PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI EPS 34


__ADS_3

Kini suasana dirumah aji santang nampak ramai sekali.


Jala aji darma dan kerta santang lagi membelahin kayu bakar untuk keperluan dewi harum memasak, kini kayu bakarpun sudah menumpuk tersususn rapi.


''Paman sudah banyak sekali kayu bakarnya, sekarang cukup sampai sini dulu, perut ini seperti meminta di isi.'' Ucap Jala aji darma.


''Ya sudah kamu makan dulu sana, biar paman yang beresin sisanya.'' Jawab Kerta santang.


''Paman tidak apa-apa bila saya makan duluan.'' Ucap jala aji darama.


''Tidak, paman tidak apa-apa, ayo sana bareng ama ayahandamu dan yang lainnya, biar paman nyusul belakangan.'' Ucap kerta santang.


Jala aji darma pun langsung beranjak dari tempat itu menuju tempat dimana aji sura dan yang lainnya makan bersama.


.............................


Dilain tempat.


Disebuah bukit yang berbatu, jauh disebelah utara kampung benda, tepatnya dibukit karang, yaitu tempatnya pergutruan halilintar merah yang dipimpin oleh seorang guru dari aliran hitam, yaitu kidarpal.


Setelah kepulangannya, murid-murid andalannya yang diantarkan oleh angin cipta'annya Raden sedayu.


Munding wesi, lingga tole beserta keempat muridnya yang baru lulus dari selesksi murid yang handal, kini lagi berbaring disebuah tempat pengobatan tabib sura kanta.


Luka yang diderita ke'enam pendekar beraliran hitam itu cukup parah, apalagi lingga tole dan munding wesi, mengalami luka dalam yang sangat parah.


Kidarpal ketua dari perguruan halilintar merah yang sekaligus guru besarnya, sangat murka sekali, melihat ke'enam muridnya terluka parah.


Bagi kidarpal itu suatu penghina'an yang sangat menyakitkan.


''Aji santang, dari mulai sekarang dan seterusnya kau bukanlah sahabatku lagi, kau sudah menanamkan benih permusuhan sama kidarpal.'' Gerutu kidarpal.


Dari ke'enam muridnya yang terluka, hanya tirta dan rawit yang tidak terlalu parah, tirta masih bisa untuk diajak bicara, dan kidarpal terus menanyakan awal mula dari kejadian itu, kenapa sampai terjadi pertumpahan darah.


''Tirta, coba kamu ceritakan kejadian yang sebenarnya?.'' Tanya kidarpal pada tirta.


Tirtapun langsung menceritakan kejadian sebenaranya, dari mulai mencabut pedang hingga terjadinya pertempuran dengan ketiga pendekar elang sakti, tirta berkata apa adanya tidak ada yang ditambahin ataupun dikurangi, biarpun tirta salah satu murid dari penganut aliran hitam, tapi tirta tidak bisa berkata bohong.


''Nah begitu guru awal terjadinya pertarungan dibukit santang.'' Ucap tirta.


''Kalu begitu pihak kita yang bikin ulah duluan, tapi biarpun begitu, saya tetap akan memabalasnya, pada aji santang dan ketiga pendekar elang.'' Gerutu kidarpal.


''Iya guru, apalagi kilayung dan Raden sedayu, seperti menantang pada perguruan kita.'' Ucap tirta.


''Bedebah, rupanya kake tua itu, sudah berkomplot dengan para pendekar aliran putih.'' Ucap kidarpal penuh amarah.


Disa'at kidarpal, tirta dan rawit lagi memperbincangakan, masalah yang terjadi dibukit santang, Tabib sura kanta datang dengan membawa dau-daunan untuk dijadikan obat.


Tabit tersebut lalu pergi ketempat peracikan obat-obatan.


Setelah itu tabibpun kembali lagi, dengan membawa obat yang sudah diracik.


''Kidarpal, jangan dulu ajak bicara karena luka-lukanya belum sembuh benar, mereka memerlukan istirahat yang cukup supaya obatnya cepat bereaksi.'' Ucap sang tabib.


''Apa lukanya cukup parah tabib?.'' Tanya kidarpal.


