PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 44


__ADS_3

Bersama'an dengan munculnya wanita tua, yang membawa tebaran yang sangat bau menyengat, membuat wira jaya, dewi harum dan darma seta menutupi indra penciumnya.


''Kerahkan tenaga dalam ibu, paman, terus tutup hidung kalian dengan kain.'' Ucap darma seta.


Wira jaya dan dewi harum pun langsung menutup hidungnya dengan kain ikat kepalanya.


''Hati-hati nyai dia tokoh tua yang sakti, menurut kabar yang kakang dengar kalau wanita tua yang bau sa'at ia datang, berarti dialah nini kalingking.


Dan setelah wira jaya, dewi harum dan darma seta memperhatikan wajah lelaki yang berpakaian merah itu, langsung sontak kaget.


''Munding wesi.'' Ujar wira jaya.


Mendengar sekaligus melihat,, munding wesi bersama wanita tua yaitu nini kalingking tertawa terbahak.


''Hahahaha....Iya ini munding wesi alias jagal pati yang kalian cari itu, dan sekarang saat kita balas dendam nek.'' Munding wesi tertawa girang.


Wanita tua yang bernama nini kalingking tertawa terkekeh menyeramkan.


''Hehe heee hehe,, ayo munding wesi kita habisi para keturunan elang itu.'' Ucap nini kalingking sambil memutarkan tongkatnya yang berkepala tengkorak dengan dihiasi oleh rambut yang gimbal.


Tapi darma seta, wira jaya dan dewi harum sedikitpun tidak terpancing amarahnya, malahan ia langsung mengejek nini kalingking dan munding wesi alias jagal pati.


''Munding wesi, rupanya sudah bosan dengan ki darpal, tapi bagus munding wesi lebih memilih si nenek bau busuk, jadi tambah busuk aja tuh badanmu kebo besi.'' Ujar darma seta


''Sekarang kau elang perak, akan ku kirim kau ke neraka.'' Bentak munding wesi.


''Haii munding wesi bukannya kau mau berurusan dengan ku.'' Ujar wira jaya.


''Sekalian kalian bertiga akan segera ku kirim ke neraka.'' Berkata munding wesi sambil melesat menerjang pada wira jaya.


Wira jaya melesit keatas sambil jungkir balik di udara menyambut serangan dari munding wesi, kini pertarungan pun terus berlangsung.


Darma seta bertarung dengan nini kalingking, sementara dewi harum berdiri menyaksikan anak dan suaminya yang lagi bertempur.


Kelebatan-kelebatan bayangan begitu cepatnya bagaikan sebuah gelombang cahaya yang saling beradu.


Trang trang trang.


Suara benda keras yang saling beradu dalam bentuk sebuah senjata begitu nyaring terdengar, bersama'an dengan munculnya pendekar kelelawar dan kibarong besi, yang sudah berhasil lepas dari ikatan tali sakti dadung geni, cipta'annya jagal pati alias munding wesi.


Dengan entengnya pendekar kelelawar bertengker didahan kayu sambil menyaksikan pertarungannya wira jaya dan jagal pati.


Begitupun ki barong besi ia menyelinap ke balik pohon yang besar.


Sementara wira jaya masih terus berlangsung dalam pertarungannya melawan jagal pati alias munding wesi.


Jagal pati atau munding wesi, masih tetap dengan senjata andalannya yaitu golok raksasa, yang waktu itu telah hancur oleh ilmu cakra dewa, sedangkan wira jaya hanya menggunakan senjata ampel kuning, tapi anehnya senjata ampel kuning yang terbuat dari bambu kuning itu tidak lecet atau berbekas sewaktu berbenturan dengan golok raksasanya munding wesi.


Wesss...


wira jaya melesit keatas sambil memutarkan tubuhnya seperti anak panah yang keluar dari busurnya, dalam jurus elang menembus sukma, dengan senjata ampel kuning berada dalam genggamannya.


Wes wees siuuurrr....


Buk buk deeaass...

__ADS_1


Pukulan bertubi-tubi bersarang didada jagal pati(munding wesi), munding wesi terdorong lima langkah karena kerasnya pukulan wira jaya.


Jagal pati agak sempoyongan, tapi ia masih bisa menjaga keseimbangannya, dan langsung merubah kuda-kudanya.


Kini jagal pati memutarkan golok raksasanya, kibasan-kibasan dari golok raksasa itu terus menderu seperti ingin mencacar bolang wira jaya, tapi wira jaya lebih gesit dan sangat cepat sekali gerakannya.


''Ayo keluarkan ilmu baru mu itu munding wesi, sampai dimana tingkat kekebalanmu itu.'' Teriak wira jaya yang terus berkelebat dengan senjata ampel kuningnya.


