PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti Eps 37


__ADS_3

Disa'at itu, ketika nini kalingking lagi tertawa puas melihat munding wesi terkapar dengan luka membiru didadanya, dan darah keluar dari dudut bibirnya, tiba-tiba ada sekelebatan bayangan menyambar tubuhnya munding wesi.


...Nini kalingking kaget, lalu iapun mengejar bayangan tersebut, tapi kecepatan bayangan itu secepat kilat, dan nini kalingkingpun kehilangan jejaknya....


^^^..............................^^^


Sementara ditempat lain, yaitu dikampung benda, dimana ketiga pendekar elang, wira jaya, dewi harum dan darma seta, beserta raden sedayu dan kilayung.


Lagi mempersiapkan diri, untuk melanjutkan perjalanannya keselatan.


Sedangkan aji sura dia memilih untuk pulang kekampung halamannya, karena sudah terlalu lama meninggalkan istrinya.


Dipagi yang ceria, wira jaya, dewi harum dan darma seta, sudah menuntun kudanya!, dengan membawa perbekalan yang cukup selama dalam perjalanannya, karena mengemban tugas untuk membebaskan penduduk ranca galuh, yang lagi dilanda bencana, oleh kekejamannya sang penguasa jagal pati.


Kini ketiga kuda itu sudah ditungganginya, sementara raden sedayu dan ki layung menyusul karena masih ada yang mesti diobrolkan lagi dengan aji santang.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta melambaikan tangannya pada aji santang, kilayung, aji sura dan raden sedayu.


Terus dikit demi sedikit, kudapun mulai berjalan perlahan-lahan, setelah jauh meninggalkan kediamannya aji santang, kudapun mulai di pecutnya.


Dan ketiga kuda itu kini berpacu dengan kencangnya.


Hea hea hea...


Wira jaya terus memacu kudanya, yang di ikuti oleh dewi harum dan darma seta.


''Kakang nanti kalau ada kedai kita mampir dulu ya saya haus lupa tadi tidak mengisi guci.'' Pinta deei harum.


''Baik nyai.'' Jawab wira jaya.


Tidak lama kemudian ketiga pendekar elang itu, telah tiba disebuah perkampungan dengan penduduknya yang cukup padat, dan ramai sekali lalu lalang orang sambil membawa peralatan seperti cangkul dan alat-alat lainnya untuk keperluanya bercocok tanam diladang.


Ketiga pendekar elang itu terus berjalan dengan kudanya masing-masing, terus wira jaya mendekati pada seorang pria tua yang lagi berjalan searah dengan ketiga pendekar elang itu.


''Sampu rasun...Pak ma'ap mau numpang tanya?.'' Tanya wira jaya.


''Iya den, mau tanya apa?.'' Kata pak tua balik bertanya.


''Ini kampung apa namanya?.'' Tanya wira jaya.


''Ooh ini kampung petir den, emang aden-aden ini hendak kemana.'' Tanya lagi pak tua.


''Kami mau ke desa ranca galuh pak, apa masih jauh dari sini.'' Jawab wira jaya.


''Ooh, ke desa ranca galuh, aden membutuh waktu satu hari satu malam lagi perjalanan bila pake kuda. jawab pak tua.


''Ooh begitu ya pak, terima kasih pak.'' Saut wira jaya.


''Iya den sama-sama.'' Jawab pak tua.


Setelah itu ketiga pendekar elang langsung melanjutkan lagi perjalanannya, dan ketiga kuda kini mulai dipacu kembali, menyusuri jalanan setapak di kampung petir.

__ADS_1


Hea hea hea....


Kedepruk kedepruk kedepruk.


Suara dua belas kaki kuda berlari yang semakin kencangnya, meninggalkan kampung petir, dan wirajaya masih tetap memimpin digaris yang paling depan, yang di'ikuti oleh dewi harum dan darma seta berada digaris paling belakang.


Kini ketiga pendekar elang itu mulai memasuki hutan cariu, hutan yang lebat dengan banyak pohon-pohon yang tinggi menjulang keangkasa, dengan rumput-rumput liar merambat terkadang banyak mengganggu perjalanannya ketiga pendekar elang itu.


Perjalanan wira jaya, dewi harum dan darma seta tidak bisa memacu kudanya dengan kencang,


Ketika ketiga pendekar elang itu sudah memasuki tengah-tengah hutan cariu, terdengar oleh darma seta dengan ilmu sukma pangrungunya, seperti ada beberapa langkah mengendap-ngendap seperti lagi mengikuti perjalanannya.


''Ibu, ayahanda hati-hati sepertinya kehadiran kita disini tidak di inginkan oleh penunggu hutan ini.'' Bisik darma seta.


''Iya, ibu pun merasakannya.'' Ujar dewi harum sambil tangan kanannya memegang gagang pedang merah.


Setelah beberapa langkah kaki kuda berjalan, kudapun meringkik seiring dengan melesatnya empat bayangan seperti mau menerkam ketiga pendekar elang.


''Ciaaattt.. Clek clek clek.''


Teriakan dewi harum sambil menyabetkan pedang merahnya itu, dan kilatan cahaya perak menghantam terjangan bayangan itu.


Dan terdengarlah suara auman seperti srigala.


Dengan terjatuhnya ke emapt tubuh seperti srigala menimpa rerumputan, dengan darah yang telah membanjiri sekujur tubuh srigala itu.


''Benarkan untung kita waspada.'' Ucap darma seta.


''Hebat kamu seta, ilmu pangrungu sukmamu sudah sangat sempurna.'' Pungkas wira jaya.


