PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti Eps 66


__ADS_3

Satu purnama Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta berada di lembah hantu, merasa diri tidak kerasan yang biasa berkelana, kini harus diam diri di lemah hantu, meski mereka berlatih untuk menambah kekuatan barunya, Wira jaya dan Dewi harum mendapat kekuatan baru dari kakek Ragantala dan Nini Ragantiri, sebuah ilmu suara pelebur jiwa sebagai alat mediasi ilmu terdebut wira jaya memakai senjata ampel kuning, sedangkan Dewi harum dengan pedang merahnya.


Kini mereka pun pamit untuk pergi meninggalakan lembah hantu, untuk melakukam pengembara'an lagi, terlebih dahulu mereka mau siggah dulu di bekas tempat tinggalnya Batu Gambir yang letaknya di atas lembah hantu.


Merekanpun sudah menunggangi kudanya, mendaki jalan setapak yang terjal dan berbatu, setelah tiba di atas sebuah perkampungan kuda berjalan pelan memasuki Kampung Batu gambir, di tengah-tengah kampung ketika bertemu dengan Warga, selalu tegur sapa, dan sebelum ke rumahnya ,mereka mendatangi dulu rumah nya kepala kampung untuk meminta ijin tinggal barang satu malam di bekas tempat tinggal Dewi harum, dan besoknya mereka langsung melakukan lagi pengembara'annya.


Setibanya di rumah kepala kampung, Wira jaya, Drwi harum dan Darma seta turun dari punggung kudanya, lalu berjalan mendekati pintu rumah pak kepala kampung.


"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.


selang beberapa menit terdengar ada suara menjawab sapaan Wira jaya.


"Rampes." Jawabnya sambil membuka pintu.


"Eeeh Wira, Harum dan itu Darma seta anakmu Harum." Lanjut pemilik rumah yang menjadi kepala kampung.


Darma seta pun langsung membungkukan badannya sedikit pertanda memberi hormat.


"Iya pak saya Darma seta puutranya bunda Harum." Pungkas Darma seta.


Pak kepala kampung langsung menggelar tikar di balai-balai dan mempersilahkan pada ke tiga pendekar elang untuk segera duduk.


"Ayo silahkan duduk Harum, Wira dan kau seta." Ujar pak kepala kampung.


"Buk ambilkan air minum sini, ada tamu nih, coba lihat siapa yang datang." Lanjut pak kepala kampung memanggil pada istrinya.


Setelah itu istri dari kepala kampung datang, dengan membawa kendi berisikan air minum dan empat cangkur bambu.


"Eeh Wira... Harum. dan ini anakmu yang dulu sempat hilang itu." Ujar istrinya kepala kampung sambil menolehkan pandangannya pada Dewi harum.


"Iya buk ini anak saya, yang tempo lalu dikabarkan hilang itu." Ujar Dewi harum.


"Wah sudah gede lagi kamu, siapa namamu nak?." Tanya istri kepala kampung.


"Darma seta Buk." Jawabnya sambil memberi hormat.


"Nama yang bagus, sebagus orangnya, ayo silahkan di minum." Ujarnya.


Mereka pun langsung meminum air dari kendi dan langsung menyantap makanannya berupa umbi-umbian yang telah di kukus.


"Cukup lama kamu meninggalkan Batu Gambir ini Wira dan kau Harum." Celetuk Kepala kampung.


"Iya pak, kami mengembara menjelajah negri, dan mengunjungi saudara-saudara kami yang telah terpecah, dan kami pun sampai ke Dusun Benda yang berada di ti"mur selatan tatar Sunda ini.


"Dusun Benda, bukan kah itu masih berada dalam wilayah kerajaan Galuh." Pak Kepala Kampung.


"Iya betul pak, yang kebetulan kakek Aji santang bekas prajurit kerajaan, jadi sangat lah mudah kami menemukannya." Jelasnya Wira jaya.


"Syukur kalau kalian bisa bertemu kembali sama sanak saudara kalian, terus sekarang kalian mau menetap lagi disini?." Kepala Kampung bertanya.


"Iya tapi hanya untuk satu malam saja, besoknya kita harus melanjutkan lagi perjalanan, makanya sebelum kami mendatangi tempat tinggal kami, terlebih dahulu datang ke sini mau ijin nginap." Ujar Wira jaya.


