PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 56


__ADS_3

Ladang petani yang sudah di panen, kini menjadi ajang pertempuran antara pasukan dari perkumpulan tongkat merah melawan tiga pendekar elang dan para serdadunya ribuan burung elang dari empat penjuru dunia.


Sambaran-sambaran dari serdadu elang begitu cepat sekali menerjang perkumpulan tongkat merah, darah-darah kini mulai berceceran dan jerit kesakitan yang terdengar histeris, ribuan burung elang itu laksana burung ababil yang menghancurkan pasukannya raja Namruj di jaman para Nabi.


Sedangkan tiga pendekar elang terus bergerak cepat dengan senjatanya membantai setiap musuhnya yang mencoba menyerangnya, Kilatan dan hempasan cahaya dari pedang perak dan pedang merah serta senjata Ampel kuningnya Wira jaya terus mencari mangsa dari setiap lawannya.


Para perkumpulan tongkat merah sudah banyak berjatuhan bersimpuh darah.


Pertarungan di Ranca Galuh merupakan pertarungan yang sangat mengerikan di bulan kanem, di banding waktu menghancurkan pasukan penguasa Jagal pati, pada tahun Saka bulan karo.


Di kalender Surya Cakra Sunda, pada bulan Kalima dan Kanem di musim pancaroba menjelang musim kemarau, di sebuah ladang para petani telah terjadi pertempuran yang sangat mengerikan, antara Pendekar elang Sakti dan para perkumpulan tongkat merah.


Trang....Trang..Trang..Trang.


Benturan-benturan senjata begitu sangat nyaring terdengar memecahkan kesunyian di ladang, yang sebentar lagi hari mau memasuki senja.


Kini Darma seta terpaksa mengeluarkan senjata saktinya, sebuah pedang yang berukuran sangat besar dari pedang pada umumnya.


Pedang Garuda cakra buana yang di ciptakan oleh sang ki teupa Aji santang, memenuhi atas perminta'annya Ki Darpal guru besar dari halilintar merah yang pernah malang melintang di dunia persilatan golongan hitam, tapi sayang pedang tersebut tidak berhasil sampai ke tangan Ki Darpal karena niatnya yang tidak baik.


Begitu pedang Garuda cakra buana itu di keluarkannya, sinar merah berbaur putih keperakan keluar di barengi dengan asap panas yang terus mengembang mencari tumbal, pedang yang haus akan darah itu, kini akan banyak lagi memakan korban.


Heaaaa


Tar...Tar ..Tar..Tar.


Guurr..Guurr...Gurrr...Bluaarrr...


Auuuggh.....


Auugghhh...


Sambaran-sambaran kilatan cahaya yang keluar dari pedang Garuda Cakra buana terus menghantam puluhan orang dari perkumpulan tongkat merah.


Hamparan tanah ladang kini menjadi memerah oleh darah, Banyaknya tubuh yang berjatuhan dari perkumpulan tongkat merah, tangan yang lepas dari badan, kepala yang berjatuhan lepas dari raga, dan ada pula yang bola matany pecah karena patukan dari laskar elang.


Heaaa..Heaa..Heeaa..


Dewi harum dan Wira jaya bergerak sangat cepat sekali dengan putaran senjatanya, pedang merah terus mencabik-cabik pertahanan musuh, senjata Ampel kuning meliuk-liuk, kadang mengeluarkan cahaya kuning ke emasan membentuk kepala elang yang terus menyambar pasukan dari tongkat merah, yang seperti siluman mati satu tumbuh seribu ibarat kata pribahasa.


Hari kini sudah berganti, senjapun telah berlalu, di sambut oleh sang dewa malam, di mana tidak ada cahaya yang menerangi bumi, terkecuali bila bulan sudah mulai purnama.


Nyaring nya benturan benda keras pipih masih terus terdengar memecahkan kesunyian malam.

__ADS_1


Satu hari semalam sudah pertempuran itu berlangsung, Ketika mayat-mayat sudah banyak berserakan dan genangan darah sudah membanjiri ladang petani, dan hanya beberapa gelintir orang dari tongkat merah yang tersisa, akhirnya sebagian anggota yang tersisa terpaksa harus menghindari dan keluar dari medan pertempuran itu, apalagi serdadu burung elang yang semakin ganas mencabik, mematuk dan menerjang dengan kepakan sayapnya.


Weeesss...Weeeess..Weess..


