PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti Eps 59


__ADS_3

Ke esokan harinya ketika matahari sudah memancarkan cahaya nya yang kuning ke emasan, kehidupan di perkampungan yang selalu ramai oleh orang-orang yang pergi ke ladang, untuk bercocok tanam, atau memelihara tanaman yang sudah di tanam.


Sementara di bawah puncak Gunung Galunggung, atau di lerengnya, di sebuah padepokan Naga Bintang. Lagi di sibukan para murid-murid yang masih pemula ataupun yang sudah senior berlatih di lapangan yang luas, gerakan-gerakan kaki dan tangan terus di mainkan, lalu berganti dengan adu tanding dari mulai tangan kosong hingga pakai sebuah senjata.


Di sa'at keseriusannya para murid-murid berlatih yang di awasi oleh tiga murid yang sudah di kasih kepercayaan untuk melatih semua murid Naga Bintang, tiba-tiba muncul sang maha guru atau yang sering di sebut ki Sura praba, sambil matanya yang tajam terus memperhatikan para muridnya yang masih sibuk berlatih.


Tidak lama kemudian.


Latihan pun sudah selesai dan semua murid-murid di suruh kembali ke tempat per'istirahatan nya masing-masing


Ki Sura Praba memanggil tiga murid ke percaya'annya, mereka pun langsung bergegas dan berjalan menuju pada ki Sura praba tanpak banyak tanya lagi.


Sesampainya di dekat ki Sura Praba, salah dari mereka melemparkan pertanya'annya.


"Ada apa guru?." Tanya nya.


"Kalian duduk dulu, ada yang mesti ku bicarakan pada kalian." Jawab ki Sura Praba.


"Mengenai apa itu Guru?." Bertanya lagi sambil menurunkan tubuhnya duduk di balai bambu.


"Hasil dari semedi ku semalam, langit diatas perguruan ini mendadak memerah seperti darah, dan saya yakin itu bukan pertanda baik, dari mulai sekarang giatlah kalian berlatih, dan beri arahan pada murid-murid yang masih mentah, tingkatkan latihannya." Ungkap ki Sura Praba.


"Baik Guru." Jawabnya.


Selepas itu, ketika ki Sura Parab dan ke tiga murid andalannya lagi mempersiapkan jadwal latihan untuk besok hari dan seterusnya, dari kejauhan anak buahnya yang bertugas menjaga gerbang berjalan tergesa-gesa mendekati ki Sura Praba dan tiga murudnya itu, stibanya di depan sang maha guru penjaga itu menurunkan tubuhnya memberi hormat sambil berkata. "Ma'ap Guru kalau hamba sudah lancang mengganggu." Ujarnya.


"Iya ada apa Penjaga?." Tanya ki Sura Praba.


"Di depan gerbang ada tiga pendekar elang, bersama seseorang yang sudah tidak berdaya." Ujarnya.


Ki Sura praba nampak tersenyum riang, seperti sebuah harapan yang terkabulkan.


"Suruh masuk penjaga, dan antarkan ke sini." Jawab ki Sura Praba.

__ADS_1


"Baik Guru." Ucap Penjaga sambil membalikan badannya, lalu ia bergegas kembali ke depan gerbang.


Tidak laman kemudian Penjaga itu telah kembali lagi bersama tiga orang yang lagi menunggangi kuda, dan satu orang di antaranya membawa seorang lelaki berkulit bersih dalam keada'an tidak berdaya mungkin lelaki itu telah di totok urat sarapnya sehingga nampak seperti orang mati.


Tiga penunggang kuda itu pun tiba di hadapan ku Sura Praba dan tiga muridnya.


"Sampu rasun." Sapa sang pendekar yang berpakain serba kuning.


"Rampes. Rayi Wira, Harum dan kuan Darma seta, siapa lelaki yang bersama Darma seta?." Tanya ki Sura Praba.


"Ya inilah orang yang telah mengkhianati perguruan ini ki." Jawab Wira jaya.


Kemudian Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung turun dari atas punggung kudanya, lalu tubuh Jareti Gangga di boyong di bawa masuk ke ruangan pengobatan untuk di obati dari luka dalamnya, dan ki Sura Praba menyuruh salah satu muridnya untuk memanggil tabib di dusun Suka Pura.


