PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI EPS 32


__ADS_3

Suara kuda itu kini terhenti, dan terdengar suara kaki menginjak bumi.


Aji santang masih tetap tenang, dan kembali lagi duduk seperti semula.


Terlintas di kedua telinga aji santang, suara yang memanggil dirinya.


''Sampu rasun... Tuan Aji santang apa taun berada didalam.'' Begitu suara yang terdengar dari luar.


Aji santang tetap terdiam sambil duduk dengan mata tertutup rapat.


''Tidak ada jawaban kakang.'' Ucap Orang yang berbaju hitam.


''Tapi saya mencium ada manusia disini, coba kamu kadu denta buka pintunya.'' Ucap orang yang bertubuh tegap yang tak lain adalah munding wesi.


''Baik kakang munding.'' Jawab Kadu denta sambil melangkahkan kakinya, dan tangan Kirinya membuka pintu tempat keberada'annya Aji santang.


Nampak terlihat oleh Kadu denta, aji santang lagi duduk bersila sambil memejamkan matanya.


Kadu dentapun lalu menutup kembali pintu tersebut, dan segera melapor pada munding wesi.


''Tuan aji santang, seperti lagi bersemedi kakang munding.'' Ucap kadu denta.


''Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja disini, mungkin Tuan aji santang lagi menyempurnakan pedang itu.'' Jawab munding wesi.


Rombongan dari perguruan Halilintar merah itu, akhirnya menunggu aji santang diluar.


Sementara ke tiga pendekar elang, wira jaya, Aji sura dan darma seta, masih menyaksikan ke enam orang dari perguruan halilintar merah itu, yang lagi menunggu sang ki teupa keluar dari tempat pembikinan senjatanya itu.


Tidak lama kemudian aji santang keluar dari tempat pembuatan senjata itu.


Pedang yang panjang dan cukup berat kini telah digenggamnya oleh aji santang, sambil berdiri tegak didepan pintu.


Rombongan munding wesi, pas melihat aji santang sudah keluar dari tempatnya itu, langsung memburu pada aji santang, yang sudah tidak sabar pingin cepat-cepat membawa pulang pedang tersebut, untuk diserahkannya pada ki darpal.


''Tuan aji santang, apakah pedang yang dipesan oleh ki darpal itu, yang sekarang lagi berda dalam genggamanmu?.'' Tanya munding wesi.


''Iya benar ki sanak.'' Jawab aji santang.


''Apakah kami boleh membawanya sekarang.'' Ucap lingga tole ikut bicara.


''Tentu saja boleh, cuma belum ada warangkanya, ambilah.'' Ucap aji santang sambil menancapkan pedang tersebut ketanah.


Lingga tole langsung melangkahkan kakinya, setelah ia sudah berada tepat didepan pedang itu tanpa mikir panjang lagi, tangan kanannya langsung menggemgam gagang dari pedang itu untuk mencabutnya.


Tapi apa yang terjadi pedang itu seperti menyatu dengan bumi tidak bisa dicabut.


Lingga tole lalu mengerahkan tenaga dalamnya, sambil membangun kuda-kuda, dan kedua tangannya langsung menggenggam pedang tersebut, rasa sombong yang telah mendahului dipikiran lingga tole.


''Rupanya aji santang mau main-main dengan lingga tole.'' Ucapnya lingga tole.


Tapi sang pedang tidak goyah sedikitpun, malah semakin kuat menancap kebumi.


...Lingga tole terus mengerahkan semua kesaktiannya, keringat yang terus mengucur dari sekujur tubuhnya, dan pedang masih kokoh menancap....


Melihat lingga tole yang seperti itu, munding wesi lalu maju kedepan, dengan muka merah membara, seperti merasa dipermalukan oleh aji santang.


''Tuan aji santang, rupanya tuan mau main-main dengan kami.'' Ucap munding wesi.


''Hahahaa, siapa yang mau main-main dengan kalian, dari tadi saya cuma berdiri dan tidak melakukan apa-apa.'' Jawab aji santang.


Lingga tole nampak terlihat sudah lemas, wajahnya pucat seperti ada kekuatan yang menyedot tenaganya, sampai akhirnya lingga tole jatuh pinsan.


Munding wesi segera memerintahkan pada murtala dan tirta untuk membawa lingga tole.


Dengan Rasa penasarannya munding wesi pada pedang yang menancap ditanah itu.


Ia pun segera mengerahkan semua kekuatannya dengan kuda-kuda yang sangat kokoh, lalu munding wesi memegang pedang tersebut.


