PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Penfekar elang sakti Eps 39


__ADS_3

Wira jaya, dewi harum dan darma seta sudah sangat jauh meninggalkan bukit itu.


Kudapun masih terus dipacu, menyusuri jalanan lereng-lereng terjal, masuk hutan dan keluar hutan, itulah yang sering wira jaya, dewi harum, dan darma seta lalui, terkadang dalam perjalanannya selalu ada kendala yang menghadang, tapi mereka pun bisa mengatasinya dengan mudah, itulah kehidupan didunia kependekaran pasti akan selalu ditemuinya, berbagai macam halangan dan rintangan, bagi ketiga pendekar elang, hal semacam itu sudah biasa, karena dunia persilatan penuh warna warni dari kekejaman cita-cita dan cinta anak manusia.


Seperti yang lagi dialami dalam perjalananya ketiga pendekar elang dari timur itu, ketika mereka sudah mulai mendekati dengan tempat yang mereka tuju.


Ketka ketiga pendekar elang sudah mulai memasuki tapal batas desa ranca galuh.


Suara puluhan anak panah meluncur dari atas bukit kearah wira jaya, dewi harum dan darma seta.


''Awaaass nyaii, seta.'' Teriak wira jaya sambil mencabut senjata ampel kuningnya, begitupun dewi harum dan darma seta.


Trak trak trak trak.


Puluhan anak panah itu ditangkisnya oleh ketiga pendekar elang itu, dengan menyabet kan senjatanya kekiri kenan, darma seta terus memutarkan pedang peraknya itu dan anak panah yang telah ditahan oleh pedang perak seketika itu pula darma seta membalikan anak panah itu pada pengirimnya.


Hiuk hiuk hiuk...


Clek clek clek clek.


Beberapa anak panah itu meluncur dengan cepat dan kembali pada sang pengirimnya itu.


Dari balik semak belukar diatas bukit, terdengar beberapa jeritan manusia, karena termakan oleh senjatanya sendiri, yang dibalikan oleh darma seta.


Dan selanjutnya ketiga pendekar elang itu pun melesat terbang keatas bukit untuk mengejar pelaku penyerangannya itu.


Disa'at ketiga pendekar elang itu melayang diudara nampak terlihat enam orang yang tersisa masih hidup, darma seta memutarkan pedang peraknya itu kearah enam orang itu yang berusaha untuk melarikan diri.


Sungguh malang nasib ke enam orang itu, pedang perak memutar dengan cepat membabat ke enam orang tersebut.


Clek cek clek cek clek cek.


Putaran pedang perak menebas ke'enam orang itu, sebagian anggota tubuh dari mereka terputus, ada yang kepalanya terpisah dengan raganya, ada yang tangannya tinggal sebelah dan ada juga tubuhnya terpotong, dan ada salah satu dari mereka yang tangannya buntung, dan masih hidup


kini genangan merah darah telah membanjiri rumput dan semak-semak belukar.


Terus darma seta melompat kearah salah seorang yang masih hidup itu, sambil menempelkan ujung pedang perak itu pada leher orang tersebut.


''Sekarang katakan, kenapa kalian menyerang kami tanpa alasan hah?.'' Tanya darma seta.

__ADS_1


Sambil merasakan sakit yang tak terkira, orang itupun nampak gemetaran karena ujung pedang peraknya sudah siap menggorok lehernya.


''Am am ampuun pendekar, jangan bunuh saya.'' Jawabnya.


''Kalau kamu masih pingin menghirup udara pagi besok, cepat katakanlah.'' Bentak darma seta.


''Ba ba baik pendekar, kami cuma suruhan, untuk menghadang setiap orang yang melewati daerah ini.'' Jawabnya.


''Terus siapa yang telah menyuruh kalian?.'' Tanya darma seta mendesak.


Belum saja orang itu berkata sejujurnya, dari arah semak belukar dan dari arah yang lumayan jauh, telah meluncur sebuah senjata rahasia, Tepat menusuk dileher orang tersebut.


''Aaaauuuuww tobat.'' Teriak kesakitan dari orang tersebut.


Darma seta pun langsung melompat kearah dari datangnya sebuah senjata rahasia itu.