Singkat cerita.


Sang tabib pun sudah datang bersama murid ki Sura praba dengan menunggangi kuda putih ke punya'annya Tabib.


"Ada beberapa otot sarapnya yang tidak bisa bekerja dengan baik, tolong ambilin air putih, saya akan meramu obat." Ujar sang Tabib


Ki sura praba memerintahkan muridnya untuk mengambilkan air putih atas perminta'an sang Tabib.


Tidak lama lagi ia datang dengan membawa kendi beridi aur putih. "Ini airnya tuan Tabib." Ujarnya.


"Iya terima kasih." Jawab sang Tabib sambil mengeluarkan beberapa ramuan obat dan sebuah lulumpung kecil buat menumbuk ramuan tersebut.


Setelah ramuan tersebut di tumbuknya sang tabib menuangkan air pada tempat lulimpung itu kemudian di turas pakai kain yang ia bawa, dan setelah itu sang Tabib neminta bantuan pada salah satu murid ki surq praba untuk meminum kan ramuan obat tersebut.


"Tolong salah satu dari kalian minumkan obat ini, saya mau meracik obat yang harus di rebus." Pinta sang Tabib.


"Biar sama saya saja tuan Tabib." Celetuk Darma seta sembari menggeserkan tubuhnya ke arah Jareti Gangga yang masih tergeletak.


Tubuh Jareti Gangga di angkatnya oleh tangan kirinya Darma seta lalu tangan kanannya memegang gelas bambu yang berisikan ramuan tersebut, dan di minumkannya sedikit demi sedikit sampai abis, dan tubuh Jareti Gangga di rebahkan kembali ke posisi semula.

__ADS_1


"Biarkan dulu obat itu larut nanti kalau dia sudah sadar, tolong rebus ramuan ini, dan minumkan satu gelas menjelang tidur, saya pamit dulu karena habis dari sini, saya mau menolong warga Suka Pura yang lagi terjangkit penyakit, jadi saya tidak bisa berlama-lama disini, ki Sura Praba dan semua saya pamit ya." Ujar sang Tabib.


"Iya Tabib, terima kasih atas pertolongan tuan dan ini sebagai ucapan terima kasih saya." Ucap ki Sura praba sambil menyelipkan sebuah kantong kecil yang berisi uang koin.


"Tidak usah ki, saya menolong iklas tampak pamrih." Ujar sang Tabib.


"Terima saja, karena anda terlalu sering menolong kami." Saut ki Sura Praba.


"Ya sudah kalau begitu. Sampu rasun." Ujar sang tabib sambil melangkah keluar menuju pada kuta putihnya.


"Rampes." Jawab semua yang ada di situ.


Kini sang Tabib sudah menaiki punggung kuda putihnya dan di pavunya keluar dari padepokan Naga Bintang.


Jareti Gangga yang Masih terbaring setelah di kasih minuman obat dari sang Tabib, perlahan sudah menggerakan jari tangan nya, lalu matanya di buka perlahan sambil celingukan ia berkata.


"Berada di mana aku."


Jareti Gangga belum menyadari bahwa dirinya berada di Naga Bintang, begitu iamenoleh ke arah samping pojok nampak terlihat oleh Jareti sodok pria berjanggut putih, dan berpakaian serba putih lagi duduk dengan netranya mentapa tajam padanya.


"Guru.." Sapanya tersontak kaget.


"Iya Gangga, kamu berada di Naga Bintang, jangan bergerak dulu lukamu belum benar-benar pulih." Ujar ki Sura Praba.


"Siapa yang sudah membawaku ke sini guru..."Perkataan Jareti Gangga terpotong oleh suara yang datang dari bawah selonjoran kakinya.


"Kami lah yang telah membawamu kesini." Ujarnya yang tak lain tiga pendekar elang.


Jareti Gangga mengangkat kepala nya sedikit, netranya langsung terbelalak penuh rasa heran ketika melihat tiga Pendekar elang yang sudah menjadi musuh ke buyutannya, lagi duduk bersila memandang dirinya penuh kedamaian.


"Kenapa tiga pendekar elang ada di sini." Gumamnya dalam hati.


Kemudian Jareti Gangga menurunkan lagi kepalanya dan berbaring dalam posisi semula

__ADS_1


__ADS_2