Munding wesi terus memusatkan tenaga dalamnya, tapi sang pedang tetap tidak goyah, malahan tubuh munding wesi seperti bergetar, rupanya semua kekuatan munding wesi sudah tersedot, semakin banyak tenaga dalam dikeluarkan maka semakin kuat pula pedang itu menyedot tenaga.


''Kakang munding, jangan kau terus lawan pedang itu, semakin kuat kakang melawan, malah semakin kuat pula kekuatan pedang itu menyedot kekuatanmu.'' Teriak kadu denta.


Tetnyata Kadu denta lebih pintar dari pada munding wesi dan lingga tole.


Aji santang yang masih berdiri dengan tegapnya, hanya tersenyum sedikit menyaksikan para jawara dari halilintar merah.


''Sekarang mendingan kalian pulang saja percuma, karena pedang itu tidak berjodoh dengan kalian semua.'' Ucap aji santang.


''Tuan aji santang, mungkin kami tidak berjodoh dan tidak bisa menaklukan pedang itu, tapi bukan berarti kami harus kalah olehmu aji santang.'' Teriak murtala.


''Hahaha.... kalian itu lucu, dari masalah pedang yang tidak mampu kalian kendalikan, kenapa jadi berbalik padaku.'' Ucap aji santang dengan tenangnya.

__ADS_1


Murtala murid ki darpal yang lulus dari seleksi, merasa adigung dan berbangga hati kalau dirinyalah yang terbaik, maka dari itu murtala langsung dengan lantangnya menantang adu kesaktian pada aji santang.


Sementara, wira jaya, darma seta dan aji sura yang masih bersembunyi dari selimut mega mendungnya, disaat itu pula mereka menarik ilmu mega mendungnya dan langsung melompat ketengah tengah mereka.


Hiuk hiuk hiuuk.....


Ketiganya telah menapakan kakinya dibumi, sungguh kaget para murid-murid dari perguruan halilintar merah itu, karena tidak tau dari mana datangnya ketiga pendekar elang itu.


''Oooh rupanya, para jago dari halilintar merah, ada apakah kalian sampai datang ketempat tuan aji santang?.'' Aji sura bertanya.


Lingga tole dan Munding wesi yang baru pulih dari tenaganya yang hampir habis tersodot oleh pedang buatannya aji santang, langsung bediri dan berkata.


''Pendekar elang emas, rupanya kalian berada disini.'' Ucap munding wesi.


''Hahaha...Rupanya munding wesi tangan kanannya dari kidarpal masih mengenali saya, terima kasih.'' Aji sura berkata dengan tenangnya.


''Tentu saja saya masih mengenali anda aji sura, tapi apakah anda masih sehebat dulu.'' Jawab munding wesi.


''Saya ini sudah tua munding wesi, dan saya juga sudah mengasingkan diri dari rimba persilatan, tapi kalau kalian-kalian semua mau bikin kekacauan disini, apa boleh buat.'' Ucap aji sura.


Ke enam murid dari halilintar merah itu merasa tertantang oleh perkata'annya dari aji sura.


Murtala yang haus akan bertarung, seperti tidak sabar ingin menerjang pada aji sura, tapi aji santang sempat menahannya.


''Tunggu dulu, Janganlah ada pertumpahan darah ditempat ini, diantara kalian tidak ada yang sanggup mencabut pedang ini, kenapa urusannya jadi panjang begini.'' Ucap aji santang.


''Kalau boleh di ijinkan, bolehkah hamba mencoba mencabut pedang itu kake buyut.'' Ucap darma seta.


''Tentu saja boleh cucuku, pedang ini lagi mencari tuannya yang cocok dan dapat dipercaya.'' Jawab aji santang.


Darma seta mlangkah maju kedepan, kini darma seta sudah berada tepat di depan pedang yang menancap.


Darma seta lalu memejamkan matanya, sambil mulut betkomat kamit, dan kedua telapak tangan dirapatkan terus dibawa keatas, dan di tarik lagi kebawah, setelah itu tangan kanannya memegang gagang pedang tersebut.


Semua orang yang menyaksikan darma seta, terutama ke enam jago-jago dari perguruan halilintar merah, kaget bercampur tidak percaya.


Karena begitu tangannya darma seta memegang pedang itu, dengan sangat entengnya darma seta mencabut pedang tersebut, lalu darma seta memainkannya dengan jurus-jurus elang garuda, entah kenapa darma setapun seperti terbawa oleh permainan pedang itu sendiri, pedang itu seperti ingin memperlihatkan kedahsyatannya pada semua orang, darma seta sempat dibuat bingung untuk mencoba menghentikan pedang tersebut.


Darma seta terus terbawa oleh permainan pedang itu, tiba-tiba ada suara berbisik ditelinga darma seta.


