
Dua kuda terus berlari menyusuri jalan setapak menuju padukuhan halimun girang.
Darma seta berada dibelakang, sebagai pengawal perjalanannya jala darma, karena rasa khawatir darma seta pada pamannya, takut ada kemungkinan kepulangannya jala darma tercium oleh anak buahnya kidarpal yang banyak berkeliaran dimana-mana.
Demi mempercepat perjalanannya sampai ketujuan sebelum hari berganti senja, darma seta menyuruh jala darma untuk mengambil jalan pintas dengan melintasi citarum.
Sungai citarum sebagai batasan antara halimun girang dan halimun hilir.
Mataharipun tak terasa sudah berada tepat diatas ubun-ubun kepala.
Tidak lama kemudian mereka sudah tiba diperbatasan halimun girang, kudapun berhenti dipinggiran sungai citarum, menunggu sang pengendali rakit kembali kesisi dimana darma seta dan jala darma menunggu.
''Darma seta biarlah sampai sini saja, kamu kembalilah ke kampung benda, sebelum hari berganti malam, karena kehadiranmu disana sangat dibutuhkan sekali.'' Ucap jala darma.
''Iya paman, saya pingin lihat dulu paman mendarat diperbatasan halimun girang, tuh rakit sudah kembali, paman siap-siap, sementara saya akan mengawasi dari sini.'' Jawab darma seta.
Setelah itu rakitpun sudah tiba dipinggiran sungai
Jala darmapun turun dari kudanya, dan kuda dituntunnya untuk naik pada rakit supaya bisa sampai kedaratan perbatasan halimun girang.
Begitu jala darma dan kudanya sudah berada diatas rakit, pak tua sipengendali rakit, langsung menarik tambang yang membentang diatas air sungai citarum.
Setiba didaratan pinggir sungai, jala darma melambaikan tangannya pada darma seta.
''Terima kasih darma seta, hati-hati dalam perjalanannya.'' Teriak Jala darma.
''Iya pamaaan sama-sama, paman juga hati-hati jaga diri dan anak istri paman.'' Jawab Darma seta sambil berteriak.
Setelah itu Jala darma langsung naik lagi kepunggung kuda, darma seta hanya menatap dari sebrang pinggiran sungai sampai tubuh jala darma menghilang ditelan oleh jarak yang sudah cukup jauh.
Darma setapun membalikan kudanya dengan menarik tali kekang kuda, dan sikudapun langsung mulai melangkahkahkan ke emapt kakinya, darma seta terus memecut sang kuda.
Kuda terus berlari dengan kencangnya.
Hea... Hea...Heaaa.
Kuda terus dipacu dengan kencangnya, rambut panjang darma seta melambai-lambai diterpa angin yang cukup kencang.
Sudah sangat jauh darma seta memacu kudanya, Tapi kuda hitam darma seta, masih cukup kuat untuk berlari.
Haripun terus bergeser, dan mataharipun sudah mulai miring kebarat, pertanda hari senja akan segera tiba.
Darma seta masih terus berpacu dengan kuda jantannya yang gagah berani.
Kini darma seta sudah memasuki tapal batas wilayah Sunda galuh, yang sebentar lagi akan segera tiba di kampung benda, Kampung tempat dimana ayahnya danang jaya dan ayah sambungnya wira jaya yang sekaligus pamannya sendiri dilahirkan.
Ketika darma seta mendekati dipenghujung kampung benda, terdengar dari kejauhan derap lari kuda yang jumlahnya cukup lumayan banyak.
Sejenak darma seta menghentikan lari kudanya, Sikudapun meringkik dan berhenti.
Darma seta langsung melesat keatas pohon dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, lalu bertengker diatas dahan yang paling atas, sambil memasang panca indranya.
Dengan sorot matanya yang tajam, dengan dibantu oleh ilmu sukma pangrungu.
Nampak terlihat dan terdengar jelas oleh darma seta sebuah gerombolan pasukan berkuda lagi mengarah pada kampung benda.
''Wah celaka, tidak salah lagi, itu pasti kidarpal bersama pasukannya, saya harus memberi tau paman dan kake.'' Gerutu darma seta dalam hatinya.
Darma seta lalu duduk diatas dahan, dan dipusatkan pikirannya, dengan telapak tangan ditempelkan didada membentuk seperti bersemedi.
Ternyata darma seta mau melakukan mediasi kontak batin dengan menggunakan ilmu semedi dewa elang.
