
Dua pendekar yang sama-sama hebat melompat ke udara sambil mengayunkan pedangnya masing-masing.
Darma seta dan Surapati bergerak sangat cepat, dua pendekar muda itu memang sangat luar biasa.
Dua benturan kekuatan dari pedang garuda dan pedang bulan sabit miliknya Surapati, menimbulkan daya ledak yang sagat luar biasa sekali.
Sura pati terpental sangat jauh begitu pula Darma seta terpental beberapa tumbak kebelakang, dan jatuh di hamparan tanah, dengan cepat Darma seta bangkit dan duduk bersila mengatur pernapasannya guna menetralkan aliran darah dalam tubuhnya.
Sementara Sura pati terkapar dengan luka dalam yang cukup serius, sura pati mencoba bangkit sambil memandang pada Darma seta yang nampak segar bugar.
"Benar-benar hebat pendekar elang perak, sedikitpun dia tidak mengalami luka, aku harus cepat meninggalkan tempat ini." Batin Surapati yang kini mulai lemah dari rasa sombongnya itu.
Padahal Dama seta pun merasakan benturan hebat dari kekuatan pedang Bulan sabit miliknya Surapati.
Sura pati langsung melesat pergi meninggalkan padepokan Halimun sembari mengeluarkan ancamannya pada Darma seta.
"Ingat elang perak, saya belum mengaku kalah, tunggulah pembalasanku." Ancam Surapati.
__ADS_1
Dewi harum yang merasa penasaran pada Surapati dan berusaha mau mengejarnya, tapi langkahnya mendadak terhenti.
"Jangan di kejar Buk, biarkan saja dia pergi." Pekik Darma seta.
Dewi harumpun langsung membalikan badannya.
"Kenapa seta, dia terlalu sombong dan angkuh, ibuk muak dengan ucapannya itu." Tukas Dewi harum.
"Ya sudah Buk biarkan saja, setidaknya dia telah menerima ke kalahannya, sekarang kita tolong murid-murid perguruan Halimun dan Ki Jagar Alang untuk segera di kremasi." Ujar Darma seta.
Setelah itu Darma Seta dan Dewi Harum, memberi pengobatan pada Murid-Murid perguruan Halimun yang terluka, dan menguburkan sebagian murid yang telah perlaya.
Ki Jagar Alang sudah di letakan di atas tumpukan kayu-kayu gelondongan, dengan kain putih yang telah menutupi anggota tubuhnya, untuk menjalani pembakaran jenajah.
Wanaraja yang lagi dalam ke ada'an luka dalam, beserta para mirid-murid Halimun, ikut dalam upacara mendoakan ki Jagar Alang yang lagi menuju ke nirwana di kehidupan abadi.
Api telah berkobar membakar tubuh ki Jagar alang.
__ADS_1
Dalam kobaran api nampak terlihat oleh ke tiga pendekar elang bayangan putih keluar dari jasadnya ki Jagar alang yang sudah hangus terbakar.
Bersama'an dengan keluarnya bayang putih, terdengar suara menggema di angkasa.
"Terima kasih para pendekar elang, kalian telah menolong ku dan ku titipkan perguruan halimun padamu Wanaraja, kau perdalam ilmu kisaran halimun Dewa di kitab pusaka perguruan, ambilah di tempat aku biasa bersemedi, nanti di situ ada petunjuknya, selamat tinggal." Ujaran suara yang bergema tersebut bersama bayangan putih terbang ke angkasa di bawa oleh asap dari api pembakaran tersebut.
Wana raja bersama murid-murid Halimun yang masih segar bugar langsung duduk bersujud.
"Selamat tinggal guru, semoga guru mendapat tempat yang layak di alam sana." Ujar Wanaraja dan beberapa murid Halimun.
Ke tiga pendekar elang pun ikut mendoakan, atas kepergiannya sang guru besar dari padepokan Halimun.
"Selamat tinggal ki Jaga Alang, semoga tenang di alam sana." Ujar Ke tiga Pendekar elang.
Setelah selesai upacara kremasi, Ke tiga pendekar elang, Wanaraja dan beberapa murid halimun langsung pergi menuju tempat peristirahatan.
Ke esokan harinya.
__ADS_1
Ke tiga Pendekar elang berpamitan pada Wanaraja dan seluruh murud-murid Halimun, untuk melanjutkan kembali perjalanannya.