''Cucuku, untuk menghentikan pedang itu, gunakan jurus elang garuda winata tingkat dua belas.'' Begitu suara yang berbisik ditelinga darma seta.


Kini para jago dari perguruan halilintar merah, sangat kagum dengan kedahsyatan pedang tersebut, karena banyak pohon-pohon yang tumbang dan batu-batuan yang hancur terkena oleh pancaran cahaya yang keluar dari pedang itu.


Maka dari itu darma seta segera menggunakan jurus elang garuda winata tingkat dua belas.


Tidak lama kemudian pedang itu bisa ditaklukannya, lalu darma seta membungkusnya dengan melilitkan kain pada pedang itu.


''Kake pedang ini harus segera dibikin warangkanya, karena setiap pedang ini terhunus, maka akan ada banyak korban berjatuhan.'' Ucap darma seta.


''Iya darma seta kan pedang ini baru aja kake sempurnakan, tapi mereka datang lebih awal untuk mengambil, karena disuruh oleh ki darpal.'' Jawab aji santang.


Setelah munding wesi dan lingga tole, melihat kedahsyatan pedang itu, sangat berambisi untuk memiliki pedang tersebut.


''Sekarang cepat serahkan pedang itu.'' Ucap lingga tole.


''Mencabutnya pun kalian tidak bisa, bagaimana mau membawanya.'' Jawab aji santang.


''Tuan aji santang, berarti sudah berkhianat pada sahabatmu sendiri.'' Ucap munding wesi.


''Justru ki darpal lah yang sudah menghianati persahabatan ini, ki darpal sudah berbelok dijalan yang salah, dan sepak terjangnya sudah banyak merugikan orang banyak.'' Jawab aji santang.


''Apa pun alasan tuan aji santang, intinya tuan sudah ingkar janji, kami semua mengemban tugas dari ki darpal, hidup atau mati pedang itu harus bisa kami bawa.'' Ucap munding wesi.


''Hai para jago dari halilintar merah, sebelum banyak korban berjatuhan, lebih baik kalian pulang bilangin pada guru kalian, pedang ini tidak boleh jatuh ketangan orang yang kejam.'' Kata darma seta.


''Setan belang brengsek kau anak muda, Ciaaaaaattttt.....'' Teriak munding wesi tidak dapat menahan amarahnya.


Munding wesi secepat kilat menerjang darma seta.


Begitu pula lingga tole, kadu denta, murtala, rawit dan tirta, langsung melesat menyerang aji sura, wira jaya dan aji santang.


Pertarungan yang sangat seru dan menegangkan, munding wesi mrnggempur terus darma seta, dengan jurus-jurus hailintar yang kesohor itu, kini menemukan lawannya yang lebih kuat.


Darma seta dan wira jaya, yang sudah menguasai jurus-jurus elang sakti dengan sangat sempurna dari kitab elang itu, tidak begitu repot dalam menghadapi keganasan dari jurus-jurus halilintar.


Munding wesi yang sangat berambisi pingin mrnguasai pedang yang lagi berada dalam gengaman darma seta, dengan ganasnya terus menghujani jurus-jutus halilintarnya pada darma seta.


Diusianya yang sangat muda ditambah kecerdikannya dalam berpikir, darma seta tidak terpancing oleh kemarahannya munding wesi.


Banyak sekali tenaga yang terkuras pada diri Munding wesi dalam menghadapi pendekar elang perak yaitu darma seta.

__ADS_1


Berbagai macam cara munding wesi lakukan untuk menjatuhkan darma seta, tapi tidak membuahkan hasil, malahan dirinya yang sudah dijatuhkan dua kali oleh darma seta.


Jurus halilintar geni, halilintar, jagat dan halilintar bayangan semua dapat dilumpuhkannya oleh darma seta.


''Setan kurap, kuat benar anak muda ini, saya akui kehebatan pemuda ini, patut diperhitungkan.'' Ucap munding wesi dalam hatinya.


''Haiii kebo besi, mana kehebatan dari perguruan halilintar itu, jangan ngomong saja digedein.'' Teriak darma seta memancing amarah munding wesi.


''Dasar jurig kuris, jangan sombong dulu kau anak muda, jaga mulutmu, lancang sekali kau.'' Teriak munding wesi.


Munding wesi sangat terpancing amarahnya, karena perkata'annya darma seta yang seolah-olah telah menghina perguruannya dan gurunya ki darpal.


Sementara ditempat lain, ki layung dan raden Sedayu, yang lagi duduk disebuah bale-bale bambu, tiba-tiba terperanjat dari tempat duduknya, terus dipasangnya ilmu pangrungu jarak jauh.