Hutan yang luas dan sangat panjang , kini kuda yang mereka tunggangi sudah bisa berpacu dengan cepat karena hutan itu sudah mulai agak jarang pohon-pohonnya jadi kudapun sangat leluasa untuk berlari.


Hea hea hea.


Ketiga pendekar elang itu memecut kudanya untuk mempercepat lagi perjalanannya.


Ketiga kuda itu kini sedang berlari didalam hutan cariu yang sudah mulai menurun pertanda hutan akan segera dilaluinya.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta, terus berlari dengan kudanya masing-masing.


Dan pada akhirnya mereka pun telah keluar dari hutan cariu, hutan yang luas dan lebat oleh pohon-pohon yang tinggi menjulang.


Kuda masih terus dipacunya, menjauh dari hutan cariu, kini ketiga pendekar elang menyusuri jalan setapak ditengah tegalan dengan hamparan tanah merah yang sangat luas, dan debu-debu berterbangan dari tanah merah yang kering tersapu oleh kaki kuda yang sedang berpacu dengan kencangnya.


Wira jaya, dewi harum dan darma seta, terus berpacu menuju arah barat, dengan tujuan desa ranca galuh.


Matahari pun kini sudah mulai condong kebarat, cahaya memerah diatas cakra wala bumi persada sebelah barat, pertanda hari senja akan segera tiba.


Dan ketiga pendekar elang masih terus berlari dengan kudanya.


Pada sa'at hari mulai gelap, ketiga pendekar elang itu telah memasuki sebuah perkampungan, dengan pemukiman para penduduk yang cukup padat, tapi sepi mencekam.

__ADS_1


Wira jaya, dewi harum dan darma seta melajukan kudanya dengan sangat pelan.


''Padahal hari baru saja mulai gelap, tapi kenapa kita tidak menemui warga penduduk satu pun.'' Kata wira jaya.


''Iya kakang, ku juga heran, coba kita cari sebuah kedai, siapa tau kita dapat petunjuk disitu.'' Ucap dewi harum.


Sedangkan darma seta tidak berbicara apa-apa, cuma matanya yang tajam memandang kesana kemari, seperti lagi mencari sesuatu.


Ketika mereka lagi berjalan mendekati sebuah kastil tua, ada sekelebatan bayangan melintas dengan cepat memotong arah perjalanan ketiga pendekar elang itu.


Darma seta yang sebelumnya sudah mencium gelagat aneh secepat kilat ia melompat dari atas punggung kudanya mengejar bayangan yang mencurigakan itu.


''Hai kisanak tunggu.'' Teriak darma seta seiring dengan melesatnya tubuh darma seta mengejar bayangan itu.


Nampak terlihat oleh darma seta sebuah bayangan hitam melompat dari pohon kepohon lain, darma seta pun mengejarnya dengan ilmu kidang kencananya.


Hanya dalam sekelebatan darma seta berhasil menghadang bayangan itu, lalu darma seta membalikan badan menghadap pada sosok orang yang belum dikenalnya.


''Kisanak kenapa tadi menghadang perjalanan kami?.'' Tanya darma seta.


Orang berpakaian serba hitam itu hanya terdiam tidak berkata apa-apa.


Setelah itu wira jaya dan deei harum pun datang menyusul, lalu keduanya turun dari punggung kudanya.


Wira jaya terus memperhatikan orang yang berpakaian serba hitam dan bercadar itu.


''Ooh rupanya pendekar kelelawar, selamat berjumpa dengan kami.'' Sapa wira jaya pada orang itu yang mendapat panggilan pendekar kelelawar.


''Kenapa kalian berada disini, hendak kemanakah kalian bertiga ini?.'' Tanya pendekar kelelawar.


''Kami terpanggil untuk menumpas angkara murka yang kini sedang melanda didesa ranca galuh.'' Jawab wira jaya.


''Ooh berarti tujuan kita sama, kenapa kalian menunggang kuda, bukan kah elang dari timur bisa terbang dengan sangat cepat melebihi larinya kuda.'' Ujarnya pendekar kelelawar.


''Kami lebih suka mengembara dengan menunggang kuda.'' Pungkas dewi harum.


''Ooh begitu rupanya, ma'ap kalau kedatangan saya tadi sempat mengagetkan kalian bertiga, sehingga elang perak tadi sempat mengejar saya.'' Kata pendekar kelelawar.


Darma seta yang tadinya hanya terdiam tak bicara kini ia, bicara dan minta ma'ap atas sikapnya itu.


''Ma'apkan saya saudaraku, saya tadi sempat mencurigai anda, saya kira anda pendekar yang mau ikut membantu jagal pati.'' Ucap darma seta.


''Saya paham dengan sikapmu elang perak, setiap orang harus punya curiga, itu hal yang biasa, saya turun dari bukit kelelawar menenuhi perintah dari guruku, untuk membebaskan penderita'an rakyat ranca galuh, kalau begitu kita berjumpa nanti disana, saya pergi dulu, whai para pendekar elang.'' Ujar pendekar kelelawar sambil melesit terbang keatas, dengan secepat kilat pendekar kelelawar sudah hilang dari pandangan tiga pendekar elang.


Setelah itu ketiga pendekar elang langsung melanjutkan lagi perjalanannya.


\=\=\=\=\=\=\=<<<<>>>>>\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.


Bagi yang menyukai cerita ini, cukup dengan like, comentar, favorit, ranting dan votenya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.


****Selamat membaca****


__ADS_2