PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang Sakti eps 84


__ADS_3

Ke esokan harinya, langit nampak cerah, matahari pun sudah mulai muncul di timur negri persada, ke ada'an kampung Haur gereng masih nampak sepi hanya satu dua orang yang terlihat membawa perkakas tani pergi keladang.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma Seta, sudah keluar dari rumahnya kepala Kampung untuk melakukan perjalanannya ke Batu Gambir.


............


Di sisi lain.


Kini dunia persilatan telah di gemparkan dengan kemunculannya, lima tokoh sakti yang sempat menghilang puluhan tahun silam, kini telah muncul dan menggemparkan dunia persilatan banyak tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam maupun golongan putih yang telah binasa.


Ke lima tokoh sakti itu, keluar dari tempat pertapa'annya dan berpetualang mencari lawan untuk menjajal kesaktiannya, tapi untuk saat ini belum ada lawan yang mampu mengalahkannya apalagi membunuhnya.


Kelima tokoh sakti itu, kini mendatangi setiap perguruan yang besar, seperti yang dilakukannya saat ini mereka telah tiba di perguruan naga bintang di bawah kaki Gunung Galunggung


Kelima tokoh Sakti yang terdiri, Ki Reksa pati, ki Tembang, ki Gantar, ki Talang dan nyai Rombeng, berkelebat melompat gerbang Naga Bintang.


Dan semua murud Naga Bintang pada keluar mengurung ke lima tokoh sakti dari golongan hitam yang susah lancang memasuki perguruan tanpak ada adab sopan santun.


Pertarungan pun terjadi di alun-alun perguruan Naga Bintang, puluhan murid Naga Bintang banyak yang terbunuh secara kejam. Dan salah satu murid Naga Bintang berlari untuk memberi tahu pada ki Sura praba, Setelah mendapat laporan dari muridnya bahwa ada lima orang yang sangat sakti dengan ciri-ciri yang sudah di kenali oleh ki Sura praba, akhirnya ki Surapraba beranjak dari kediamannnya untuk menemui ke lima tokoh rimba persilatan tersebut


Begitu ki Surapraba melihat banyak muridnya yang tewas dan luka-luka, ia pun langsung melompat melesat sambil berteriak.


"Hentikan." Teriak ki Surapraba.


Ke lima tokoh sakti itupun sontak langsung menghentikan penyerangan dan menoleh pada pusat Suara itu.


"Hahahaha...Akhirnya kau keluar juga Surapraba." Ujar Reksa pati.


"Reksapati, Talang, Tembang, Gantar dan kau nyai Rombeng kenapa kalian menghabisi murud-murid saya, apa salah perguruan ini pada kalian, perguruan Naga Bintang gak pernah punya urusan dengan kalian." Tutur ki Surapraba dengan pasang wajah merah padam karena murid-muridnya hampir habis di bantai.


"Hehehee...Apa kabar Sura praba, semakin tua kamu semakin tambang ganteng aja." Ujar nyai Rombeng kegenitan.


"Dasar nenek tua, sudah bau tanah juga bukannya bertobat malah bikin dosa." Maki Surapraba.


Nyai Rombeng malah tertawa menyeramkan sambul menatap intens wajah ki Surapraba.


"Justru sudah tua malah tambah bergairah Surapraba. Heheehee." Kekeh nyai Rombeng sambil memperlihat giginya yang sudah menghitam.


"Cuuiihh, dasar nenek busuk, sungguh menjijikan ucapanmu itu Rombeng." Ujar Surapraba sambil melepaskan ludahnya ke tanah.


Melihat Surapraba begitu, nyai Rombeng sangat geram.


"Kutu busuk kau Surapraba, aku bunuh kau Surapraba." Bentak nyai Rombeng.


Berkelebat cepat menyerang Surapraba, melihat nyai Rombeng melakukan serangannya Reksa pati dan Ki Gantar pun melesat menyerang Surapraba.

__ADS_1


Pertarungan yang tidak seimbang, tiga tokoh sakti dari golongan hitam yang sangat kejam terus mendesak ki Surapraba dengan jurus-jurus yang mematikan, sehebat apapun Sura praba dengan Jurus Naga Bintangnya yang terkenal, akhirnya bisa di patahkan, dan beberapa kali Sura praba jatuh.


"Bedebah dasar iblis, sekarang akan ku ***** kalian." Dengus Surapraba, langsung membangun kuda-kuda, memutar kedua telapak tangannya, dengan membuka kakinya agak melebar, tubuhnya mulai bergetar di sertai dengan keluarnya cahaya merah yang kian lama kian mengembang.


Rupanya Surapraba akan mengeluarkan ilmu Pukulan Tapak Naga selaksa.


Reksa pati, Ki Gantar dan nyai Rombeng pun langsung berkelebat mundur. Untuk mempersiapkan ilmunya guna mengungguli pukulan Tapak Naga selaksa.


Ketika itu pula Ki Sura praba mulai melepaskan pululan Tapak Naga nya, cahaya merah melesat ke arah ke tiga tokoh sakti itu.


Reksa pati, Ki Gantar dan Nyai Rombeng pun langsung mengeluarkan ilmu kesaktiannya, kini tiga kekuatan dari ketiga tokoh sakti saling terhempas menghadang pukulan Naga selaksa andalannya perguruan Naga Bintang.


Tar


Tar


Tar


Bluuuuuueeerrr..


