
Di sa'at mereka lagi duduk sambil minum kopi dan wedang jahe.
Tiba-tiba muncul wira jaya, sambil memikul ikatan Kayu bakar, dan a
ji santang mengikutinya dari belakang.
Braaaakkk...
Wira jaya langsung menjatuhkan ikatan kayu bakarnya.
Dan aji santang lalu menggantungkan perlengkapan buat naik kuda yang terbuat dari kulit.
Wira jaya dan aji santang lalu menghampiri, aji sura, jala aji darma dan darma seta, wira jaya pun memanggil istrinya yaitu dewi harum.
''Nyai... Bawa kopi buat kake.'' Ucap wira jaya.
''Iyaa.... Kakang.'' Jawab dewi harum.
Dewi harum pun langsung bikinin kopi dua, yaitu untuk kakenya aji santang dan buat suaminya juga.
Cahaya dari timur sudah memancarkan sinarnya yang kuning ke emasan mulai menyinari lagi jagat raya.
Mereka yang lagi asik minum kopi dan wedang jahe buatan dewi harum, nampak asik menikmati minuman yang di buat oleh dewi harum.
....................
Sementara di lain tempat.
Ki layung dan raden sedayu sama persis seperti yang lagi dilakukan di rumah aji santang.
Kopi hitam kental digelas yang terbuat dari bambu yang dipotong-potong, seperti menambah rasa.
''Kopinya enak betul ki.'' Ucap raden sedayu.
''Ini kopi dari tanah sebrang, yang sudah ditumbuk secara halus, dan aromanya begitu harum.'' Ucap ki layung.
''Kira-kira mereka lagi ngapain ya.'' Ucap raden sedayu.
''Ya paling mereka lagi melakukan hal yang sama, seperti kita sedayu.'' Ucap ki layung.
''E'eeh ki bagaimana kalau kita melatih otot-otot kita, kalau di pagi begini terasa segar sambil menyerap inti alam kedalam tubuh kita.'' Ucap raden sedayu.
''Iya benar juga, ide kamu sedayu.'' Jawab ki layung.
Setelah itu ki layung dan raden sedayu, berjalan ke arah tempat yang lebih tinggi di selatan rumahnya.
Setibanya ditempat, ki layung menancapkan tongkatnya ke tanah, dan raden sedayu pun menyimpan pedangnya digantungkan kedahanan kayu.
''Ayo sedayu sekarang serang saya, keluarkan jurus-jurusmu yang termashur itu.''
''Baik ki layung, siap-siap ki untuk menghadapi jurus yang baru saya ciptakan ini.'' Teriak raden sedayu, sambil melakukan serangan pada ki layung.
Ki layung pun menyambutnya dengan jurus-jurusnya yang tidak kalah ganasnya dengan jurus-jurus baru, cipta'annya raden sedayu.
Kelebatan dan sabetan dari kedua pendekar yang lagi berlaga, untuk melatih otot-ototnya yang kaku, sangat cepat sekali bagaikan kilatan-kilatan halilintar.
Raden sedayu sangat agresip sekali dengan jurus-jurus barunya itu.
Begitupun ki Layung biarpun usianya lebih tua dari raden sedayu, masih sangat cepat gerakannya dan susah sekali untuk ditembus oleh raden sedayu.
Ke dua pendekar yang sudah ternama di dunia persilatan, dan sudah tidak asing lagi bagi para pendekar bila mendengar namanya, sipukulan matahati, dan Pendekar jail yang terkenal dengan ilmu bayu silantangnya bah badai topan yang amat dahsyat.
Cukup lama mereka berlatih jurus-jurusnya semua sama-sama kuat, dan sama gesitnya di dalam menghindari semua sabetan, pukulan dan tendangannya.
Akhirnya kedua pendekar itu menghentikan latihannya.
''Kita cukup sampai disini dulu ki, jurus lembayung ki layung masih sangat kuat dan susah sekali untuk ditembus.'' Ucap raden sedayu sambil menarik napasnya lalu dikeluarkan melalui mulut perlahan lahan.
''Kamu juga semakin hebat sedayu, jurus barumu itu sangat mematikan, apalagi dijurus kelima belas, tubuhmu seperti di kendalikan oleh angin, nampak tapi susah untuk dijatuhkan, kalau boleh saya tau apa nama jurus yang kau baru ciptakan itu?.'' Tanya ki layung.
