PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti Eps 38


__ADS_3

Wira jaya, dewi harum dan darma seta, kini mulai lagi melanjutkan lagi perjalanannya, menuju desa ranca galuh, yang masih sangat jauh untuk ditempuhnya, kini ketiga pendekar elang memutuskan untuk bermalam dihutan saja, berhubung kampung itu seperti kampung mati, tidak menemui warga penduduk seorang pun.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta kini sudah keluar dari kampung itu, ditengah malam buta ketiga pendekar elang melaju dijalan setapak dengan jalanan menanjak dan penuh kerikil disebuah bukit yang tandus dan gersang.


Ketika mereka sampai diatas bukit itu, ditemuinya sebuah gubuk yang bearatapkan jerami, dengan tiang-tiang penyanggah terbuat dari bambu.


''Sepertinya didepan ada sebuah gubuk, bagaimana kalau kita bermalam disitu aja.'' Ucap wira jaya.


''Iya kakang, dari pada dihutan banyak bahaya yang selalu mengincar kita, mendingan kita digubuk saja, kan enak kita tidak kena embun.'' Jawab dewi harum.


Setelah itu mereka lalu memacu kudanya mendekati gubuk itu, setibanya digubuk itu mereka bertiga lalu turun dari kudanya masing-masing, dan di ikatnya kuda mereka pada tiang gubuk itu.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta lalu merebahkan tubuhnya dibale-bale bambu yang sudah tersedia digubuk itu.


Malampun terus berlalu, dengan udara yang dingin sudah menyelimuti bukit itu, ketiga pendekar elang itu, nampak sudah tertidur dengan pulasnya, hanya ketiga kuda yang masih terlihat lagi memakan rumput-rumput yang banyak tumbuh disekeliling gubuk itu.


Disa'at malam sudah sangat larut, dan ketiga kudapun sudah merebahkan tubuhnya diatas rumput-rumput hijau.


Dari bawah bukit nampak terlihat ada sosok binatang besar dengan corak dibulunya bergaris-garis loreng sedang mengendap-ngendap menaiki bukit itu, Semakin dekat jarak antara binatang itu dengan gubuk, terdengar ringkikan kuda hitam miliknya darma seta, karena kuda itu sudah sangat terlatih, bila ada bahaya mengancam sang kuda itu selalu memberi pesan pada sang majikannya.


Darma setapun langsung terbangun, karena mendengar ringkikan keras dari kuda hitam miliknya.


Begitu binatang loreng itu melompat kearah kuda miliknya dewi harum, sepertinya mau menerkam kuda miliknya dewi harum.


Belum saja si loreng sampai untuk memangsa sang kuda, sekelebatan warna perak melesat menyambut siloreng itu.


Aaaauuuummmmmmm....


Terdengar raungan keras, karena warna perak itu sudah menancap dilehernya siloreng sampai menembus ketengkuknya, ternyata warna perak tersebut adalah pedang perak miliknya darma seta.


Wira jaya dan dewi harum langsung terbangun karena kaget dengan raungan keras dari siloreng.


''Ada apa seta?.'' Tanya dewi harum.


Darma seta hanya memberi isarat sambil menunjuk pada tubuh siloreng yang tergeletak dengan sebuah pedang menancap dilehernya.


Dewi harum dan wira jayapun langsung menoleh ke arah yang darma seta tunjukan itu.


''Jagat dewa batara, ilmu sukma pangrungu mu sudah sangat sempurna sekali seta, sekalipun kamu dalam keada'an tertidur pulas, coba kalau diantara kita tidak ada yang bangun, habislah kita dimakan harimau itu.'' Ucap dewi harum.


''Ini semua berkat si ireng bunda, si irenglah yang bangunkan aku.'' Ujar darma seta.

__ADS_1


''Terima kasih ya ireng, sudah menolong kita dari terkaman siloreng.'' Pungkas wira jaya.


Sang kuda pun langsung menjawab dengan sebuah ringkikan.


Darma seta dan dewi harum tersenyum mendengar jawaban si ireng itu.


''Hebat benar-benar kuda yang sudah sangat terlatih.'' Ucap wira jaya.


''Iya itu kan kuda pemberian kake aji santang.'' Ucap darma seta. Darma setapun langsung berdiri dan berjalan kearah siloreng.


Darma seta terus mencabut pedang perak miliknya yang menancap dilehernya siloreng.


Sementara tubuhnya siloreng dibiarkan begitu saja.


''Kenapa kamu tidak buang tubuhnya siloreng itu seta.'' Ucap dewi hatum.


''Biarlah buk, buat besok pagi kita sarapan.'' Jawab darma seta.


Setelah itu merekapun tertidur kembali sampai waktu pagi datang.