''Tuan munding wesi dan tuan lingga tole, luka dalamnya cukuplah parah, sehingga aliran darahnya kejantung jadi terhambat, dan membutuhkan waktu untuk bisa pulih kembali.'' Ucap Sang tabib, sambil membalurkan ramuan untuk penyembuhan bagian luar.


''Pokonya, saya meminta tolong pada tabib, untuk kesembuhan murid saya.'' Ucap Kidarpal.


''Saya berusaha semaksimal mungkin, ya untung saja racunnya belum menjalar kejantung, jadi racunnya sudah ku keluarkan, tinggal mengobati luka-lukanya.'' Jawab sang tabib.


Selepas itu kidarpalpun beranjak pergi dari rumahnya tabib sura kanta, menuju ke kediamannya dibukit karang, jarak tempuh bukit karang dengan rumahnya tabib sura kanta tidaklah terlalu jauh.


Kidarpal kini sudah menunggangi kudanya, kudapun dipacunya untuk cepat sampai dibukit karang.


Dengan roman yang terlihat penuh dendam kidarpal terus memacu kuda yang ditungganginya.


Jalan setapak dan penuh liku-liku, sudah dilaluinya.


Kini malampun telah tiba, kegelapan telah datang membungkus jagad raya.


Lampu-lampu cempor dan obor-obor telah menyala untuk menerangi malam yang gelap gulita.


Ditempat lain.


Dikampung benda, disa'at hari sudah mulai gelap, para warga kampung benda kini pada berdatangan kerumahnya aji santang, untuk memenuhi ajakan dari Wira jaya dan para pendekar lainnya, guna belajar ilmu bela diri dan ilmu kanuragan.

__ADS_1


Setelah semua berkumpul wira jaya dan darma seta beserta kilayung dan raden sedayu, mengajak semua warga kesebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya aji santang, tepatnya dibelakang istalnya aji santang.


Sebagian warga pun diperintahkan untuk memasang obor disetiap sudut pelataran yang akan dijadikan tempat untuk latihan ilmu bela diri.


Setelah semua obor-obor itu terpasang, wira jaya pun memerintahkan para pemuda kampung benda untuk maju dan membentuk barisan yang rapi dan tidak terlalu rapat.


''Kalian harus ingat ilmu bela diri ini, dulu diciptakan oleh para leluhur kita untuk membentengi tubuh kita dari serangan-serangan orang yang akan berbuat jahat pada kita, dan bukan untuk kesombongan.'' Ucap wira jaya.


Setelah itu, wira jaya berdiri di depan barisan para warga tersebut, untuk memulai memperagakan jurus-jurus dasar elang sakti.


Wira jaya sudah mulai memperagakan jurus-jurus dasar elang, yang diikuti oleh puluhan pemuda kampung benda.


Sementara ki layung dan raden sedayu berdiri sambil memperhatikan para pemuda yang sedang berlatih dengan semangatnya.


Sepuluh jurus kini sudah diajarkannya pada para pemuda, wira jaya sangat kagum pada anak-anam muda kampung benda karena dengan cepatnya bisa menangkap sepuluh jurus dasar elang sakti.


Mungkin karena keinginan dan rasa semangatnya pula yang membuat para pemuda itu bisa dengan cepat menangkap sepuluh dari jurus-jurus dasar elang sakti yang wira jaya ajarkan.


Malampun kini telah bergeser, dan obor-oborpun sudah mulai mengecil, karena terlalu lamanya sang api membakar obor tersebut sehingga bahan bakarpun sudah mulai hampir habis.


''Berhubung malam yang terus bergeser, dan peneranganpun sudah hampir mati, latihan malam ini ditutup dulu, dan dilanjutkan lagi besok malam.'' Ucap wira jaya.


''Baik paman.'' Jawab Salah satu dari mereka.


Selepas itu latihanpun ditutup, untuk dilanjutkan lagi besok malam.


Wira jaya, dan yang lainnya segera meninggalkan tempat itu, untuk kembali ke bale-bale yang kebetulan aji santang dan aji sura yang masih berada dibale-bale itu.


''Wah waah kake dan paman belum pada tidur.'' Ucap wira jaya.


''Kake dan Paman aji sura, lagi menunggu kepulangan kalian, sekalian berjaga-jaga takut ki darpal sewaktu-waktu mengirim pasukannya kemari.'' Ucap aji santang.