''Aku menciptakan jurus ini, lagi datangnya badai angin yang dahsyat, terus aku mengkombinasikannya dengan ilmu bayu silantang, dan ku beri nama jurus ini, jurus telapak angin dewa.'' Jawab raden sedayu.
''Sungguh nama jurus yang angker, sesuai dengan kekuatan jurusnya, seperti ada kekuatan roh pencabut sukma.'' Ucap ki layung.
''Waah ki layung terlalu pintar bila memuji orang.'' Ucap raden sedayu.
''Saya bukan memuji sedayu, tapi kenyata'an karena sayalah orang pertama yang telah merasakan kekuatan jurus barumu itu.'' Jawab ki layung.
''Tapi itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pendekar elang perak ki, dia juga pemuda yang pintar, waktu ku serang dengan kekuatan ilmu bayu Silantang pemuda itu sangat pintar menghadangnya dengan ilmu butiran salju, yang akhirnya tebaran hawa dingin yang berbalik arah bersama angin dari ilmu bayu silantang menbekukan tubuhku.'' Raden sedayu menjelaskan.
''Kamu benar sedayu, darma seta waktu bertarung dengan saya, dikaki gunung sembung, dan Saya hampir tewas, kalau tidak segera ditolong oleh darma seta.'' Ucap Ki layung.
''Ko bisa, ki layung berseteru dengan cucumu sendiri?.'' Bertanya raden sedayu.
''Pertamanya, saya tidak tau kalau dia itu masih ada kaitannya denganku, dia pernah menyebut nama aji santang, kakang ku, nah disa'at ku luka dalam, Entah kenapa darma seta juga tiba-tiba kasihan padaku dan mengobati luka dalamku, disa'at itulah saya meluncurkan pertanya'an pada darma seta, dan dia menjelaskan sejelas-jelasnya, nah disitulah saya menangis, karena sedih ternyata cucuku sendiri yang telah menyadarkan ku, mungkin itu sebagai cambuk atas dosa-dosaku yang pernah diperbuat dimasa lalu, nah disa'at itu aku bertobat dan meninggalkan gunung sembung untuk selamanya.'' Ucap ki layung menjelaskan.
__ADS_1
''Oooh begitu rupanya.'' Ucap raden sedayu singkat.
''Ya sudah, sekarang kita makan dulu pastinya lelah, setelah kita banyak mengeluarkan energi.'' Ucap ki layung.
Setelah itu ki layung dan raden sedayu, berjalan menuruni jalan setapak menuju tempat kediamannya ki layung.
Rasa lapar dan dahaga kini ki layung dan raden sedayu rasakan, setelah mereka melakukan latihan adu otot, yang mungkin banyak menguras tenaga dan pikiran juga.
Setibanya di depan pondok, ki layung langsung menyiapkan makanan untuk sarapan dipagi itu, nasi putih dan sayuran mentah ditambah ikan bakar yang sebelumnya sudah ki layung persiapkan.
''Ayo sedayu kita isi dulu perut kita, untuk memulihkan lagi tenaga kita.'' Ucap Ki layung.
''Baik ki, waduuuh saya jadi ngerepotin aki nih.'' Balas raden sedayu.
''Sudaah, jangan banyak bicara kau, kapan lagi kita kaya gini, arti kebersam'an sesama kawan harus kita jaga.'' Ucap ki layung.
Raden sedayupun langsung menyantap makanan yang sudah disajikan.
Sungguh lahap sekali raden sedayu, begitu juga ki layung, nampak nikmat sekali dalam menyantap makanannya.
Setelah selesai mengisi perutnya, ki layung dan raden sedayu beranjak pergi mau menuju ketempatnya ajii santang.
Ditempat lain.
Disebuah perguruannya Halilintar merah, nampak sang ketua padepokan lagi duduk-duduk bersama kaki tangannya yaitu ki munding wesi dan ki lingga tole.
Ki darpal lalu memerintahkan muridnya yang bernama Darta.
''Darta...'' Ucap Ki darpal.
''Iya.. Guru,, ada apa guru memanggil hamba?.'' Tanya darta.
''Tolong panggilin, kadu denta, murtala, rawit dan tirta, suruh kesini .'' Jawab ki darpal.
''Baik guru.'' Jawab sudarta.
