
Ke lima Tokoh sakti itu kini semakin angkuh dan sombong setelah berhasil menciptakan ilmu pamungkasnya, sebuah ilmu gabungan yang di beri nama Ajian Panca Sakti.
Ke lima tokoh itu pergi melanglang buana mencari lawan yang sepadan dengan tingkat kekuatan yang di milikinya
Hingga suatu ketika mereka pergi ke kampung benda karena di daptar penjajalan ilmunya, ada tokoh sakti di kampung Benda yaitu ki Layung alias si pukulan matahari dan Aji santang sang ki teupa yang sakti mandra guna.
Kedatangan ke lima tokoh itu, di barengi dengan banyaknya kerusuhan di setiap tempat keramaian, itu semua sengaja mereka ciptakan untuk memancing orang yang di carinya keluar.
Kabar adanya ke rusuhan telah di terima di kedua telinganya Aji Santang dan ki Layung, salah satu Warga berlari mendatangi rumahnya Aji Santang dan ki Layung.
"Ketiwasan Tuan, di pasar Benda ada lima orang pembuat kerusuhan, sambil berkoar menantang Tuan dan Ki Layung." Lapornya seorang warga dengan napas yang ngos-ngosan.
"Siapa kiranya ke lima orang itu?." Tanya Aji santang.
"Mereka tidak menyebutkan namanya Tuan." Jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, saya akan segera kesana, dan kamu cepat kasih tahu ki Layung." Ujar Aji Santang sambil melangkah turun dari balai-balai rumahnya, dan berjalan menuju tempat si perusuh itu.
Sementara Ki layung yang sudah mengetahui sebelum si pembawa kabar itu datang menemuinya, ki Layung langsung bergegas pergi, melesat bagikan Angin menuju ke tempat di mana ke lima Tokoh Sakti itu membuat onar.
Kelima Tokoh Sakti itu, tertawa terbahak di sebuah kedai sambil meneguk sebuah arah dari negri Tartar, sungutnya terus berkoar menyebut Nama Aji Santang dan ki Layung.
"Hahaha...Mana jagonya kampung Benda yang kesohor itu, hai Aji Santang, ki Layung keluarlah kalian jangn jadi pengecut, atau kalian sudah tidak punya nyali lagi hahh." Koarnya dengan penuh kecongkakan.
Angin menerpa kencang yang di barengi dengan tenaga dalam yang tinggi, kini telah di rasakan oleh Reksapati, Nyai Rombeng, ki Talang, ki Tempang dan Ki Gantar.
"Tebaran tenaga dalam berkekuatan tinggi, mungkinkan ini ki Layung, si Pukulan Matahari, bagus kalau begitu ber'arti Jago kampung Benda masih punya nyali untuk menghadapi kita." Celoteh Nyai Rombeng.
Selepas Nyai Rombeng berkata, sekelebatan sinar merah jingga melintas di depan ke lima tokoh itu yang lagi berada di dalam kedai sambil bersungut yang ngelantur kesana kemari.
Dengus suara yang berkekuatan tenaga dalam tinggi, telah merobek suasana mereka yang lagi asik minum-minum arak yang di datangnkan dari negri Tartar.
"Ooh rupanya bangsat-bangsat ini yang telah pamer ilmu kedidjayaannya." Dengus ki Layung.
__ADS_1
Sontak ke lima tokoh sakti itu, membulatkan kedua bola matanya sembari menyunggingkan senyuman nya.
"Ahahaha...Selamat berjumpa ki Layung, ternyata si pukulan matahari masih hidup." Serunya Reksapati.
Ki layung langsung menggidir, rona di wajahnya nampak me merah menahan amarah, ke tika itu pula sekelebat bayangan hitam datang sembari menegur ki Layung.
"Jangan terpancing amarahmu kakang, ke lima manusia busuk itu memang sengaja supaya kakang hilang kendali, karena sesungguhnya di hati mereka sudah mulai gentar dengan kemunculan kakang." Lirih Aji Santang berbisik di telinga kanan nya ki Layung.
Ke lima Tokoh Sakti itu menyeringai penuh kedengkian dan hasrat membunuhnya kini mulai Bangkit.
Reksa pati dan Nyai Rombeng, berkelebat langsung menerjang pada ki Layung dan Aji Santang.