Munding wesi atau jagal pati, nampak ke teter dalam pertarungan, jurus-jurusnya semua dapat dipatahkan oleh wira jaya, jurus elang sakti yang dulu menggemparkan dunia persilatan hingga sampai pada keturunannya, seperti wira jaya dan darma seta.


Munding merasa kesal, karena sangat sulit untuk menembus tubuhnya wira jaya, yang sangat cepat dan aggresip sekali di dalam gerakan-gerakannya, kalau saja munding wesi tidak mempunyai ilmu kebal mungkin sudah dari tadi ia dapat dikalahkannya, karena berkali-kali senjata ampel kuning wira jaya selalu mendarat di tubuhnya munding wesi.


Kini munding wesi melesat mundur kebelakang dengan tata gerakan yang belum wira jaya kenali.


''Hai elang kuning, kali ini kamu boleh bangga dengan permainan jurus-jurusmu itu, tapi apakah kamu masih bisa bertahan dengan ilmu ilblis pemusnah raga.'' Teriak munding wesi, sambil merubah gerakan kuda-kuda yang sangat aneh.


Sejenak wira jaya tercengang, dengan ilmu yang akan digunakan munding wesi.


''Ooh mungkin ini, ilmu iblis pemusnah raga yang pernah menggemparakan di dunia persilatan golongan hitam,, dan saya yakin ini ilmu nini kalingking, yang pernah berseteru dengan kake raganata.'' Gumam wira jaya dalam hatinya.


Kini wira duduk bersila diatas hamparan tanah berbatu, dan kedua telapak tangannya di dibuka sambil di acungkan keatas menghadap pada langit yang menjulang, dan langitpun mendadak gelap, dibarengi dengan angin dingin yang sangat kencang mengurung munding wesi, yang sudah menyiapkan ilmu andalannya,, yaitu ilmu iblis pemusnah raga yang sangat angker dan mengerikan.


Kilatan-kilatan cahaya api sudah mulai membungkus tubuhnya munding wesi, yang sudah siap untuk membakar tubuh wira jaya, tapi hawa dingin yang keluar dari angkasa yang dibarengi dengan butiran-butiran salju yang terus menghujani munding wesi semakin deras dan semakin kuat, kini dua kekuatan saling meperlihatkan powernya.


Api yang telah mengembang di tubuh munding wesi kini sedikit demi sedikit mengecil karena ilmu butiran salju yang terus berhamburan ingin membekukan munding wesi


Tenaga dalam banyak terkuras baik wira jaya maupun munding wesi, yang sudah gemetaran karena hawa dingin yang semakin kuat menekan dan menyelimuti tubuh munding wesi.


Melihat seperti itu dewi harum tidak tinggal diam melihat suaminya yang hampir kehabisan tenaganya.


Munding wesi kini sudah mulai menggigil kedinginan, dan api dari ilmu iblis pemusnah ragapun telah padam disaat munding wesi telah kehabisan tenaga dalamnya.


Butiran salju kini semakin menebal mengbungkus tubuh munding wesi.


Karena kekuatan ilmu butiran salju semakin kuat ditambah dewi harum membantunya, dari tempat yang tersembunyi.


Kini tubuh munding wesi sudah terkujur kaku dengan dipenuhi oleh butiran salju yang sangat tebal.


Sementara darma seta yang lagi bertarung dengan sinenek yang mengeluarkan bau busuk yaitu nini kalingking, masih terus berlangsung sengit.


Nini kalingking tokoh pendekar tertua dari golongan hitam dan usianya pun sudah mencapai ratusan tahun, biapun begitu gerakan-gerakannya masih nampak terlihat cepat dan gesit sekali. tapi nini kalingking sendiri selalu memberi pujian pada darma seta, yang usianya masih muda belia, sudah memiliki ilmu kedidjaya'an yang luar biasa sekali, beberapa kali pukulan dan tendangan darma seta sempat menjatuhkan nini kalingking, tapi dahan tahan si nenek bau busuk itu sangat luar biasa selali.


''Luar biasa sekali, daya tahan si nenek bau busuk ini, padahal badan hanya tinggal tulang yang di bungkus oleh kulit.'' Gerutu darma seta dalam hati.


Nini kalingking terus melesit keatas dengan jungkir balik di udara ketika sebuah pukulan darma seta mau menghancurkan tubuhnya, kini darma seta harus kecolongan, tongkat tengkorak nini kalingking dengan sangat cepat menghantam dadanya darma seta.


Wess..


Buuukk...


Darma seta terpental empat langkah ke belakang, sembari membentangkan kedua tangannya dalam gerakan jurus elang loncat.


Nini kalingking tertawa terkekeh ketika tongkatnya telah berhasil masuk di tubuhnya darma seta.