Setelah semua pikirannya dipusatkan lalu darma seta mulai melakukan kontak batin.
''Pamaaaann, saya mau bicara.'' Ucap batin darma seta.
Suara itupun seperti dihantarkannya pada seseorang, yang tak lain adalah wira jaya, yang lagi berada dirumah aji santang.
Disa'at itu wira jaya lagi pada kumpul dirumah aji santang, seraya wira jaya langsung kaget, seperti ada kontak batin yang mau disampaikan.
''Sebentar kake, sepertinya ada selintingan pesan dalam batinku.'' Ucap Wira jaya.
''Cepatlah terima wira jaya, kakepun merasakan hal yang kurang enak.'' Ucap Aji santang.
Wira jayapun langsung melakukan semedi seperti yang darma seta lakukan.
''Iya dengan siapa ini, ada hal penting apakah itu.'' Wira jaya menjawab pesan yang terlintas dibatinnya.
''Ini aku darma seta, bersiplah, kasih tau para pemuda, karena gerombolan kidarpal lagi menuju kesitu, lindungilah warga kampung benda, saya akan mengacaukan mereka diperbatasan kampung.'' Ucap selintingan batin darma seta.
''Baiklah.'' Jawab batin wira jaya dengan singkat.
Setelah itu wira jayapun membuka matanya dan menyudahi semedinya.
Kilayung, raden sedayu dan aji sura terus bertanya pada wira jaya.
''Ada apa wira?.'' Tanya aji sura.
''Barusan darma seta melakukan kontak batin, bahwa gerombolan kidarpal sedang menuju kemari, sekarang kasih tau warga dan para pemuda, pukul kentongan.'' Jawab wira jaya.
__ADS_1
Aji santang langsung terperanjat, dan memanggil kerta santang anaknya.
''Kerta santang....'' Panggil aji santang.
Kerta santang pun langsung datang memenuhi panggilan ayahandanya.
''Ada apa ayahanda?.'' Tanya kerta santang.
''Sekarang kamu pukul kentongan, dan panggil para pemuda yang sudah terlatih, karena kidarpal akan datang dengan membawa pasukannya.'' Jawab aji santang.
''Baik ayahanda.'' Saut kerta santang.
Kerta santang langsung keluar rumah, berjalan menuju kentongan.
Tong..Tong tong tong.
Suara kentongan begitu nyaring terdengar, dan para wargapun pada berdatangan memenuhi halaman rumahnya aji santang.
''Ada apa raden, kenapa kami disuruh kesini?.'' Tanya seorang warga.
''Ada bahaya lagi mengancam kampung kita, dan para pemuda yang sudah terlatih ayo kita sambut mereka, dan kita lindungi kampung kita dari serangan orang-orang jahat.'' Teriak Kerta santang.
''Ayo ayo ayo ayo.'' Teriak para warga sambil mengacungkan kepalan tangannya keatas.
Selepas itu, kerta santang menyuruh semua warga yang tidak bisa olah kanuragan untuk bersembunyi dirumahnya masing-masing.
Sementara darma seta yang lagi mengintai pasukan kidarpal dari atas pohon, langsung melesat sambil menghunus pedang peraknya terus diputarnya pada pohon-pohon yang ada disekilingnya.
Ranting-ranting yang terkena sabetan-sabetan dari pedang perak melesat bagaikan ribuan anak panah kearah pasukannya ki darpal yang semakin mendekati kampung benda.
Puluhan pasukan berkuda yang kidarpal pimpin langsung, melompat dari kudanya masing-masing pas melihat ratusan ranting-ranting melesat yang mengarah padanya.
Kidarpal melompat sambil menghunus pedangnya dan berteiak.
''Awaaasss ada bahaya.'' Teriak kidarpal sambil menangkis puluhan ranting-ranting yang mengancam dirinya.
Trak trak trak trak...
Suara ranting yang terkena sabetan dari pedangnya kidarpal.
''Bedebah kurang ajar, berani sekali main bokong sama kidarpal.'' Teriak kidarpal sambil mengawasi arah datangnya ranting-ranting itu.
Setelah diketahui dari arah mana datangnya ranting-ranting, kidarpal melesat dengan tubuhnya melayang laksana se'ekor burung terbang.
Sedangkan darma seta, pas melihat kidarpal mengetahui keberada'annya, iapun melompat untuk memancing kidarpal jauh dari kampung benda.
''Ayo kejar aku darpal.'' Teriak Darma seta.