Sekelebtan cahaya telah memukul tokoh kampung Benda, dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, tapi Sayang ki Layung dan Aji Santang tidak mudah begitu saja untuk merrka taklukan, karena jurus lembayung senja ki layung dan jurus Garuda winata dari Aji santang bergerak lebih cepat sehingga pukulan Aji Santang dan ki Layung tidak bisa mereka terka telah menggedor Reksa pati dan Nyai Rombeng.
Auuugghhh.
Reksa pati dan Nyai Rombeng bersuara seperti kesakitan, merasakan pukulan tokoh Legenda penguasa gunung sembung dan bekas ponggawa perang keraja'an Galuh terasa menggetarkan jantung.
Weesss weess...
Aji Santang dan ki Layung melesit ke udara, dengan memutarkan tubuhnya berbalik menyerang ke tiga tokoh tersebut, hembusan angin dari putaran tubuh ki Layung dan Aji Santang menderu kencang, yang di rasakan oleh ke tiga tokoh sakti itu, lalu mereka melompat mundur tiga tumbak ke arah Reksa pati dan Nyai Rombeng. Guna menggabungkan jurus-jurusnya menjadi satu kekuatan yang dahsyat. Reksapati dan Nyai Rombeng mencuat ke udara merubah strategi gunting kala geni.
Begitu tubuh ki Layung dan Aji Santang siap membobol pertahanan ki Talang, ki Gantar dan ki Tempang, secepat kilat Reksapati dan Nyai Rombeng menggunting serangan Aji Santang dan ki Layung.
Wesss....
Bruuukkk..
Sapuan dua tendangan menggunting melesat bah sapuan halilintar menghantap tubuh Ki Layung dan Aji Santang.
Auuuggghh..
Suara terdengar dari mulut ki Layung dan Aji Santang, di iringi dengan melayangnya kedua tubuh dan jatuh di atas hamparan tanah merah.
__ADS_1
"Hahahha....Cuma segitu kah ilmu kanuragan penguasa gunung Sembung, dan Ponggawa Galuh yang di takuti itu." Cibir Reksapati sambil menyeringai penuh kenencian.
Jelegedeg
Ki Layung dan Aji Santang salto dan berdiri penuh keberanian.
"Hai para setan tua, jangan dulu kalian berbangga hati, dan kau nenek Rombeng jelek, seharusnya kau berdiam diri ditempat kediamanmu." Maki ki Layung.
"Kurang ajar, kau Layung keparat, ku bunuh kau tua bangka." Bentak Nyai Rombeng, berkelebat sembari menghempaskan selendangnya yang sudah lusuh dan dekil.
Ciaaaatt...
Ki Layung langsung bergerak cepat menghindari serangan dari selendangnya Nyai Rombeng.
Bluueerrr.
Hempasan Selendang Nyai Rombeng menghantam pohon hingga hancur berkeping-keping.
Kigantar, Kitalang dan Kitempang langsung berkelebat menyerang Ki Layung dari tiga penjuru, ki Layung kini sangat waspada dan berhati-hati sekali, ia tidak gegabah dalam melakukan serangan balik, ki layung langsung mencabut senjatanya Pedang Lembayung.
Kilatan cahaya kuning kemerahan berkelebat-kelebat membelah arena pertempuran.
Pedang Lembayung yang pernah menggegerkan rimba persilatan, berputar begitu cepat menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh ke tiga tokoh sakti, benturan-benturan kedua senjata begitu nyaring terdengar sehinngga menciptakan percikan-percikan kembang api dari kedua senjata yang saling berbenturan.
Ki layung berkelebat cepat dan putaran pedang lembayungnya telah merobek kulit dari ki Gantar, ki Talang dan ki Tempang.
Aauuugghhh..
Suara kesakitan terdengar dari mulut ke tiga tokoh sakti tersebut, sembari menolakan kakinya ke bumi dan melompat mundur hingga beberapa tumbak.
"Bedebah, ternyata permainan pedang lembayungnya semakin hebat saja." Gerutu ki Gantar sembari menutup luka yang merobek di pangkal lengannya, begitu juga ki Talang dan ki Tempang.
Apakah kelima tokoh aliran hitam itu bisa mengalahkan ki Layung dan Aji Asntang.
__ADS_1
ikuti terus di episode selanjutnya.