''Tapi kalau menurut saya, ki darpal tidak mungkin datang sendirian kesini, setidaknya dia akan menunggu anak buah pilihannya itu sembuh.'' Pungkas darma seta.


''Kenapa kau bisa berpikir begitu darma seta?.'' Tanya aji santang.


''Kidarpal memang sakti, tapi dia juga manusia biasa seperti kita, walaupun dia kesini mungkin dengan perhitungan yang matang.'' Jawab darma seta.


''Perkata'an darma seta mungkin ada benarnya juga, tapi kitapun harus lebih waspada, karena kita tidak tau apa yang akan direncanakan kidarpal selanjutnya.'' Kata wira jaya memotong pembicara'an.


''Ya sudah, sekarang kalian istirahat aja dulu, karena malam semakin terus bergeser.'' Ucap aji santang.


Setelah itu, wira jaya memasuki kamarnya yang sudah ditunggu oleh dewi harum, begitu wira jaya membuka pintu kamarnya nampak dewi harum lagi terlentang dengan sedikit kain penutup pahanya agak terbuka, dewi harumpun langsung membuka matanya sa'at mendengar suara pintu terbuka.


''Kakang, baru pulang?.'' Tanya dewi harum.


''Iya nyai, Latihannya ditunda dulu.'' Jawab wira jaya.


''Iya atuh kakang, kakang harus istirahat, jangan ngurusin mereka aja, istrimu sendiri dibiarkan tidur sendiri hehee.'' Ucap dewi harum sambil tersenyum manja.


''Iya istriku sayang, maapkan kakang ya.'' Ucap wira jaya sambil mencium keningnya dewi harum


Dewi harum langsung menyambut suaminya dengan pelukan mesra.


Wira jaya pun merasa terbangkitkan gairah asmaranya, lalu wira jaya melepaskan pakain dan senjata ampel kuningnya yang masih terselip dibalik sabuknya.


Setelah itu wira jayapun lalu naik keatas ranjang, dengan menciumi istrinya dewi harum.


Ciuman-ciuman mesra wira jaya mendarat dibibir dan sekujur tubuh dewi harum.


Kini dewi harum mulai merasakan getaran birahinya bangkit.


Malam yang semakin larut dengan udara dingin masuk melalui celah-celah lubang dinding yang terbuat dari papan kayu, membuat kedua insan itu semakin bergairah.


Rintihan-rintihan mesra yang keluar dari mulutnya dewi harum, semakin membuat wira jaya tidak tahan lagi.


Kini wira jaya sudah mulai merengkuh tubuh dewi harum yang mulus bersih tak ada bekas noda sedikitpun.


Hingga akhirnya senjata dari kedua suami istri itu sudah saling melengkapi, dewi harum nampak merem melek merasakan rasa kenikmatan yang amat sangat.


Sebuah senjata wira jaya yang sudah masuk menusuk daging mentah berlubang, dengan gerakan dan goyangan yang terlihat romantis, ditambah ciuman wira jaya yang terus melintas didaerah sensitipnya dewi harum.


''Aaaaahhhhh... Kakaaaaang.'' Begitu rintihannya dewi harum.


Udara dingin menerpa masuk menyelimuti dua insan yang saling memadu kasih.


Sehingga pada akhirnya merekapun sudah sama-sama melepaskan rindu kasihnya, setelah sekian lama mereka melakukan pengembara'an sehingga tidak ada waktu bagi wira jaya dan dewi harum untuk melepaskan asmara birahinya.

__ADS_1


Dan malampun semakin larut, wira jaya dan dewi harumpun sudah tertidur dengan pulasnya, setelah asmara birahinya terpuaskan.


Sehingga tidak terasa waktu pagipun sudah tiba, kokok ayam jantan telah terdengar dimana-mana.


Dewi harum nampak sudah terbangun lebih awal, dan wira jaya masih tertidur pulas.


Dewi harum sudah sibuk memasak untuk menyiapkan sarapan pagi.


Dengan rambut ikal terurai yang nampak masih basah, dengan ikat kepala warna merah sudah melingkar lagi diatas telinga.


Kulit mulus kuning langsat nampak bercahaya tersinari lampu cempor yang belum sempat dimati'in.


Didalam kesibukannya dewi harum, munculah wanita sebaya dewi harum masuk menemui dewi harum, dialah dayang puspita istri dari kerta santang, adik dari ajeng kerta ningrum yaitu ibunya wira jaya.