Udara pagi masih terasa dingin, darma seta pun berjalan kesebelah timur gubuk itu untuk mencari kayu-kayu kering.


Selang beberapa menit darma seta telah kembali dengan membawa ranting-ranting kayu yang kering lalu ditumpuk disamping gubuk itu.


Setelah itu wira jaya dan dewi harumpun terbangun, terus mereka merapikan kain bekas amparan tidurnya.


Wira jaya dan dewi harum pergi kesebelah timur selatan untuk mencari mata air guna membasuhi badannya yang terasa lengket karena seharian berjalan memacu kuda, sudah tentu banyak debu yang menempel ditubuhnya.


Wira jaya dan dewi harum terus tiba disebuah mata air, yang keluar dari balik batu-batu dan sebuah akar pepohonan yang banyak tumbuh disekitar situ, air yang bersih dan jernih, terus wira jaya mencari sepotong bambu untuk membuat pancuran agar bisa dengan leluasa membasahi tubuhnya, karena air yang mengalir ditebing batu. tidak bisa diambil untuk mandi.


Setelah itu wira jaya menemui sekelompok bambu yang tumbuh dipinggiran bukit itu, lalu ia berjalan mendekatinya, setelah itu wira jaya memanggil dewi harum yang lagi menunggu dipinggiran mata air itu.


''Nyaii... Kakang pinjam dulu pedangmu buat menebas bambu ini.'' Teriak wira jaya.


''Iya kakang, ini ambil.'' Ucap dewi harum sambil melemparkan pedang merah itu.


Dewi harum terus mrlemparkan pedang merahnya, dan pedang melesat bersama warangkanya, ketika pedang itu sudah mendekati, wira jaya lalu menangkapnya dengan sangat mudah, lalu pedang itupun dihunusnya dari warangkanya, setelah iktu ditebasnya sebatang pohon bambu itu terus dipatonnya seukuran panjang tangannya wira jaya.


Setelah itu diambilnya potongan bambu yang lainnya itu terus dibelah hingga menjadi agak kecil dan diruncingkan ujung bambu itu.


Setelah itu dimasukan pada bambu yang akan dibikin pancuran itu, terus dirogoh-rogoh hingga ruas bambu itu menjadi tembus dan bolong, selanjutnya potongan bambu itu dibawa kearah mata air itu, lalu ujung bambu itu dimasukan pada tumpukan batu yang mengeluarkan mata air, dan akhirnya air itu masuk dan mengalir pada bambu yang sudah dibolongin ruasnya itu.

__ADS_1


''Nyai... Pancurannya dudah jadi, dn kita bisa mandi disini.'' Teriak wira jaya.


''Iya kakang, ya sudah kakang duluan mandinya.'' Jawab dewi harum.


Setelah itu wira jaya membersihkan badannya, disebuah mata air yang sudah dibikin pancuran, air yang jernih dan sejuk membuat wira jaya ingin terus lama menikmati air pegunungan itu.


Setelah selesai wira jaya membersihkan badannya, terus di ikuti oleh dewi harum dan darma seta.


Setelah mereka selesai mandinya, tidak lupa pula mereka mengisi guci tempat air, buat bekal mereka selama dalam perjalanannya menuju desa karang buana yang masih jauh untuk ditempuh.


Pagi itu, darma seta yang telah mempersiapkan sarapan paginya dengan panggang bakar ayam hutan, yang didapatinya disekitar bukit itu.


''Wah waaah enak banget ayam bakarnya.'' Ucap wira jaya.


''Iya betul kakang, e'eeh macan yang mati terbunuh waktu semalam itu, kemana seta?.'' Tanya dewi harum.


''Sudah kubuang kebawah jurang sana.'' Jawab darma seta.


''Dikira ibu beneran kamu mau sarapannya daging hatimau.'' Ucap dewi harum.


''Ya tidak bu, binatang yang lain juga masih banyak, malam tuh seta bercanda aja.'' Jawab darma seta.


Setelah ketiga pendekar elang itu mengganjal perutnya dengan panggang bakar ayam hutan, lalu mereka melakukan lagi perjalanannya.


Kudapun sudah dinaikinya.


''Ayo kita percepat pejalanannya sebelum matahari tenggelam kita harus sudah sampai di ranca galuh.'' Ujar wira jaya.


''Iya kakang, ayo kita lanjutkan lahi perjalanannya.'' Saut dewi harum.


Hea hea hea.


Kedepruk kedepruk kedepruk.


Ketiga pendekar elangpun sudah memecut kudanya masing, suara langkah kaki kuda berlari nampak terdengar bergemuruh, menuruni bukit itu.


\=\=\=\=\=♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎\=\=\=\=\=\=


Bersambung.


Dalam episode selajutnya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan dukses selalu.


\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=


__ADS_2