Kidarpal tidak menyadari, bahawa darma seta hanya untuk memancingnya keluar dari kampung benda, karena darma seta tidak mau banyak warga yang kena imbasnya.
''Ayo darpal kerahkan ilmu lari cepatmu, kejar aku haahahahaaa.'' Terikan darma seta sambil tertawa puas, karena kidarpal sudah berada jauh keluar dari kampung benda.
Setelah itu darma seta berhenti dan berdiri sambil membelakangi kedatangan kidarpal.
Kidarpalpun kini telah berada dibelakangnya darma seta.
''Akhirnya terpancing juga, dasar pendekar bodoh.'' Ucap Darma seta dalam hati.
''Haiii, kunyuk mau lari kemana kau, keujung duniapun akan ku kejar.'' Ucap kidarpal.
Darma seta masih tetap membelakangi kidarpal, dan tidak bersuara sedikitpun, kidarpal merasa tidak diladeni dengan sikapnya darma seta yang membisu.
''Dasar gurame edan, kamu itu tuli atau bisu hah.'' Teriak lagi kidarpal.
Darma seta tetap membisu, hanya rambutnya saja dan ikat kepalanya yang melambai-lambai tertiup angin.
Dan kidarpal semakin geram dengan perlakuan darma seta yang bersikap begitu.
''Kurang ajar, rupanya kamu memilih mati, ciaaaaatttt.'' Teriak Kidarpal sambil melompat menerjang darma seta.
Hanya dalam hitungan detik tubuh darma seta menghilang, dan kidarpal hanya mrnerjang ruang yang kosong.
Kemarahan kidarpal kini semakin memuncak, kidarpal merasa dipermainkan oleh anak kemarin sore, lalu kidarpal mencabut pedang pusaka andalan perguruan halilintar merah.
Pedang itu diputarnya, bersama'an dengan keluarnya cahaya merah melesat mengobrak abrik wilayah disekitar situ.
Daun-daun dan pohon-pohon banyak yang patah terketa hantaman dari cahaya merah yang keluar dari pedang tersebut.
Sikap kidarpal yang tidak karuan hanya membuang-buang tenaga saja, sementara yang dicarinya hanya mentertawakannya, dengan bantuan tenaga dalam yang sangat tinggi.
''Hahahahaha... Darpal kenapa kau buang-buang tenagamu dengan percuma, hahahaha.'' Tertawa darma seta dengan suara begitu menggema dan menggetarkan jantung bagi orang yang tenaga dalamnya masih rendah.
''Gila, tenaga dalamnya sangat sempurna sekali, sekarang saya harus hati-hati, pantesan lingga tole dan munding wesi dibuat tidak berdaya.'' Ucap Kidarpal dalam hatinya.
''Sombong sekali mulutmu anak muda.'' Ucap ki darpal.
Darma seta lalu melorotkan tubuhnya kebawah dengan enteng sekaali kakinya menyentuh tanah, dibelakangnya kidarpal.
''Saya disini ki darpal.'' Ucap Darma seta.
__ADS_1
Kidarpalpun langsung membalikan tubuhnya, dengan pasang muka geram, kidarpal menantang adu kesaktian sama darma seta.
''Sekarang kita tentukan siapa yang lebih jago.'' Teriak kidarpal.
''Tenang dulu ki, jangan terburu-buru, kita hatus jelas dulu duduk permasalahannya.'' Ucap Darma seta.
''Oowhh, pintar juga ya kau bersilat lidah, jelas-jelas kau telah habisi anak buahku.'' Bentak kidarpal.
''Maksud kidarpal, siapa yang sudah ku habisi.'' Jawab darma seta.
''Pura-pura gak tau kau, kau telah bikin ke'enam muridku hampir mati.'' Kata kidarpal.
''Ooh itu, tapi mereka masih hidup kan.'' Ucap Darma seta.
''Bedebah kau, mampuslah kau.'' Ciaaaattt kidarpal langsung melesat menerjang darma seta.
Pertarunganpun tidak bisa dihindari lagi.
Trang trang trang, benturan suara pedang begitu nyaring terdengar.
Skip.
......................
Sementara disisi lain.
Rombongan dari perguruan halilintar merah, tepatnya ditapal batas yang mau masuk ke kampung benda, sudah disambut oleh wira jaya, kilayung, raden sedayu, kerta santang dan aji sura, beserta dewi harum dan para pemuda kampung benda yang sudah mendapat gemblengan dari wira jaya.