Kekuaran kesaktian saling menghantam sehingga menimbulkan daya ledakan yang sangat Dahsyat dan Ki Sura praba terpental jauh begitu pula Reksa pati, nyai Rombeng dan Ki gantar langsung terhuyung lemah dan terjatuh, darah keluar dari sudut bibir ke tiga tokoh sakti itu.


Sedangkan ki Sura praba masih terkapar, dan para muridnya langsung memburu untuk mrmberikan pertolongan pada Surapraba, lalu di gotong beramai-ramai di bawa ke tempat kediamannya.


Sementara Reksa pati, ki Gantar dan Nyai Rombeng dibantu Oleh ki tembang dan ki Talang dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun dalam tubuhnya akibat dari pukulan Tapak Naga selaksa yang sangat berbahaya.


Kemudian sang tabib menurunkan tubuhnya duduk di lantai papan kayu.


"Coba di bantu angkat tubuhnya saya akan mencoba menotok sebagian urat nadinya yang tersumbat karena luka dalam yang sangat serius." Ujar sang Tabib.


Setelah tubuh ki sura prab di angkat dalam posisi duduk berselonjor, sang tabib pun menotok beberapa urat nadinya yang tidak bisa jalan karena tersumbat oleh darah yang sudah mengental.


Setelah sang Tabib menotok beberapa sarap yang terganggu, kemudian kedua telapak tangannya di tempelkandi punggungnya Surapraba, intuk menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Surapraba.


Uuuoooo


Ohhooo


Uuuoooo.


Ki Surapraba memuntahkan gumpalan darah yang sudah mengental, kemudian tubuhnya di baringkan kembali, sementara sang Tabib langsung meracik ramuan obat untuk mengobati luka di bagian dalam.


Setelah racikan obat selesai, sang Tabib meminta salah satu muridnya untuk meminumkan ramuan obat yang baru di buatnya.


"Tolong ramuan ini di minumkan pada tuan Sura praba, kalau bisa harus sampai habis, saya mau menumpuk daun-daun untuk mengobatan di bagian luar." Ujar sang Tabib meminta tolong.

__ADS_1


"Baik tuan Tabib." ujarnya sembari mengangkat bahunya Surapraba lalu ramuan obat di minumkannya secara perlahan.


Setelah ramuan obat selesai di minumkan, sang Tabib pun langsung membalur dada Surapraba yang nampak membiru, karena keras nya empat kekuatan saling berbenturan.


Andaikan cuma nyai Rombeng seorang mungkin Sura praba tidak akan mengalami luka dalam separah ini, namun karena tiga kekuatan dengan ilmu yang berbeda-beda ilmu Tapak Naga selaksa tidak bisa mengunguli ke kuatan dari tiga orang Tokoh sakti penguasa lembah hantu, dan bukit harendong yang terkenal biadab.


..............


Sementara ke lima tokoh sakti memilih pergi dulu dari perguruan Naga Nintang perihal luka dalam yang di alami, Reksa pati, Ki Gantar dan Nyai Rombeng cukup lumayan parah.


KI tempang dan ki Talang berjalan memboyong ke tiga kawannya yang lagi terluka parah keluar dari kawasan perguruan Naga Bintang.


Setiba di hutang Galunggung, ki Talang dan ki Tempang merebah kan tiga orang kawanannya itu, di sandarkan pada pohon yang besar, Sambil ngos-ngosan Ki Tempang dan Ki Talang mengatur napasnya.


"Berat juga tubuh mereka, apalagi si Rombeng, badan tinggal tulang saja beratnya melebihi dari Reksa pati dan Gantar." Gerutu ki Talang.


"Iya benar, ada apa sih di dalam tubuh si nenek peyot itu." Celoteh ki Tempang.


"Sekarang bagaimana langkah kita selanjutnya?." Tanya ki Talang.


"Kita tunggu mereka siuman." Ujar Ki Tempang.


Ki Talang dan Ki Tempang beranjak dari tempat duduknya melangkah ke arah barat, untuk mencari buah buahan atau apa saja yang bisa mereka makan untuk mengganjal perutnya dari rasa lapar yang kini sudah menyerangnya.


"Di sini tidak makanan Talang." Ujar ki Tempang.


"Ayo kita cari makanan ke sebelah sana." Ajak ki Talang.


Ketika ki Talang dan ki Tempang mau melangkahkan kakinya, nampak ada sekelebatan bayangan melompat di atas pohon, dengan cepat ki tempang menghempasakan sejata Naga Rantainya.


Weesssss...


Bruuuk


Guuiiiiikkkk.


Bayangan itu langsung jatuh setelah terkena sejata Naga Rantainya ki Tempang, lalu mereka langsung memburunya.


"Wah se ekor monyet Talang." Ujar ki Tempang.


"Apapun itu yang penting bisa untuk mengganjal perut kita yang keroncongan, ayo kita bawa ke sana." Ujar ki Talang.


Setelah itu Ki Talang dan ki Tempang langsung pergi dengan membawa se ekor monyet untuk di bakar dan dagingnya buat di jadikan makanan mereka.


Setelah monyet itu di sembelih dan di kuliti, Ki Talang dan ki Tempang memotong-motong daging monyet hutan tersebut dan di tusuk pakai tusukan bambu di bikin sate bakar.

__ADS_1


Tidak lama kemudian sate daging monyetpun sudah matang ki Talang dan Ki Tempang langsung menyantapnya dengan sanagt lahap.


__ADS_2