Sudarta langsung bergegas menuju pondoknya kadu denta, rawit dan murtala serta tirta.
Dalam menjalankan tugas dari guru besarnya sudarta setengah berlari untuk menemui ke empat temannya itu.
Setibanya didepan pondoknya mereka, sudartanpun langsung mengetuk pintu pondoknya masing-masing.
Tok tok tok tok....
Kadu denta beserta yang lainnya langsung beranjak dari tempat istirahatnya, bergegas untuk membuka Pintunya masing-masing.
''Rampess... Ada Perintah apa guru sampai menyuruh kami menghadap.'' Ucap kadu denta dan yang lainnya.
''Saya juga tidak tau, cepatlah kalian semua menghadap guru.'' Ucap sudarta.
''Iya baik, ayo kita menghadap guru dulu.'' Ajak kadu denta pada murtala, tirta dan rawit.
Dan Merekapun langsung bergegas pergi untuk memenuhi panggilannya ki darpal.
Setibanya ditempat ki darpal mereka pun memasuki ruangan dimana ki darpal, munding wesi dan lingga tole berada.
''Ampun guru, ada apa kiranya, guru memanggil kami ber'empat.'' Ucap kadu denta sambil memberi hormat pada guru besarnya itu.
''Silahkan duduk, kalin semua.'' Jawab ki darpal.
Setelah itu, kadu denta, murtala, rawit dan tirta langsung duduk bersila berhadapan dengan ki darpal, munding wesi dan ki lingga tole.
''Iya ki terima kasih.'' Ucap kadu denta dan ketiga temannya itu.
Ki darpal lalu mulai berbicara, perihal atas pengundangannya pada kadu denta, murtala, tirta dan rawit.
''Kalian saya undang kesini, Untuk menemani munding wesi dan ki lingga tole, mengambil senjata pesanan saya itu, yang dibuat oleh aji santang.'' Ucap ki darpal.
''Cuma mengambil sebuah senjata, tapi kenapa harus pakai orang banyak ki.'' Ucap rawit memotong pembicara'an.
''Saya mencium bau penghianatan pada aji santang, karena ke empat pendekar elang sakti sudah berada disana, nah disitulah aji santang telah termakan omongan ke empat pendekar elang itu.'' Ucap ki darpal.
''Siapa mereka Ki?.'' Tanya kadu denta.
''Mereka para pendekar elang, elang perak, elang emas, elang kuning dan elang merah, mereka telah bersatu, tugas kalaian ambil senjata itu dari aji santang.'' Ucap ki darpal.
''Kalau mereka tidak mau memberikan pedang itu bagaimana ki?.'' Tanya murtala.
''Habisin saja.'' Jawab ki darpal.
''Baik ki, Kapan kita harus berangkat?.'' Tanya rawit.
''Sekarang juga kamu berangkat bersama ki munding dan ki lingga, ingat kalian harus hati-hati menghadapi pendekar elang, yang sebenarnya saya juga belum tau apa mereka sehebat tiga serangkai elang dulu, tapi kalian mesti berhati-hati.'' Ucap ki darpal.
''Baik ki.'' Jawab mereka.
__ADS_1
Selepas itu ki darpalpun memerintahkan munding wesi dan lingga tole untuk cepat-cepat berangkat ke kampung benda, guna mengambil pedang yang telah dipesannya pada aji santang.
...................
Sementara ditempat lain.
Ki teupa panggilan bagi para pembuat senjata ditatar sunda, yang tak lain adalah aji santang yang lagi menyelesaikan pedangnya yang belum sempurna, dalam pengerja'annya aji santang tak luput dari pengawasannya darma seta, wira jaya dan raden sedayu serta aji sura.
Karena wira jaya dan darma seta mencium aura kejahatan yang begitu kuat merongrong kampung benda.
Sesuai dengan pesan lewat mimpi itu, darma seta sangat yakin, pesan yang terlintas lewat mimpinya itu, pasti sebuah siloka yang bersipat untuk waspada.
Maka dari itu ketiga pendekar elang terus mengawasi ki teupa sang ahli dalam pembuatan senjata, yang tak lain adalah aji santang.
Dari tempat yang tidak tersembunyi ketiga pendekar elang itu mengawasinya, hanya orang yang ber'ilmu tinggilah yang bisa mengetahui keberada'an wira jaya, darma seta dan aji sura, karena mereka telah menutupinya dengan ajian mega mendung.