Kelebatan-kelebatan bayangan melesit meninggalkan arena pertempuran itu, sangat tidak mungkin bagi para perkumpulan tongkat merah yang tersisa untuk terus bertahan, maka dari itu mereka pergi seperti siluman membawa sebuah dendam yang membara, dan terdengar suara bergema, sudah barang tentu dilapisi oleh tenaga dalam yang cukup tinggi, melintas di telinga tiga pendekar elang sebuah pesan yang berisi ancaman.


"Pendekar elang tunggulah pembalasan dari para pengemis tongkat merah." Begitulah suara yang bergema dengan nada ancaman.


Lalu Darma seta berteriak. "Hai para pengemis pengecut, di mana rasa kepedulian perkumpulanmu, sementara mayat-mayat dari anggota mu kau biarkan begitu saja, sungguh kalian para pengecut." Teriak Darma seta.


Selepas pertempuran berakhir, Wira jaya dan Dewi harum terbelalak matanya melihat tubuh yang bergelimpangan akibat ke ganasan perang, lalu Dewi harum menurunkan tubuhnya sambil menunduk wajah ke bumi, tidak terasa butiran air hangat kini mulai berjatuhan dari kedua manik-manik bola matanya terisak kesedihan yang sangat mendalam. "Sungguh kejam dunia persilatan. Hiiks hiks'." Tangis Deei harum.


Kemudian Wira jaya menghampiri sambil memegang kedua bahunya Dewi harum dan berkata. "Sudah nyai tidak usah bersedih, inilah dunia peperangan, kalau kita tidak membunuh pasti kita yang akan terbunuh, yang penting sekarang kita urus dan kuburkan para pahlawan, sebagai rasa hormat kita pada mereka." Ungkap Wira jaya.


Setelah pedang Garuda Cakra buana di masukan lagi ke dalam raga, Darma seta pun menurunkan tubuhnya di posisi jongkok memberi semangat pada ibundanya. "Apa yang di bilang Paman itu benar ibuk, di dalam peperangan pasti ada yang terbunuh, karena itu semua sudah ada garis takdir dari semesta, da ibuk jangan sampai berkecil hati, marilah kita siap-siap untuk menyiapkan kuburan untuk para pahlawan dari tongkat merah." Pungkas Darma seta.


Selepas itu Dewi harumpun mengangkat tubuhnya, dan Wira jaya melangkah menuju elang putih abu dan berkata. "Sahabatku semua terima kasih atas bantuannya, dan kami minta ma'af sudah banyak bikin elang dari empat penjuru datang memenuhi panggilan kami, apa jadinya nasib kami kalau tidak ada kalian semua." Ungkap Wira jaya.


Semua elang melengking kan suaranya memecahkan kesunyian malam, lalu elang putih abu berkata. "Mereka sangat senang elang kuning, tidak usah ragu dan sungkan bila butuh bantuan keluarga elang pasti akan selalu datang membantu, karena ikatan kelurga elang sakti akan selalu tetap terjalin, dan ini sudah menjadi sumpah kami para elang atas budi baiknya nenek moyangmu, Ki Raga Nata, Ragan tala dan Nini Ragan tiri, yang baik dan menyayangi kami para elang." Tutur elang putih abu.


Setelah itu Serdadu elang dari empat penjuru yang di pimpin oleh elang putih abu, pamitan untuk kembali ke tempat asalnya, kepakan sayap dari banyaknya para elang sampai menciptakan angin yang sangat kencang, lengkingan suara elang mengiri kepergiannya para serdadu elang.


Sementara tiga Pendekar elang langsung mengurus semua mayat-mayat untuk di kubur layaknya seorang manusia, sebagai penghormatannya pada para pahlawan dari perkumpulan pengemis tongkat merah. Dengan kesaktiannya, tiga Pendekar elang menggali tanah untuk pemakaman para pahlawan tersebut selesai.


Singkat cerita.


Setelah semua para mayat korban perang, selesai di kuburkan, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung memacu kudanya di tengah-tengah gelapnya malam, meninggalkan ladang tersebut.


Kini malamnpun telah berlalu, suara ayam jantan telah berkokok untuk memberi tahu pada mahluk di bumi bahwa waktu subuh sudah tiba.


Sementara Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta berniat untuk menemui ki Surata manggala di tepiah hutan carik di ujung kampung Ranca galuh, untuk mencari tau keberada'annya Jareti Gangga, menurut kabat yang di dapat Jareti Gangga masih ada kerabat dengan ki Surata manggala.


Ketika matahari mulai memancarkan cahaya di timur di atas cakra wala bumi nusantara, Ke tiga pendekar elang sudah tiba di tepian Hutan carik. "Sepertinya itu kediamannya ki Surata Manggala, karena tidak ada lagi tempat tinggal yang lain." Kata Wira jaya.