"Ooh Bapak kira, mau menetap selamanya disini, soalnya gerombolan kelabang merah sudah keluar dari tahanan keraja'an.." Ucap Kepala Kampung.

__ADS_1


"Ya mungkin lain kali pak, bapak tenang saja kelabang merah tidak akan berulah lagi, karena dedengkotnya sudah tidak bisa lagi apa-apa." Pungkas Dewi harum.


"Maksudnya gimana, Bapak belum paham?." Tanya kepala Kampung.


Lalu Wira jaya menjelaskan pada Kepala Kampung, tentang pertarungan Dewi harum dan Badrowi ketua kelabang merah di pertunjukan silaturahmi tahunan di Tapak benggala.


Setelah itu mereka pun undur dari hadapan kepala kampung, menuju rumah bekas tempat tinggalnya Dewi Harum dulu sewaktu masih bersama mendiang suaminya.


Singkat cerita mereka telah sampai di depan rumah, lalu Dewi harum menatap ke atas teras yang tinggi, se akan mengenang akan ingatannya dulu bersama Danang jaya, lalu Dewi harum membalikan pandangannya kesebuah kuburan atau makam nya Danang Jaya.


Kemudian mereka turun dari pubggung kudanya masing-masing, lalu kudanya di tuntun di taro di bawah kolong rumah yang tinggi itu.


Setelah itu Mereka mulai melangkah kan kakinya menaiki anak tangga satu-satu, setibanya di atas mereka duduk sambil menyandarkan tubuhnya di dinding kayu rumah tersebut.


Semilir angin sepaoi-sepoi menerpa, membuat mereka jadi terlena akan suasana di Batu gambir yang sejuk dan akhirnya tanpak di sadari mereka pun langsung terlelap dalam tidur, mungkin karena sangat kelelahan didalam menempuh perjalanannya yang selalu menemui hambatan dan rintangan yang mungkin banyak menguras tenaga dan energi mereka, sehingga mereka tidak menyadari ada tiga kelebatan bayangan di balik pohon kiara yang besar menjulang, lalu bayangan itu melangkah dengan mengendap-endap kemudian tubuhnya melesit ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya dan mendarat dengan sempurna di ubun kayu.


Lalu nentra memandang dengan intens ke arah Darma seta yang di atas kepalanya menyender sebuah pedang Garuda Cakra Buana.


Dengan secepat kilat bayangan itu menyambar pedang tersebut.


Weesss


Lalu setelah apa yang di carinya berhasil di dapatkan, bayangan itu langsung melesat pergi meninggalkan tiga pendekar elang yang lagi berada di alam bawah sadarnya.


Ilmu pangrungu elangpun tidak bisa bekerja dengan baik ketika raga halusnya lagi dikuasai di alam mimpi.


.........


Sekiranya tiga bayangan itu sudah sangat jauh meninggalkan Batu Gambir, lalu mereka berhenti di bawah rindangnya dedaunan dari sebuah pohon.


"Hahaha...Akhirnya pedang sakti ini sudah menjadi milik kita, Kini Tiga setan bayangan dari pantai selatan akan menjadi tokoh nomor satu di dunia persilatan." Celetuknya sambil tertawa puas.


"Iya benar kakang, sekarang Tiga setan bayangan akan menjadi raja rimba persilatan."


"Kakang coba jajal smpai di mana kedahsyatan pedang yang jadi rebutan itu, kita pun penasaran."


"Apa yang di bilang kakang Arugul itu benar kakang Jarwita, seberapa hebatnya pedang Garuda Cakra Buana itu.


"Baiklah sekarang kakang akan mencobanya." Ujar Jarwita sambil menghunus pedang yang begitu besar dan cukup berat itu.


Serewweng


Perlahan pedang Garuda cakra buana di hunusnya lalu Jarwita memainkan pedang tersebut dengan gencar sinar merah jingga keluar dari pedang itu menghantam batu dan pepohonan, sehingga menimbulkan suara yang menggelegar semakin terus jarwita memainkan pedang itu semakin kuat pula pedang Garuda cakra buana menyedot kekuatan Jarwita. Di sisa tenaganya Jarwita berteriak pada ke dua kawanannya.


"Arugul lemparkan kesini sarung pedang ini." Teriak Jarwita.


