Sebenarnya paman rasanya ingin sekali ikut, ingin ketemu sama tuan aji santang, dulu pernah sekali ikut sama kakang supala sama bibimu juga, waktu itu kamu dan kaka mu masih pada kecil sekali.'' Ucap aji sura.
''Ayo pama, bibi mau ikut, sekalian kita ketemu sama kake, mumgpung beliau masih ada didunia.
''Iya bah kita kesana, sekalian kita meregangkan otot, kan bosen harus disini melulu.'' Ucap anaknya aji sura, yaitu jala aji darma.
''Ya terus Ibumu bagaimana, kasihan harus melakukan perjalanan yang sangat jauh, ujung-ujungnya nanti minta dipijitin.'' Jawab aji sura.
''Ya kalau bapak mau ikut kesana silahkan, Ibu sudah gak kuat, biar ibu nunggu dirumah saja.'' Ucap ratna sari.
''Beneran ibu tidak apa-apa?.'' Tanya aji sura.
''Iya nek, nek boleh gak kalau soma menjadi pendekar, seperti kakang darma seta.'' Ucap arya soma.
Mendengar perkata'an dari arya soma, anak dari jala aji darma dan amyati, semua tersenyum melebar, dan darma seta pun langsung menghampiri arya soma saudara sepupunya itu.
''Hehee, anak pinter, kan ada ayah dan kake pendekar pilih tanding.'' Ucap darma seta sambil memegang bahu arya soma.
''Kake dan ayah pelit, tidak mau ngajarin aku silat kakang.'' Jawab arya Soma.
''Ayah dan kake bukannya pelit, tapi kamu belum cukup umur untuk mengusai ilmu silat itu.'' Ucap darma seta.
''Tapi, kakang juga bisa ilmu silatnya dari sejak bayi, secara tidak sengaja ku mendengar obrolan uwa wira jaya sama kake.'' Ucap arya soma.
''Wah waah.. rupanya kamu sudah pinter nguping ya.'' Wira jaya ikut bicara.
''Kan ku bilang tidak disengaja.'' Jawab arya soma.
''Hahahaha.....'' Semua pada tertawa, melihat tingkahnya arya soma yang lucu.
Akhirnya aji sura pun jadi ikut, untuk berkunjung pada aji santang di kampung benda, aji darma atau jala aji darma, langsung mengeluarkan dua kuda untuk ayahnya aji sura.
merekapun sudah menaikinki kudanya masing-masing, wira jaya, dewi harum dan darma seta, serta ki layung tidak lupa pula melambaikan tangannya pada ratna sari dan amyati serta kedua cucunya yaitu arya soma dan rarantili.
Ratna sari terus menatap kepergiannya mereka, sampai akhirnya tenggelam ditelan pepohonan, karena laju kuda yang semakin menjauh.
Sinar kuning ke emasan ditimur bumi persada telah memancar menyambut perjalanannya wira jaya dan yang lainnya.
Laju kuda semakin kencang, meninggalkan dukuh halimun girang.
''Hea hea hea hea.'' Mereka terus memacu kudanya, wira jaya yang memimpin perjalanan itu berada paling depan yang disusul oleh dewi harum, aji sura, ki layung aji darma dan darma seta berada paling belakang.
Kini para pendekar elang sakti sudah ditambah kekuatannya dengan pendekar elang emas yaitu aji sura dan putranya jala aji darma.
Perjalanan yang sangat jauh dan cukup melelahkan, tapi mereka terus berpacu, kuda-kuda yang sudah terlatih dan kekar seperti terus membawa lari tuannya.
Tidak terasa perjalanan mereka semakin menjauh mataharipun sudah hampir lurus diatas kepala, dan merekapun kini telah tiba disebuah ladang yang tandus dengan hamparan tanah merah yang cukup luas.
__ADS_1
Kepulan debu dari tanah tersebut berterbangan terkena sapuan-sapuan dari kaki kuda yang terus berpacu.
''Paman Nanti kita istiraha dulu disana.'' Teriak wira jaya sambil terus memacu kudanya.
''Iya.. Wira, pamanpun sudah merasakan lelah.'' Jawab aji sura.
Singkat cerita, mereka kini sudah melewati ladang tandus itu, selepas dari ladang tandus, mereka kini mulai memasuki hutan, dengan jalan setapak yang membentang disepanjang hutan, pertanda bahwa dihutan itu sering dilalui oleh manusia, cahaya matahari pun kurang begitu tembus karena terhalang oleh rimbunnya dedaunan dari banyaknya poho-pohon yang memenuhi diseluruh hutan itu.
Setelah berada ditengah-tengah hutan itu, wira jaya yang berada digaris paling depan menghentikan laju kudanya, sang kudapun meringkik setelah mendapat tarikan tali kekang dari wira jaya.
''Kita beristirahat disini.'' Ucap wira jaya.