"Ya sudah ayo kita samperin." Saut Dewi harum.


Kuda pun di pacu perlahan, mendekati rumah panggung di bawah pohon dadap yang besar sekali.


Mereka pun berhenti, lalu turun dari punggung kudanya. "Sampu rasuun." Sapa Wira jaya.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta celingukan kesana kemari, mencari penghuni rumah tersebut, tak lama kemudian, se orang lelaki hampir sebaya dengan Wira jaya diatasnya sedikit, datang sambil memikul kayu bakar, lalu berkata sambil menjatuhkan ikatan kayu bakar tersebut.


"Wira?..." Tanya orang itu.

__ADS_1


Wira jaya pun langsung membalikan badannya, sambil menolehkan pandangan ke arah suara yang memanggil dirinya. "Paman Surata, bearati benar duga'anku ini pasti rumahnya Paman." Jawab Wira jaya.


"Iya benar Wira, setelah tuntas nya peristiwa dulu, saya pun tidak lagi tinggal di Goa Rotasi itu Wira, Ooh iya Dewi, dan Seta ayo kita ngobrolnya di dalam saja." Ujar ki Surata mengajak pada mereka untuk maduk kedalam rumahnya.


Tiga Pendekar elangpun akhirnya mengikuti ki Surata Manggala untuk memasuki rumahnya, lalu mereka duduk di lantai papan kayu, dan ki Surata langsung mengambil kendi berisikan air putih dan empat gelas Bambu yang di bentuk menyerupai cangkir. "Nah ini gubuk tempat tinggal saya Wira, saya tinggal seorang diri, karena setelah peristiwa itu istri saya terkena penyakit pageblug sampai beliau meninggalkan saya selamanya." Tutur ki Surata.


"Kami turut prihatin Paman." Saut Wura jaya, Dewi harum dan Darma seta


"Iya Terima kasih, oh iya, lalu maksud kedatangan kalian kesini, apa ada perlu penting atau cuma kebetulan lewat sini saja?." Tanya ki Surata.


"Sebenarnya ada yang perlu kami tanyakan sedikit pada paman." Wira jaya.


"Tentang apakah itu Wira?." Tanya ki Surata.


"Masalah Jareti Gangga, apa betul masih ada kerabat sama Paman?." Tanya Wira jaya.


"Iya benar Wira, dia saudara sepupu saya, lalu kenapa Kalian sampai mencarinya apa ada masalah dengan Jareti Gangga?." Tanya ki Surata.


"Kalau masalah tidak ada Paman, tapi kami di beri amanat sama ki Sura praba, untuk membawa Jareti gangga ke lereng Gunung Galunggung." Jawab Wira jaya.


Sejenak ki Surata menghela napasnya panjang, seperti ada beban yang berat untuk di ceritakan pada Wira jaya. "Sebenarnya saya tidak mau lagi ber urusan sama iparku itu, tapi berhubung kalian yang meminta baik' saya akan kasih tau, dia tidak menetap tinggal di suatu tempat, hidupnya selalu berpindah-pindah, dan bergeraknya selalu di malam hari." Ungkapnya.


"Sebentar paman Kami belum paham dengan pembicara'an Paman, maksudnya bagaimana?." Tanya Wira jaya.


"Begini Wira, Jareti Gangga berkomplot dengan para pengemis Tongkat Merah, karena olah kanuragannya yang cukup tinggi, akhirnya dia yang menjadi ketuanya, dan sangat di segani karena anggotanya banyak tersebar di berbagai wilayah." Jelasnya.


"Berarti benar duga'an ku, Jareti Gangga ada di balik itu semua." Batin Wira jaya.


"Oh jadi Tongkat merah itu, berada dalam kekuasa'annya Jareti Gangga." Ujar Wira jaya.


"Iya betul Wira, sepertinya kalian sudah mengenal dengan perkumpulan tongkat merah itu." Ujar Ki Surata penuh tanda tanya.


Lalu Dewi harum menjelaskan atas rasa penasarannya ki Surata. "Kami bukan sekedar mengenalnya, tapi kami pun sudah terlibat kedalam masalah sama Tongkat merah itu Paman, kalau sudah tau Jareti ada di dalamnya, berati kami tidak harus susah-susah mencarinya." Ungkap Dewi harum.


Satu tegukan air putih di gelas Bambu, membuat Ki Surata dan ke tiga Pendekar elang, menjadi berpikir lebih jernih untuk melumpuhkan Tongkat merah tanpa harus banyak korban dan tumpahan darah.


*******


Bersambung


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikat vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2