Arugul pun langsung meraih sarung pedang Garuda Cakra Buana yang tergeletak di tanah lalu di lemparkannya. " Ini kakang terimalah." Tetiak Arugul.


Jarwita pun langsung melompat untuk menangkap sarung pedang tersebut, setelah sarung pedang berhasil di tangkapnya dengan cepat Jarwita menyarungkan kembali pedang itu pada warangkanya, dan Setelah itu Jarwita nampak lemas agak terhuyung, dan menurunkan tubuhnya dalam pisisi duduk sambil bersandar di batang pohon.


Lalu kedua setan bayang yang bernama Arugul dan Jurata berjalan menghampiri Jarwita yang dalam keada'an lemas tak berdaya.


"Kenapa dengan pedang ini Kakang?." Tanya Arugul.

__ADS_1


"Gelo pedang ini seperti menyedot semua kekuatanku, kalau tidak cepat kau lemparkan sarung pedang ini mungkian saya akan mati tersrdot oleh kekuatan pedang ini, sungguh luar biasa dahsyat." Jelas Jarwita.


"Lantas bagaimana cara menaklukan pedang ini Kakang, kalau begitu percuma punya senjata sakti kalau kita tidak bisa memainkanya." Pungkas Jurata.


"Entahlah Rayi Jurata, saya pun bingung, berarti pedang ini ada mantra khusus atau sebuah jurus untuk mengendalikannya." Ucap Jarwita.


"Bisa Jadi begitu kakang." Celoteh Arugul.


...........


Sementara di tempat lain.


Di Batu Gambir, ke tiga pendekar elang yang tertidur dengan pulas kini nampak sudah menggerakan tubuhnya, bangun dari tidurnya yang cukup nyenyak.


Wira jaya langdung berdiri yang di susul oleh Dewi harum, lalu Wira menoleh pada Darma deta yang nampak masih tertidur dan netranya berjalan kesekeliling Darma seta, begitu melihat ke atas kepalanya Darma seta, Wira terkejut sambil membulatkan matanya, dan berkata pada Dewi harum.


"Nyai coba kamu perhatikan apa yang tidak ada di atas kepalanya Darma seta." Ujar Wira.


Dewi harumpun terbelalak kaget.


"Pedang Garuda Cakra Buana, tidak ada pada Darma seta, apa mungkin seta sudah menyimpannya." Ujar Dewi harum sambil menggoyangkan tubuhnya Darma seta.


"Seta.. Seta bangun." Usik Dewi harum.


Darma seta pun membuka matanya perlahan sambil berkata. "Ada apa buk?." Tanya Darma seta.


"Coba kau lihat ke atas kepalamu." Ucap Dewi harum.


Lalu Darma seta menggerakan tubuhnya sambil menoleh pada posisi tempat dimana ia menyimpan pedanganya, Darma seta tercengang kaget.


"Hah.. Pedang itu kemana Bunda?." Darma seta bertanya pada ibuknya.


"Makanya ibuk membangunkanmu, apa kamu simpan pedangmu di tempat yang aman?." Dewi harum balik bertanya.


"Tadi ku simpan di sini." Tunjuk Darma seta ke tempat dimana ia menyimpan pedangnya waktu mau tidur itu.


"Jagat Dewa Batara, ber'arti pedang itu suda ada yang mencurinya seta, bisa celaka, dan dunia persilatan akan di gemparkan oleh para durjana." Cetus Dewi harum.


"Kita harus cepat mencari pedang itu Bunda." Tutur Darma seta.


"Besok pagi saja, saya yakin pedang itu pasti di ambil oleh orang yang bekekuatan tinggi, buktinya kita sampai tidak mengetahui kedatangan sang Durjana itu." Ucap Wira.


"Iya benar, lagi pula kita sudah banyak kehilangan energi Seta, kita harus mengumpulkan energi untuk perjalanan kita besok pagi, dan takan ada seorang pun yang bisa mengendalikan pedang itu hingga sepuluh jurus, dalam lima jurus pun kekuatannya akan habis tersedot." Pungkas Dewi harum.


Setelah itu mereka pun langsung membersihkan rumah panggung yang sangat tinggi itu, dari banyak kotoran binatang malam dan debu-debu yang terbang tersapu angin hingga sampai mengumpul di rumah tersebut.


**********


Bersambung.


Jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, rat, berikan vote serta hadiahnya.


Salam sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2