''Eh eh eh eh,, mangpuslah kau cucu raga nata, sebentar lagi racun itu akan masuk melalui pori pori kulitmu.'' Teriak nini kalingking.

__ADS_1


Darma seta tersontak kaget ketika nini kalingking berkata begitu, tapi darma seta sedikitpun tidak merasakan apa-apa, ketika itu pula darma seta langsung mengeluarkan hawa murninya, untuk membemdung racun masuk ke jantung.


Disa'at itu pula terdengar lengkingan keras suara elang.


Setelah itu terlintas ditelinga darma seta sebuah bisikan gaib.


''Kamu tidak usah panik cucuku, karena racun tidak akan berpengaruh pada dirimu.'' Begitu bisik gaib yang terdengar di telinga darma seta.


Setelah mendengar bisikan gaib, dan darma setapun tidak merasakan epek dari tongkat nini kalingking yang sangat beracun itu, darma seta langsung melesit keatas dengan tangan terbuka membentuk sayap sambil pedang perak berada dalam genggaman tangan kanannya.


''Sekarang tamatlah riwatmu nenek bau busuk,, heaaaa....'' Teriak darma seta dengan kecepatan seperti kilat, ingin merobek tubuh nini kalingking yang tinggal tulang terbungkus oleh kulit.


Nini kalingking begitu amat waspada akan bahaya yang mengincarnya, ditambah ia sudah banyak makan asam garam dalam sebuah pertarungan.


Walaupun sempat dibikin kaget karena racun dari tongkatnya itu tidak berpengaruh apa-apa pada darma seta.


Ketika pedang perak melesat ingin mengoyak ngoyak tubuh nini kalingking, disa'at itu pula nini kalingking menancapkan tongkatnya ke bumi, terus tongkat itu bergerak sendiri menghadang pedang perak.


Trang trang...


Suara benturan keras dari pedang perak dan tongkatnya nini kalingking.


Nini kalingking kini terpental karena tenaga dalam darma seta yang sudah mencapai tingkat paling sempurna.


Tubuh nini kaling king melayang di udara, tapi si tokoh tua ini langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, dan disa'at mendaratkan kakinya di bumi, lalu tongkat sakti di tancapkan ke tanah.


''Eh eh ehheh,, Tenaga dalammu sudah mencapai puncak paling tinggi anak muda, tapi jangan dulu kamu berbangga hati, karena ilmu andalanku belum ku keluarkan.'' Ujar nini kalingking sambil terkekeh kekeh


''Kalau begitu cepatlah keluarkanlah ilmu andalanmu itu nenek bau busuk.'' Teriak darma seta memaki.


kini nini kaling duduk bersila dan dihadapannya telah tertancap tongkat sakti andalannya, nini kalingking sama seperti munding wesi mau mengeluarkan ilmu kesaktiannya iblis pemusnah raga.


Gumpalan api sebesar kepalan tangan, yang dikit demi sedikit mengembang menjadi besar, siap untuk memusnahkan darma seta.


Sedangakn darma seta sendiri sudah siap dengan ilmu kesaktiannya ajian cakra dewa, sinar perak yang menggumpal ditelapak tangan kanannya telah menyala nyala dalam kekuatan penuh, kali darma seta sudah cukup bisa merasakan kesaktiannya nini kalingking, maka dengan itu darma seta mengeluarkan ilmunya dengan kekuatan penuh.


Kini keduanya sudah saling menghempaskan kekuatannya.


Kilatan cahaya merah melesat dan berbenturan dengan cahaya putih perak, saling dorong dan saling tekan, kini keduanya sudah benar-benar untuk saling bunuh dengan kesaktian ilmu kedidjaya'annya.


Nini kalingking yang sudah diliputi usia hingga ratusan tahun, kini mulai melemah, tenaga dalamnya banyak terkuras habis ketika darma terus menekannya dengan tenaga dalam dipuncak tertinggi.


Sehingga akhirnya, cahaya api yang yang keluar dari tongkat dan telapak tangan nini kalingking mulai melemah dan berbalik memakan peńggunanya perlahan-lahan.


Kini tubuh nini kalingking sudah mulai bergetar, karena kekuatan dari ilmu cakra dewa yang terus menekan hingga akhirnya, tubuh nini kalingking terpental jauh dengan pakain yang dikenakan ditubuh nini kalingking telah di robek-robek oleh kekuatan ajian cakra dewa, dan tongkat sakti pun telah hancur berkeping-keping.


\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.


Terima kasih yang sudah mrmberi dukungannya, jangan lupa sertakan pula,like, comentar, favorit dan juga vote.


Salam sehat dan sukses selalu.


''Assalam mualaikum''

__ADS_1


__ADS_2