''Hai sedayu coba kamu dengar baik-baik, sepertinya ada sebuah pertarungan.'' Ucap Ki layung.


Raden sedayupun lalu memusatkan ilmu pangrungunya, untuk mendengar suara dan arah dari pertarungan tersrbut.


''Benar ki, ada yang lagi bertempur, arahnya dari bukit Santang.'' Jawab raden sedayu.


''Waah celaka, bukit itu tempat kakang aji santang membuat senjata, jangan-jangan kidarpal dan anak buahnya mendatangi kakang aji.'' Ucap ki layung.


''Bisa jadi ki.'' Jawab raden sedayu.


Setelah itu ki layung dan raden sedayu berlari dengan ilmu kidang kencananya, menuju bukit santang, kelebatan dua bayangan melesat yang dibarengi angin kencang menghantarkan tubuh kedua pendekar itu.


Setibanya dibukit santang, nampak terlihat oleh ki layung dan raden Sedayu, pertarungan yang tidak seimbang dalam jumlahnya, aji sura dan aji santang yang lagi bertarung melawan dua jago dari perguruan halilintar.


Hiuuuk hiuuuk, ki layung dan raden sedayu masuk dalam arena pertarungan.


''Haii para keroco halilintar merah, sekarang kita satu lawan satu.'' Teriak ki layung.


''Bangsat rupanya bandot tua ini ada disini.'' Gerutu lingga tole yang lagi bertarung dengan wira jaya.


Wira jaya melihat lingga tole seperti kaget dalam posisi kuda-kudanya yang kurang sempurna secepat kilat melesat dengan senjata ampel kuningnya.


Lingga tole sangat kaget melihat serangan dari wira jaya yang sangat cepat, sungguh malang lingga tole tidak bisa untuk menghindari lagi, senjata ampel kuning wira jaya menghantam batok kepala lingga tole.


Buk buk buk.....


Aaaaauuuww, suara yang keluar dari mulut lingga tole bersama'an dengan jatuhnya tubuh


tinggi besar itu.


Blaaaakkk, tubuh lingga tole jatuh tersungkur ditanah.


Tapi Lingga tole, langsung bangun lagi dan segera pasang kuda-kuda, untuk membangun lagi serangannya.


Sebruuuuttt... Lingga tole menerjang wira jaya dengan kecepatan yang luar biasa, tapi wira jaya yang sudah dilapisi pandangannya dengan ilmu mata elang menembus sukma, hanya dengan sekejap mata wira jaya telah merubah kuda-kudanya dengan jurus elang terbang.


Plooooosss.... Terjangan Lingga tole makan ruang kosong.


Serangan-serangan lingga tole begitu ganas dan agresip, tapi untuk menyentuh tubuh wira jaya sangat susah.


Serangan-serangan lingga tole banyak sekali menguras tenaga dan pikirannya, karena lawannya sangat susah untuk ditembusnya, hingga akhirnya lingga tole kehilangan akal sehatnya, yang ada hanya amarah yang begitu menggebu-gebu tanpa memikirkan baik buruknya dulu.


Lingga tole kini membangun kuda-kuda yang lebih kuat dari sebelumnya, sebuah jurus andalannya dari halilintar tingkat ke delapan.


Tapi wira jaya hanya tersenyum manis seperti sebuah ejekan pada lingga tole.


''Hai Lingga tole, bertahun-tahun kamu mengabdi pada ki darpal, ternyata kamu baru menguasai jurus halilintar hanya sampai tingkat delapan saja, Hahahahaaaa...'' Teriak wira jaya sambil tertawa mengejek.


Lingga tole sangat kaget begitu Wira jaya berkata begitu.


''Kurang ajar, kenapa pendekar elang kuning bisa tau dengan jurus terakhirku.'' Gerutu lingga tole dalam hatinya.


Wira jaya terus memperhatikan romannya lingga tole yang seperti terkejut, sudah tentu itu senjata empuk untuk wira jaya buat memancing amarahnya lingga tole terus keluar..........


♡♡♡♡♡♡♡♡\=\=\=\=\=\=♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Bersambung...


Nantikan kisah kelanjutannya pendekar elang sakti, di episode selanjutnya...


{{{{{{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}}}}


{{{{{{{}}}}}}}}


{{{}}}


Jangan lupa.

__ADS_1


Klik, like, tulis Comentar dan sarannya, beri Ranting, dan Favorit, Vote juga ya.


Terima kasih atas dukungannya dari semua, Salam sukses, dan selamat membaca, semoga bisa menghibur.


__ADS_2