''Tepat sekali, tempat yang sejuk dan cukup bagus untuk kita istirahat.'' Ucap aji sura.
''Iya benar, kakang sangat pintar dalam memilih tempat peristirahatan.'' Berkata dewi harum.
Setelah itu mereka pun turun dari kudanya masing-masing, dan mulai merapihkan tempat untuk dipake buat istirahat, yang agak jauh dari jalan setapak supaya istirahatnya tidak terganggu oleh orang-orang yang kebetulan melintas kehutan itu.
Berbeda dengan darma seta, untuk beristirahat ia lebih memilih tiduran diatas pohon yang bercabang, dengan badannya di ikat, sedangkan kedua kaki bergelantung didahan yang bercabang.
Wira jaya, dan dewi harum yang lagi duduk berdua sambil menyenderkan pungungnya ke akar pohon yang begitu besar, dengan manjanya dewi harum merebahkan tubuhnya pada dada bidang wira jaya(suaminya).
Sedangkan ki layung, aji sura dan jala aji darma lagi duduk di atas batu hitam, sambil ngobrol, membicarakan masa lalunya mereka, Karena tidak disangka-sangka mereka bisa dipertemukan kembali, tapi kali ini bukan dalam sebuah pertarungan, melainkan dipertemukan dalam hubungan kekeluarga'an.
''Ternyata, dewata masih mempertemukan kita kembali ya kakang.'' Ucap aji sura.
''Iya, saya juga tidak menduga sebelumnya. bahwa kita akan bertemu kembali.'' Jawab ki layung.
''Wah, kalau dengar cerita abah sama ki layung, sangat seru dan menegangkan.'' Jala aji darma ikut memotong pembicara'annya.
''Iya aji darma, nama pendekar elang emas, tidak ada duanya, abahmu itu pendejar linuhung, dan namanya sudah sangat dikenal di dunia persilatan.'' Ucap ki layung.
''Wah kakang layung ini, suka berlebihan kalau memuji, dan satu hal yang kamu harus tau aji darma, ki layung mempunyai pukulan yang maha dahsyat.'' Ucap aji sura.
''Apa itu bah?.'' Tanya jala aji darma.
''Pukulan mataharinya, bisa menghancurkan gunung karang, hanya dalam satu pukulan saja.'' Ucap aji sura.
''Waaahh.. Hebat atuh, ajari aku dong ki.'' Ucap jala aji darma.
''Pukulan matahariku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ajian elang cakra dewa.'' Jawab ki layung.
''Ajian elang cakra dewa, siapa gerangan yang mempunyai ilmu itu?.'' Tanya aji darma.
''Ya siapa lagi, kalau bukan darma seta.'' jawab ki layung.
''Waah waah, hebat darma seta di usia masih muda sudah menjadi pendekar dan kesatria yang linuhung.'' Kata jala aji darma.
Begitulah ki layung, aji sura dan anaknya jala aji darma, dalam pembicara'annya, tidak seperti yang lainnya, seperti wira jaya, dewi harum dan darma seta, melakukan istirahatnya dengan merebahkan badannya untuk melepas rasa lelahnya, seperti yang dilakukan oleh darma seta, saking enaknya dia bergayut didahan, dengan diterpa angin sepoi-sepoi, hingga darma seta sampai terlelap tidur dengan pulasnya.
Darma seta kini berada di alam mimpinya, di dalam mimpinya darma seta didatangi oleh sosok kake tua berpakaian serba putih, dengan jenggot panjang sudah memutih sambil memegang tongkat berpesan padanya.
''Sampu rasuun.. Cucuku, kau jangan terlena dengan tidurmu.'' Ucap sang kake.
''Rampes, kakee...Ada apa kake menemui saya.'' Jawab darma seta.
''Bangunlah cucuku, cepat lanjutkan perjalananmu, sebelum matahari terbenam kamu dan Ibu mu serta yang lain harus sudah sampai di kampung benda.'' Ucap sang kake.
''Emang ada apa disana ke?.'' Tanya darma seta.
''Nanti juga kamu akan tau.'' Jawab sang kake itu yang terus menghilang.
Darma seta sambil teriak-teriak memanggil kake itu, sampai mengagetkan aji sura, ki layung dan aji darma yang lagi asik duduk sambil menikmati udara segar dihutan itu.
''Ke...Kakee.....'' Teriak darma seta sambil terbangun.
Ki layung langsung terperanjat dari tempat duduknya, dengan repleknya ki layung melesit keatas pohon yang lagi darma seta pake rebahan buat istirahat.
☆☆☆☆☆☆☆☆••••••••☆☆☆☆☆☆☆☆
Bersambung episode 29
Tunggu lanjutan kisahnya ya.
Tolong luangkan waku untuk meng klik 👍like, comentar, jadikan Favotit agar mudah mendapatkan notipikasi updatenya, beri Ranting dan vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, sukses selalu untuk semua.