Pertarungan pun terjadi, suara-suara senjata yang berbenturan bercampur dengan suara teriakan telah menjadi satu.
Trang trang trang.
Ciat ciat ciat ciaatt.
Pertarungan yang sangat mengerikan kini telah terjadi lagi dikampung benda, setelah sekian lamanya, dulu pernah terjadi sewaktu perang saudara, antara keluarga aji santang dan anaknya kilayung, yang banyak memakan korban jiwa.
Suara gemuruh dari teriakan dan benturan senjata tajam, membuat bulu kuduk merinding.
Orang-orang pilihan dari perguruan halilintar merah, berduel satu lawan satu, dengan wira jaya, dewi harum, kilayung, raden sedayu, aji sura dan kerta santang.
Darah-darah kini telah berceceran, mewarnai rumput-rumput dan tanah-tanah ditempat itu.
Kerta santang yang memimpin para pemuda melawan murid-murid kidarpal, mengamuk membabi buta, banyak murid-murid dari halilintar merah yang dibantainya oleh kerta santang.
Golok raksasa yang dimainkan oleh kerta santang berkelebat-kekebat mencacar bolang musuh-musuhnya.
Dengan ringannya kerta santang memainkan golok raksasa buatannya ayahnya sendiri yaitu aji santang.
''Enyahlah kalian dari sini, ciaat ciat ciat ciaaatt.'' Kerta santang terus menggempur lawan-lawannya
Cleekk cleek cleek cleekk.
Sabetan golok kerta santang telah banyak merobek murid-murid dari halilintar merah, Wira jaya yang berpasangan dengan istrinya yaitu dewi harum terus dengan gencarnya, melakukan serangan-serangannya pada munding wesi dan murtala.
Sedangkan kilayung dan raden sedayu, masih dengan asiknya meladeni kadu denta dan tirta.
''Haiii para cecunguk halilintar merah, mana gurumu yang sakti mandraguna itu, masa cuma kacung-kacung yang dikirimkan kesini.'' Teriak raden sedayu.
''Sebelum berhadapan dengan guru kami, ladeni dulu kami hah, jangan cuma bacotmu aja yang digedein.'' Teriak Kadu denta.
''Hahahaa, rupanya kau belum kapok juga ya, sekarang akan ku kirim kau ke neraka, ciaaatttt ciat ciat.'' Teriak raden sedayu
Raden sedayu mekesat keudara dengan tubuhnya berputar putar, menyambar kadu denta, jurus badai silantang begitu sangat mengerikan, gerakannya begitu cepat sekali, terus menghujani jurus halilintarnya kadu denta.
Kini pertarungan antara golongan hitam dan golongan putih begitu dahsyat sekali, Para pendekar elang sakti yang dibantu oleh raden sedayu dan kilayung semakin kuat dan tangguh.
Pertarunganpun berlangsung lama sekali, para pendekar dari golongan hitam dan golongan putih sudah saling mengeluarkan ilmu kedidjaya'annya masing-masing.
Pukulan matahari dan ajian bayu silantang begitu dahsyat sekali mampu mematahkan ilmu halilintar tingkat ke tujuh.
Kadu denta dan tirta harus mengakui kehebatannya pukulan matahri dan ajian bayu silantang.
Tubuh tirta tetpental cukup jauh dengan luka membiru didadanya, darah segar keluar dari kedua sudut bibirnya, begitupun kadu denta yang menerima tiupan angin dari ajian bayu silantang yang mengeluarkan hawa panas, dengan pelan-pelan telah membuat tubuh tirta mengering dan membekukan semua aliran darahnya.
Kekalahan kadu denta dan tirta, sangatlah mempengaruhi dari murid-murid halilintqr merqh yqng lainnya, mereka berteriak begitu melihat tubuh tirta dan kadu denta terkapar.
''Wooiii, tirta dan kadu denta terkapar.'' Teriaknya
Dan yang lainnya pun kini mundur dari arena pertempuran itu, memburu tubuh kadu denta dan tirta yang lagi tergeletak tidak berdaya.
Kini tubuh tirta dan kadu denta, telah diboyong dibawa menjauh dari arena pertarungan itu.
••••••••••••••••••••♤♤♤••••••••••••••••••
Bersambung
Bagi yang suka dengan cerita ini, dukung terus dengan, like dan tulis comentar dan sarannya, tambahkan ke favorit.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu dan sehat walapiat.
__ADS_1
Selamat membaca.