''Nyi dewi sudah masaknya, biar bibi bantuin.'' Ucap dayang puspita.


''Udah bi tinggal dikit lagi.'' Jawab dewi harum.


''Ya sudaah nyi dewi istirahat aja dulu, biar bibi yang nerusin memasaknya.'' Ucap dayang puspita.


''Biarin bi tidak usah, nanti bibi jadi repot.'' Saut dewi harum.


''Ya tidak atuh nyi dewi, bibi malah seneng bisa kumpul sama kerabat-kerabat, apalagi nyi dewi seorang pendekar, yang hidupnya selalu mengembara, nanti sepi lagi atuh rumah ini, kadang kasihan melihat ayahanda aji santang hidup sendirian.'' Kata dayang puspita.


''Iya bibi, sebenarnya saya juga sudah pingin hidup tenang, meninggalkan dunia persilatan, yang penuh dengan kekerasan, tapi misi kami masih belum berakhir, masih banyak tugas yang di amanatkan oleh mendiang kake raga nata.'' Ucap dewi harum.


''Untung bibi tidak bisa silat, kalau bibi bisa silat mungkin sama seperti nyi dewi pingin berkelana, menjelajah kesetiap negri, rasanya enak ya pengalamannya bisa luas.'' Kata dayang puspita.


''Dunia persilatan itu penuh dengan kekerasan, kelicikan dan penuh tipu daya, tidak cukup hanya bisa silat saja bibi, kita juga kadang akan dijumpai dengan para pendekar sakti yang penuh akal busuk dan tipu muslihat, nah dari situlah kita banyak mengenal watak manusia.'' Dewi harum memberi penjelasan.


''Oooh begitu ya.'' Ucap dayang puspita sambil manggut-manggut.


Tidak terasa dewi harum dan dayang puspita ngobrol sambil memasak, sehingga aji santang, ki layung, raden sedayu dan darma seta telah terbangun dari tidurnya, yang disusul oleh wira jaya.


''Tuh mereka sudah pada bangun nyi dewi, ayo siapkan kopi dan wedang untuk menghangatkan tubuhnya.'' Ucap dayang puspita.


Dewi harumpun langsung menyiapkan beberapa gelas yang terbuat dari bambu, untuk di'isi dengan kopi bubuk yang dicampur pemanis gula aren dan wedang jahe.


Setelah itu dituangkanlah air panas pada gelas-gelas tersebut.


Lalu dewi harum membawanya kehadapan aji santang, kilayung, raden sedayu berseta darma seta dan wira jaya, Sementara aji sura dan jala aji darma lagi membersihkan badannya dibawah kampung benda disebuah sumur yang airnya keluar dari akar-akar pohon.


''Ini kopi dan wedangnya, e'eeh paman aji sura dan rayi jala darma pada kemana?.'' Dewi harum bertanya.


''Tadi bilangnya mau mandi dulu.'' Jawab aji santang.


Selepas itu munculah aji sura dan jala darma, dengan badan menggigil kedinginan


''Waah, abis mandi disedia'in kopi panas dan wedang, pas sekali untuk menghangatkan isi perut.'' Ucap aji sura.


Dipagi itu mereka asik menikmati kopi panas dan wedang jahe, ditambah dengan singkong bakar dan ubi yang dikukus, sungguh nikmat nampaknya, apalagi disambung dengan lintingan tembakau hitam.


...............


Enam hari kemudian.


Jala darma anak dari a


ji sura berpamitan pulang lebih dulu, karena khawatir pada anak istrinya yang telah lama ditinggalkannya.


Aji sura dan wira jaya pun mengerti akan kekhawatiran jala darma, karena takut anak buahnya ki darpal melakukan pembagian serangannya pada keluarga elang emas.


Darma seta mengiringi kepulangannya jala darma, Untuk mengawalnya sampai perbatasan padukuhan halimun girang.


Kudapun terus dipacunya dengan kencang, menyusuri jalan setapak.


☆☆☆☆☆☆▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎☆☆☆☆☆☆


BERSAMBUNG


Nantikan lanjutan kisahnya di episode selanjutnya.


Jangan lupa beri dukungannya, dengan like, comentar dan saran, favorit dan vote.


Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.


Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2