Sebuah ilmu penghilang pandangan dari keluarga elang.
Matahari terus semakin bergeser hingga tidak terasa waktu telah mau memasuki senja.
Dari arah selatan terdengar oleh ketiga pendekar elang, suara gemuruh kaki kuda seperti lagi berlari mendekati ke arah keberada'annya mereka
Dan suara pasukan berkuda itupun semakin dekat dengan keberada'anya tempat kiteupa aji santang.
Nampak terlihat oleh ketiga pendekar elang di atas bukit ada 6 orang penunggang kuda lagi mengarah ketempat dimana mereka berada.
''Coba paman perhatikan dari ke enam orang penunggang kuda itu, apa ada yang paman kenali salah satu dari mereka?.'' Tanya wira jaya pada aji sura.
Aji surapun terus memperhatikan mereka semua, walau jaraknya yang masih cukup jauh.
''Setelah paman perhatikan, ada dua orang yang sudah tidak asing lagi, dalam pandangan paman.'' Jawab aji sura.
''Kiranya siapa merekaa?.'' Tanya wira jaya.
''Kalau tidak salah kedua orang yang berbadan besar itu, munding wesi dan lingga tole.'' Jawab aji sura.
''Oooh itu rupanya orang yang bernama munding wesi dan Lingga tole.'' Saut wira jaya.
''Apa kalian pernah bertemu atau bentrok gitu.'' Ucap aji sura.
''Tidak Paman, cuman dengar namanya saja, dari mulut orang-orang.'' Jawab wira jaya.
''Oooh... Begitu.'' Ucap aji sura.
Suara kaki kuda semakin mendekati keberada'an tempat ki teupa aji santang yang lagi menyempurnakan senjatanya.
Senjata pun telah berhasil disempurnakannya, dengan gagang pedang yang mengkilap terbuat dari logam perunggu yang dilapisi dengan bahan kuningan sari, tertancap dihadapan aji santang yang lagi melakukan bersemedi untuk memasukan kekuatan inti alam pada pedang tersebut.
Sebuah cahaya putih kekuning-kuningan keluar dari dasar bumi, seperti tersedot dan masuk pada pedang tersebut.
Pedang yang tertancap dihadapan kiteupa aji santang, bergetar dengan kencang, setelah itu sang pedangpun terangkat dengan sendirinya, sampai terus keatas dan berputar perlahan-lahan, setelah beberapa menit pedang itupun melorot lagi dan menancap lagi ditempat semula.
Kiteupa aji santangpun kini mulai membukakan matanya perlahan-lahan.
Setelah itu, nampak jelas terdengar di kedua telinganya aji santang, suara bergema yang sempat menggetarkan tempat kediamannya itu.
''Aji sannntang, kau telah berhasil menyempurnakan pedang itu, jagalah jangan sampai jatuh ketangan orang-orang jahat yang haus akan kekuasa'an.'' Begitu suara tanpa wujud itu berkata.
Dan aji santang pun berkata.
''Siapakah gerangan, wahai suara tanpa wujud?.'' Tanya aji santang.
''Saya adalah Roh dari empat kekuatan inti alam, Jagat, bayu, banyu dan geni, Pedang ini akan banyak membunuh penggunanya maupun lawannya.'' Jawab dari suara itu.
''kalau begitu pedang yang saya buat ini, tidak bisa digunakan oleh manusia.'' Ucap aji santang.
''Pedang ini hanya bisa digunakan oleh manusia yang berjiwa luhur, dan yang menguasai jurus elang garuda Winata.'' Jawab suara itu.
''Terus siapakah orang itu?.'' Tanya aji santang.
''Dia yang mempunyai garis tapak jalak ditelapak tangannya.'' Jawab Suara itu, yang terus menghilang.
Disa'at aji santang mau bangun dari tempat semedinya, dan pedangpun masih tertancap dihadapannya.
Terdengar dengan jelas suara kaki kuda berlari lebih dari pada tiga.
☆☆☆☆☆☆☆☆\=\=\=\=\=\=☆☆☆☆☆☆☆☆
Bersambung.....
Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya, jangn lupa klik, like, comentar, saran, Ranting, Favorit dan votenya.
Terima kasih atas dukungannya.
Selamat membaca semoga bisa terhibur.
__ADS_1