''Woii siapa itu.'' Teriak darma seta, sambil melesat hendak mengejar sang pelempar senjata rahasia itu.


Darma seta telah kecolongan, dan kehilangan jejak, karena cepatnya orang misterius itu menghilang.


Wira jaya dan dewi harum terus memburu pada orang yang baru saja terbunuh dengan senjata rahasia dari orang misterius.


''Apa kakang mengenal senjata itu?.'' Tanya dewi harum.


''Kalau dilihat-lihat dari jenis senjatanya, hanya perguruan naga bintanglah yang mempunyai senjata ini, coba nyai perhatikan bentuk dari senjata ini.'' Ujar wira jaya.


Dewi harumpun terus mengambil senjata itu dari tangan wira jaya, dilihat dan dibolak balik.


''Sebuah besi logam berbentuk bintang, dan ditengah-tengahnya terukir kepala naga, dan dibaliknya terukir pula ekor naga melilit, tidak salah lagi kakang, ini senjatanya dari perguan naga bintang.'' Saut dewi harum.


''Iya benar, untuk lebih jelasnya senjata ini harus kita pegang, apakah benar orang misterius itu suruhan dari perguruan naga bintang, atau ada orang yang ingin mengadu domba, kita harus lebih waspada nyai.'' Ucap wira jaya.


Setelah itu darma setapun kembali, setelah melakukan pengejaran pada orang misteruis itu.


''Bagai mana seta, apakah kamu telah menemukan titik terang dari orang misterius itu?.'' Tanya wira jaya.


''Tidak, orang itu sangat cepat menghilangnya.'' Jawab darma seta.


''Ya sudah sekarang kita lanjutkan lagi perjalanan kita, yang tinggal melewati bukit ini.'' Ucap wira jaya.

__ADS_1


''Terus siapa yang akan kita singgahi terlebih dulu?.'' Tanya dewi harum.


''Pertama kali kita harus menemui paman surata, dihutan carik, nah dari paman suratalah kita akan mendapatkan keterangan lebih jelasnya.'' Jawab wira jaya.


''Ya sudah kalau begitu, sekarang kita harus mempercepat langkah perjalanan kita, sebelum semuanya menjadi terlambat.'' Pungkas darma seta.


''Iya betul sekali, ayo kakang kita lanjutkan lagi perjalanan kita ke hutan carik.'' Ujar dewi harum


Setelah itu ketiga pendekar elang itu sudah melanjutkan lagi perjalanannya menuju hutan carik untuk menemui paman surata.


Kuda terus dipacu di lereng-lereng bukit karang.


Ketiga pendekar elang terus berlari dengan kudanya, tak perduli dengan panasnya terik matahari, mereka terus memacu kudanya masing-masing.


Setelah jauh meninggalkan bukit karang, mereka kini suda berada didepan perbatasan yang mau memasuki hutan carik.


Wira jaya terus menghentikan laju kudanya, yang di ikuti oleh dewi harum dan darma seta.


''Kenapa berhenti kakang?.'' Tanya dewi harum.


''Sebentar nyai, kita mesti memberi dulu kabar pada paman surata.'' Ucap wira jaya.


''Gimana caranya?.'' Tanya darma seta.


''Seta, sekarang kamu panggil elang perak sahabatmu itu.'' Kata wira jaya.


Setelah itu darma seta memasukan dua jarinya kedalam mulutnya, lalu keluar suara suitan yang sangat keras dan indah didengar.


Suit suit suuiiiiittt.


Selang beberapa menit setelah suitan itu berhenti, munculah dari angkas sosok mahluk berwarna perak melorot terus bertengker dibahu kiri darma seta, sambil mematuk-matuk ikat kepalanya darma seta, pertanda burung itu bertanya, ada titah apa yang akan sahabatanya perintahkan.


''Sahabatku pergilah kedalam hutan carik itu, temui paman surata, dan berikanlah surat ini padanya.'' Ucap darma seta sambil memberikan beberapa helai daun lontar yang bertuliskan sebuah pesan.


Sang elangpun lalu berbunyi dengan lengkingan suaranya yang keras, lalu dipatuk beberapa helai daun lontar tersebut, terus terbang dengan cepat memasuki hutan carik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=¤¤¤¤¤¤¤\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih atas dukunganna, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.


__ADS_2